Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Prosedur


__ADS_3

"Pak buk". Suara Jaffa memecah kan keheningan saat acara minum teh di taman belakang rumah orang tua Liya.


Sore tadi setelah pulang dari berkeliling melihat sawah dan perkebunan milik keluarga Liya dia sudah bertekad untuk membicarakan tujuan nya ke sini.


Jaffa dan Liya saling pandang. Liya memberikan semangat lewat senyum.


"maaf dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, saya ingin meminta restu bapak ibu untuk melamar Iliyana. Dengan segenap hati saya, saya mencintai putri bapak ibuk dan saya ingin menikahi Iliyana. ". "huuffff". Batin nya lagi setelah menjelas kan tujuan nya ke sini.


Pak Wisnu tidak segera menjawab.


Hening seketika.


Buk Ratih sebenar nya bahagia anak nya di lamar. Jaffa terlihat baik walau pun wajah nya ada sedikit tampang bad boy, tapi sangat berani datang melamar anak nya. Tapi dia masih menuggu suami nya memberi kan jawaban. Dia tau suami nya itu keras kalau sudah berurusan dengan laki-laki yang dekat dengan anak nya. Dia tahu suami nya hanya ingin anak semata wayang nya mendapat kan laki-laki yang baik.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan?".


"Kurang lebih sebulan ini yah?". Kali ini Liya yang bersuara.


"Cihh baru 1 bulan tapi kau sudah yakin ngelamar , segitu yakin nya kamu dia mencintai kamu hehh?".


"Yaaaahh". Liya mulai kesal dengan ayah nya. Ya begitu lah pak Wisnu bawaan nya curiga aja.


"Kamu yakin ndok menerima pinangan nak Jaffa?". Liya mengangguk pelan.


Buk Ratih melirik ke suami nya. Dan mengisyarat kan sesuatu. Pak Wisnu pahan akan tatapn istri nya itu. Dia hanya melongos kesal. Tapi tiba-tiba saja dia mendapat kan ide.


"Khhheemm... Baik la kau harus mengikuti beberapa prosedur untuk menjadi menanti ku?".


"Iyaa". Jaffa melongo mendengar jawaban dari Pak wisnu.


"Yah prosedur apa?". Kali ini istri nya yang menatap heren.


"Sudah ibu tenang saja, dari pada aku menendang nya pulang, lebih baik ibuk masuk bawa Liya sekali".


Bu Ratih hanya mengehela nafas panjang melihat suami nya. Bu Ratih pun pamit meninggal kan Jaffa dan suami nya berdua.


Sampai di dalam.


"Buk ayah kenapa sih begitu?".


"Sudah kamu tenang aja sayang, ayah tau yang terbaik buat kamu".


"Buk mas Jaffa itu orang baik buk". Liya pun dengan perlahan menceritakan pertemuan mereka dari awal sampai dia yakin menerima Jaffa untuk jadi pendamping nya.


Bu Ratih mengehela nafas. Di lega kalau pada akhir nya ada laki-laki baik yang akan menjadi suami anak nya. Selama ini dia khawatir anak nya bekerja di Jakarta sendirian pula. Tapi anak ny bersikeras ingin mandiri. Walaupun dia dan suami nya sangat mampun membiayai hidup anak nya tanpa anak ny bekerja. Tapi Liya ingin bekerja di kantor besar itu lah cita-cita nya. Mau tidak mau dia mengizin kan anak nya kerja di Jakarta.


Dia menatap lembut Liya yang sudah tertidur sehabis bercerita sambil Membelai rambut anak nya.

__ADS_1


Anak nya sudah benar-benar dewasa sekarang.


Pagi sekali buk Ratih sudah bangun. Dia terbiasa bangun lebih awal untuk menyiapakan makanan. Karena suami nya terbiasa makan hasil olaham tangan nya. Apa lagi sekarang ada tamu.


Kelaur dari kamar nya bu Ratih berjalan menuju dapur. Tiba-tiba dia melihat Panji berjalan dengan membawa pakain di tangan nya.


"Panji".


"Eeh ia buk".


"Baju siapa itu?".


"Aah ini tadi malam pak de meminta saya untuk minjamin baju ke mas Jaffa buk e".


Buk Ratih paham sekarang pasti suami nya akan menyuruh panji mengajak Jaffa ke sawah.


"sudah sini biar saya saja yang memberi kan".


Panji pun menyerah kan, panji adalah keponakan pak wisnu. Dan dia bekerja di perkebunan dan peternakan milik pak Wisnu. Keluarga Liya sangat terpandag karena memiliki banya sawah, kebun dan peternakan.


Tok tok... Buk Ratih mengetok pintu kamar Jaffa.


Kreekk.. Jaffa membuka pintu nya.


"Eeh buk".


"Iya buk terimakasih".


"Nak Jaffa bisa ibuk bicara sebentar".


"Iya buk silakan"


"Ibu tau niat baik kamu, ibu juga sangat senang mendengar kamu melamar Liya. Tapi ibu juga berharap kamu mampu mengimbangi keras nya ayah Liya. Ayah itu orang baik hanya saja dia terlalu sayang dengan Liya. Karena Liya adalah anak kami satu-satu nya".


"Ini pakai lah kamu sudah janji sama ayah hari ini?".


"Iya buk tapi ini pakaian untuk apa?".


"Pakai saja ibu harap setelah ini kamu tidak lari meninggal kan Liya dan janji kamu?". Bu Ratih berlalu setelah menyerah kan baju ke tangan Jaffa.


Jaffa menatap heran ke arah bu Ratih dan baju yang ada di tangan nya. Jaffa tidak tau hari ini pak Wisnu akan mengajak nya ke sawah, kebun dan ternak milik nya.


Dia hanya tau pak Wisnu ingin memberitahu kan prosedur menjadi menantu nya. Dalam benak Jaffa prosedur yang di maksud pak Wisnu adalah membicarakan kapan pernikahan di langsung kan, dimana, dll. Padahal pak Wisnu sudah berencana menyuruh Jaffa membajak sawah. Memanen hasil kebun dan membersih kan kandang sapi.


Poor Jaffa.


Jaffa masih bingung melihat baju yang di pinjam kan oleh Panji.

__ADS_1


"Ini mana muat dengan ku, jelas ini kekecilan".


Ya badan Jaffa jangkung dari pada Panji. Tapi karena ini perintah dari pak Wisnu. Jaffa pun memakai nya.


"Apa ini juga prosedur nya". Jaffa melihat badan nya di kaca. Dia sudah memakai baju kaos dan celana panjang batik.


Tidak lama pintu nya di ketuk. Tok tok.


Krek Jaffa membuka knop pintu terkihat Panji sudah berdiri di depan kamar nya.


"Maaf mas Jaffa saya di minta pak de untuk mengajak mas Jaffa ke ladang".


"Ladang?". Jaffa mengkerut kan kening nya.


"Panji, nak Jaffa ayo sarapan dulu". Buk Ratih memanggil dari arah dapur.


Mereka berdua pun berlalu ke dapur.


"Silakan nak Jaffa ayo sarapan". Tawar buk Ratih.


Jaffa pun mengambil nasi goreng. Selesai sarapan panji pun mengajak Jaffa ke arah belakang.


"Panji tunggu?".


"Iya mas Jaffa?"


"Kita mau kemana? Bukan nya pak Wisnu akan memberitahu prosedur untuk menikah?".


Panji yang mendengar nya terkekeh.


"Mas Jaffa sudah ikut saja dulu, nanti mas Jaffa juga tau".


Jaffa hanya bisa mengerut kan kening nya dan mencium ada yang tak beres. Dia teringat ucapan buk Ratih tadi.


Dengan penuh was was dia pun mengikuti langkah panji menyusuri jalan menuju sawah yang semalam dia lewati bersama Liya.


Jaffa terus saja berfikir. Dan dia bisa menangkap sesuatu ketika panji berbelok mengambil alat bajak sawah. Dan menurun kan alat itu ke dalam sawah yang penuh lumpur.


Dan...


"Mas Jaffa ayo sini". Panggil Panji. Karena Jaffa masih saka berdiri mematung di sisi sawah.


Astaga aakhh.. Ya ya aku paham sekarang, baik calon mertua yang terhormat aku akan ikut permainan mu". Batin nya. Dia menyeringai mengingat perkataan pak Wisnu ketika Liya dan buk Ratih sudah masuk.


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.

__ADS_1


Witha.


__ADS_2