Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Andai kan


__ADS_3

Maira pun keluar dengan muka harap-harap cemas sedikit gugup.


"Sayang sudah, apa hasil nya?". Adam yang melihat Maira keluar langsung penasaran.


Maira hanya diam menatap wajah Adam dengan wajah gugup.


"Sayang kenapa diam, kalau memang belum ya sudah tidak apa-apa".


Maira pun menunjukan semua alat testpack di hadapan Adam. Adam meraih semua nya dan melihat satu persatu, terlihat alat itu memberi kan tanda positif. Tentu Adam membola rasa bahagia bercampur tak percaya.


"Benar kah ini sayang?". Maira pun mengangguk.


"Alhamdulillah, ya Allah aku bakal punya anak?".


"Ya mas". Adam langsung memeluk Maira dengan erat dan menghujami dia dengan begitu banyak ciuman. Tak lupa juga perut Maira di cium.


"Kalau gitu ayo sayang kita ko dokter kandungan biar lebih pasti hemm". Maira mengangguk tanda setuju.


Adam dan Maira pun bersiap untuk pergi ke dokter. Orang tua mereka sengaja tidak beri tahu hasil nya. Maira memutus kan setelah pulang dari dokter.


Saat sudah di dalam mobil ponsel Adam kembali bergetar ada pesan kembali masuk.


Sebelum nya dari nama yang sama.


"Dam, boleh aku minta tolong anterin belanja? Tadi nya mau minta temani buk ima tapi dia izin tidak datang lagi ada acara".


Adam belum membalas karena Maira keburu keluar kamar mandi.


Sekarang pesan kembali masuk.


" Dam, kalau kamu sedang sibuk tidak apa-apa, tapi kalau ada waktu ke sini ya aku masakin makan malam sekalian ada yang mau aku bicarain".


Adam hanya membaca tanpa membalas dia pun mematikan ponsel nya dan menyimpan nya di saku.


"Siapa mas, kok gak di balas?".


"Aaa... Biasa sayang manager pabrik".


"Ohh kamu mau ke pabrik hari ini?".


"Liat nanti sayang, sekarang aku mau nemain kami dulu".


Maira tersenyum melihat Adam yang mencium tangan nya. Adam pun mulai menjalan kan mobil nya menuju praktek dokter kandungan.


Tiba di dokter kandungan Adam dan Maira harus antri. Saat sedang duduk antri Maira kembali merasakan mual.

__ADS_1


"Sayang kenapa?".


"Aku mau muntah mas?".


"Ya sudah ayo kita ke toilet".


Sampai di toilet Maira memuntah kan lagi isi perut nya. Sampai rasanya tak ada lagi yang bisa di keluar kan. Maira pun keluar dengan gontai sambil memegang tembok.


"Ya ampun sayang, kenapan jadi lemes begini?".


Adam langsung memeluk Maira. Tubuh Maira benar-benar lemes tak berdaya. Dia pun terisak. Suster yang melihat langsung menanya kan.


"Maaf pak ibu nya kenapa?".


"Ini sus habis muntah badan nya jadi lemes".


"Ini lebih baik ibu nya pakai kursi roda, setelah ini giliran ibu nya masuk ya". Suster itu pun memberi kan kursi roda.


Maira pasrah duduk di kursi roda dia sudah tak bertenaga lagi. Sambil menggenggam tangan Adam, Maira menyender kan kepala nya di perut Adam, yang berdiri di sisi nya.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi".


Tidak lama suster pun mempersilakan Adam dan Maira masuk ke ruang praktek dokter.


"Siang dok".


"Ayo ibu nya baring ya biar saya cek dulu, ada keluhan?".


Adam mencerita kan keluhan yang di rasa kan Maira. Maira masih tak berdaya. Dokter pun mulai meletak alat USG di perut Maira. Menggeser-geser alat tersebut di atas perut Maira yang masih rata.


Dokter pun menghenti kan tangan nya setelah mendapat kan letak janin yang masih seukuran biji.


"Selamat sebentar lagi akan ada anggota baru, janin masih kecil ya buk pak usia janin baru 5 minggu".


Dokter memperbesar letak janin di layar monitor. Adam dan Maira pun senyum-senyum.


"Dok apa muntah-muntah nya bisa ilang?".


"Keluhan seperti muntah tidak selera makan yang ibu rasa kan normal pak, hanya saja ibu nya harus kuat hormon kehamilan ini bisa ilang setelah semester pertama yaitu usia kandungan 3 bulan pertama. Biasa nya akan hilang seiring kandungan bertambah usia. Saya akan memberi vitamin dan obat pengurang rasa mual. Harus di paksa makan ya buk apa saja yang bisa di terima asal perut tidak kosong".


Adam dan Maira fokus dengan seksama mendengar penjelasan dari dokter.


"Oh ya satu lagi untuk 3 bulan pertama ini berhubungan agak di kurangi dulu ya pak, karena janin masih sangat rentan".


"Tapi masih boleh kan dok?".

__ADS_1


"Mass".


"Tidak apa-apa pertanyaan seperti ini normal di tanya kan, Masih pak hanya saja di kurangi frekuensi nya, misal kan seminggu hanya sekali saja".


Dokter itu pun tersenyum mendengar pertanyaan Adam sedang kan Maira sangat malu.


Setelah selesai pemeriksaan Adam pun menebus resep dari dokter dan membayar nya.


"Mas aku pengen makan sop buntut".


"Sop buntut?".


"Hemmm.. ".


"Oke kita cari ya sayang, anak daddy mau sop buntut?".


Adam berbicara dengan perut Maira dan mencium nya.


Sementara itu di apartemen milik pribadi Adam. Lusia gelisah melihat ponsel nya belum ada juga balasan dari Adam.


Saat sedang gelisah Lusia melihat foto Adam yang ada di ruang tengah dia pun tersenyum.


Lusia teringat kembali kenangan saat pertama kali mereka berpacaran.


Adam suka dengan masakan Lusia. Hampir setiap hari mereka habis kan di apartemen berdua sambil menikmati makanan yang di masak oleh nya.


Ya sama seperti sekarang Lusia sudah memasak makanan kesukaan Adam. Dia berharap Adam datang dan menikmati nya lagi.


Biasa nya Adam akan memuji masakan Lusia dan memberi kan sebuah ciuman untuk nya.


Tapi itu pasti tidak akan terjadi karena Adam sudah memiliki kehidupan nya.


"Lusia jangan bodoh mana mungkin kamu bisa kembali ke Adam. Hemm beruntung istri kamu Dam, pasti kalian sangat bahagia". Lirih lusia.


Lusia pun berlalu masuk ke kamar yang biasa di tempati Adam. Dia membuka lemari melihat deretan baju Adam yang masih tersimpan di sana.


Lusia tersenyum bahagia membayang kan kalau dia sedang bersama Adam memasang dasi untuk Adam dan memasak sarapan untuk Adam.


Astaga Lusia niat nya sebenar nya minta tolong atau apa sih ini.


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.

__ADS_1


__ADS_2