
Setelah menjemput Iliyana Jaffa pun memutuskan menyusul Adam di hotel. Tak butuh waktu lama mereka sampai di pub di mana acara ulang tahun pengusaha cantik asli Bali.
Di ruang VVIP.
Garcia sibuk melayani teman-teman nya. Ruangan itu sudah di hiasi dekorasi cantik. Terlihat kue dengan lima tingkat pun berdiri dengan kokoh nya. Di tambah dengan musik yang memekak kan telinga.
"Gar kapan nih acara nya di mulai?. Salah satu teman nya bertanya.
"Sabar dia lagi menunggu pujaan hati".
"Oh ya siapa, ganteng gak?".
"Liat aja nanti". Dia pun menjawab sambil tersenyum. Dia yakin malam ini Adam akan datang dan akan menjadi tamu special di hari ulang tahun nya.
Mobil Jaffa pun tiba di parkiran pub. Sebelum turun Adam tengah memperingati ke dua wanita cantik ini. Malam ini Maira dan Iliyana sama-sama mengenakan gaun pendek.
"Ingat kalian berdua jangan pernah menjauh dari kita berdua".
"Iya adam".
"Iliyana hanya mengangguk.
Mereka turun dan berjalan menuju pub. Adam sudah pasti menggenggam tangan Maira. Dia sebenarnya enggan sama sekali membawa Maira ke tempat seperti ini tapi karena ke inginan Maira yang memaksa.
Di belakang mereka ada Jaffa dan Iliyana. Sepanjang mereka berjalan menuju pintu masuk banyak orang, tak sedikit mata lelaki memandang mereka apa lagi mereka melihat Iliyana jalan sendiri. Jaffa yang melihat pun dengan reflek menarik tangan Iliyana dan menarik nya kesamping badan Jaffa.
Jelas Iliyana terkejut. Saat tangan nya di genggam Jaffa dada nya bergemuruh tak karuan. Hawa di muka nya terasa hangat. Sedang kan telapak tangan nya dingin.
Setelah sekian lama baru ini dia merasakan lagi di gandeng laki-laki. Dia hanya tersenyum menunduk.
Jaffa merasakan tangan Iliyana begitu dingin sangat dingin malahan. Sedikit memunduk kan kepala nya dia mendekat bibir nya di samping telinga Iliyana. Karena ini pertama kali dia menyentuh tangan Iliyana ini juga pertama kali dia bergandengan tangan dengan wanita.
"Apa tangan mu terbuat dari es. Hemm?".
"Aaa.. ".
Iliyana malu setengah mati, kini wajah nya sudah benar-benar merah dan memanas. Jaffa yang melihat wajah Iliyana berubah begitu terlihat lucu. Dia hanya menarik ujung bibir nya ke atas. Dan mempererat genggaman nya.
Mereka sudah berada di dalam terdengar alunanan musik memekak kan telinga. Belum lagi lampu-lampu berkedip di mana-mana menyilau kan mata.
Terlihat seorang bodyguard berjaga di bagian tangga menuju ruang VVIP. Adam menunjuk kan undangan dari Garcia. Pria bertubuh kekar itu pun mengantar mereka ke atas. Tiba di pintu VVIP. Pria itu mempersilakan mereka masuk.
Adam dan Jaffa pun masuk perlahan mengedar kan pandangan mereka ke ruangan yang begitu luas. Mencari yang punya acara.
Garcia yang melihat kedatangan Adam pun tersenyum bahagia. Bergegas dia menyambut Adam. Dia sama sekali tidak memperhatikan siapa yang ada di belakang Adam. Dengan cepat dia meraih tanagan Adam. Adam yang tidak siapa terkejut dan mengikut begitu saja.
Tentu saja Maira pun mengkerut kan kening nya.
Ketiga hanya kaku di tempat melihat Adam yang sudah belalu dan sekarang berada di tengah-tengah ruangan di mana pusat acara berada.
Sebenar nya Adam ingin marah tapi dia masih punya adab dan menghargai Garcia yang sedang ada acara, dia tak ingin mempermalukan tuan rumah. Perlahan dia melepas kan tangan Garcia yang sedari tadi bergelayutan di lengan nya.
"Maaf nona tolong lepas kan tangan nya".
"Aaah.. maaf aku terlalu senang anda datang tuan Adam, oh ya kenal kan ini teman-teman ku".
Adam pun menyalami mereka. Setelah menyalami semua nya Adam ingin melangkah berlalu dari sana tapi langkah nya terhenti ketika MC bersuara mengatakan kalau acara segera di mulai karena tamu istimewa Garcia sudah datang yaitu Adam.
Adam memandang tak percaya ke arah Garcia ingin sekali dia menghardik wanita itu. Tapi dia urung kan dia tidak mau mencoreng harga diri nya juga di sini kalau dia buat kericuhan.
"Tunggu saja selesai acara ini". Batin nya menggeram. Mata nya sudah celingak celinguk mencarai keberadaan tunangan nya. Tapi terlahang silau lampu.
__ADS_1
"Tuan Adam saya mohon jadi lah tamu special saya untuk memotong cake ya, please". Garcia memohon berbisik di telinga Adam.
Sorot lampu pun menyoroti kedua nya. Semua tamu terperangah melihat pria gagah dan tampan di samping Garcia.
Semua berbisik memuji ketampanan Adam. Ada yang bilang Garcia beruntung mendapatkan nya.
Di sudut ruangan mata Maira sudah panas melihat adegan itu. Ingin sekali dia menarik Adam dari situ. Jujur dia tak rela Adam dekat-dekat dengan wanita sexy itu. Tapi sebisa mungkin dia tetap tenang. Dia percaya Adam sebenar nya enggan berada di sana terlihat dari raut wajah tunangan nya itu.
"Ciih memalukan, dia bilang dia tidak tertarik dengan wanita sexy, tapi dia diam saja di tarik". Ucap nya.
"Kak apa kita keluar saja dari sini?".
"Tidak usah biar kan saja".
"Mas jaffa berbuat sesuatu dong".
"Apa memang nya? Bukan kalian saja yang terkejut melihat ini aku juga sama".
"Kasian kak Maira".
"Maira kamu percaya kan dengan Adam?".
Maira hanya menoleh sebentar ke arah Jaffa. Jaffa hanya melipat kedua tangan nya di dada.
Hehm... Wanita itu sedang mengantar ajal nya sendiri, dia tidak sedang berhadapan dengan orang yang salah".
"Maksud nya?". Iliyana mendongak kan wajah nya melihat Jaffa. Karena jaffa sedikit tinggi walau mereka duduk berdampingan. Jaffa yang membalas tatapan Iliyana pun tiba-tiba saja terpaku menatap manik hitam indah dari mata Iliyana, degup dada nya pun berdetak cepat. Seperti terhipnotis Jaffa seolah engan berpaling.
Kedua tersentak ketika Maira memanggil pelayan Pub. Seketika itu juga kedua nya berpaling. Jaffa menggosok leher nya dan Iliyana sudah mengalih kan pandangan ke Maira dan memegang dada nya yang sudah tak beraturan detak nya.
"Ya Tuhan apa ini, kenapa aku jadi seperti ini". Batin Iliyana.
"Aku haus jadi harus pesan apa?".
"Ya sudah biar aku saja ke sana untuk mengambil nya, kalian tunggu di sini, ingat jangan kasi izin siapa pun untuk duduk di sini".
Kedua nya pun mengangguk.
Ya mereka duduk memang agak jauh dari tempat acara. Meja mereka berada di sudur ruamgan VVIP. Tamu yang datang cukup ramai. Ruangan itu terlalu remang-remang jadi Maira tak terlalu menggubris sekitar nya. Mata nya hanya melihat pusat acara karena hanya di sana yang terlihat terang.
Tanpa mereka sadari ada 4 pasang mata yang sedang memperhatikan.
"Lihat bening banget yang duduk di sana?". Pria 1.
"Terlihat pemain baru, seru nih di ajak senang-senang. Pria 2.
"Tunggu ada pria bule tadi aku lihat di meja mereka?". Pria 1.
"Oh ya tapi seperti nya tidak ada?". Pria 2.
"Kita samperin". Pria 1.
"Haii ladies, boleh gabung?". Pria 2.
"Maaf meja ini penuh". Maira memjawab dengan ketus.
"Tapi terlihat kosong kursi nya, minta di temani ini". Pria itu menyeringai.
"Maaf ya mas-mas kita tidak butuh di temani kita sudah ada pacar". Iliyana mendengus.
"Oh ya di mana tidak terlihat". Pria itu sambil meraih tangan Maira.
__ADS_1
"Auuu.. Heii jauh kan tangan mu, jangan kurang ajar". Maira sudah mulai kesal dia menghempas tangan pria itu.
"Waahh jual mahal banget ni cewek bro".
"Iya, heii ayo lah wanita yang masuk di sini itu pasti semua butuh kesenangan ya gak bro".
"Yoii... Jadi kita berdua menawarkan agar kalian yang cantik ini tidak kesepian". Sekarang gantian dagu Iliyana yang di colek.
"Excuseme dude... Mereka berdua milik ku jadi tolong pergi dari sini selagi aku meminta nya dengan baik-baik". Suara Jaffa melantang dengan tegas. Di tambah muka mafia nya keluar.
"Wow... Rakus sekali kau bro". Pria 1
"Apa tidak ingin berbagi?". Pria 2.
"Sory dude seperti malam ini aku tidak ingin berbagi mereka, terutama berbagi ini". Jaffa sudah mengepal kan tangan kanan membentuk ingin meninju, sedang kan tangan kiri nya mengelus kepalan itu.
Kedua pria itu pun berlalu dengan kesal melihat wajah menyeram kan dari Jaffa. Ya Jaffa walau kurus begitu dia ahli bela diri dan dunia mafia adalah dunia nya. Tak ada yang tau saja kalau dia banyak memiliki anak buah yang di naungi dia secara khusus untuk membekup keaman perusahaan dan proyek Tuan Zein dan Adam. Hanya Tuan Zein dan Adam yang tahu. Makanya Tuan Zein mengizin kan dia bekerja di samping Adam. Agar semua proyek di indonesia aman dari gangguan.
"Kalian baik-baik saja?".
Kedua nya pun mengangguk.
"Ada apa?".
Belum sempat Jaffa melanggkah ingin memanggil Adam. Dia sudah muncul di hadapan mereka.
"Ayo kita pulang". Dia meraih tangan Maira.
Tanpa suara mereka berlalu dari pub itu. Mata Garcia menatap nanar melihat Adam menggandeng Maira.
"Siapa wanita itu". Batin Garcia kesal.
Sampai di mobil Adam menarik nafas nya.
"Jaff, besok buat nona Garcia menyerah kan semua saham nya ke kita".
"Siap bos".
"Jadi kita kemana ini?".
"Antar kan aku pulang ke hotel".
Sepanjang jalan Adam dan Maira tidak berbicara. Adam yang tadi menyandar kan kepala nya di kursi mobil, melirik ke arah tunangan nya yang sedang memandang ke arah luar jendela.
Dia pun meraih tangan Maira membawa ke pangkuan nya. Dan kembali memejam kan mata nya.
Tiba di hotel Adam pun langsung menyuruh petugas valet parkir mengambil mobil nya.
Mobil pun datang Adam membuka kan pintu untuk kekasih hati nya yang dari tadi hanya diam.
Sebelum Adam menyetir mobil nya. Melihat Maira yang sedang sibuk memakai seatbelt nya. Tanpa buang kesempatan Adam meraih kepala Maira dan mencium nya dengan penuh cinta. Dia merasa bersalah atas kekadian di pub tadi.
Di dalam perjalanan. Entah kenapa Maira ingin sekali bermanja dengan Adam. Dia pun meminta tangan nya untuk di genggam. Adam pun tersenyum. Jadi la Adam menyetir dengan 1 tangan tangan lain nya sudah bertaut dengan tangan tunangan cantik nya itu.
Dia lega Maira tak menunjuk kan kalau dia marah. Walau pun Adam tau kejadian di pub tadi tak pantas.
🍁🍁🍁🍁
Jangan lupakan mampir, vote, like dan comments.
Witha.
__ADS_1