
Setelah makan malam Jaffa dan Liya duduk di taman belakang rumah. Jaffa yang duduk di ayunan sedang kan Liya duduk di kursi biasa.
"Mas capek ya".
"Dikit, kenapa mau pijitin aku hemm?".
"Ckk.. Lagian kamu juga ngapain mau aja di suruh ke sawah". Jaffa tersenyum melihat khawatir di wajah Liya.
"Sini kemari lah". Liya pun berpindah duduk nya di ayunan kini jarak kedua nya begitu dekat.
"Kau tau sayang, ibu ku meninggal ketika umur ku kala itu 12 tahun dan ayah ku meninggal ketika aku baru mulai bekerja, daddy dan ibu Adam lah tempat ku mencari kasih sayang, aku sangat mencintai kedua orang tua ku ketika aku sukses tapi mereka sudah tidak ada, bahkan aku belum sempat membahagia kan mereka, jadi mana mungkin aku membantah ayah mu, kalau itu membuat ayah mu bahagia dan merestui pernikahan kita kenapa tidak".
"Tapi mas kamu kan tidak biasa ke sawah aku hanya takut mas kenapa-kenapa".
Dengan lembut Jaffa membelas rambut Liya.
"Lihat la aku baik-baik saja, sudah jangan cemberut gitu jangan sampai aku khilaf di sini".
"Masss... Sambil mencubit pinggang Jaffa.
"Auu ya ampun sayang ini sakit".
"Mau lagi?".
"No no oke oke. Aku hanya kangen dengan mu, kita serumah tapi aku tidak bisa menyentuh mu... Ckkk menyebal kan".
"Sabar nanti juga kalau udah nikah puas-puasin tu berduaan".
"Oh ya kalau gitu besok aku minta ayah menikah kan kita"
"Cihh..mau di lempar lagi sama ayah ke sawah".
Hahahaha...
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhati kan mereka bercanda.
Cckkk enak saja dia merangkul anak ku". Pak Wisnu ingin membubar kan kemesraan anak nya.
Sudah lah yah, kayak gak pernah mudah aja".
Lihat tangan nya menggerayang sana sini, nanti kalau setan lewat gimana buk, terus dia malah berbuatbyang tidak-tidak".
Buk Ratih hanya menggeleng. " mau buat tidak-tidak bagaimana pak, Jaffa itu orang terpelajar, dia pasti tau mana yang baik mana yang tidak. Kalau dia mau buat macem-macem gak mungkin dia duduk di situ jelas-jelas kita bisa melihat mereka dari sini, ayah itu lo yang buang fikiran aneh-aneh".
Cekkk... ".
Sudah yah ayo masuk, itu urusan anak muda, kita sudah tua, lagian nanti mata ayah binyitan ngintip anak nya pacaran". Buk Ratih pun menarik tangan suami nya untuk masuk ke kamar dna meninggal kan Liya dan Jaffa yang tengah bercanda.
Sementara itu di mansion. Maira yang baru saja selesai menemani anak nya belajar dan meniduri Zeyra. Masuk ke kamar nya.
Adam masih sibuk kerja.
"Mas kamu masih kerja?".
"Iya sayang, Jaffa belum kembali ada beberapa laporan yang harus ku kerjakan untuk besok rapat".
"Hemm... Liya juga gak ada kabar apa mereka di kasi izin menikah apa gak ya?"
"Aku yakin sekarang Jaffa sedang di siksa orang tua Liya". Sambil menaik kan sudut bibir nya.
"Mas kamu itu senang banget ngeledek Jaffa".
__ADS_1
"Sayang mau kemana?". Maira meninggal kan ruang kerja suami nya.
"Aku mau tidur".
"Aku ikut sayang".
Adam pun segera menutup laptop nya dan menyusl istri nya yang sudah masuk kedalam selimut.
Adam pun segera mematikan lampu dan masuk ke dalam selimut. Sambil memeluk Maira dari belakang. Adam menghirup aroma wangi dari rambut istri nya.
"Sayang?".
"Hemm.... Apa malam ini mau buat Adam junior?". Sambil mengelus perut istri nya. Maira pun membalik kan badan nya dan menghadapi ke suami nya.
"Mas, aku bokeh nanya sesuatu?".
"Hemm tanya la?".
"Tap kamu jangan marah".
"Iya sayang apa?".
"Apa kamu sama mantan istri kamu gak oernha berhubungan lagi sejak bercerai?".
"Tidak, untuk apa?".
"Kenapa kalian tidak memiliki anak?".
"Hemmm.. Selama nikah aku tidak tau sama sekali kalau dia memakai alat KB, saat 10 bulan menikah aku juga heran kenapa dia tidak hamil dan dia bilang kalau dia belum siap punya anak, aku marah besar dan lebih mengejut kan lagi dia malah pergi mengejar karier nya ke Paris".
"Apa kamu masih mengingat nya".
"Tidak setelah kami resmi bercerai aku sudah tidak ambil tau lagi tentang nya, terkadang ibu suka memberi tahu ku kabar nya tapi tak pernah aku gubris".
"Buat apa? Kan dia yang meninggal kan bukan aku yang meninggal kan nya".
"Apa kamu...., aah tidak apa, ya udah tidur yuk aku ngantuk".
"Kamu mau nanya apa aku masih mencintai nya gitu?".
"Maira memalingkan wajah nya karena malu dengan pertanyaan yang di berikan Adam adalah pertanyaan yang ingin dia tanya kan, tapi karena malu dia urung kan eeh malah Adam tau apa yang difikir kan Maira.
"Maaf mas kalau aku penasaran".
"Tidak apa-apa, bertanya la kalau penasaran". Adam pun tertawa tipis.
"Sudah la dari pada baha itu mending kita buat Adam junior itu lebih bagus".
"Ihh mas kamu belum jawab".
Bukan nya menjawab Adam malah mencium bibir manis istri nya. Dengan lembut Adam ******* bibir Maira. Adam tidak akan bisa membiat kan istri nya Aman di smatas tempat tidur setiap malam dia mennggempur tubuh istrinya.
Dan seperti malam ini. Maira pun selalu senang dengan sentuhan dari suami nya. Puas berciuman.
Adam dan Maira menghirup oksigen dwngan rakus. Adam memandang lekat mata Maira.
I love you sayang".
Love you to".
Maira pun tersenyum dan mengecup bibir Adam. Tanpa membuang kesempatan Adma pun membalas lebih ganas dari tadi. Dia sudah mengusai tubuh istri nya.
__ADS_1
Dan..... Hemmm...
Sementara di Jogja.
"Mas udah yuk masuk dingin".
"Sini aku peluk".
"Ih apaan sih nanti ibu sama ayah liat gak enak".
"Ckkk... Aku rasa bapak sama ibu udah tidur cium dikit aja".
"Enggak ya udah aku masuk dulu, kamu kalau mau di sini terserah".
"Liya pun berdiri dan melangkah.
"Sayang dikit aja".
"Tu cium aja ayunan".
"Cekkk... Tega kamu".
Liya pun bergegas masuk dan meninggal kan Jaffa yang masih setia duduk di ayunan.
Sambil menghela nafas dia menatap langit yang di penuhi bintang.
"Pa ma... Doain aku di sini semoga bisa mendapat kan Liya untuk jadi istri aku, kalian sudah terlalu lama meninggal kan ku, aku kangen kalian ma pa".
Tanpa terasa mata Jaffa berembun. Dia pun mengusap wajah nya pelan. Entah kenapa di sini dia merasa tenang dan bahagia. Dia merasakan kembali kasih sayang dan perhatian dari orang tua walau itu dari orang tua Liya. Tapi Jaffa sangat senang.
"Mas". Panji mengejut kan dengan menepuk pundak Jaffa.
"Eehh panji, kamu belum tidur?".
"Belum mas tadi lagi ngecek pintu eeh pas mau nutup ngeliat mas Jaffa di sini".
Kenapa mas kok kayak nya lagi sedih?".
Dia menatap Panji. Ya Panji sangat perhatian dengan nya.
"Nji kamu sering merindukan mereka?".
"Hemmm... Sering mas.. Kadang malah sering nangis sendirian?".
"Apa kamu punya pacar?".
"Hahhahaha... Mana berani aku mas bisa di golok sama pak de".
"Whaat... Segitu nya sama kamu juga dia posesif".
"Pak de itu gak suka kalau aku main-main dia menyuruh ku kuliah bukan pacaran kata nya kalau belum mapan jangan macam-macam untuk ngegoda anak gadis orang".
"Kapan-kapan aku ajak kamu ke Jakarta biar ngeliat gadis-gadis kota, mereka cantik-cantik, kalau di Jakarta kan pak de mu gak bisa ngelarang".
"Hahaha boleh juga sesekali cuci mata".
Kedua nya pun tertawa.
Bahaya ya bang Jaffa ngajarin Panji yang masih polos
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.
Witha.