Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Menunggu hasil


__ADS_3

Karena hari ini libur Adam dan Maira masih betah berselimut di tempat tidur mewah mereka.


Jam sudah menunjuk kan pukul 8 pagi. Matahari sudah mengeluar kan silau nya dari balik gorden kamar yang luas dan mewah.


Maira menggeliat dari tidur nya. Namun badan nya terasa berat. Selain badan nya terasa remuk karena pergulatan sepanjang malam, tubuh nya di tindih tangan kekar suami nya.


Setelah berhasil menyingkir kan tangan Adam dari tubuh nya, Dengan tertatih Maira pun pergi ke kamar mandi. Selesai dengan ritual mandi nya Maira berjalan ke ruang walk in closet, ia merasa ada yang aneh dari tubuh nya. Dengan cepat dia memakai baju.


Maira memperhatikan Adam yang masih pulas dan mengecup singkat kening suami nya. Maira membiar kan Adam tidur, dia pun turun ke bawah. Saat berada di dalam lift Maira merasakan tubuh nya meriang dan kepala nya sedikit pusing.


Sampai di bawah anak-anak nya sedang bermain di taman. Sedang kan mama Sarah dan ibu Dini sedang duduk di taman.


Maira datang menghampiri anak-anaknya dan kedua ibu nya.


"Ra kenapa kamu sakit kok pucat?. Buk Dini yang melihat anak nya sedikit cemas pasal nya wajah Maira benar-benar pucat dan lesu.


"Entah la buk badan Maira meriang kepala juga puyeng banget".


"Sarapan dulu masuk angin kali kamu".


"Seperti nya buk". Maira melihat mama sarah yang meraih tangan nya.


"Ya ma, Maira baik-baik aja, mama udah sarapan?". Maira mengelus pipi mama mertua nya dengan lembut. Mama Sarah hanya tersenyum.


Sambil terbata mama Sarah berucap. " kamu sakit?".


Maira dan buk Dini senang mendengar mama Sarah sudah pelan-pelan bisa bicara.


"Biar saya buatin teh panas buk". Ika yang juga sedang berada di taman menawar kan diri.


Setelah meminum air teh hangat Maira justru merasakan hal aneh di perut nya tiba-tiba saja perut nya bergerak hebat ingin memuntah kan isi nya. Maira pun berlari kedalam menutup mulut nya.


"Ra kamu kenapa?". Buk Dini berteriak melihat Maira berlari masuk ke dalam.


Ika dan Dinda pun ikut berlari mengejar nyonya mereka.


Hueek.


Maira memuntah kan semua isi perut nya padahal dia belum ada memakan apa pun pagi ini.


"Buk, ibuk baik-baik aja?".


"Gak tau kenapa tiba-tiba saya muntah tapi rasa nya saya tidak ada salah makan".


"Ayo buk duduk dulu saya pijitin ya". Ika dan Dinda pun memapah Maira duduk di sofa ruang tengah.


Ika segera mengambil air putih dan minyak angin dan Dinda mulai memijit tengkuk Maira. Sedang kan ika memijit telapak tangan Nyonya nya yang dingin.

__ADS_1


"Buk apa mau istirahat ke atas?".


"Tidak usah Din, di sini aja, tubuh saya lemes".


Buk Dini pun masuk sambil mendorong kursi roda mama Sarah.


"Ra, kamu ada salah makan?". Buk Dini berdiri di belakang Ika yang sedang memijit tangan Maira.


"Gak buk, dari semalam Maira kan makan di rumah enggak kemana-mana, badan Maira lemes buk".


"Ra, jangan-jangan kamu hamil?".


"Hamil?".


"Hemmm... Bulan ini kamu udah datang bulan belum?".


Maira mencoba mengingat nya, ya dia memang belum ada datang bulan tapi rasa nya ini terlalu cepat bagi nya. Baru juga sebulan lebih menikah.


"Masa iya buk secepat itu, gak mungkin la buk?".


"Astaga Ra kamu udah nikah punya suami dari mana gak mungkin hamil".


"Beli testpack aja dulu buk buat mastiin, kalau positif baru ke dokter". Dinda memberi saran.


Tidak lama Adam pun turun sudah segar dengan baju santai.


"Maira tadi muntah terus badan nya meriang Dam, ibu bilang mana tau dia hamil eeh dia gak percaya".


Adam langsung duduk mendekat di sisi Maira. Dinda dan Ika pun bergeser. Dengan wajah panik Adam meletak kan tangan nya di kepala Maira dan menggenggam nya.


"Sayang wajah kamu pucat kita ke dokter aja ya? Mana tau ibu bener kamu hamil".


"Gak usah mas, entar kalau gak hamil gimana? Mungkin aku masuk angin?".


"Ya udah kalau kamu gak yakin Ra mending di testpack aja dulu buat pastiin".


"Ya udah aku beli dulu ya".


"Gak usah tuan biar saya aja yang pergi beli". Dinda menawar kan diri.


"Oke ini uang nya minta Malik anterin". Dinda pun mengangguk dan pergi.


Setelah kepergian Dinda, Adam pun menyuruh ika membuat kan bubur untuk Maira makan. Maira sama sekali tak bergerak dari sofa. Setelah tadi kembali muntah. Bahkan suami nya meminta untuk pindah ke atas pun dia tidak mau. Akhir nya Adam meminta Ika membersih kan kamar tamu yang di bawah. Biar Maira bisa istirahat.


"Sayang ayo makan dulu ya".


"Enggak mas mulut ku rasa nya gak enak".

__ADS_1


"Iya aku tau sayang tapi makan dulu sedikit biar gak kosong perut nya".


"Mas".


"Iya sayang, kamu mau apa?".


"mau peluk". Dengan manja Maira minta di peluk.


"Adam pun menggeser duduk nya mendekat ke atas tempat tidur.


"Mas, kalau aku gak hamil gimana?".


"Gimana apa nya? Ya kalau belum hamil berarti kan belum rezeki sayang udah gak usah di fikir kan, yang penting kamu sehat sayang itu jauh lebih penting".


"tapi aku takut mas".


"Takut kenapa hemm?".


"Ternyata aku gak hamil dan bikin kamu kecewa".


"Ckk sayang udah la jangan mikir yang aneh-aneh".


Tidak lama kamar pun di ketuk terlihat Dinda datang membawa plastik berisi testpack.


"Tuan ini testpack nya". Dinda menyerah kan ke tangan Adam.


"Kenapa banyak sekali Din?".


"Biar akurat aja tuan, di coba aja semua buk".


Maira tertawa geli melihat kantong berisi berbagai macam bentuk testpack.


"Ya udah mas sini, biar aku ke kamar mandi, makasi ya Din?".


"Ya buk, saya permisi tuan".


Maira bangun dan masuk ke kamar mandi. Adam yang menuggu di depan kamar mandi harap-harap cemas. Bohong kalau dia tak mengharap kan Maira hamil anak dari nya.


Dari dulu dia ingin memiliki anak tapi belum terwujud.


Saat sedang fokus menunggu istri nya keluar. Ponsel Adam bergetar sebuah pesan masuk di ponsel nya.


" Dam, boleh aku minta tolong..... ".


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.

__ADS_1


Witha


__ADS_2