
Adam meraih tangan Maira yang melangkah berteriak ke arah Rafif.
"Sayang sudah biar kan saja dia pergi, memang nya kamu mau kemana? Tadi kamu bilang rumah? Rumah kamu?"
"Oh itu, iya jadi sebelum nya kan aku enggak tinggal di sini. Sejak setahun setelah cerai aku beli rumah dekat kok dari sini, aku mau balik ke sana tapi ibuk enggak kasi dia minta aku sama anak-anak untuk tinggal di sini aja biar dia enggak kesepian. Jadi aku mau ambil beberapa barang aku sama anak-anak yang penting aja"
"Ya udah biar aku yang temanin, kamu itu ya kalau ada apa-apa ngomong sama aku biar aku yang anterin"
"Iya tapi kan deket aja di sini enggak jauh. Kan enggak mungkin aku telpon kamu cuma minta anterin, kalau jauh mungkin aku minta kamu yang temanin"
"Ya udah karena aku ada di sini, biar aku yang anterin oke"
Maira pun mengangguk dan kedua nya jalan masuk ke rumah utama.
"Buk Maira sama Adam ke rumah Maira ya buat ambilin barang-barang"
"Loh Rafif kemana?"
"Pergi buk katanya ada janji sama temen nya"
"Duh itu anak paling gak bisa diam di rumah"
"Enggak apa-apa buk biar saya yang anterin Maira, mumpung saya di sini"
"Ya sudah hati-hati ya"
"Anak-anak di mana buk?"
"Ada di kamar, tadi zeyra kata nya udah ngantuk, di temanin sama Anum"
"oh.. Kalau gitu Maira pergi dulu ya buk"
Buk Dini pun mengangguk.
Maira dan Adam pun berlalu meninggal kan rumah orang tua nya. Adam pun mulai menyetir mobil nya perlahan.
Setiba nya di rumah Maira. Mereka pun turun. Adam mengikuti Maira dari belakang. Maira pun menyalakan lampu.
"Ayo masuk, kalau agak berdebu maklumin aja ya dam, udah lama aku tinggalin dan enggak di bersihin"
"Iya enggak apa-apa sayang, emang kamu mau ambil barang apa aja?"
"Ini beberapa mainan sama baju-baju Zidan dan Zeyra dan baju aku"
"aku ke atas ya dam?"
Adam pun mengangguk. Ia terus memperhatikan sekeliling rumah Maira. Tidak ada yang special desain rumah cukup minimalis dan sederhana. Tak banyak barang dan interior yang berlebihan. Ia pun memandang foto-foto yang terpajang rapi di lemari susun.
Setelah puas memperhatikan sekeliling. Adam pun menuju ke lantai dua di mana Amira sedang berkemas.
"Sayang ada yang bisa aku bantu?"
"Kamu mau bantu?"
Adam mengangguk. "Yang mana bisa aku masukin dulu ke mobil?"
"Yang ini dan ini"
"Ini aja?"
"Iya ini berat lo, kamu bisa gak?"
"Ya ampun sayang ini masih ringan, sini aku angkat kamu sekalian"
"Hahaha... Aku bisa jalan sendiri"
"Ya udah kamu beresin aja yang lain nya ini aku anterin dulu ke mobil"
Adam pun berlalu membawa 2 tas lumayan besar berisikan baju dan mainan anak-anak Maira.
Maira pun mengangguk. Dia kembali memasuk kan beberapa baju milik nya ke dalam tas travel bag.
__ADS_1
Setelah merasa cukup. Maira pun kembali menarik laci yang ada di samping tempat tidur untuk mengambil beberapa dokumen penting.
Saat meraih map plastik yang berisikan dokumen pribadi milik nya tiba-tiba saja selembaran jatuh ke lantai. Maira pun meraih nya dan membalik kan terlihat selembar foto pernikahan nya dengan Nugroho.
"Kok masih ada bukan nya sudah aku simpan semua di gudang rumah ibuk" batin nya.
"Sayang?"
Suara Adam pun mengejut kan nya buru-buru dia memasuk kan lagi foto tersebut.
"Eem ya... Ini aku udah mau selesai".
Maira pun dengan cepat menutup laci dan memasuk kan dokumen pribadi nya di dalam travel bag nya.
"Ada lagi yang mau di masukin ke mobil?"
"Oh enggak ad ada lagi udah semua cuma tinggal ini aja,bentar ya aku rapiin dulu"
Maira pun merapikan tempat tidur nya, menyimpan semua bantal di lemari dan selimut. Adam yang berdiri di samping jendela sesekali melihat kegiatan Maira dan melihat ke arah luar.
"Sayang kenapa tidak di jual saja rumah ini atau kamu sewakan?"
"Tadi nya juga ibuk suruh aku sewain tapi gak aakh nanti rusak kalau pindah tangan. Aku mau simpan aja rumah ini untuk anak-anak"
Kini Adam pun duduk di sofa singgle milik Maira yang ada di samping tempat tidur.
"Awal nya aku gak niat beli rumah ini cuma waktu cerai aku dapat bagian dari jual rumah bersama dulu, aku takut uang nya habis enggak jelas, jadi ya aku beli aja rumah"
Maira yang kini duduk di bibir tempat tidur, berhadapan dengan Adam.
"Dam? Aku mau nanya sesuatu sama kamu"
"Iya apa sayang?"
"Kalau seandai nya kita berjodoh terus nikah, kamu mau nya aku di rumah aja apa aku di bolehin kerja?"
Adam pun meraih kedua tangan Maira dan menggenggam ny.
"Entah la, aku masih trauma kejadian dulu sibuk kerja sampai gak bisa bagi waktu buat ngurusin rumah dan kebablasan. Tapi kalau....
"Kalau gitu berhenti la bekerja dan dampingi aku kemana pun aku pergi atau kamu bisa habisin duit ku buat apa pun yang kamu mau, itu bisa buat aku tenang jadi suami kamu"
"Ihh apaan sih kamu, enggak lucu ah, aku bukan tipe perempuan hobbi belanja gila-gilan"
"Ya enggak harus belanja sayang, bisa itu buat buka usaha sendiri? Kamu bos nya, kalau bos kan waktu nya lebih fleksible, biar kan karyawan kamu yang bekerja nya"
"Benar kah aku boleh buka usaha?"
"Kalau boleh kamu mau berhenti kerja?"
"Iya... Maira pun mengangguk dengan semangat.
"Kamu yakin ninggalin perusahaan yang udah kasi kamu posisi bagus?"
"Yakin lah kalau kamu suami nya"
Maira pun tersenyum.
"Tunggu dulu, jadi aku di terima jadi calon suami"
"Iya dong kan tadi kamu nawarin buat ngabisin uang kamu, soalnnya belum ada laki-laki yang nawarin buat habisin uang nya cuma kamu" hahahahaha.
"Kalau aku tarik tawaran aku, kamu masih mau jadiin aku suami?"
"Eeemm... Enggak lah aku cari aja yang lain yang bersedia uang nya aku habisin"
Maira pun tertawa sambil berlalu.
"Dasar kamu matre"
"Biarin aku matre, sekali sekali" hahhahahhaa.
__ADS_1
Adam hanya tersenyum melihat ocehan wanita cantik itu.
Dengan gerakan cepat Adam meraih pinggang Maira yang hendak berlalu. Sedetik itu juga Maira sudah jatuh di pangkuan nya.
"Adaam. Kamu iseng banget sih. Gak bisa apa pake slow-motion gitu"
Adam hanya nyeringai mendengar protes kekasih nya itu.
"Sayang, nanti pas peresmian hotel ibu dari singapur datang, aku mau kenalin kamu ke dia, dan aku akan ngelamar kamu di hadapan orang tua kita".
"Kamu serius?" Maira memutar badan nya menghadap ke Adam.
"Dari awal kita mulai hubungan aku serius kamu tau itu kan? Sekarang kamu nya siap enggak jadi pendamping aku?"
Dia hanya mematung memikir kan sesuatu.
"Baik lah kamu janji bisa terima aku dan anak-anak aku tanpa syarat?"
"Syarat aku hanya minta kamu jadi pendamping aku dengan rasa kepercayaan, aku ingin kita saling percaya dan jujur itu saja. Yang lain kita sama-sama belajar, bukan kah kita punya masa lalu yang tak perlu kita ungkit, saat aku menerima kamu berarti aku juga siap menerima apa yang ada pada kamu termasuk anak-anak kamu"
Adam menatap intesn wajah Maira sambil membelai rambut Maira.
"Baik la Adam Zein Demir, aku siap di lamar. Insya Allah" ucap Maira penuh keyakinan.
Adam pun tersenyum penuh haru. Ia meraih kepala Maira dan memberikan kecupan yang dalam di kening Maira.
"Terimakasih sayang" ucapa nya setengah berbisik di telinga Maira.
"Ya udah yuk ah kita pulang" Maira mencoba menarik badan nya dari pangkuan Adam, namun Adam justru mengerat kan kungkungan nya.
"Adam kamu mau apa lagi?"
"Kamu enggak kasi aku hadiah?"
"Hadiah apa?"
"Hadiah tadi habis bantuain kamu angkatin barang-barang"
"Ya ampun adam pamrih banget sih kamu"
Maira tau apa yang di ingin kan Adam. Ia pun sekuat tenaga meronta namun tenaga Adam lebih dominan.
Oke oke aku kasi tapi janji habis itu kita pulang?"
"Ha aha... "
Maira pun dengan cepat mengecup bibir Adam.
"Udah oke yuk pulang"
"Gak ah, cuma segitu aja"
"Cukup nanti kita lakuin yang lebih dari itu sampe guling-guling tu di kasur"
"Serius sayang, kapan?"
"Tunggu HaLal toyyiban"
Adam pun memutar kan mata nya. "kirain sekarang" seloroh nya sambil berdiri.
"Adaaam" teriak Maira.
"Iya ya sayang aku cuma becanda"
Kini kedua nya pun keluar dari rumah Maira. Dan beralalu kembali ke rumah orang tua Maira.
🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa mampir, vote,like dan comment.
Witha.
__ADS_1