Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Hadapi


__ADS_3

Satu jam perjalan Jaffa dan Ilyana pun akhir nya masuk ke sebuah perdesaan yang jauh dari keramaian. Sepanjang jalan menuju rumah orang tua Iliyana mata Jaffa di sungguhi dengan hamparan sawah kiri dan kanan. Sangat meneduh kan mata. Jaffa terkesima selama ini dia hanya terbiasa melihat gedung-gedung pencakar langit. Tapi kali ini sungguh pemandangan yang sangat alami.


Tak lama mobil yang mereka sewa masuk ke sebuah perkarangan rumah yang terbilang lumaya bagus di antara rumah sekitar nya.


Walau pun tidak tingkat atau memiliki pilar mewah tapi rumah itu sangat cantik bentuk joglo tapi ada sedikit sentuhan moderen nya.


"Ayo mas kuta sudah sampai?". Mereka berdua pun turun dari mobil.


Terlihat seorang wanita paru baya berlari mengahampiri mereka.


"Non Liya sudah sampai?".


"Mbok mah.... Aaaaaakk... Liya kangen".


"Mbok juga kangen non, ini siapa non?". Yang di panggil mbok Mah itu melirik Jaffa yang sedari tadi diam mematung melihat interaksi mereka berdua.


"Oh ini.. Kenalin mbok ini Jaffa?". Jaffa mengangguk sambil tersenyum.


"Wah tampan non, apa ini calon".


"Aahh mbok bisa aja, belum bisa di kata calon ayah belum kasi lampu ijo". Setengah berbisik, lalu kedua tertawa.


Jaffa yang merasa sedang di gibah kan berdehem. Heekkmmm".


"Ya sudah non bawa masuk mas nya ibu sama ayah sudah menunggu, sini barang-barang nya biar mbok suruh panca yang angkat".


"Makasi ya mbok, yuk mas kita masuk".


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsallam".


Ibuk ayaah...


Liya...


Liya pun berhambur memeluk ibu dan ayah nya.


"Kamu sehat nak?".


"Sehat buk, ayah sama ibuk sehat kan?".


"Kamu itu kenapa jarang pulang ndok, sudah enak ya jadi orang kota?".


"Bukan gitu buk, Liya kan baru kerja buk jadi gak enak kalau sering-sering pulang".


"Hekkmm". Suara ayah nya berdehem sambil melihat ke arah Jaffa yang berdiri di hadapan mereka.


Wajah ayah Liya sudah tak bersahabat menatap Jaffa seperti sedang menatap musuh, Jaffa yang ditatap memasang wajah tenang sambil tersenyum. Biasa nya dia yang menatap lawan nya seperti itu. Tapi demi gadis yang dia cintai dia mencoba tenang. Untung saja yang menatap nya adalah ayah Liya kalau orang lain sudah di lawan oleh nya.


Melihat kecanggungan ayah dan kekasih nya Liya buru-buru mendekat ke Jaffa.


Buk yah kenalin ini mas Jaffa"


"Kenal kan buk pak saya Jaffa". Sambil nyodorin tangan nya ke arah ibu dan ayah Liya. Tapi naas tangan nya tak bersambut ketika ke ayah nya Liya. Justru ayah nya Liya maju selangkah menatap Jaffa dari atas sampai bawah, dari bawah sampai atas lagi. Sambil melipat kan tangan nya kebelakang badan nya pak Wisnu terus menatap Jaff dengan horor.

__ADS_1


Ibu Liya yang bernama bu Ratih itu hanya menggeleng kan kepala nya melihat tingkah suami nya.


"Mari nak Jaffa silakan duduk". Tawar buk Ratih. Sudah yah kasian tamu kok di pelototin gitu". " Mbok mah?".


Iya buk".


"Buatin air dan siapin makan siang ya?".


"Injih buk".


"Nak Jaffa ini teman kerja Liya?".


"Bukan buk, dia teman nya suami atasan Liya di kantor". Liya menjawab.


"Terus kalau dia teman ada urusan apa dia mengikuti mu sampai ke sini?". Pak Wisnu bersuara. Masih belum bersahabat kini dia malah melipat kedua tangan nya di dada.


"Hekkmm... Begini pak buk saya dan Liya saling me... ". Entah kenapa kali ini nyali Jaffa benar-benar payah.


"Saling apa hahh". Pak Wisnu masih menatap curiga.


"kita berdua teman dekat pak maksud saya begitu".


"Lalu? Apa hanya itu?".


Ayaaahh". Liya udah cemberut melihat tingkah ayah nya yang tak pernah bersahabat kalau urusan nya dengan teman laki-laki.


"Ee.. Itu". Ya Tuhan kenapa kata-kata yang sudah di susun semua nya bubar sih, kenapa susah sekali mau bicara, kenapa juga dia harus mengintimidasi aku seperti itu, untung aku cinta dengan anak nya cckkk... " batin Jaffa.


Jaffa mencoba menetralisir kan perasaan gugup nya. Dengan pelan dia tarik nafas dan mengehmbus kan secara perlahan.


"Huhhh... Selamat, ibuk nya sih oke lah bapak nya kenapa horor banget sih". Batin Jaffa benar-benar meringis ngeliat kekauan di wajah calon ayah mertua nya.


Saat ibu dan ayah Liya berlalu menuju ruang makan. Jaffa menarik tangan Liya.


Sambil berbisik. "sayang kenapa ayah mu seseram itu?".


"Kan aku sudah bilang, jadi gimana? Kamu nyerah buat renacana nikahin aku?".


"Bukan begitu sayang?".


Tapi belum sempat mereka menerus kan debat ayah Liya keburu memotong dengan berdehem.


"Hekkkmm... Nanti saja lanjut diskusi nya Liya". Dengan suara nya yang bariton nya siapa pun yang mendengar nya akan bergidik.


"Iya ayah".


Jaffa melongos melihat jelingan mata dari pak Wisnu.


Akhir nya mereka pun berkumpul di meja makan.


"Mas kamu mau lauk yang mana?".


"Yang mana aja sayang?".


Liya pun dengan cekatan meletak kan lauk di piring Jaffa.

__ADS_1


"Sayang ini apa?". Jaffa menatap heran lauk dengan warna kecoklatan dengan berbagai bentuk.


"Oh ini, ini nama nya gudek mas, ini ibuk yang masak, enak lo".


"Ayo di cobain nak Jaffa, pasti suka?".


Jaffa pun mengangguk tanda setuju, walau pun baru pertama kali dia melihat nya.


"Apa dia tidak punya tangan untuk mengambil makanan nya sendiri?". Tiba-tiba saja suara bariton itu keluar.


"Ayah, buk?". Liya merengek kesal melihat tingkah ayah.


"Ayah sudah la". Ayo nak Jaffa makan, jangan sungkan ya, ayah memang begitu orang nya takut kesaing". Sedikit memelan suara nya di kata terakhir tapi mampu membuat suami nya yang keras itu tak berkutik.


Mereka bertiga hanya tertawa kecil. Jaffa pun melahap makanan nya. Selain lapar makanan nya juga enak. Selain itu juga Jaffa memang senang makan makanan yang di olah di rumah. Terasa nikmat.


Setelah makan siang usai buk Ratih menyuruh Liya mengantat Jaffa ke kamar tamu untuk istirahat.


Mas ini kamar tamu, kamu istirahat di sini ya, tapi kamar nya gak seluas kamar hotel, kamu gak apa kan?".


Iya sayang gak apa-apa".


Ya udah kamu istirahat dulu ya aku mau ke kamar juga, nanti aku ajakin kamu keliling liat sawah". Liya pun berpaling ingin berlalu dari hadapan Jaffa.


Tapi tangan nya sudah di tarik Jaffa. Jaffa pun meraih pinggang Liya dan kini gadis itu sudah di dekapan nya.


"Mas kamu mau ngapain?".


Mau apa lagi, aku kangen". Sambil mengedus leher Liya.


"Mas nanti kalau ayah atau ibuk masuk gimana?".


"Cekk... Sebentar saja sayang". Liya pun akhir nya berhenti meronta setelah Jaffa memeluk dia dengan erat. Tak bisa di bohongin Liya juga senang saat Jaffa memeluk nya dengan hangat.


Tapi adegan mesra itu tak akan mungkin bisa berlangsung lama. Mereka lupa kalau sedmag berada dalam kawasan zona berbahaya.


"Liyaaaaa... ". Teriak ayah nya dari luar. Walau pun pintu kamar tidak terbuka penuh tapi kamar itu tertutup gorden. Namun pak Wisnu seperti punya indera ke enam.


Liya pun melepas kan diri dari pelukan Jaffa dan berhambur keluar.


Jaffa jangan di tanya betapa dia sangat kesal dengan pak Wisnu. Jaffa pun merebah kan tubuh nya di tempat tidur.


Sambil memandang langit-langit kamar dia sedamg berfikir untuk menghadapi ayah Liya.


Cekkk... Kalau bukan karena anak nya yang cantik itu, sekarang juga aku angkat kaki,,, hufff".


"Baik la pak Wisnu kalau ini adalah cara untuk mendapat kan restu untuk menikahi anak gadis mu, akan aku hadapi, kita liat siapa yang akan mengalah". Jaffa pun bangun dan duduk sambil mengangkat tangan ny dan mengepal.


Duh bang dah kayak lagi pidato nyaleg.


🍁🍁🍁🍁


Terima kasih semangat dari kalian readers.


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.

__ADS_1


Witha.


__ADS_2