
Setelah melewati kekesalan nya karena harus mengahadapi kehebohan ibu nya. Maira pun sudah siap dengan gaun putih simple, riasan yang tidak mecolok dan rambut panjang di cepol. Membuat ke anggunan Maira bertambah.
Rumah nya yang tadi biasa-biasa saja kini sudah berubah lebih berwarna. Chef pun sudah sibuk di dapur sedang menyiap kan beberapa menu.
Anak-anak Maira pun sudah rapi begitu juga dengan bapak, adik nya dan tentu saja ibu nya yang sudah rapi couplean dengan suami nya.
"Duh cantik nya anak ibu". Buk Dini memeluk anak nya dari samping.
"Apa Adam sudah jalan ke sini Ra".
"Sudah pak bantar lagi juga sampai".
15 MENIT berlalu akhir nya yang di tunggu datang.
Mobil Adam yang di supirin Malik pun tiba di halaman tumah Maira.
Adam pun turun dengan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu bermotif kan batik sembunyi. Bertambah sudah gagah dan tampan nya.
Adam datang dengan ibu, paman Zakaria dan Farasya. Bibi nya berhalangan hadir karena anak nya yang paling kecil tiba-tiba demam tinggi.
Mereka juga membawa banyak barang sebagai hadiah lamaran. Hadiah nya bukan main-main ada tas, sepatu baju-baju dan alat makeup dari berbagai merk top dunia tentu saja harga nya tak murah.
Keluarga Maira sudah berada di teras untuk menyambut kedatangan keluarga Adam. Melihat banyak barang yang dibawa Maira di bantu adik nya pun ikut membantu.
"Bu biar Maira aja yang bawa ya". Dia meraih barang yang ada di tangan calon mertua nya.
Pak Rasyd pun menyalami bu Defne dan paman Zakaria. Begitu juga dengan bu Dini.
Setelah orang tua dan yang lain pada masuk tinggal la Adam dan Maira di belakang.
Setengah berbisik Adam mendekat kan badan nya di sisi Maira.
"Sayang kenapa 2 malam ini kamu sangat cantik dan menggoda ku, gak sabar ingin melahap mu". Bisik nya sambil menggoda Maira.
"Adaam diam la ada orang tua kita di sini". Maira mendelik kesal bisa-bisa nya Adam menggoda nya begitu, tapi jujur Maira bahagia dapat pujian dari kekasih tampan nya itu.
Kini kedua keluarga itu sudah duduk di runag tengah. Pak Rasyd memperkenal kan semua anggota keluarga nya. Mereka juga berbincang-bincang perihal asal Buk Defne dan sang suami Tuan Zein. Bu Defne juga menjelas kan kenapa suami nya tidak datang dan melamar secara mendadak.
"Maaf pak Rasyd dan buk Dini, saya dan suami sungguh terkejut dengan permintaan anak saya meminta melamar nak Maira secara mendadak begini".
"Kami juga minta maaf tidak menyiap acara penyambutan semana mesti nya, tapi ini mau nya anak-anak kita, sebagai orang tua kami hanya merestui saja".
Kini giliran sang paman yang sudah di beri mandat untuk mewakili dari pihak tuan Zein untuk meminang Maira untuk Adam.
"Tidak apa-apa kang ini saja sudah sangat mewah, benar kata akang kita ikuti saja mau nya mereka. Saya saja terkejut bukan main waktu Adam memberi tahu ingin meminang neng Maira, jodoh siapa yang tau kan. Jadi kedatangan kami sekeluarga ke rumah akang dan teteh tentu saja ada makna mendalam. Saya selaku paman Adam dan sudah di beri mandat sebagai wali dari Tuan Zein daddy nya Adam ingin menyampai kan keinginan terbesar dari anak tampan kami ini, dia ingin sekali melamar neng Maira untuk menjadi istri, mohon di terima tanda pengikat dari anak kami kang".
Paman Zakaria mempersilakan ibu Adam untuk menyerah kan 1 set perhiasan.
Di sambut oleh pak Rasyd.
Terima kasih atas niat baik nya, kami sebagai orang tua dari Maira sangat terharu atas perlakuan baik dari keluarga tuan Zein. Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak perempuan nya di pinang ya kan bu?".
Bu dini hanya mengangguk dan tersenyu.
"Tapi sebelum nya saya harus memastikan sediri dari yang di pinang". Pak Rasyd pun menoleh ke sisi kiri nya karena Maira duduk di samping bapak nya.
"Nak, kamu sudah mendengar sendiri niat baik dari keluarga Tuan Zein ingin melamar kamu untuk anak mereka Adam, apa kamu berasdia?".
__ADS_1
Kalau bapak merestui nya Maira menerima nya pak dengan sungguh-sungguh".
Alhamdulilah". Terdengar suara paman Zakaria bersyukur. Begitu juga bu Defne.
Adam sudah pasti menghela nafas bersyukur dlaam hati dan tersenyum bahagia.
"Sebaik nya bu Defne dan teh Dini yang menyarung kan cincin ke jari anak-anak, Adam Maira ayo berdiri di sini". Titah sang paman
Adam dan Maira pun berdiri di ikuti bu Defne dan bu Dini.
Adam dan Maira, kedua ibu mereka yang menyarung kan cincin di jari masing-masing anak mereka, bu Defne pun memamakai kan semua perhiasan di lehar dan di pergelangan tangan Maira.
Dan juga secara simbolik menyerah kan semua hadiah yang mereka bawa tadi.
Tidak lupa di abadi kan oleh adik Maira yang sudaj siap dengan Camera canggih milik nya.
Alhamdulillah sah sebagai tunangan belum sebagai istri ya Adam". Paman Zakaria menggoda Adam. Yang di goda hanya senyum-senyum.
"Bicara soal sah, kan tidak mungkin kita tidak menentukan pernikahan, jadi menurut akang Rasyd bagaimana?".
Saya serah kan kepada mereka berdua mau nya kapan? Kalau pendapat saya lebih baik jangan terlalu lama sebulan dari sekarang itu sudah cukup melakukan persiapan, bagai mana pendapat bu Defne?".
Saya juga setuju dengan pak Rasyd lebuh cepat lebih bagus, Adam Maira bagaimana?".
"Adam setuju bu, malah Adam pengen seminggu lagi kami menikah terlalu lama sebulan?". Jawab nya santai.
Maira pun melongo. Dan yang lain pun tertawa mendengar jawaban polos Adam. Maira hanya tersenyum malu.
Ya sudah bagai mana Maira? Calon suami kamu mau nua seminggu lagi kalian menikah, dia sudah tidak sabar". Paman Zakaria mengurai tawa nya.
"Haa.. Kecepatan seminggu, kan banyak yang harus di persiapin Dam?".
"Apa gak kecepatan, entar acara nya di mana?".
"Acara nya nanti di hotel aku aja ya, nanti aku tinggal suruh Lani dan Weli yang ngurus, kamu tinggal tentu kan saja dekorasi nya dan baju kita tinggal panggil desainer, oke".
Ketika kedua sedang terlibat perdebatan, tanpa sadar mereka sedang jadi tontonan orang tua mereka, dan seketika mereka berdua diam dan menoleh ke arah orang tua mereka yang melongo menatap ke arah mereka.
"Sudah sudah kita cari jalan tengah nya saja". Pak Rasyd menengah kan anak dan calon mantu nya itu.
"Adam kamu yakin seminggu mau menikah nya?".
"Yakin pak". Dengan tegas dan mantap Adam menjawab.
"Oke deal seminggu lagi mereka menikah".
Adam tersenyum manis menggoda Maira yang menatap nya kesal. Nyonya Defne hanya menggeleng kepala melihat tingkah anak nya itu.
Setekah sepakat seminggu lagi mereka menikah. Pak Rasyd pun mengajak tamu calon besan nya itu ke ruang makan.
Chef yang sudah di panggil Maira untuk menyiap kan menu makan malam mereka pun mulai meletak kan menu pertama ke piring masing.
Semua nya larut dalam dalam nikmat nya makanan sambil berbincang ringan.
Adam dan Maira yang duduk bersebelahan.
"Enak gak dam".
__ADS_1
"Eemm enak banget pinter kamu milih chef".
"Iya ini chef langganan kantor Rey kalau ada acara dinner karyawan".
"Ohh ya udah kamu bayakin makan nya ya biar sehat dan kuat?".
"Emang kenapa, aku selama ini sehat-sehat aja".
"Kami lupa seminggu lagi kita menikah, kamu harus kuat biar bisa aku lahap kamu tanpa jeda". Senyum nya sambil berbisik.
"Adaaaammm bisa gak usah bahas itu di sini, suka mesum aja pikiran nya". Sambil mencubit paha Adam.
"Auu sayang sakit". Dia pun menggenggam jari Maira agar berhenti mencubit paha nya.
Untung saja ada ramai orang di sini kalau tidak ada orang Adam pastikan Maira sudah di kungkungan nya. Adam pun memandang wajah Maira yang sedang berbicara dengan Farasya. Betapa bahagia nya dia malam ini, tinggal selangkah lagi dia akan memulai kehidupan yang baru.
Farasya melirik kakak nya yang tak berhenti memandang wajah calon nya kakak ipar nya ia pun senang melihat calon kakak nya itu begitu ramah padanya. Dia juga senang melihat kakaknya begitu bahagia. Beda waktu pernikahan pertama nya dulu, raut wajah kakak nya tidak sebahagia ini, mungkin karena di jodoh kan.
Acara lamaran dan jamuan pun usai. Kini Adam, ibu dan paman nya pun berpamit kepada keluarga Maira.
Sebelum Adam masuk ke mobil dia sempat menyerah kan black card ketangan Maira.
"Untuk apa ini dam?".
"Itu nafkah ku dan juga penawaran untuk istri ku"?.
Maira pun tersenyum.
"Baik la aku terima, aku akan menggunakan sebaik mungkin".
Oke, gunakan kartu itu untuk persiapan pernikahan kita oke".
Maira pun mengangguk. Kini Adam sudah berlalu dari rumah Maira. Maira dna orang tua nya pun sudah duduk di ruanng Tv. Anak-anak Maira sudah berada di kamar.
"Ra waktu kami seminggu persiapan segala dengan baik, ibu sama bapak tidak menuntut apa-apa, bapak juga tidak mau membebani kalian berdua, ibu juga jangan panikan ikut mempersiap pernikahan anak nya ya. Bapak setuju saja apa mau nya kamu sama Adam".
"Ya pak makasi ya pak buk udah ngerestuin pilihan Maira".
"Ya Ra, nak Adam orang baik, keluarga nya juga, ibu seneng pokoknya. Aduh kok ibu jadi pengen mewek gini".
"Ibuk apaan sih baru juga lamaran, Maira belum nikah bu".
"Tapi nanti kami juga pasti akan keluar lagi dari rumah ini, Ra pujuk Adam dong habis nikah kalian tinggal di sini aja ya".
:Buk Maira gak bisa paksa Adam kalau dia gak mau".
"Ya deh tapi cucu-cucu ibu biar di sini aja ya?".
Buk ?".
Iya iya ibu ikut aja gimana nanti".
Ya udah ibuk istirahat, besok lagi kita bahas oke, Maira juga lelah".
Maira pun beranjak ke atas, sebelum nya dia masuk ke kamar anak-anak nya.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan comment.
Witha.