Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Warisan


__ADS_3

"Kau mungkin dengan mudah merayu anak ku, entah apa yang sudah kau gombal kan ke anak ku. Tapi kau tidak mudah merayu ku, tanpa izin ku kau tidak bisa menikahi anak ku, makanya aku harus memastikan dengan cara ku, baru aku yakin, lagi pula melihat tubuh mu yang ceking itu pasti kau tidak mampu melewati nya".


Jaffa teringat ucapan ayah Liya semalam.


"Ciihhh apa dia bilang badan ku ceking, tidak mampu. Dia tidak tau aku adalah ahli taekwondo dan bela diri. Dia tidak tau sekejam apa kalau aku sudah berkelahi, kau salah bapak mertua". Jaffa menyeringai licik.


Jaffa terus memperhati kan para pekerja di sawah. Ada yang membajak ada yang sedang menanam padi.


"Apa kau jijik turun ke dalam sana hah?". Tiba-tiba saja suara pak Wisnu mengejut kan Jaffa. Hampir saja dia melonjak.


"Ti tidak siapa bilang".


"Lalu kau buat apa di sini mandor?".


Jaffa hanya mengerling kan mata nya. Sebenar nya iya dia geli menginjak lumpur. Tapi mana mungkin dia mengakui nya bisa-bisa jatuh harga diri nya. Jaffa hanya bedecak kesal saat kaki nya benar-benar terendam dalam lumpur sawah.


Sementara pak Wisnu terus memperhatikan para pekerja nya termasuk Jaffa. Melihat Jaffa dengan susah peyah berjalan dalam lumpur dia mengangkat ujur bibir nya.


"Hati-hati mas Jaffa?". Panji mengingat kan Jaffa saat Jaffa menjalan kan mesin traktor bajak sawah.


Setelah rasa nya bisa mengusai mesin tersebut Jaffa pun mulai berkeliling menjalan kan mesin bajak.


"Tenang Panji aku bisa ternyata menyenang kan huahahaha.... Yeeeahh".


Panji hanya menggeleng kan kepala dan para pekerja lain nya tertawa melihat tingkah Jaffa yang kesenangan main traktor bajak.


Semantara itu Liya tak percaya apa yang dia liat. Cowok bule nya di suruh membajak oleh ayah nya. Dengan kesal dia menyusul ayah nya di gudang.


"Liya mau kemana kamu ha?".


"Aku mau nyusul ayah, aku mau buat perhitungan dengan ayah".


"Liya tunggu ibuk heii".


"Gak bisa aku buk, aku gak mau ayah nyuruh mas Jaffa bajak sawah, kalau dia kenapa-kenapa gimana, dia kan gak pernah kerja kayak begituan".


"Liya dengar kan ibuk". Namun Liya sudah di kerubung amarah dia pun berlalu meninggal kan ibu nya. Buk Ratih pun berlari mengejar anak nya dia takut akan terjadi perang antara suami dan anak nya.


Brak pintu gudang terbuka. Dengan wajah yang penuh amarah dia mendekati ayah nya. Ibu nya yang mengikuti dari belakang terkejut melihat amarah anak nya.


"Yah kenapa tega banget nyuruh mas Jaffa bajak sawah?".


Cekkk ". Pak Wisnu hanya memutar mata nya dia malas meladeni anak nya.


"Dengar kan Liya ya yah, kalau sampai mas Jaffa nyerah dan batalin nikahi Liya gara-gara ayah. Liya bakal kawin lari". Liya pun langsung memutar badan nya kembali ke rumah.


Sedang kan buk Ratih yang berada di situ menghela nafas panjang.


"Yah sudah la kenapa juga harus nyuruh nak Jaffa bajak sawah segala".


"Biar kan saja buk, dia cuma ngancam aja mana berani dia kawin lari".


"Kalau di nekat gimana?".


Ayo sini ikut ayah". Pak Wisnu pun meraih tangan Buk Ratih.

__ADS_1


Lihat tuh.. Calon mantu ibuk tu baik-baik saja, dia malah cengengesan di sana, sudah biarin saja, lagian bagus orang bule belajar bajak sawah".


Yah?".


Sudah la buk ayah tau apa yang harus ayah lakuin".


Buk Ratih hanya menggeleng kan kepala nya. Dia pun meninggal kan suami nya yang masih memperhatikan Jaffa di sawah.


Hampir menjelang tengah hari Jaffa masih di sawah. Setelah membajak dia pun belajar menanam padi bersama Panji. Jaffa benar-benar lupa siapa dia. Direktur perusahaan ternama. Kalau Haris atau Adam tau memang hancur sudah harga diri nya di olok-olok oleh mereka. Untung saja dia di Jogja.


"Mas ayo sudah siang kita istirahat". Ajak panji.


Jaffa pun mengikuti Panji menuju gudang di sana ada kamar mandi untuk petani yang bekerja di sawah Pak Wisnu. Dan juga sudah teraedia makan siang.


Setelah selesai membersih kan diri. Panji dna Jaffa duduk di pondok yang tak jauh dari gudang.


"Makan mas Jaffa". Panji menyodor kan piring yang sudah terisi makanan.


"Nji kamu udah lama kerja sama Pak Wisnu".


"Hahahhaha... Saya keponakan pak de".


"Ohh. Keponakan".


"Kenapa kamu milih kerja di sawah?".


"Dulu sebelum bapak saya meninggal beliau minta saya untuk bantu pak de buat ngurusin sawah kebun dan ternak milik keluarga kami. Ini semua warisan dari mendiang mbak kung, karena pak de gak punya anak laki-laki jadi saya yang bantu, kalau mbak Liya dia gak mau karena dari kecil cita-cita nya pengen kerja di kantor. Nah dia ngotot mau kuliah nya di Jakarta gak mau di Jogja, nah saya yang kuliah di Jogja"


"Kamu kuliah?".


"Iya sudah semester akhir ".


"Ya di sini bantu pak de, para pekerja ini semua rata-rata penduduk di sini mas. Mereka bekerja dengan pak de, tidak hanya bekerja mereka juga di ajarin bagaimana cara menjual hasil panen untuk pengahasilan mereka sendiri".


"Oh jadi mereka akan menjual hasil panen dari sawah dan ladang pak Wisnu?".


Panji mengangguk. "Rugi dong".


"Ya endak mas dari mana rugi nya, wong sawah pak de bukan ini aja?".


"What? Memang ada lagi?".


"Ada, di seberang sini nah hasil dari sana yang baru di jual secera besar-besaran karena memang banyak hasil panen nya. Kalau di sini sengaja memang pak de pinjamin sawah nya untuk penduduk yang tergolong susah di kampung sini, mereka tidak punya keahlian lain selain cocok tanam dan juga tidak punya sawah sendiri".


"Ternyata kaya juga pak de mu Panji".


Iya, mas Jaffa beruntung tuh nikahi mbak Liya warisan nya banyak". Hahahaha.


"Nih ya mas, sawah ada padi, di ladang ada jagung ada tebu, belum sayuran dan lagi ternak sapi dan kambing, semua nya menghasil kan, sudah mas tinggal di sini jadi pengusaha sapi duit nya akeh mas".


Jaffa hanya terkekeh mendengar penjelasan panji. Panji gak tau tabungan dan properti Jaffa ada di dua negara. Mungkin sebanding atau lebih dari pak Wisnu.


Di saat mereka sesang asik berbincang pak Wisnu datang.


"Kheemmm...

__ADS_1


"Ehh pak de".


"Pak".


"Sudah selesai makan kalian?".


"Kedua nya pun mengangguk.


"Panji kamu ke gudang hari ini ada yang akan mengambil sayuran".


"Baik pak de, saya permisi mas?".


"Ya nji... ".


"Ayo ikut ?".


Jaffa pun menurut dia mengikuti langkah kaki Pak Wisnu. Sepanjang berjalan kedua nya hanya diam. Lumayan jauh mereka berjalan tiba lah di sebuah perternakan yang cukup luas.


Di sana ada kandang sapi dan kambing. Jaffa benar-benar takjub dia baru kali ini melihat secera langsung sapi dan kambing. Sambil melongo Jaffa juga menutup hidung nya.


"Apa kau pernah memegang mereka?".


"Tidak pak, baru kali ini melihat secara langsung".


Dengan gerakan reflek pak Wisnu menoleh kebelakang. Menatap heran ke Jaffa.


Jaffa pun langsung melepas kan tangan nya dari hidung.


Pak Wisnu pun menarik nafas nya perlahan. Jaffa masih memperhatikan sapi dan kambing yang sedang makan.


"Jaffa kemari lah".


Jaffa pun datang mendekat dan berdiri di samping pak Wisnu. Mereka menaiki bukit yang ada di peternakan.


Begitu sampai mata Jaffa di sungguhi hamparan hijau yang luas.


"Kau tau ini semua milik keluarga ku, ini adalah penginggalan almarhum orang tua ku, dulu aku ingin Liya menikahi orang yang bisa ikut mengelola usaha warisan ini. Tapi anak itu keras kepala ingin kuliah dan bekerja di Jakarta, aku sudah menduga nya kalau dia bakalan kepincut lelaki kota".


"Dan...


Pak Wisnu melihat ke Jaffa dan menghela nafas.


"Dia malah membawa pria bule bukan orang kota lagi tapi malah warga asing, ckkk".


"Jadi kapan kau akan membawa orang tua mu ke sini?".


"Yaa". Jaffa melongo sekaligus terkejut.


"Kenapa dengan wajah mu?".


"Aaa tidak pak,...maaf pak kedua orang tua saya sudah tidak ada". Ucap Jaffa memelan.


Jelas membuat pak Wisnu tercekat. Lama dia menatap Jaffa. Dan kembali menatap ke arah depan.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha


__ADS_2