Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Memaafkan masa lalu


__ADS_3

Haris kembali ke kantor dengan perasaan bercampur aduk. Saat melihat Farasya tadi ada perasaan rindu, tapi di bandara tadi Farasya masih saja belum bisa melupakan Adam. Kekecewaan nya pun membuncah.


Haris menuju ruang rapat. Karena Adam dan Jaffa masih di ruang rapat. Haris pun membuka pintu.


"Aa Haris apa ibu ku sudah di hotel?".


"Sudah bos, nyonya Defne minta bos untuk bertemu dengan nya di hotel".


"Baik la aku akan kesana. Oh ya jangan lupa nanti malam kita bertemu di acara peresmian hotel oke"


Haris dan Jaffa hanya mengangguk. Jaffa yang masih sibuk melihat laptop nya melirik ke Haris dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Haris.


"Hei dude ada apa dengan wajah mu?"


"Kenapa?"


"Entah la seperti memikir kan sesuatu"


"Tidak ada yang aku fikirkan"


"Tunggu? Dimana dan kapan aku pernah melihat wajah kau seperti itu?"


Haris hanya melirik Jaffa sambil mendengus dia sibuk membolak balik dokumen kontrak klien.


"Oh ayo lah cerita kan, kau tau wajah mu itu pernah seperti itu saat kau pulang dari Amerika"


Haris pun melempar berkas yang di pegang nya tadi ke atas meja. Dan sambil mengusap wajah nya dengan kedua tangan nya.


Dengan perlahan dia menarik nafas nya.


"Farasya"


"What? Ada apa dengan gadis itu?"


"Dia ada di sini bersama nyonya Defne"


"Tunggu, apa sekarang dia ada di hotel"


Haris mengangguk pelan.


"Sudah la tidak akan terjadi apa-apa, lagi pula itu sudah lama terjadi. Mungkin sekarang dia sudah melupakan Adam".


Jaffa pun berdiri sambil berlalu mendekati Haris yang masih duduk. Sambil menepuk pundak Haris.


"Ungkap kan semua nya ke Gadis itu, bagaimana dia tau perasaan mu kalau kau tidak pernah memberi tahu nya"


Jaffa berlalu keluar. Haris pun memikir kan apa yang di katakan Jaffa.


Di hotel.


"Adam"


"Ibu"


Ke dua ibu anak itu pun saling berpeluk.


"Apa kerjaan mu baik-baik saja nak?"

__ADS_1


"Ya bu semua nya baik-baik saja, apa perjalanan ibu tadi lancar?"


"Iya sayang, oh ya kenapa tidak membawa calon mantu ibu kesini?"


"Dia kerja bu, nanti malam Adam akan mengenal kan ke ibu"


"Baik la nak, apa mau makan? Tadi ibu sudah memesan beberapa makan dari hotel"


"Iya buk Adam temani ibu makan"


"Nak hotel mu sangat bagus sekali, andaikan daddy mu melihat ini langsung, dia pasti akan bangga"


"Iya bu terimakasih, apa daddy masih di Dubai?"


"Iya, ada beberapa masalah di hotel kita yang ada di sana"


"Adam? Nyonya Sarah bagaimana?"


"Begitu la bu belum ada perkembangan yang berarti. Adam masih sibuk belum sempat menjenguk mama"


"Apa sudah mengenalkan nya ke calon menantu?"


"Sudah bu, dan ibu tau? Tertanyata Maira mengenal mama sebelum mengenal Adam"


"Oh ya bagai mana cerita nya?"


"Jadi keluaraga besar Maira tinggal di Bandung bertentangga dengan Paman Zakaria adik mama, dan yang lebih mengejutkan lagi, Maira pernah mendonor kan darah nya untuk mama setahun lalu"


"Wah kebetulan sekali, seperti nya kalian memang sudah di takdir kan untuk bertemu nak"


Kedua anak dan ibu itu menikmati makan siang dengan saling bertukar cerita.


"Adam?"


"Ya bu"


"Ada yang ingin ibu bicarakan"


"Ya apa itu bu"


Nyonya Defne pun berdehem sambil merapikan duduk nya.


"Ibu tidak datang sendiri"


Adam pun mengerut kan kening nya. "maksud ibu, ibu datang dengan Selyn? Tapi bukan nya sekarang dia tengah menyelesaikan ujian S2 nya bu?"


"Bukan sayang"


"Lalu siapa?


Ibu nya hanya diam dan menatap Adam khawatir. Dan Adam pun tahu siapa yang di maksud ibu nya. Buru-buru dia menarik diri nya dan berdiri.


"Bu kenapa dia datang? Bukan nya dia ada di Amerika?"


"Adam tenang la, duduk nak! Dengar kan dulu penjelasan ibu"


"Bu tapi bagaimana kalau dia tidak berubah?"

__ADS_1


"Adam jangan berburuk sangka dulu"


"Adam, percayalah dengan ibu, Farasya sudah berubah dia sudah tumbuh dewasa, dia sudah berjanji dengan ibu kalau dia tidak menyimpan perasaan apa pun lagi kepada mu, ibu mohon maaf kan la dia, ibu tau apa yang dia lakukan dulu itu sangat memalukan. Tapi adam, Farasya hanya punya ibu, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dia tidak punya tempat untuk pulang selain ke ibu nak"


"Tapi bu, apa ibu yakin dia sudah berubah?"


Adam jelas belum bisa melupakan kejadian yang menakutkan itu, andaikan saja terlambat sedikit Haris datang mungkin sekarang dia sudah bertanggung jawab atas apa yang bukan dia lakukan.


Adam pun memijit kepala nya.


"Ibu sudah meminta Haris untuk mengawasi dia, lagi pula setelah acara lamaran nanti ibu akan ke Turky untuk mengantar nya tinggal di rumah keluarga ibunya"


Tanpa kedua nya sadar, Farasya tengah menguping tanpa sengaja. Tadi dia ingin masuk menemui bibi nya tapi langkah nya terhenti saat dia mendengar suara Adam dan bibi nya sedang berdebat karena kehadiran nya. Tapi dia lebih terkejut lagi dengan ke inginan bibi nya untuk mengirim nya kembali ke Turky.


Brak... Pintu connecting kamar terbuka dengan kasar.


"Bi, apa aku tidak salah dengar? Bibi akan membuang ku lagi? Apa tidak cukup dengan hukuman ku selama 4 tahun di asing kan. Dan sekarang bibi benar-benar ingin membuang ku?"


"Farasya bukan itu yang bibi maksud kan?"


"Lalu apa? Apa maaf dan penyesalan ku tidak cukup bagi kalian, sampai sehina itu aku di mata kalian? Kak? Aku sudah benar-benar minta maaf dengan tulus sampai bersimpuh di hadapan kalian, apa itu tidak ada artinya bagi kalian, aku tau aku hanya beban bagi kalian. Lalu kenapa bibi menerima ku? Kenapa bibi tidak membuang ku dari 5 tahun lalu kepanti asuhan saat orang tua ku meninggal ha?


"Sayang dengar kan bibi dulu, bibi tidak membuang mu".


"Sudah la bi... Aa aaa aaaa"


Suara teriakan Farasya bergema di kamar hotel. Dia benar-benar kacau bagaimana tidak paman bibi yang sudah dia anggap sebagai pengganti orang tua nya kini sama sekali tidak menginginkan nya.


Dengan lembut bibi nya memeluk tubuh keponakan cantik nya itu.


"Dengar kan bibi nak tidak ada yang tidak menyayangi mu kami semua sangat menyayangi mu. Bibi, paman mu, Adam dan Selyn kami semua adalah keluarga mu. Bagaimana bisa kau bilang kami membuang mu. Itu tidak benar. Kami semua sudah memaafkan mu. Bibi hanya ingin kau meneruskan perusahaan yang di tinggal kan oleh ayah mu itu saja. Bibi dan paman akan menemani mu untuk beberapa bulan di Turky agar kau bisa belajar mengambil alih perusahaa ayah mu".


"Apa itu saja alasan bibi? Bukan karena kalian membenci ku?".


"Tidak sayang, bukan kah setiap manusia pernah melakukan kesalahan? Bukan kah Allah selalu memaafkan umat nya? Lalu apa hak kami tidak menerima mu atau membenci mu?"


Farasya pun memeluk bibi nya dan masih dengan isak tangis nya.


"Maaf kan bibi, bibi tidak mebicarakan dengan mi sebelum nya".


Dia pun melepas kan pelukan nya. Dan perlahan melangkah ke arah Adam yang berdiri di sebalik meja.


"Kak, aku tau kejadian dulu itu sangat membuat mu takut bahkan mungkin aku sangat menjijik kan di mata mu, tapi percaya la kali ini aku sungguh menyesali perbuatan ku di masa lalu, sekarang aku hanya ingin di anggap di keluarga ini, aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku hanya punya kalian". Farasya pun terisak dan terbata-bata sambil menunduk.


Adam yang melihat itu pun terenyuh dia pun meraih tubuh Farasya dan memeluk nya dalam dekapan nya.


"Dengar kan aku, kau dan Selyn adalah adik-adik ku selama nya kalian adik-adik ku yang paling aku sayangi, mana mungkin seorang kakak membenci adik nya. Aku adalah pelindung kalian, aku sama sekali tidak membedakan kalian"


Adam pun melepas kan pelukan nya dia meraih wajah Farasya dengan kedua tangan nya.


"Ikuti la apa yang di rencakan daddy dan ibu. kakak percaya kau bisa menjadi pengusaha muda yang cantik dan pemberani, buat la kedua orang tua mua bangga. Hemm"


Farasya pun mengagguk, " ya kak terima kasih".


Kini hati nya pun lega telah di maaf kan kakak nya terutama paman dan bibi nya sungguh dia tak mau lagi di buang oleh bibi dan paman nya. Dia terus berjanji di dalam hati untuk terus berubah dan menunjuk kan pribadi yang bisa di bangga kan oleh paman dan bibi nya.


Senyum di wajah nya pun mengembang. Adam pun kembali memberikan pelukan hangat sebagai seorang kakak.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2