
Perjalanan cukup dramatik antara Jaffa dan gadis keras kepala.
Akhir nya sampai juga di kantor gadis itu.
"Sudah tuan di sini saja"
"Kamu bekerja di sini?"
Gadis itu mengangguk.
Tiba-tiba dia mengulurkan tangan nya.
Jaffa menatap heran.
Karena Jaffa lama menyerah kan tangan nya gadis itu pun mengambil paksa tangan Jaffa.
Kini mereka berdua berjabat tangan.
"Nama ku Iliyana, panggil saja Liya, tuan?"
Jaffa yang masih bengong pun tergagu menjawab.
"Aa.. Saya Jaffa, tolong jangan panggil saya tuan panggil saja Jaf"
Akhir nya Liya melepaskan tangan nya.
"Baik la pak Jaffa terimakasih atas pertolongan nya dan maaf kalau saya merepot kan"
"Tidak apa-apa, maaf ucapan ku tadi dan satu lagi tolong jangan panggil pak, jaf saja cukup"
"Eemm, tidak sepertinya beda umur kita cukup jauh, tidak sopan kalau saya panggil nama, gimana kalau mas Jaffa?"
"Ya ya not bad lah" Jaffa hanya mengangguk pasrah.
"Kalau gitu saya permisi ya mas Jaffa sekali lagi terima kasih bantuan nya"
__ADS_1
"Eeh tunggu Liya, saya minta nomor ponsel kamu, nanti saya kabari untuk sepeda motor nya"
"Ohh iya, baiklah "
Setelah memberikan nomor ponsel nya Liya pun keluar dari mobil Jaffa.
Sementara tidak jauh dari Jaffa berhenti, terlihat Adam pun baru saja menurun kan Maira di depan lobby.
Saat Adam ingin melajukan mobil nya dia justru menangkap mobil jaffa parkir di seberang tembok pagar kantor A Land gruop. Dan jelas Adam melihat sosok yang cukup familiar di mata nya Liya turun dari mobil Jaffa.
"Bukan nya itu mobil Jaffa dan itu sekretaris nya Rey?" dia pun bergerak pelan.
Adam pun tak salah Iliyana yang sedang berjalan melintas di samping mobil nya.
Kini Adam sudah berada di belakang mobil Jaffa yang perlahan bergerak menuju jalan besar. Adam pun mengekor bukan karena kepo tapi jalan yang sama menuju kantor nya.
...........
Di lobby kantor A land group.
"Liya? Kenapa kamu buru-buru gitu sampe ngos-ngosan?"
Maira heran melihat penampilan Iliyana yang sedikit berantakan.
"Aahh itu tadi kak motor ku mogok di jalan"
"Ya ampun terus kamu ke sini pake apa?"
"Di jalan tadi ada orang yang nolongin dan aku di anterin sama dia"
"Syukur la, kenapa enggak nelfon aku si li"
"Enggak kepikiran kak, tiba-tiba aja tu motor berulah bikin kesel aja pagi-pagi, untung yang nolongin baik ama cakep" seloroh nya.
Hahaha... Maira pun tertawa.
__ADS_1
"Kamu tu ya, seneng di tolongin apa seneng karena ketemu cowok cakep sih"
Iliyana hanya nyengir kuda. Emang sih dia akui wajah Jaffa tak bisa di abai kan. Wajah manis berahang tegas, hidung mancung belum lagi tatapan tajam dan lirikan yang ahhh pasti perempuan akan meleleh. Bawaan yang sangat macho dan gaya yang laki banget. Tipe ideal seorang pria di mata Iliyana.
Penampakan babang Jaffa. Meleleh gak tuh di tatap bang Jaffa.
Kini Maira dan Iliyana sudah berada di meja masing-masing.
Tiwi yang tak kalah kepo nya melihat raut wajah Iliyana pun mulai memundur kan kursi nya ke arah meja Iliyana.
"Li.. Kenape loe? Diam bae biasa nya pagi-pagi ceria, lagi dapet loe ya?"
"Apaan si mbak tiw? Enggak lagi kesel "
Kesel? Sama siapa?cowok loe ya?"
"Mo tor gua" jawab nya sambil memoyong kan bibir nya.
"Oh hahhaa kirain?"
"Dih dia malah ketawa, bukan nya ikut prihatin loe mbak"
"Tapi loe selamat sampe kantor tanpa kurang satu apa pun jadi gua mau prihatin gimana" sambil megang muka Iliyana.
"Ihh... Liya menepis tangan Tiwi.
"Lagian loe juga udah gua bilang tu motor di abadi kan aja loe gak mau, beli yang baru liya"
Tring tring...
"Udah sana kerja tu telfon loe bunyi mbak"
Iliyana pun melongos kesel liat Tiwi. Kadang suka gak ada ahklak nya kalau ngomong asal aja.
__ADS_1