Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Pagi ini Jaffa sudah bersiap akan pulang ke Jakarta tapi tidak dengan Liya. Dia sudah mengaju kan cuti.


Pak Wisnu sudah memberi kan restu untuk Jaffa dan Liya seminggu lagi menikah.


Jaffa sudah berada di pesawat menuju Jakarta. Tiba saja di Jakarta Jaffa langsung menuju kantor.


"Pak Jaffa anda sudah kembali?". Lani menegur Jaffa yang melewati meja nya.


"Apa Adam ada di dalam?".


"Tidak pak. Pak Adam sedang di pabrik".


"Oh baik la, apa ada laporan yang harus aku periksa?".


"Ada pak akan saya antar".


"Jaffa pun berlalu meninggal kan Lani.


Tiba di ruang kerja nya Jaffa pun menyibuk kan diri dengan kerjaan nya.


Permintaan orang tua Liya untuk ia menyiap kan pernikahan seminggu lagi pun terbayang dalam fikiran nya.


Jaffa sudah berencana untuk meminta Adam sebagai wakil keluarga untuk nya. Bagaimana lagi, cuma Adam dan Haris yang sudah dia anggap keluarga.


Hampir makan siang Jaffa berada di ruangan nya. Dia masih berkutat dengan laporan hotel.


Sementara di luar. Adam baru saja kembali dari pabrik bersama Haris dan Weli.


"Siang pak, pak Jaffa sudah kembali".


"Jaffa, dimana dia?".


"Ada di rungan nya".


"Suruh dia ke ruangan saya".


"Baik pak".


Adam pun berlalu masuk di ikuti Haris.


Tidak lama Jaffa datang ke ruangan Adam.


"Ada apa dengan wajah mu Jaff?".


"Bisa kau tidak mempermasalah kan wajah ku?"


"Wajah mu itu sudah mewakili masalah yang kau hadapi, ckk. Ada apa? Apa kau tidak mendapat kan restu?".


"Kalian berdua harus membantu ku".

__ADS_1


"Membantu apa? Merayu orang tua Liya agar di restui?". Haris bersuara.


"Seminggu lagi dia minta aku menikah dengan Liya".


"What?". Adam terkejut.


"Hahahaha... Bagus la". Haris tertawa mendengar nya.


"Ayo la hanya kalian keluarga ku".


"Hemm ya baik la persiap kan la dari sekarang, aku, istri ku dan Haris akan ikut dengan mu ke Jogja, kita akan berangkat ke sana dua hari sebelum pernikahan".


"Benar kah?".


"Jaffa pun memeluk Haris dan Adam. " hentikan Jaff iss menggelikan".


"Kalian yang terbaik".


"Malam ini datang la ke mansion ku makan malam di sana".


"Siap".


Malam pun tiba. Maira sibuk menyiap kan makan malam di mansion nya.


"Mbak Anum anak-anak makan duluan ya, Din kamu tolong saya potong buah nya ya".


Sejak menikah dengan Adam kesibukan Maira hanya seputaran rumah, suami dan anak-anak nya. Terkadang dia mampir kerumah sakit untuk melihat mama Sarah dan kerumah orang tua nya.


Maira tidak di kasi izin bekerja lagi, Adam hanya ingin istri nya di rumah. Semua kebutuhan Maira dan anak-anaknya sudah di penuhi oleh Adam. Rumah dengan segala fasilitas yang mewah belum lagi barang-barang branded tertata rapi di dalam lemari. Baik Maira dan anak-anaknya di manja Adam dengan semua yang terbaik. Setiap detik Maira selalu berucap syukur demgan kehidupan yang di jalan kan nua sekarang bersama Adam dan tentu nya anak-anaknya. Adam begitu sayanh dan perhatian dengan kedua anak Maira.


Kembali ke dapur. Adam tirin dari kamar nya dan mencari keberadaan istri nya.


"Sayang?".


"Iya mas aku di dapur".


"Sayang kenapa banya sekali menu makan malam nya?". Adam sudah duduk di meja makan.


"Bukan nya Jaffa dan Haris akan makan malam di sini?".


"Apa ini untuk mereka semua, hemm kemewahan ini sayang untuk mereka".


"Mas apa sih kamu, sekali-kali juga aku malah senang mereka makan malam di sini kalau bisa setiap malam mereka datang biar rame di sini".


"Cekk...ini rumah sayang bukan restoran".


Maira hanya memanyun kan bibir nya. Sambil melayani anak-anak nya makan.


"Sayang kalau udah selesai makan nanti main di atas ya sama buk Anum dan mbak Dinda ya".

__ADS_1


"Iya mami".


"Boy apa sekolah nya menyenangkan hari ini?".


"No Dad, tadi ada pelajaran olah raga, Zidan gak suka di suruh lari?".


"Eemm kenapa?".


"Melelah kan Dad, Zidan lebih suka main bola kaki".


"Oh ya jadi kamu suka bola kaki?". Zidan pun mengangguk.


"Tapi untuk kuat main bola kaki Zidan juga harus jago lari biar bisa giring bola dengan lincah di lapangan, kalau gak jago lari gimana mau giring bola sampai ke gawang entar di rebut lawan".


"Begitu kah Dad".


"Yup... Mulai besok jangan pilih-pilih kalau olah raga, semua jenis olah raga itu menyenang kan boy, kalau Zidan mau jadi pemain bola Fisik nya harus kuat salah satu nya ya rajin olah raga".


"Baik la Dad, Zidan akan rajin olah raga biar jago main bola kaki nya".


"Good, ayo habis kan makan nya, sayur nya juga di makan biar sehat". Adam mengacak rambut Zidan.


Tidak lama yang di tunggu pun datang. Haris dan Jaffa bersamaan.


"Haii Maira".


"Hai Jaff, Haris".


"Wohoo seperti nya makanan ini semua nya siap di eksekusi".


"Apa kalian mau langsung makan?".


"Ya kakak ipar perut ku sudah berdendang dari tadi".


"Apa kalian datang dengan tangan kosong?".


"Memang nya kau berharap kami bawakan apa Dude, rumah mu sudah komplit isi nya".


"Sudah la sayang, ayo makan la dulu kaisna mereka".


"Ckk sayang jangan terlalu percaya dengan muka kasian mereka".


Setelah berdebat akhir nya mereka pun makan dengan malam dengan tenang.


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.

__ADS_1


__ADS_2