Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Tugas


__ADS_3

Di ruang ICU terlihat sibuk. Suster mondar mandir. Mama sarah sedang di tangani dokter. Maira dan Adam duduk di ruang tunggu.


Paman Zakaria dan istri nya terlihat sedang beralari di koridor rumah sakit menuju ruang ICU.


"Adam bagaimana kabar mama kamu?".


"Sedang di tangani dokter paman".


"Paman bibi apa kabar?". Maira menyalami paman dan bibi Adam.


"Sehat kamu neng?".


"Sehat bi".


"Kita tunggu kabar dari dokter, kamu yang tenang Adam".


Adam terlihat sangat gelisah hampir 1 jam dokter belum keluar dari dalam ruang ICU.


"Pak Adam?".


"Ya dok, bagaimana mama saya dok?".


"Syukur la, semangat mama anda luar biasa, kita sudah melepas alat bantu dari tubuh pasien. Tapi pasien untuk sementara tetap harus di rawat untuk menjalani terapi kesembuhan, karena cukup lama terbaring sehingga otot-otot nya akan kaku dan belum bisa melakukan banyak aktifitas, kami mohon kerja sama dengan keluarga agar pasien mau terapi".


"Berapa lama dok mama saya menjalani terapi?".


"Tergantung semangat dari pasien, kalau pasien yakin dan kuat, penyembuhan akan cepat, Sebentar lagi perawat akan memindah kan pasien di kamar inap, sebaik nya anda mengurus administrasi nya".


"Baik dok terimakasi".


"Baik la saya permisi".


"Sayang aku urus administrasi mama dulu ya, kamu di sini ya?".


Maira pun mengangguk.


Setelah administrasi selesai Adam kembali ke ruang ICU dan perawat sudah mendorong brankar mama Sarah keluar daru ruang ICU.


Mereka semua berlalu menuju ruang rawat mama Sarah. Sampai di lantai 5 rumah sakit, Adam memilih kamar terbaik fi rumah sakit itu. Adam ingin mama nya mendapat kan pelayanan dan fasilitas terbaik di rumah sakit ini. Tak perduli seberapa pun harga yang harus dia keluarkan.


Mama Sarah masih terbaring lemah, dia belum mampu menggerak kan kepala nya terlalu kuat. Adam pun duduk di sisi mama nya sambil menggenggam tangan mama nya.


Mata mama Sarah perlahan mengerjap.


"Ma ini Adam". Adam pun tersenyum. Mama hanya mengedip kan mata nya tanpa suara. Tapi bibir nya bergerak entah apa yang di ucap kan nya.


"Teh, alhamdulilah teteh sudah sadar". Paman Zakaria berdiri di sisi satu lagi.


Mama Sarah mengedar kan pandangan nya melihat Adam. Adik nya dan adik ipar nya. Kini pandangan nya terhenti pada sosok cantik yang ada di samping Adam.


"Aahh ma ini istri Adam Maira, mama kenal kan?".


Teh ini Maira anak nya kang dosen teteh ingat?".


Perlahan terdengar sayup-sayup suara mama Sarah memanggil nama Maira. Maira hanya mampu tersenyum dia tidak tahu harus bicara apa.


"Ma maafin Adam kalau tidak menunggu mama untuk menikah".


Air mata mama Sarah mengalir dan bibir nya tersenyum. Mungkin itu tanda mama nya ikut bahagia.


Semua yang ada di sana ikut bahagia. Terutama Adam yang masih setia menggenggam tangan sang mama yang terlihat mengecil akibat turun nya berat badan.


Paman dan bibi nya sudah pulang untuk mengambil baju ganti dan beberapa perlengkapaan teteh nya.


"Sayang mama seperti nya sudah tidur. Aku keluar telfon malik dulu ya untuk beliin makanan".


"Ya, biar aku jagain tante Sarah".


"Kok tante sih. Mama dong kan kamu menantu nya".


"Hehehe... Kebiasaan maaf". Sambil mengelus pipi suami nya.

__ADS_1


Adam pun keluar untuk menelfon Malik.


Di kantor Jaffa benar-benar sibuk hari ini karena tugas di kantor bertambah karena Adam cuti. Semua urusan apa pun beralih ke Jaffa. Tanggung jawab perusahaan ada di tangan nya. Ya begitu la Jaffa dia adalah orang kepercayaan Adam dan Tuan Zein.


Semua kerjaan yang di pegang Jaffa tak ada yang mengecewakan. Hari ini saja dia sudah dua kali memimpin rapat.


Huuff... Brakk.. Jaffa menghempas kan tubuh nya di kursi kebesaran nya. Walau pun ruangan nya tak sebesar ruangan adam tapi cukup mewah.


Dia mengusap kasar wajah nya dan melonggar kan dasi nya dan menyandar kan kepala nya di kursi.


Tok tok... Haris masuk.


"Ada apa?".


"Tolong Tanda tangan ini aku harus memasuk kan beberapa bahan baku di pabrik". Sambil menyodor kan dokumen.


"Itu bukan tugas ku".


"Oh ya, memang nya tugas siapa lagi. Hari ini bukan pak Jaffa pimpinan tertinggi di sini". Haris bedecak kesal.


"Hahaha... Kau itu gampang sekali merajuk". Jaffa terkekeh dan mulai menandatangan dokumen dari Haris.


Haris hanya memutar mata nya. Dia memperhatikan Jaffa, dari rambut sampai ke baju berantakan.


"ckckck... Baru sehari memimpin gaya mu sudah tak karuan, apa lagi 6 hari ke depan?". Haris menggeleng kepala nya.


"Apa Adam jadi pergi ke Paris?".


"Entah la, belum ada kabar lagi". Haris mengangkat bahu nya.


Tok tok..


"Ada apa lagi ini". Jaffa menggerutu mendengar pintu ruangan nya di ketok.


Terlihat Weli masuk.


"Pak ada klien mau bertemu".


"Nona Garcia".


"Dia lagi, Ya Tuhan". Jaffa benar-benar frustasi hari ini.


"Baik la aku pergi, selamat bekerja direktur handal". Hahahhaa terdengar suara Haris berlalu.


"Suruh dia masuk, setelah itu jangan ada lagi yang menemui ku".


Baik pak".


Dengan beray hati Jaffa menemui pengusaha sexy dari Bali itu.


"Padahal tidak ada lagi urusan untuk apa dia datang". Batin Jaffa.


"Selamat siang menjelang sore Tuan Jaffa".


"Ya nona silakan duduk, ada apa sampai membawa anda kembali kesini?".


"Oh anda seperti nya terburu-buru Tuan"


"Perusahaan kami sudah membatal kan kerja sama dengan Anda".


"Ya ya aku tau kau sudah mengalih kan saham mu ke perusahaan lain, tapi bukan itu yang ingin aku bahas".


"Lalu?".


"Aku datang hanya ingin bertemu dengan Presdir perusahaan ini untuk mengeucap kan selamat atas pernikahan nya".


"Maaf presdir kami sedang tidak ada di tempat, akan saya sampai kan ucapan dari anda".


"Huhh... Kenapa kalian pada tegang sekali tuan, padahal aku hanya menawar pertemanan dengan kalian tapi malah di tanggapi berlebihan".


Sambil menarik nafas panjang mengngkat kedua telapak tangan nya di meja.

__ADS_1


" begini presdir kami tidak ada waktu untuk bermain-main, seperti nya sudah tidak ada yang penting, silakan anda keluar, saya sedang banyak kerjaan".


"Sombong sekali anda". Garcia pun mengentakan kaki nya dan berlalu.


Jaffa pun memijit pelipis nya. Dia benar-benar sudah jengah hari ini. Dia menekan telpon tersambung ke meja Weli


"Weli datang sekarang".


"Ii..iyaa pak".


Weli pun masuk tergopoh-gopoh. "ya pak".


"Ingat jangan pernah menerima wanita tadi masuk apa pum alasan nya mengerti?".


"Iya pak, emmm pak?".


"Apa lagi Weli? Apa kau tidak capek memberi ku kerjaan?".


"Bukan begitu pak, tadi bos nelpon saya, dia nelpn pak Jaffa tapi ponsel nya tifak aktif?".


"Memang nya ada apa?".


"Tidak tau, bos hanya minta pak Jaffa menghubungi bos balik".


"Heemmm... ".


"Terakhir pak".


"Ya Tuhan apa lagi".


"Ini pak draf meeting besok pagi jam 9".


"Astaga apa tiap hari perusahaan ini harus meeting".


"Ini proyek resort kita di Bali yang terbaru pak, kan bos beli ini hadiah pernikahan bos dan buk Maira".


Lagi-lagi Jaffa menarik nafas panjang. " baik la letak kan saja di situ, nanti aku liat?".


"Pak di liat sekarang jangan nanti ini urgent".


"Astaga keluar lah dari pada aku suruh kau membaca dokumen itu satu-satu, mau ?".


"Hehehe... Tidak pak, permisi".


Weli pun berlalu keluar, belum ada hitungan detik dia sudah menyembul kan kepala nya lagi dari balik pintu.


"Pak tidak pulang?".


Bukan jawaban dari Jaffa tapi lemparan pena lah yang di terima Weli.


"Huhhh.. Padahal aku mengingat kan dia ini kan udah jam pulang kekasih nya, ya sudah awas saja nanti aku yang di marah". Weli ngedumel sepanjang jalan menuju meja nya.


"Napaa sih loe haahh". Lani yang baru saja datang membawa brosur dan map.


"Biasa bos loe, lagi kurang jatah".


"Hahhahaa... ".


"Apaan tu?".


"Eeh ya tadi bos minta di cariin rumah, gila minta nya rumah yang super elit, besar dan megah. Dan lengakap dengan fasilitas dan juga interior terbaik, gila gak tu, lihat nih?"


Lani menunjuk kan gambar-gambar detail rumah yang di ingin kan bos ny. Siapa lagi kalau bukan Adam.


"Ckckckkck... Beruntung buk Maira".


"Kapan ya gua punya rumah kayak gitu?".


"Bisa loe mah, pepet aja terus bos nya buk Maira hahhaha".


"Huhhh.. Loe kira gua keganjenan, gini-gini jaga harga diri, entar dah gua pepet eeh gue aja kedeeran".

__ADS_1


Kedua nya pun tertawa. Mengingat beberapa kali Rey mengantar Lani pulang tapi tak ada kelanjutan setelah nya. Lani pun sadar diri tak mau berlebihan atau kecentilan.


__ADS_2