Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Undangan


__ADS_3

Pagi ini Maira sudah bersiap karena dia akan pergi dengan Adam untuk mengurus pernikahan mereka.


Saat Maira turun dari tangga terdengar suara dari pintu depan.


"Siapa buk?".


"Nak Nugroho Ra, mau jemput anak-anak?".


"Oh, biar Maira aja buk yang panggil Zidan dan zeyra".


"Ya sudah".


Maira pun memanggil anak-anak nya dan memerintah kan mbak Anum untuk menyiap anak-anak nya.


Nunggro duduk di ruang depan di temani bapak nya Maira.


Maira pun membawa anak-anak nya ke depan. Kedua anak Maira pun senang nya bukan main melihat ayah mereka datang.


Setelah mengizin kan anak-anak nya pergi dengan ayah mereka. Maira pun keluar mengantar anak-anak nya untuk masuk ke mobil ayah anak-anak nya.


Di detik itu juga mobil Adam pun masuk ke halaman rumah Maira.


Maira dan anak-anak nya serta Nugroho pun terhenti melihat mobil Adam. Keluar dari mobil Adam pun menghampiri Maira dan anak-anak nya serta mantan suami nya.


"Uncleeeee... ". Anak-anak Maira berlari memeluk Adam. Adam pun membalas pelukan dari anak-anak Maira.


Sedang kan Nugroho menatap heran dengan kehadiran Adam dan juga melihat keakraban dari anak-anak nya ke Adam. Dia belum tahu siapa laki-laki berwajah bule ini.


"Dam?".


Adam pun tersenyum.


"Kenalin ini ayah nya Zidan dan Zeyra".


"Nugroho".


"Adam".


Tanpa sengaja Nugroho melihat cincin di jari Adam dan Maira. Ingin ia bertanya tapi bukan hak nya ia pun mengurung kan niat nya.


"Ya sudah anak-anak mami jangan nakal ya sama ayah". Dia pun mencium anak-anak nya.


Nugroho pun pamit membawa anak-anak nya.


Maira dan Adam berlalu masuk ke dalam untuk pamit ke ibu dan bapak nya.


...........


"Kini mereka sudah berada di mobil.


"Sayang?".


"Hemm... ".


"Kamu belum kasi tau tentang rencana kita ke mantan suami kamu?".


"Belum entar aja tunggu undangan sudah jadi baru aku kabari sekalian anter nemui ibu nya, kamu temani aku ya?".


"Okee sayang".


"Dam ibu gak jadi ke Turki?".


"Tunda setelah kita menikah, nanti Daddy akan menyusul ibu kesini, tapi sayang adik ku yang di Australia gak bisa hadir".

__ADS_1


"Kenapa?".


"Dia masih ujian s2 nya".


"Oh, ini kita mau kemana?".


"Ke hotel tadi aku udah suruh Lani, Weli, Jaffa dan Haris datang. Mereka nanti yang akan sibuk ngurusi pernikahan kita".


"Aku jadi gak enak sama mereka dam".


"Kenapa sayang, mereka itu orang-orang kepercayaan aku".


"Apa mereka tidak masalah kamu suruh-suruh".


"Kalau mereka protes aku pecat mereka semua".


"Adam".


"Iya sayang lagian kamu juga gak usah berlebihan mikir nya. Jaffa dan Haris itu udah lama ikut aku. Jaffa udah dari kecil di rumah, bapak nya supir kepercayaan daddy. Sedangkan Haris dia dapat bea siswa gratis dari perusahaan daddy, aku minta dia untuk jadi salah satu orang kepercayaan aku. Mereka itu keliatan aja cuek tapi aslinya pintar dan cekatan. Udah kamu harus terbiasa ada mereka".


"Heemm.. Baik tuan adam". Sambil ngedusel kepala nya di lengan Adam.


"Apa sih kamu, jangan mancing aku sayang, aku udah nahan-nahan nya ini".


Hahaha..cup cup.. Maira pun masih menggoda Adam yang tengah menyetir sambil mengecup bibir nya di angin.


"Sayang... Jangan menggoda ku, kau tau akibat nya nanti". Adam melirik Maira kesal.


Mereka tiba di hotel. Adam dan Maira berjalan bergandengan menuju ruang rapat kantor management hotel.


Terlihat yang di perintah kan sudah datang, termasuk WO, Adam sudah memerintah kan Weli dari tadi malam untuk mencari kan WO terbaik yang bisa menghandle acara pernikahan yang tinggal beberpa hari lagi.


Maira pun tersenyum menyapa yang ada di rungan itu.


Jaffa dan Haris benar-benar tak habis pikir dengan rencana mendadak dari Adam.


Jaffa yang duduk di sebalah Maira pun menggeser kan duduk nya mendekat ke samping Maira.


Dia pun berbisik. " bilang iya pada ku kalau tuan besar itu yang meminta pernikahan seminggu lagi?".


Maira pun mengangguk.


"See haris kau lihat apa aku bilang, bisa-bisa nya dia beri alasan orang tua mereka yang minta".


"Apa? dia bilang begitu, ceeh... Dia yang ngotot minta cepat sampai aku tidak tau harus mulia dari mana". Maira pun tak kalah sewot nya dari Jaffa.


Haris yang mendengar nya hanya tertawa kecil.


"Kalian maklum kan la dia sudah lama berpuasa". Hahah. Haris membela Adam.


Ketiga nya pun tertawa kecil, mereka sama sekali tak memperhatiakan Adam yang sedang mengarakan Weli dan Lani.


Adam yang terganggu dengan tawa mereka bertiga mendelik kesal.


"Apa kalian punya solusi yang menarik?".


"Ya sebentar lagi orang dari percetakan untuk mencetak undangan datang, kalian bisa memilih model yang kalian mau". Jaffa berasalan.


"Apa secepat itu mas Jaffa?".


"Panggil aku Jaffa aja Maira. Kita seumuran lagia pula kau akan jadi istri Adam, maka santai saja, kau juga jangan memanggil bocah ini secara formal, panggil saja Haris".


"Baik la Jaffa, makasi ya udah mau ngurusi undangan, aku malah tidak terpikir hal itu".

__ADS_1


"Sama-sama, percetakan itu langganan kantor jadi urusan nya gampang".


Benar saja owner dari percetakan pun datang dengan membawa berbagai macam contoh undangan.


Maira membelalak kan mata nya, dia bemar bingung semua nya bagus-bagus. Padahal dulu pertama kali menikah Maira biasa saja. Tidak terlalu antusias seperti sekarang. Mungkin karena ibu nya yang mengurusi semua.


"Dam kamu mau yang model gimana undangan nya?".


"Terserah kamu sayang, aku ikut saja".


"Kayak mana kalau yang model ini". Jaffa menunjuk kam model undangan dari bahan karton keras yang di tutup dengan box.


"Dih apa nya yang bagus terlalu kuno, yang ini bagus". Haris tidak mau kalah menunjuk kan selera nya, undangan dengan model klasik berwarna hitam gold terlihat elegan.


"Itu undangan pernikahan apa halloween?". Jaffa mencibir.


"Kau saja yang tidak tau model?".


Maira hanya tersenyum melihat 2 sahabat kesayangan Adam berdebat.


"Sudah, selera kalian sangat unik. Tapi aku lebih menyukai warna yang soft".


"Yang soft nah ini bagus nih, komplit dengan kotak souvenirnya". Haris menyodor kan bentuk undangn dengan bentuk sederhana tapi cukup elegant.



"Aku setuju ini ada dua jenis undangan, biasa nya untuk kalangan keluarga lebih baik yang bentuk ini sopan, sedangkan untuk relasi dan teman lebih baik yang mungil lebih santai saja tapi tetep elegant ". Jaffa benar-benar top secara detail dia menjelas kan nya. Sampai-sampai semua orang yang ada di situ pun terperangah mendengar nya.


"Jaff, aku curiga apa sebelum nya kau pernah ingin menikah dan sempat ingin membuat undangan?". Adam memandang nya heran, bagaimana bisa dia paham soal undangan.


"Kau jangan asal bicara aku hanya memberi pendapat ku itu pun tiba-tiba saja muncul". Dengus nya.


"Ya udah sayang, aku malah setuju dengan Jaffa, aku pilih ini". Maira pun menunjuk model undangan yang di pilih Jaffa dan Haris ke owner percetakan.


"Baik kak, kira-kira mau di cetak berapa?".


"1000 undangan". Adam dengan cepat menjawab.


"Adaam kebanyakan itu?".


"Memang nya kenapa gedung ini bisa menampung lebih dari itu sayang".


"Wahh aku yakin ini akan jadi wedding of the year". Jaffa membentang kan tangan nya sambil tertawa.


"Aku kasi waktu mu 2 hari undangan selesai di cetak".


Owner percertakan undangan hanya melongo tanpa membantah dia pun dengan cepat menelfon anak buah nya untuk segera mencetak undangan atas nama Adam dan Maira.


Maira mendengus pasrah ke inginan Adam mengundang tamu sebanyak itu.


Masalah undangan selesai, kini mereka beralih ke WO. Maira hanya ingin dekorasi serba putih dia tidak mau terlalu banyak warna.


Hari ini ruang rapat itu riuh dengan debat antara Adam, maira belum lagi Jaffa dan Haris juga ikut bersuara memberi kan masukan.


Lani dan Weli hanya pasrah selama seminggu ini mereka berdua akan benar-benar sibuk, belum kerjaan kantor plus menyiapkan pernikahan.


Setelah 5 jam lebih mereka meeting dengan WO.


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comments.


Witha.

__ADS_1


__ADS_2