
Di apartemen pribadi milik Adam.
Setelah membawa belanjaan begitu banyak Adam pun menyerah kan kepada Lusia.
Lusia begitu bersemangat ketika mengetahui Adam datang. Dia pun dengan segera menyiap kan makanan dan mengajak Adam untuk makan.
Awal nya Adam menolak tapi karena Lusia terus mendesak nya. Akhir nya Adam pun luluh.
"Bagaimana entak tidak?".
"Emm enak, tidak berubah rasa nya".
"Benar kah, aku selalu ingat makanan kesukaan kamu Dam".
Lusia tersenyum bahagia mendapat pujian di tambah Adam makan dengan lahap. Selesai makan Lusia mengajak Adam duduk di ruang tengah. Mereka duduk saling bersisian dan Adam pun menanya kan apa yang ingin Lusia bicarakan.
"Apa yang ingin kau bicara kan pada ku?".
"Dam, aku ingin memulai kehidupan yang baru dan tenang, jadi aku fikir aku ingin membeli rumah kecil untuk ku dan anak ku, dan juga akan menyekolah kan dia di sini, tapi kau tau sendiri kan status pasport ku di sini bukan untuk stay hanya pengunjung. Aku tidak mengerti mengurus nya. Apa kau bisa membantu ku lagi?".
Adam berfikir sejenak.
"Kau yakin akan tinggal di sini?".
"Ya Dam karena mantan suami ku tidak bisa melacak keberadaan ku di sini".
"Lusia kau tau, di sini kau akan hidup sendiri juah dari keluarga mu. Apa itu tidak masalah bagi mu?".
"Aku yakin. Aku hanya ingin memulai nya dari awal Dam. Aku hanya ingin menjalan kan kehidupan ku dengan tenang itu saja".
"Baik la aku akan mengenal kan mu dengan seorang pengacara".
"Terima kasih ya Dam". Lusia menlonjak kegirangan dan meraih tangan Adam.
Adam terkejut dan menarik tangannya pelan.
"Maaf Dam aku hanya reflek karena terlalu bahagia. Oh ya apa kau mau minum kopi atau teh?".
__ADS_1
"Tidak Lusia aku harus pulang, istri ku sudah menunggu ku".
"Ohh baik la, oh ya terima kasih ya Dam buat belanjaan nya dan terima kasih juga atas bantuan nya".
"Nah ambil lah ini?". Adam menyerah sengkus amplop berisikan sejumlah uang.
"Apa ini Dam?".
"Pakai lah untuk kebutuhan mu dan Cathy. Oh ya kau harus bisa menyesuai kan diri mu dengan lingkungan di sini".
"Terimaksih ya Dam, ini terlalu banyak".
Sekali lagi Lusia meraih tangan Adam dan kini mata kedua nya saling mengunci. Lusia masih sama seperti dulu masih cantik. Wajah bule yang medominasi.
Adam seolah kaku bayangan masa lalu pun kembali. Sejenak waktu terhenti membuat Adam lupa kalau saat ini ada yang lebih penting dari Lusia.
............
Sementara itu di jalanan.
Dengan cepat Jaffa melajukan mobil nya ke apartemen pribadi Adam. Setelah mendapat info dari anak buah nya kalau mobil tersebut terparkir di basement apartemen.
"apa dia sudah gila, apa yang ada di fikiran nya". Lirih nya.
Liya sudah merinding melihat suami nya menggeram dan melaju kan mobil nya.
Tiba di basement apartemen Jaffa benar-benar melihat mobil Adam terparkir di sana emosi nya seakan ingin meledak.
Saat mobil sudah parkir dengan benar Jaffa pun melepas kan seat belt nya. Ketika hendak membuka pintu mobil nya Liya langsung menahan nya.
"Mas mas tunggu please jangan seperti ini? Aku tau siapa yang akan kamu susul ke atas pak Adam kan?".
"Lepas kan aku sayang".
"Mas". Liya sedikit berteriak.
"Aku tidak tau masalah nya apa sampai kamu bisa semarah ini ke pak Adam tapi gak gini mas. Kamu harus berfikir tenang dulu, memang nya apa yang akan kamu lakukan kalau bertemu pak Adam di sana? Memukul nya? Apa itu bisa menyelesai kan masalah?".
__ADS_1
Jaffa menghela nafas panjang mencoba menetral kan amarah nya.
Liya melihat suami nya sudah sedikit tenang. Dia pun mengelus lengan Jaffa dengan lembut.
"Gini aja mas, tunggu la sebentar lagi kalau setengaj jam dari sekarang pak Adam gak turun juga dari atas aku izinin kamu ke sana oke?".
Jaffa hanya melirik Liya dan memejam kan mata nya. Mereka pun akhir nya menunggu di dalam mobil. Jaffa menyandar kan kepala nya sedang kan Liya memperhati kan mata nya ke arah lift.
Menit demi menit berlalu tapi belum juga ada penampakan dari Adam. Liya sungguh khawatir jujur dia tak ingin Jaffa naik ke atas dan malah ribut dengan Adam.
Jaffa sungguh tak bisa tenang berbagai macam fikiran berkecamuk dalam fikiran nya. Dia sangat tau kelemahan Adam. Jaffa takut Adam terbawa suasana masa lalu.
Andai kan saja mereka hanya sekedar mantan bukan teman serumah Jaffa tak akan sekhawatir begini. Jaffa khawatir kalau bantuan Adam justru di salah arti kan oleh Lusia.
"Mas itu pak Adam". Liya menepuk pundak Jaffa.
Jaffa pun menegak kan duduk nya. Benar Adam keluar dari lift dan masuk ke mobil nya. Adam tak menyadari keberadaan mereka.
Jaffa lega Adam pergi dari sana walau dia tidak tau apa yang terjadi selama Adam di dalam apartemen.
"Ya udah mas yuk kita pulang dulu nanti malam aja kita ke mansion pak Adam jenguk kak Maira katanya dia sakit tadi barusan chat di group".
"Sakit? Sakit apa?".
"Entah lah dia cuma bilang lagi gak enak bada".
"Dasar Adam Miara lagi sakit untuk apa dia menemui Lusia".
"Suami ku sayang, tenang la mungkin ada alasan tertentu kenapa pak Adam ke sini mungkin saja dia benar-benar hanya ingin membantu Lusia apa lagi tadi kan dia belanja. Lusia kan bukan orang sini jadi gak ngerti mau belanja, positif thinking aja dulu mas".
Setelah berhasil membujuk suami nya. Mereka pun akhir nya pulang ke apartemen milik mereka.
Sampai di apartemen Jaffa langsung masuk ke ruang kerja nya. Dia masih menyuruh orang suruhan menyelidiki Lusia.
Jaffa melakukan ini semua demi Adam. Dia tak ingin Adam sampai salah. Niat membantu malah jadi masalah kedepan nya.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.
Witha.