Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Fitting baju


__ADS_3

Kini Adam dan Maira sudah berada di salah satu butik baju pengantin ternama di kota ini.


Begitu juga dengan Jaffa dan Haris. Padahal Adam sudah melarang mereka untuk ikut tapi tetap saja mereka berdua kekeh.


Maira senang mereka berdua ikut, sedang kan Adam hanya pasrah saja.


Adam dan Maira pun mulai fitting baju. Maira hanya menginginkan dua baju saja. Pagi dan siang.


Bahkan di butik ini saja mereka berdebat Adam sangat kesal dengan Jaffa dan Haris. Mereka menyaran kan kepada Maira untuk memakai gaun resepsi yang sedikit terbuka di bagian atas sehingga menampilkan pundak Maira yang mulus.


Dan yang lebih mengesal kan lagi Maira menyukai nya.


Dan akhir nya setelah hari yang panjang. Adam dan Maira pun kembali ke hotel. Mereka sedang santai menikmati kafe rooftop hotel Adam.


Di sana juga ada Jaffa, haris dan Farasya. Sedang ibu Adam tiba-tiba saja memutus kan menyusul sang suami ke Dubai menggunakan privat jet sore ini. Dengan di antar Malik dan Weli ke bandara.


"Sya kamu enggak apa-apa tinggal di hotel sendirian?".


"Enggak apa-apa kak Maira".


"Atau tinggal di rumah kakak untuk sementara?".


"Tidak udah kak, aku di sini aja, nanti kalau aku bosan aku hubungi kakak".


"Oke lah kalau begitu".


"Haris aku izin kan kau tinggal di hotel selama seminggu ini. Untuk menemani Farasya, tapi tidak sekamar. Kau hanya boleh menemani dia jalan-jalan dan makan, biar dia tidak bosan".


"Baik lah".


"Tapi jaga kepercayaan ku".


"Hemm... ".


Haris hanya memandang wajah Adam datar sambil memakan strawberry.


"Kalian berdua tu imut banget sii kalau di pasang kan berdua, cocok, kenapa gak pacaran aja?". Ucap Maira sambil mengangkat kedua telapak tangan nya ke hadapan Haris dan Farasya secara bergantian.


Sontak Haris terkejut dan dia terbatuk-batuk. Sedang kan Farasya hanya diam menunduk malu.


"Kan sudah aku bilang, dia saja yang sok tegar memendam cinta". Ucap Jaffa tanpa dosa.


Harin pun melempar tangkai strawberry ke wajah Jaffa. Jaffa hanya membalas dengan tawa nya.


"Kalian berdua tidak aku izinkan pacaran". Adam melotot kepada Farasya dan Haris.


Dengan sontak Farasya melihat ke Adam dia terkejut mendengar pernyataan Adam. Baru saja tadi dia senang mendengar Haris masih menyimpan perasaan cinta nya.


"Heii dude kau menyiksa dia".


"Tidak, aku hanya mengizin kan mereka langsung menikah".


"What ?".


"Uhuk uhuk... "


"Adam".


"Kakak".


Jelas semua nya terperangah mendengar ucapan Adam.


"Ya kalau kau benar-benar serius Ris".


"Berhenti la membahas nya".


"Haris pun beranjak dari duduk ny.


"Hei kau mau kemana?".


"Aku mau pulang, bukan nya tadi aku di izin kan tinggal di sini?".


"Kak, apa aku boleh ikut dengan kak Haris?".


"Heem boleh pergi la, hati-hati, Haris jaga Farasya dengan baik".


"Aku pergi".


Mereka berdua pun berlalu meninggal kan Adam, Maira dan Jaffa.


"Aaa... Anak itu kenapa dia gengsi sekali menyatakan cinta".


:Aah kau itu, paling tidak dia bisa menjaga hati nya untuk Farasya dan kau?".


"Hoho,, aku jelas berbeda, aku hanya tidak mau sembarangan memilih wanita untuk di jadiin istri".


"Kalau gitu dengan Iliyana saja Jaff. Dia baik kok sopan pintar lagi".


"Aa itu..aku hanya berteman dengan nya". Jaffa sudah salah tingkah mendengar nama Iliyana.


"Lihat sayang, baru saja nama Iliyana di sebut dia sudah salah tingkah".


"Jangan di lama-lamain jaff, keburu Iliyana nemu laki-laki lain".


"Sudah lah sayang biar kan saja nanti juga dia akan menikah".


"Apa maksud mu?".


"Kenapa? kau tidak ingin menikah?".

__ADS_1


Jaffa hanya mendelik kesal dengan sepasang kekasih ini. Bisa-bisa nya mereka berdua sekarang malah membuli nya.


Jaffa pun meraih ponsel nya. Tiba-tiba saja mata nya membulat.


"Ya ampun".


"Kenapa?"


"Dam malam ini kita ada undangan pesta ulang tahun nona Garcia".


"Ku kira apa tadi, pergi la sana".


"Kau tidak pergi?".


"Aku tidak tertarik". Dia melirik Maira.


"Kenapa kamu gak pergi, bukan nya kemaren mau pergi? Ayo kita pergi aku belum pernah pergi ke pesta di Pub".


"Untuk apa kamu penasaran ke tempat seperti itu, isi nya biasa-biasa saja".


"Ayo lah Dam?".


Adam masih saja tak bergeming.


"Ya udah aku pergi sama Jaffa aja, kalau kamu gak mau pergi".


"Sayang?". Adam menghela nafas dengan kasar melihat keksaih nya itu.


"Baik la kita pergi".


"Yeee hahahaha... Eh Jaff ajak Iliyana dong, biar double date kita, cepatan telfon liya sekarang sekarang". Maira happy bukan main dia memang sudah lama ingin masuk ke pub tapi tidak pernah bisa.


"Cekk.. Kenapa harus aku yang menelfon?".


"Ayo lah pleaseeeeeee.... ". Maira memohon sambil melipat telapak tangan nya.


Jaffa pun melirik Adam, Adam hanya mengangguk setuju. Dengan ragu-ragu Jaffa pun menghubungi Liya. Sebenar nya dia sangat senang bisa bertemu dengan Liya. Dia juga rindu dengan suara berisik gadis itu. Tapi dia tidak punya alasan untuk menghubungi gadis cantik itu.


"Sayang kamu yakin mau kesana?".


"Hem hm". Sambil mengangguk.


Adam memeluk pinggang Maira dan merapat kan badan nya.


"Apa kamu senang, pergi ke sana?".


"Iya aku belum pernah pergi pub full musik gitu, dulu gak berani takut aja".


"Terus sekarang kamu berani pergi ke sana dengan aku?".


"Berani lah, kan pergi nya sama kamu".


"Janji, makasi ya! eits tapi kamu juga janji gak nyentuh minuman alkohol di pub ya".


"Aku tidak tertarik sayang, dari pada itu aku lebih tertarik meminum air di bibir mu itu".


"Cekk.. Jangan mulai lagi". Sambil memanyun kan bibir. nya.


Cuup.. Cup.


"Adaaaamm... ". Maira pun menggeram karena mendapat serangan dari Adam.


"Au sayang sakit".


"Biarin siapa suruh kamu main cium aja, ada orang di sini".


"Aku tidak perduli, biar kan saja, lagi pula yang aku cium tunangan ku sendiri".


"Ya ampun kalian berdua bisa-bisa nya berciuaman di tempat umum. Apa tidak bisa sabar". Jaffa mendengus kesal dan berlalu.


"Kau mau kemana?".


"Mau siap-siap nanti malam kita ketemu di pub jam 8".


"Yees ya udah yuk Dam kita pulang dulu ganti baju".


Adam pun menarik tangan Maira turun ke bawah. Masuk ke lift Adam menekan tombol lantai 20.


"Kok ke lantai 20 bukan nya pulang?".


Adam hanya tersenyum tidak menjawab sama sekali.


Lift pun berhenti, Adam masih menggenggam tangan wanita yang sudah berubah status jadi tunangan nya itu.


Berhenti di kamar pribadi milik nya yang super besar dan megah.


Begitu masuk Maira menatap takjub melihat interior kamar milik Adam.


Maira pun berjalan menuju pintu balkon, betapa terkejut nya dia melihat ada kolam renang privat.


Adam memeluk Maira dari belakang. Dan menyandar kan dagu nya di bahu Maira.


"Kamu suka?".


"Ya bagus banget".


"Kamar ini milik mu sayang".


"benar kah?".

__ADS_1


Adam mengangguk. Seraya membalik kan tubuh Maira.


"Ini juga akan jadi kamar pengantin kita".


"Maira pun tersenyum.


"Boleh kah?".


"Hemm".


Perlahan namun pasti Adam sudah membawa tubuh Maira dalam dekapan nya tak ada lagi celah di antara kedua nya.


Dengan cepat Adam meraih bibir kenyal Maira. Dengan lembut Adam menautkan bibir nya mengulum dengan penuh cinta.


Maira membalas nya, tangan nya kini sudah berpindah di lehar Adam. Tangan Adam mulai menekan tekuk Maira agar dia bisa memperdalam pagutan nya.


Maira jelas terbawa dalam permainan Adam yang lembut tapi penuh gairah dan menyesap nya penuh cinta. Maira menyukai nya. Maira membuka sedikit mulut nya tanpa sadar Adam sudah masuk ke dalam sana mengabsen setiap inci rongga mulut Maira.


Jari-jari Adam sudah mulai meremas dan meraba bagian belakang Maira. Semakin lama semakin lincah Adam mengecap benda kenyal yang membuat candu nya itu. Saling bertukar saliva sudah pasti.


Akhir nya mereka melepas kan pagutan setelah hampir kehabisan oksigen. Mereka pun tersenyum. Adam mengelap bibir Maira yang sudah basah karena ulah nya.


Kini dia menempel kan kening nya di kening Maira.


"I love u sayang".


"Me to dam".


Adam pun mencium kening Maira begitu dalam. Hati nya benar-benar sudah penuh dengan rasa cinta nya untuk Maira. Walau pun untuk mendapat kan cinta Maira dia tidak begitu sulit, tapi PR terbesar nya adalah dia bisa membahagia kan Maira saat setelah menikah nanti. Bisa membuat Maira senyaman mungkin menjalan kan hari-hari mereka sebagai suami istri kelak.


"Adam sudah lepas kan mandi sana kan kita mau pergi".


"Sebentar lagi".


"Ayo la aku juga mau pulang ganti baju".


"Tidak perlu, ada baju di lemari sudah aku siap kan untuk kamu".


"Haa... ".


Adam pun mengurai kan pelukan nya. Dan membawa Maira ke walk in closet. Dan membuka pintu lemari terlihat sudah tersusun dengan sangat rapi baju-baju dengan berbagai macam model dan corak. Tidak hanya baju Maira tetapi juga baju nya.


"Adam kapan kamu menyiap kan nya?".


"Sebelum pergi melamar kamu, aku sudah menyuruh orang butik untuk mengantar nya ke sini".


"Tapi dari mana kamu tau ukuran badan ku?".


"Ibu yang membantu ku, dia itu punya fashion stylist, jadi sudah terbiasa melihat ukuran badan orang melihat kamu kemaren di pesta dia sudah bisa menebak ukuran badan kamu dan selera fashion kamu".


"Benar-benar hebat ibu kamu".


"Ya sudah aku mandi dulu ya, kamu pilih saja dulu baju yang mau kamu pakai sekalian pilihin untuk aku".


"Oke kita couple ya".


"Terserah kamu sayang".


Maira pun sibuk memilih baju yang pantas untuk di pakai di pub nanti. Pilihan nya jatuh pada dress biru selutut, begitu juga dengan adam baju turtlenecks dan jas semi formal warna senada tidak celana panjang Adam jatuh pada celana jeans biru dongker . Maira sudah menyiap kan semua nya dari atas sampai bawah.


15 menit berlalu Adam pun selesai mandi. Dia keluar dengan handuk di pingang nya.


"Sayang di mana baju ku".


"Ini di sini".


Adam pun melempar handuk nya di kasur dengan santai dia hanya memakai ****** *****.


"Adaaaaam.. Apa-apaan sih".


"Kenapa harus berteriak sayang nanti juga setiap hari kamu liat yang begian".


"Ya tapi kan nanti kalau udah nikah enggak sekarang".


"Sama aja sayang".


"Tau ah terserah kamu".


Maira pun berlalu meraih baju yang akan di pakai nya masuk ke dalam wc. Dia benar-benar tak karuan melihat tubuh Adam tadi. Normal la kalau dia jadi panas dingin.


Maira selesai dengan ritual mandi nya. Setelah memakai baju nya ia pun keluar.


"Sini aku kering kan rambut kamu?".


Adam menduduk kan Maira di kursi meja rias. Dan mulai menghidup kan hair dryer.


"Mau kering banget apa enggak?".


"Gak usah, setengah kering aja".


Maira tersenyum menerima perhatian Adam. Mereka berdua sudah bersiap serasi dengan baju warna senada. Maira tak begitu mendadani wajah nya. Dia hanya memakai lipstik saja.


Adam tak memberi izin Maira berdandan dia lebih menyukai wajah Maira polos tanpa banyak riasan. Lagi pula dia tidak mau Maira jadi pusat perhatian.


Kini kedua nya turun ke bawah. Ya sesampai di lobby mereka berdua jadi pusat perhatian pegawai hotel. Mereka melihat bos nya menggandeng calon istri nya. Semua pegawai hotel sudah tau kalau bos mereka akan menggelar pernikahan seminggu lagi di hotel ini.


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.

__ADS_1


Witha.


__ADS_2