Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Pagi ku cerah


__ADS_3

Matahari mengeluarkan sinar nya yang indah. Maira bangun tepat puku delapan. pagi. Pagi yang indah. Demgan status baru sebagai nyonya Adam.


Maira melirik suami nya yang masih pulas tertidur. Dia memperhatikan setiap lekuk wajah suami setengah bule nya itu. Hidung mandung dan bibit yang sexy. Membuat Maira hanyut dalam tatapan nya. Sesekali dia memcium singkat bibir dan pipi suami nya.


Maira perlahan melepaskan tangan kekar sang suami dari tubuh nya. Dan beringsut turun dan beralalu ke kamar mandi.


Setengah jam Maira berada di kamar mandi. Dia berendam merelaks kan badan nya yang terasa remuk akibat pergulatan panjang. Belum lagi rasa perih di bawah sana mebuat jalan nya sedikit kesulitan. Perlahan dia mengusap tubuh nya dengan minyak essential.


Selesai dengan ritual mandi nya. Maira keluar dengan memakai jubah mandi. Dia tersenyum melihat kondisi kamar nya yang berantakan. Baju-baju yang dia kenakan bersama sang suami tadi malam benar-benar berserakan tak tentu arah. Maira membereskan nya.


Kini dia tengah bersiap. Menyiap kan baju yang akan di kenakan sang suami. Maira keluar kamar untuk melihat anak-anak nya.


Di kamar sudah ada ibu dan bapak serta adik nya.


"Buk kok di beresin?".


"Ra ibu mau pulang anak-anak kamu ibu bawa pulang ya".


"Kok cepat buk?".


"Udah berapa hari ibu sama bapak tidak pulang kasian rumah di tinggal, belum lagi tu peliharaan bapak".


"Sayang mami sini, uh uh udah sembuh ya?".


"Udah mami. Mami liat eya punya lobot bica dol dol".


"Oh ya siapa yang hadiahin Zeyra?".


"Oom kemalen sama onty tantik".


"Oh om Jaffa dan onty Liya?". Gadis itu mengangguk dan kembali fokus dengan mainan nya.


"Udah bilang makasi belum?".


"Belum eya nddak temu lagi sama oom nya".


"Ya sudah mainan nya jangan di rusakin ya?".


"Zeyra sudah enakan ya buk?".


"Udah Ra, tadi juga sudah mau makan banyak lagi. Udah minum obat juga, udah kamu tenang aja ada ibu sama Anum yang ngurusi".


"Ya udah buk hati-hati ya pak nyetir nya".


Fif liatain Zidan ya?".


"Ya kak".


"Nanti kalau Adan udah bangun Maira pulang".


"Eeh apaan sih kamu. Itu mertua kamu masih di sini layani dulu mereka. Ibu sama bapak tadi udah pamit. Udah jangan terlalu di fikirin anak-anak kamu".


"Ya buk makasi ya".


Maira pun melepas kan kepulangan anak-anak nya dan orang tua nya.

__ADS_1


Dia kembali ke kamar nya. Adam masih terlihat pulas di tempat tidur. Maira pun beringsut naik ke tempat tidur dan merebah kan diri di sisi suami nya.


Dia merapat kan wajah nya ke dada suami nya dan heeeeemm harum dan hangat. Maira ikut terlelap.


............


Di tempat lain dan di waktu yang sama.


Ada sepasang anak manusia tengah berdebat.


Setelah tadi malam memutus kan menginap di apartemen Jaffa, hasil bujukan maut Jaffa. Jaffa berasalan ingin di masak kan sarapan oleh Liya.


Sesuai perjanjian Liya tidur di dalam kamar sementara Jaffa tidur di sofa tv. Tapi nyata nya justru Liya bagun pagi Jaffa sedang tertidur pulas sambil memeluk diri nya. Seketika membuat Liya meremang.


"Cukup ya mas aku gak mau lagi nginap di sini".


"Ya ampun iya aku minta maaf, lagian kan tidak terjadi apa-apa, coba kamu liat pakaian masih utuh Liya. Aku hanya tidak nyaman saja tidur di sofa badan ku sakit".


Liya masih menatap sinis Jaffa. "kalau sudah tau tidak biasa tidur di sofa jangan nyuruh aku nginap di sini".


Malam itu Jaffa yang masuk hanya ingin mengambil ponsel nya eeh malah dengan sengaja naik ketempat tidur hanya karena ingin membelai wajah Liya. Tapi dia malah kebablasan ikut terlelap di samping Liya.


"Ya sudah lalu aku harus apa? Biar di maaf kan?".


Liya hanya mendengus kesal dan berlalu ke dapur untuk membuat kan sarapan. Dia malas memperpanjang debat nya yang ada dia terlambat ke kantor.


Jaffa yang melihat wajah marah Liya hanya tersenyum. Dia pun berlalu masuk ke kamar mandi.


Menu sarapan mereka adalah nasi goreng ala Liya. Dengan lincah Liya sudah menyelesai kan membuat menu sarapan. Dia pun duduk menunggu kedatangan Jaffa.


Jaffa yang sedang berada di depan kaca walk in closet memasang dasi. Selesai bersiap dia pun keluar menuju meja makan.


Liya sendiri susah mendeskripsikan hati nya. Pagi tadi sebenar nya dia sempat terpana melihat wajah Jaffa yanga maskulin itu. Dia pun merasakan hangat nya kulit tangan Jaffa bersentuhan dengan lengan nya. Belum lagi nafas Jaffa berhamburan lewat di wajah nya.


Jaffa tidak melakukan apa pun Liya tau itu. Dia bisa merasakan ketulusan Jaffa. Hanya saja dia kesal sikap Jaffa yang suka seenak nya tidur satu selimut dengan nya coba kalau mereka khilaf kan bisa habis Liya di hajar ama bapak nya. Tau anak nya tidur seranjang sama pria yang bukan suami nya.


Senang tapi kesal. Itu la yang dia rasakan pagi ini.


"Emmm enak nasi goreng nya sayang".


Liya menyipit kan mata nya menatap Jaffa.


"Kenapa lagi? Ada yang salah? Aku kan memuji?".


"Hentikan panggilan itu".


Hukhuk... Hahaha... Jaffa tersedak mendengar protes Liya.


"Aku tidak akan berhenti memanggil itu, tidak ada yang salah karena memang kau yang tersayang". Seloroh ny santai.


Liya pun menunduk kan wajah nya, kata-kata Jaffa barusan berhasil membuat semu merah di wajah nya.


Kedua nya kini telah selesai sarapan.


"Biar kan saja jangan di cuci".

__ADS_1


"Kenpa ini berantakan".


"Nanti ada yang datang membersih kan rumah ini". Liya hanya mengerut kan kening nya.


"Sudaah ayo nanti kita terlambat ke kantor, hari ini aku ada meeting menggantikan Adam".


Liya pun bergegas mencari tas kerja nya di meja ruang tengah. Mereka pun berjalan menuju pintu.


Sampai di depan di pintu. Tangan Liya di tarik oleh Jaffa. Alhasil Liya sudah berada tepat di hadapan Jaffa. Pandangan mereka bertumpu satu sama lain. Jarak mereka sangat dekat.


"Mas Jaffa apa-apaan sih". Degup jantung Liya sudah tak karuan saat di tatap oleh Jaffa.


"Kamu masih marah?".


"Tidak sudah lepas kan". Sambil mencoba menarik pergelangan tangan nya yang di genggam Jaffa.


"Dengar kan aku Liya. Aku tau kau masih marah karena ulah ku tadi, tapi demi apa pun aku tidak memiliki niat jahat atau kurang ajar terhadap mu, perasaan ku saat ini aku benar-benar tulus mencintai mu".


Liya pun berhenti meronta. Dia menatap kembaki netra Jaffa mencari ketulusan di sana.


"Apa kau sering melakukan itu dengan wanita lain?".


Heehh Jaffa terkekeh. " kalau aku bilang kau adalah yang pertama ada di ranjang ku, apa kau akan percaya?".


"Aku bukan pria brengsek yang gampang memakai tubuh wanita seenak nya. Aku memang suka ke klub tapi aku tidak suka wanita yang hanya mengandal kan tubuh mereka untuk merayu ku".


Liya hanya diam dia terus menatap netra Jaffa. Entah percaya atau tidak saat ini perasaan nya sudah berbintang-bintang karena di bilang dia pertama. Bahagia sudah tentu. Tapi hati nya masih saja berkata aakhh...


"Aaa.. Aku percaya". Dia sudah menarik tangan nya dan menurun kan pandangan nya.


Tapi Jaffa justru menarik pinggang nya dan merapat kan tubuh Liya menyentuh tubuh nya. Dengan cepat dia menyambar bibir yang selama ini dia incar. Bibir yang berhasil membuat dunia nya berisik.


Liya kaget bukan main. Dia tidak siap menerima bibir nya di lahap oleh Jaffa. Dia masih terus mencoba meronta mendorong dada Jaffa. Tapi justru Jaffa mengunci diri nya di pintu. Dan dia tidak bisa bergerak


Apa ini.. Kenapa rasa nya... " dia membatin. Otak nya ingin menolak tapi tubuh nya berkata lain. Sentuhan bibir Jaffa berhasil membuat tubuh Liya meremang seluruh bulu tubuh nya berdiri. Nikmat ya pasti la.


Akhir nya dia hanya pasrah ini pertama kali nya bibir nya berciuman. Ini kah rasa nya". Liya pun memejam kan mata nya. Tangan sudah meremas baju kemeja Jaffa.


Jaffa terus ******* bibir Liya yang terasa manis. Liya begitu kaku. Jaffa tersenyum gembira di dalam hati. Dia tau ini yang pertama bagi Liya. Jaffa tau karena Liya tidak membalas pagutan nya. Jaffa melakukan dengan perlahan, dia tau gadis itu sudah terkejut dapat serangan mendadak.


Jaffa pun melepas kan setelah nafas nya hampir habis. Dia mengelap bibir Liya yang basah karena ulah nya.


"Terima kasih". Dia mencium singkat kening Liya.


Puas menikmati ciuman pagi yang cerah dari kekasih hati yang cantik mereka pun berlalu meninggal kan apartemen dengan senyum malu-malu. Liya jelas tak bisa menyembunyikan lagi rona di pipi nya.


Di dalam lift Jaffa menangkup kedua pipi Liya.


"Kau sangat menggemas kalau begitu". Hahaha.


Cihh.. Liya hanya mengerling kan mata sambil berdesis.


Bang Jaffa paling bisa ae dah.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.


__ADS_2