Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Ingin menyerah


__ADS_3

Buk Dini sudah pamit setelah Maira mengahabis kan makanan nya. Dan mau minum obat. Buk Dini juga tadi sempat memijit punggung anak nya karena dia tak ingin Adak yang memijit nya.


Adam hanya pasrah lagi-lagi dia masih di abai kan oleh Maira. Adam sudah berganti pakaian dengan pakaian santai.


Sore ini sepasang suami istri yang selalu romantis di mana pun, tengah berjalan menyusui koridor menuju kamar rawat Maira.


"Mas yakin nih kita datang gak ganggu, takut nya mood kak Maira lagi gak stabil?".


"Adam malah yang minta aku ajak kamu ke sini karena dari tadi dia di cuekin Maira".


"Hemmm... Berarti kak Maira masih marah sama pak Adam".


"Wajar la sayang, kalau aku jadi Maira juga pasti gitu".


"Ckkkk..." Liya menyukut Jaffa.


"Auuhh kok aku malah di sikut sih".


"Jadi kamu nuduh aku bakalan bohongin kamu terus ngambek gitu gak mau maafin aku".


"C O N T O H istri ku sayang, bukan nuduh kamu, duuhh.. Jadi salah kan?".


Liya hanya memutar mata nya sambil mendengus. Kalau gak marahan gak romantis mereka.


Jaffa pun mencubit dagu Liya karena ngambek.


"Jangan gitu sayang, ini di rumah sakit lih jangan sampai aku khilaf".


"Maass".


Jaffa pun terkekeh melihat Liya bersungut. Mereka sudah tiba di depan kamar Maira. Liya mengetuk pintu kamar tapi tak dapat respon.


"Mas kok gak di buka? Apa salah kamar kali?".


"Gak sayang bener ini kamar nya, ya udah buka aja".


Dengan pelan Liya membuka knop pintu, kamar terlihat sepi tak terdengar suara sedikit pun. Begitu kedua nya masuk tak terlihat ada Adam di ruang depan.


Liya dan Jaffa pun berjalan masuk menuju kamar tempat Maira berbaring. Mereka terkejut karena Adam tidur di sisi tempat tidur dan Maira juga tidur setelah tadi makan obat.


"Mas mereka lagi tidur nanti aja lagi kita ke sini". Liya berbisik. Jaffa pun mengangguk. Dengan pelan Liya meletak kan keranjang buah dan paperbag berisi kan cemilah di meja sofa yang ada di sisi berlawanan dari sisi Adam tidur.


Kini kedua nya kembali keluar dan menutup pintu dengan pelan. Liya dan Jaffa tak tega melihat kedua tengah tidur.


"Besok aja lago kita ke sini?".

__ADS_1


"Iya mas, tapi besok barengmbak Tiwi gak apa-apa kan?".


"Iya boleh istri ku".


Jaffa dan Liya pun berjalan menuju parkiran. Perlahan mobil Jaffa keluar dari parkiran rumah sakit.


"Kita mau kemana mas?".


"Makan malam".


"Okee. Oh ya mas jadi Lusia gimana?".


"Besok aku akan mengurus nya".


"mas apa gak keterlaluan ngusir dia, kasian juga sih dia pasti tertekan di paksa nikah".


"Aku gak ngusir dia gitu aja sayang, aku akan kasi dia pilihan yang terbaik untuk hidup nya. Dia harus sadar dia dengan Adam sudah punya jalan hidup masing-masing".


Liya hanya maggut-manggut medengar penjelasan dari Jaffa.


............


Sementara itu di kamar rumah sakit. Maira terbangun tiba-tiba saja perut nya merasa mual. Dia pin beringsut turun dari tempat tidur.


Adam yang merasakan ada pergerakan dari tempat tidur ikut bangun.


Tiba di wastafel di dalam kamar mandi Maira pun muntah. Adam mengusap dada belakang istri nya. Tak ada lagi rasa nya yang tersisa di perut Maira. Sudah semua di muntah kan.


Membuat tubuh nya terasa lemas. Kaki nya pun rasa nya tak bisa lagi menopang tubuh nya. Hampir saja dia terjatuh dengan cepat Adam mengangkat bahu Maira.


Mendapat pelukan dari Adam seketika amarah Maira tertumpah. Isak tangis nya tak terbendung lagi. Fisik nya lelah belum lagi di tambah sakit hati nya di bohongin menambah beban mentan dan psikis nya.


Maira tidak kuat menahan nya. Tak ada lagi tenaga di tubuh nya. Selera makan berkurang, rasa di rongga mulut nya tak tentu. Menelan air liur nya pun terasa hambar.


Melihat Maira histeris Adam pun panik. Dia bawa wajah Maira dalam dekapan. Maira makin terisak bahkan tangis nya terdengar pilu.


"Sayang tenang lah?".


"Aku tidak kuat, aku lelah, kenapa ini menyiksa ku? Kenapa kalian menyiksa ku?". Dalam isak nya


"Dia tidak menyiksa mu sayang? Aku lah yang salah, maaf kan aku Maira?". Adam masih memeluk Maira dia pun ikut terisak melihat rintihan istri nya hati nya terasa pedih.


"Boleh kah aku menyerah?".


Betapa terkejut nya Adam mendengar penuturan Maira. Demgan cepat Adam mengurai pelukan nya dan menangkup kedua wajah Maira.

__ADS_1


"Sayang apa maksud mu hemm? Aku mohon kuat la dia anak kita, kau boleh marah pada ku menghukum ku tapi aku mohon kuat la demi dia bertahan untuk dia?".


"Untuk apa mas? Kau saja tidak membutuh kan ku? Apa kau benar-benar mencintai ku haa? Apa aku masih sangat berarti mas?".


"Heeii Maira tolong jangan pertanya kan itu, kau tau kau adalah segala nya bagi ku, tidak ada yang lebih penting lagi selain diri mu, anak-anak dan calon anak kita".


"Tapi kami membohongi ku mas demi mantan mu mas hikhikik". Maira benar-benar luruh sebenar nya yang membuat dia tersakiti bukan karena dia harus menahan hormon kehamilan tapi lebih tepat nya menerima kenyataan kalau dia di bohongin oleh suami nya, itu yang membuat dia drop, di saat hamil begini perasaan nya sensitif.


"Ayo sayang kembali ke tempat tidur, aku akan memanggil perawat". Adam hanya terdiam dan menuntun Maira merangkul bahu Maira sambil mendorong tiang penyangga infus.


Tak lama perawat pun datang memeriksa Maira. Tekanan darah nya naik lagi. Maira masih terisak bahkan nafas nya tak terarah. Perawat pun memasang alat bantu oksigen tak berselang lama dokter spesialis kandungan yang menangani Maira.


Adam sangat panik wajah kesedihan tak bisa di tutupi lagi. Adam hanya bisa berdiri di balik badan dokter yang tengah memeriksa Maira. Alat usg pun di bawa untuk mengecek janin di perut Maira.


Setelah semua selesai di periksa dan dokter juga menyatakan janin baik-baik saja tapi tidak dengan Maira psikis nya benar-benar terganggu.


"Bisa kita bicara sebantar pak Adam?". Dokter mengajak Adam ke ruang depan.


"Ya dok, apa yang terjadi dengan istri saya Dok? Janin nya bagai mana dok?".


"Mmm... Janin baik-baik saja, tapi tidak dengan ibu nya, saya harap terus menguat kan istri bapak kalau tekanan darah tidak stabil saya takut akan mempengaruhi janin, jadi saya saran untuk terus memberi kan semangat agar istri bapak tetap kuat".


"Dok apa rasa mual nya tidak akan hilang?".


Setiap ibu hamil akan mengalami beragam keluhan, seperti muntah mual ini tidak bisa di hindari karena semua ibu hamil akan mengalami nya walau pun ada sebagain yang tidak, tapi ini akan hilang dengan sendiri nya seiring bertambah nya usia kandungan, saya hanya bisa memberi kan obat pengurang rasa mual walau pun tetap buk Maira akan muntah juga. Pak Adam harus tersus menguat kan istri bapak buat terus istri bapak nyaman tenang dan jauh kan dari hal-hal yang membuat dia panik".


"Baik dok terimakasih atas penjelasan nya".


"Baik pak kalau ada apa-apa langsung panggil perawat, kalau begitu saya permisi".


Adam pun mengagguk perlahan dia mengehela nafas dan memijit kening nya, kepala nya terasa berat. Jujur kalau dia bisa meminta rasa sakit Maira dia ingin merasa kan nya.


Adam pun masuk melihat kondisi Maira yang sudah tenang. Adam mengusap bekas air mata di pipi Maira. Dan menggenggam tangan Maira dan mencium nya.


Maira hanya menatap datar apa yang di lakukan suami nya. Jujur saar ini yang dia butuh kan adalah pelukan suami aroma tubuh suami nya yang dia rindu kan.


Adam mencium singkat bibir Maira lalu tangan nya mengelus perut Maira. Dan menatap wajah Maira kini kedua nya saling memandang tak ada suara dari kedua nya.


"Boleh aku peluk sayang?". Sedikit berbisik mendekat kan wajah nya di sisi telinga Maira. Maira tak menjawab dia hanya mengedip kan mata nya Adam menganggap nya itu tanda setuju.


Adam pun beringsut naik ke atas tempat tidur dan membaring kan tubuh nya, menarik tubuh Maira dalam pelukan nya. Adam melingkar kan tanganya dari arah belakang Maira.


Maira memiring kan tubuh nya. Sesekali Adam mencium pundak Maira dan leher. Maira hanya memejam kan mata nya. Sebenar nya itu sangat nyaman bagi Maira tapi kalau ingat lagi apa yang di lakukan Adam membuat emosi nya membuncah.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.


__ADS_2