Terjebak Cinta Ke Dua

Terjebak Cinta Ke Dua
Penentuan


__ADS_3

Hari sudah menejelang siang Adam dan Maira masih saja tenang di kamar mereka. Belum ada tanda-tanda pergerakan dari mereka.


Sementara di kamar lain sedang ada Tuan Zein, nyonya Defne, Haris dan Farasya. Mereka tengah duduk di meja makan di kamar hotel Tuan Zein.


"Sore ini kita akan pulang ke singapur".


"Farasya paman ingin beratanya dengan mu, kau harus menjawab dengan jujur?".


"Apa kau bersedia kembali ke Turki?".


"Kalau itu kemauan paman dan bibi aku tidak menolak nya, tapi kalau aku punya pilihan aku ingin di dekat kalian di singapur".


Hemmm.. Tuan Zein menarik nafas panjang.


"Farasya?". Nyonya Defne menatap Farasya.


"Tidak apa istri ku, aku memang ingin menedengar jawab dari nya".


"Dengar kan paman, aku sama sekali tidak mencampak kan atau membenci mu Farasya, aku hanya ingin kau tumbuh menjadi gadis yang kuat dan tangguh, aku tidak ingin kau tumbuh menjadi gadis pembangkang dan liar seperti tidak punya tujuan hidup. Tapi aku rasa empat tahun kau di Amerika, kau pasti banyak belajar".


"Kalau memang itu ke inginan mu, baik lah sekarang aku akan bertanya kepada Haris. Apa kau menyukai keponakan ku?".


"Suami ku?".


"Paman?".


"Jawaban mu yang menentukan nasib Farasya".


Haris begitu tegang kalau sudah berhadapan dengan Tuan Zein, Tuan Zein lebih menakut kan dari pada Adam.


Dia menunduk kan kepala dan menarik nafas dalam.


"Aa.. Aku.. ". Dia takut jawaban salah dan justru akan memperburuk keadaan Farasya. Dia sangat tau keinginan terbesar Farasya adalah berada di dekat paman dan bibi nya.


"Bicara la Haris kau itu sudah seperti anak kami hemm". Nyonya Defne mengelus lengan Haris.


"Iya tuan aku mencintai Farasya". Dengan terbata dan sedikit gugup kalimat itu keluar. Semoga itu adalah kalimat yang baik buat nasib Farasya. Dia hanya ingin Farasya bahagia di manapun itu. Dan dia juga sudah berjanji akan selalu menjaga nya sampai Farasya di izin kan untuk menikah.


"Baik la... Bersiap la kita akan makan siang bersama, aku akan telfon Jaffa untuk mencari restoran. Sebelum kita pulang ke singapur aku ingin berkumpul dengan kalian dan juga menantu ku".


"Dan kau ikut kembali ke Singapur Farasya". Terdengar suara parau dari Tuan Zein sambil berlalu masuk ke dalam ruang tidur nya.


Nyonya Defne tersenyum menggenggam tangan Farasya. " pergi la bersiap untuk kepulangan kita, Haris bantu la Farasya bersiap, aku percaya padamu".


Nyonya Defne pun kembali menemui suami nya dan tersenyum bahagia.


"Kau menelfon siapa suami ku?".

__ADS_1


"Anak mu, kemana dia? Apa dia tidak mau keluar kamar dan menemui kita?".


"Sabar la, mungkin mereka kelelahan, lebih baik beritahu Jaffa kita akan makan siang dengan nya".


"Cciihh... Dasar anak nakal berapa lama dia menghajar istri nya".


Istri hanya tersenyum mendengar rungutan suami nya.


.............


Derrt... Derrtt...


Dari tadi ponsel Adam tidak berhenti berdering. Maira tersadar mendengar suara ponsel. Dia melirik ponsel Adam tertera di layar nama Jaffa.


"Yank bangun... Ini Jaffa nelfon angkat dulu mana tau penting".


"Heemm... ". Sambil menggeliat.


"Ini angkat dulu".


Adam pun menerima ponsel nya. Denga suara yang masih berat dan kesadaran belum penuh.


"Hallo..


"Cekkcckkkckck... Apa pertempuran mu semalam terlalu dahsyat sampai jam segini belum bangun".


"Ada apa?".


"Hemm.. Aku akan menyusul".


Tuth..Adam langsung menutup panggilan dari Jaffa.


"Ada apa?".


"Daddy minta kita makan siang bersama, sore ini mereka akan pulang ke Singapur".


"Oh ya". Maira pun melirik jam ternyata hampir menjelang makan siang.


"Yank ayo bangun sana mandi".


"Hemm bentar 2 menit lagi".


"Cepat la gak enak kalau daddy sama ibu menunggi kita".


"Iya tapi aku mau di mandi kan".


"Mandi sendiri aku udah tadi".

__ADS_1


"Kalau gitu mandi lagi". Adam pun mengangkat Maira masuk ke dalam kamar mandi".


"Aaahh...yank.. "


Maira sudah di serang secara brutal oleh suami nya, ini bukan mandi tapi bekerja. Tubuh nya kini sudah bersandar di dinding. Dibawah guyuran shower kedua nya saling berpagutan. Baju Maira sudah terlepas berserak di lantai. Tak ada lagi yang tersisa.


Pergulatan panas terulang lagi siang ini di kamar mandi. Tangan Adam sudah menjelajah di tubuh Maira. Sementara Maira sudah tidak kuasa lagi menahan sentuhan dari suami nya tubuh nya terus meminta lebih. Tangan nya terus menekan tengkuk Adam pagutan itu pun semakin dalam dan liar.


Setelah merasa oksigen mereka habis. Adam melepas kan dan berpindah dan bermain di bukit indah Maira. Maira yang sudah mengejang semakin menuntun Adam untuk terus dan terus berasa di sana.


Dan serangan demi serangan di lakukan Adam sampai tiba di satu titik ternikmat.


(aaahh sudah la author malas mau nerusin nanti di marah sama pihak NT. Kemaren aja episod malam pertama Adam Maura author udah ditegur).


Hampit 1 jam mereka baru selesai mandi. Maira masih mengering kan rambut nya gara-gara ulah suami nya. Dia duduk di meja rias. Sementara Adam sudah lengkap berpakaian.


Dia melirik istri nya sibuk dengan rambut panjang ny. Leher istri nya terlihat begitu menggoda.


"Sayaaang..." Maira terlonjak kaget sekaligus geli tengkuk nya di cium oleh Adam.


Adam masih saja mendusel idung nya di sana.


"Sayang geli.. Ayo la jangan main-main kita sudah terlambat".


"Siapa suruh menggoda ku".


"Siapa yang menggoda? Kamu aja yang mesum pikiran nya".


"Wajar sayang kita suami istri baru juga sehari jadi masih harus menyesuai kan biar terbiasa".


"Cihh alasan, udah yuk kasian ibu sama daddy aku tidak enak mereka akan pulang tapi aku tidak bisa melayani mereka dengan baik".


"Santai aja sayang mereka pasti ngerti".


"Adaam lepasin". Adam masih saja memeluk istri nya dari belakang dan mengikuti kemana arah Maira pergi.


"Yank udah dong masa iya kita keluar kamu gelendotan begitu?".


"Iya baik la, nanti kita lanjut lagi".


Kini kedua nya sudah turun dan berlalu dari hotel menuju restoran di mana yang lain sedmag menunggu kedatangan pengantin baru.


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.


Witha.

__ADS_1


__ADS_2