
Sampai di pintu lobby mereka sudah di sambut Rafif dan mantan suami Miara, Nugroho. Tadi dia datang sebagai tamu undangan. Saat ingin menemui anak nya. Dia mendapat kabar dari Rafif. Jelas dia sangat khawatir. Sempat menghubungi Anum, setelah di beri tahu mereka akan kembali ke hotel dia pun menunggu dengan cemas.
"Zeyra". Liya yang sudah pernah melihat mantan suami Maira pun menyerah kan Zeyra ke gendongan ayah nya Zeyra.
"Maaf sekali merepot kan, maaf kalau saya boleh tau apa kata dokter"".
"Ahh tidak pak, dia hanya kelelahan jadi nya dehidrasi, Zeyra sudah baik-baik saja, lebih baik bawa masuk dia harus istirahat pesan dari dokter. Mbak Anum bawa aja naik ke atas ya ke kamar biar Zeyra istirahat".
"Iya mbak".
"Terimakasih banyak ya".
Liya hanya mengangguk. Meliht Zeyra di bawa ayah nya.
"Loh Zeyra sama siapa?".
"Sama ayah nya?".
"Maksud nya, mantan suami Maira?".
"Iya pak Jaffa, duh bawel banget, udah yuk aah masuk aku lapar".
Dia pun menggandeng tangan Jaffa. Jelas Jaffa tercekat melihat tangan nya di genggam oleh Liya. Jaffa pun menyeringai bahagia.
Untung lagi di tempat acara kalau enggak udah di *****-***** Liya sama bang Jaffa. Karena gemes dengan Liya.
Tamu-tamu masih berdatangan. Pengantin masih sibuk di atas pelamin bersalaman dengan tamu.
"Dam?".
"Eehhmm.. Kenapa sayang?".
"Dimana sih Liya sama Jaffa kok gak keliatan aku cemas sama Zeyra?".
"Sayang tenang la, percaya ke mereka Zeyra baik-baik saja, kalau ada apa-apa Jaffa atau Liya pasti kasi tau kita, tenang ya". Sambil menggenggam tangan sang istri.
Weli yang siaga duduk di sisi pelamin pun di panggil oleh Adam dengan kode. Adam memerintah kan Weli mencari Jaffa.
Sedang kan yang di cari sedang asik makan mojok berdua di sudut ballroom.
"Ckck.. Apa gak pegal tu tangan pengantin tamu nya gak berhenti nyalamin mereka?".
"Nama nya juga lagi jadi manten ya gitu dong?".
"Nanti kalau aku yang nikah gak mau banyak tamu, pengen privat di tepi pantai, biar gak kaku acara nya".
"Dih tulang kali kaku".
"Tau gak undangan itu sebenar nya gak 1000?".
"Haa serius tapi bukan nya kata kak Maira cetak undangan nya 1000".
"Itu kan di cetak, tapi undangan lewat via email dan kolega Daddy Adam lewat via phone call, mana ke itung lagi".
__ADS_1
"Wah wah pantesan tamu nya buanyak banget dari tadi gak ada sepi-sepi nya".
Lagi asyik bergosip. Jaffa dan Maira terkejut Weli datang.
"Maaf pak, bos cari pak Jaffa".
"cekk... Adam gak bisa apa gak ganggu sebentar, ada apa?".
"Kurang tau pak".
"Bilang Zeyra baik-baik saja, dia lagi sama ayah nya di kamar atas, aku lagi makan jangan ganggu".
"Baik pak saya permisi". "Lagi makan apa pacaran cekcek, punya bos pada kesepian ya gini, sekali nya dapat, dunia dah kayak dia yang punya". Batin Weli yang masih mematung di hadapan Jaffa.
"Wel. Ada apa lagi?.
"Aaa hee he gak pak, lanjut pak kencan nya".
"Kau". Weli sudah berlari menjauh takut terkena lemparan serbet makan dari Jaffa.
Weli kembali ke pelaminan. Melapor kan apa yang di bilang oleh Jaffa. Seketika saja Maira terkejut. Dia melirik Adam. Dia takut kehadiran mantan suami nya mengganggu Adam.
Adam yang melihat raut wajah Maira berubah. Dia pun meraih pinggang Maira. Dan berbisik.
" jangan cemas, Zeyra baik-baik saja, lebih baik fikir kan tentang malam ini".
Maira hanya mendengus menatap wajah Adam yang sudah menyeringai devil. Dia pun menyikut pinggang Adam.
Hahaha..
Maira juga sudah menyuruh ibu dan bapak nya segera naik untuk melihat cucu mereka. Zeyra sedang tidur setelah tadi makan dan di beri obat. Nugroho masih setia berada di kamar hotrl bersama anak-anak nya.
"Ibu, maaf saya masih di sini". Buk Dini masuk ke kamar.
"Tidak apa-apa, bagaimana keadaan Zeyra?".
"Sudah lebih baik buk, sudah mau makan, panas badan nya juga sudah normal".
Buk Dini lega mendengar nya. Dia senang melihat mantan menantu nya itu sangat bertanggung jawab dengan darah daging nya walau dia tidak bisa menyelamat kan pernikahanya dengan anak buk Dini. Seenggaknya cucu-cucu nya masih mendapat kan perhatian dari ayah nya.
"Makasi ya nugroho". Pak Rasyd pun juga sangat senang mendengar nya.
"Tadi dia sempat di bawa ke Rumah sakit buk pak?".
"Haa... Sama siapa?".
"Sama teman Maira, siapa itu tadi?".
"Siapa Anum?".
"Mbak Liya dan pak Jaffa nyonya?".
"Kamu ikut tadi".
__ADS_1
"Iya nyonya, mbak Liya melarang saya untuk kasi tau, supaya semua enggak panik".
"Ya ampun tapi syukur la keadaan nya membaik".
"Ya buk pak kalau begitu saya permisi ini juga udah malam".
"Ya hati-hati ya Nugroho".
"Ya pak.. Mari".
Buk Dini dan pak Rasyd pun benar-benar lega melihat cucu nya sudah membaik.
...........
Di ballroom sudah tidak terlihat lagi tamu, yang tersisa hanya para pelayan hotel dan WO yang berberes.
Rey dan kevin sudah terlebih dulu pulang. Setelah itu Tiwi juga pamit pulang, sementara Lani dan Weli mereka baru saja berlalu. Karena baru dapat perintah untuk besok menghandle kantor.
Kini tinggal Adam dan Maira dengan pasangan yang gak jelas status nya apa. Jaffa dan Liya. Mereka masih setia dengan pengantin baru.
"Kau tidak makan Jaff?".
"No dude, aku sudah kenyang".
"Oh ya kak, pak Adam maaf baru ngabari?".
"Kenapa Li?".
"Tadi aku sama mas Jaffa bawa Zeyra ke rumah sakit".
"Haa... Kenapa? Memang nua Zeyra kenapa?".
"Tenang kak, tadi itu tiba-tiba aja panas nya tinggi banget, aku khawatir aja dia kenapa-kenapa maka nya aku sama mas Jaffa inisiatif bawa kesana".
"Dia Dehidrasi, dokter pulang kan karena tidak ada yang fatal. Dan juga sudah di kasi obat lagi, seperti nya ampuh sekarang dia udah baik-baik aja".
"Tapi kenapa kau tidak kasi tau kami Jaff".
"Heei kalian itu lagi jadi pengantin, aku hanya tidak mau kalian cemas, kau sudah memberi kan tanggung jawab gadis kecil itu kepada ku, jadi aku melakukan menurut ku baik".
"Ya Tuhan, terima kasih ya Li Jaffa, ngerepotin kalian". Maira meraih lengan Liya.
"Udah la kak, gak apa-apa, kami sengaja baru ngabari karena Zeyra tidak parah. Lain hal kalau tadi dia parah dan dokter mengharus kan dia inap, pasti mau tidak mau kami pasti akan kabari kalian".
Maira melihat Adam. Adam pun mengusap belakang Maira.
"Sudah la Maira. Jangan terlalu panik begitu tanggung jawab gadis kecil itu hari ini ada di tangan yang tepat, tenang saja kau bisa mengandal kan kami lain waktu".
Mereka berdua pun tersenyum sambil saling tatap. Memang jodoh itu cerminan jiwa. Jaffa dan Liya memang satu frekuensi.
🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa mampir, vote,ike dan comment.
__ADS_1
Witha.