
Pagi ini Maira bangun sedikit tenang walau tubuh nya terasa lemah. Adam masih tidur sambil memeluk tubuh istri nya. Ya dari tadi malam mereka berdua tidur sambil berpelukan.
Pergerakan tubuh Maira membuat Adam ikut bangun. Hari sudah pagi kamar rawat Maira terasa dingin.
"Sudah bangun?". Adam memberi kan ciuman hangat di bibir Maira. Maira hanya mengangguk.
"Apa terasa mual?". Kembali Maira hanya menggeleng. Adam mengelus perut Maira dan memberi kan kecupan.
"Ayo bangun lah aku bantu bersihin badan nya?". Maira tak bergeming sejurus kemudian tubuh nya sudah di angkat oleh Adam.
"Mas?".
"Aku bantu mandiin biar seger. Ayo dorong tiang infus nya".
Maira pasrah. Adam menggendong Maira masuk ke kamar mandi dan menduduk kan nya di atas closet yang tertutup.
Adam pun melepas kan baju pasien yang di kenakan Maira.
"Mas biar aku aja sendiri, jangan kayak gini malu".
"Hehh... Malu? Kita suami istri sayang bukan nya udah biasa kita melihat polos satu sama lain hemm".
Adam terus melanjut kan kegiatan nya. Dia hanya tersenyum melihar wajah tertunduk Maira karena Malu.
Maira pasrah tubuh nya polos di hadapan suami nya. Adam mulai membasah kan rambut Maira dan menyampo nya sambil di pijit-pijit.
"Apa terlalu keras aku memijit nya?". Maira menggeleng.
Dari mulai kepala tangan tubuh dan kaki Adam bersih kan. Maira hanya diam walau sesekali dia meringis karena geli.
"Mas biar aku yang lanjutin". Maira merasa tak nyaman dia ingin membersih kan bagian inti nya.
Adam pun membiar kan Maira melanjut kan membersih kan diri nya. Dia berdiri di wastafel sambil mencuci muka nya dan gosok gigi.
Selesai, Adam pun membantu Maira memakai jubah mandi dan menggulung rambut basah Amira dengan handuk.
Kini Adam tengah mengering kan rambut Maira di sofa. Maira seperti mendapat kan energi. Tubuh lemah nya terasa ringan.
Dan yang paling menyenang kan adalah pagi ini mual nya berkurang walau tadi sempat muntah seidikit di kamar mandi tapi tidak separah kemaren.
"Sayang ada yang pengen di makan? Biar aku suruh Malik membeli nya".
"Tidak mas, aku pengen makan masakan ibuk, bisa telfonin ibuk?".
"Baik lah".
Adam pun menelfon mertua nya memberi tahu kalau Maira ingin makan masakan buk Dini. Buk Dini pun dengan senang hati mengiyakan.
Tak lama perawat datang membawa nampan berisi kan makanan dan obat.
__ADS_1
"Sayang makan ini dulu ya biar bisa makan obat?".
"Tapi mas?".
"Sedikit saja oke".
Maira mengangguk hanya dua sendok makanan itu berhasil masuk ke dalam mulut nya. Setelah mengurus istri nya kini Adam masuk ke kamar mandi membersih kan diri nya.
Tak lama Adam pun keluar dengan wajah segar rambut nya yang masih basah membuat wajah khas pagi hari nya terlihat. Wajah bule timur tengah itu begitu mempesona. Maira hanya tersenyum dalam hati.
"Mas kemari lah". Maira menepuk kasur di hadapan nya. Adam pun datang dan duduk berhadapan dengan Maira.
"Ada apa sayang?".
"Biar aku kering kan rambut kamu dengan handuk".
"Jangan tangan kamu sakit nanti". Maira memaksa dan menarik handuk dari tangan Adam.
Dengan pelan Maira mengusap handuk di kepala Adam. Adam tersenyum melihat Maira melakukan hal biasa dia lakukan di rumah.
Dengan iseng Adam meraih pinggang Maira dan sedikit menarik nya lebih dekat dengan nya. Maira menghenti kan gerak kan nya.
"Masih belum memaaf kan ku?".
"Aku ingin selama nya menghukum mu mas, tapi anak aku lebih membutuh kan kamu?". Maira menunduk dan mengelus perut nya.
"Anak kita sayang". Maira hanya menggerak kan bibir nya.
"Aku malah ingin menjauhi mu mas, hati aku masih hemmpptt".
Maira tidak bisa menerus kan kan lagi bicara nya. Bibir nya sudah di bungkam Adam. Adam ******* bibir lembut istri nya. Maira hanya diam. Tak mendapat respon dari Maira Adam mulai menekan ciuman nya dan menggigit bibir Maira dan Maira bibir Maira pun terbuka.
Akhir nya Maira pun luluh dan membalas ciuman yang menghangat kan. Respon Maira cukup membuat Adam semakin mengeksplor pagutan nya. ******* demi ******* dia berikan. Menyapu seluruh rongga mulut Maira.
Cukup lama mereka berciuman dan akhir nya sama-sama melepas kan karena kehabisan oksigen. Adam menyatu kan kening mereka. Masih sambil tersengal kedua nya menghirup udara dengan rakus.
"Aku mohon sayang jangan pernah berniat meninggal kan ku, aku tau aku salah tapi aku tidak pernah terlintas untuk mengkhianati mu percaya lah".
"Aku mohon mas, aku trauma dengan orang ke tiga, aku tidak sanggup lagi rasa nya harus menerima kebohongan dan perselingkuhan, itu berat bagi aku mas".
"Tidak sayang aku janji tidak akan hemm please percaya lah beri aku kesempatan untuk menebus nya".
"Hemm please, please, please".
"Mas udah geli". Maira mendorong tubuh Adam karena mengendus leher nya.
"Oke tapi sekali saja lagi aku kamu bohongi aku dan anak aku ini, aku pasti kan kamu gak akan bisa menemui nya".
"Anak kita sayang mana bisa kamu bilang ini anak kamu, aku yang membuat nya ada di dalam sana".
__ADS_1
"Ya aku janji maaf kan aku, itu bukan aku sayang yang berbuat kayak gitu".
"Lalu siapa?".
"Entah lah mungkin kembaran ku".
"Mas". Maira memukul lengan Adam. Adam hanya terkekeh.
"Ya sayang aku janji, tapi berikan dulu senyuman kamu, aku rindu udah berapa hari ini aku tidak melihat nya".
"Aku tidak mau". Tapi Maira malah tersenyum dan Adam pun langsung memeluk erat tubuh istri nya.
"Terimakasih sayang dan maaf kan aku".
"Mas?".
"Iya?".
"Aku pengen ke pantai".
"Pantai?". Maira mengangguk.
Hmmm baik lah kita liburan ke resort yang di bali".
Adam membelai rambut Maira dan mengelus wajah cantik istri nya yang sedikit pucat.
"Akhh sayang aku ingin, boleh kah?".
"Mas ini di rumah sakit". Adam tertawa melihat wajah semu istri nya.
"Istirahat la, biar cepat pergi dari sini terus kita liburan ke Bali, aku mau mengecek laporan dulu".
"Mas di sini aja kerja nya".
"Di sini? Ganggu kamu istirahat sayang?".
"Enggak mas di sini aja?".
"Ya baik la, aku ambil laptop dulu".
Adam pun bekerja sambil duduk sisi Maira berbaring. Maira pun mengerjap kan mata nya yang terasa ngantuk.
Pagi ini dia lewati dengan tenang tak ada morning sickness. Tak ada rasa kesal dan marah. Hati nya begitu lega. Tubuh nya terasa berenergi.
Apa sentuhan dari suami nya berhasil membuat dia tenang, mungkin. Karena itu lah kenyataan nya. Aroma tubuh Adam begitu menenang kan sampai membuat nya terlelap.
Tidak mudah merasakan hormon kehamilan yang unik. Emosi ibu hamil itu sensitif. Dan Maira berharap dia bisa melewati nya tanpa gangguan.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.
Witha.