
Masih di hari yang sama dan di jam yang sama tapi tempat berbeda.
Jaffa dan Iliyana.
Jaffa melirik Liya yang sedari tadi hanya diam tanpa suara. Entah kenapa aneh melihat gadis itu diam.
"Hei nona apa kau memang seperti ini?"
Liya pun menoleh ke arah Jaffa.
"Seperti apa?"
"Ya sebentar kau sangat berisik seketika kau diam bahkan bergerak pun tidak.
"Lalu ada yang salah? Aku hanya tidak ingin mengganggu mu menyetir"
"Hahaha"
"Kenapa anda tertawa ada yang lucu?"
"Tidak tidak, sory, oke sebentar lagi kita sampai ke bengkel nya"
"Kalau begitu menyetir la dengan fokus agar cepat sampai" Liya hanya mendelik kesal.
Dia sedang malas berdebat dengan pria yang baru di kenal nya tapi sangat membuat mood nya naik turun.
Sesampai di bengkel. Liya pun bergegas memeriksa sepeda motor nya.
"Apa nona pemilik nya?" salah seorang montir bengkel bertanya.
"Iya mas saya pemilik nya, maaf mas apa ya yang rusak dengan sepeda motor saya?"
"Maaf nona aki nya lemah dan tadi saya sudah mengganti nya dengan yang baru dan juga oli mesin nya sudah di ganti, di jamin sudah aman"
Sang montir pun mempersilakan Iliyana untuk menghidup kan sepeda motor nya
"Aaahkk akhir nya hidup"
"Sudah nyala?"
"Iya sudah,, aaaaa akhir nya dia kembali normal"
Jaffa yang berada di samping Iliyana pun tertegun melihat raut wajah gadis itu, bagaimana tidak sepanjang perjalanan tadi gadis itu hanya diam tanpa keluh kesah. Namun sesaat tiba di sini dan melihat sepeda motor nya kembali menyala dia bisa berubah 180 derajat bahkan lebih. Senyum bahagia di wajah nya langsung terpancar begitu saja.
Sungguh membuat penasaran Jaffa dia baru kali ini melihat gadis se unik ini. Seperti apa sebenar nya gadis ini. Pasti ada sisi lain yang menarik dari diri gadis ini. Jaffa sangat sadar saat bersama gadis ini, dunia nya seolah begitu berisik.
Kini mereka berdua sudah berada di parkiran bengkel.
"Kau yakin akan pulang sendiri?"
"Yups... Si cantik ini sudah bisa menyala dengan baik"
"Apa tidak sebaik nya aku mengantar kan mu pulang biar aku suruh salah seorang montir di sini mengantar motor mu pulang"
"No no tidak apa-apa, aku yakin dia sudah sembuh dari merajuk nya" sambil mengelus stang motor nya.
"Mm.. Baik la kalau begitu hati-hati kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku" ujar Jaffa sambil menggaruk jidat nya yang tidak gatal.
"Tunggu dulu" Iliyana pun mematikan mesin motor nya. Dia merogok tas nya mencari sesuatu. Dan mengeluar kan sesuatu dan memberikan ke Jaffa.
"Nih "
"Apa ini" sambil mengerut kan kening nya dan meraih barang yang ada di tangan Iliyana.
"Coklat?"
__ADS_1
"Hem ehem .. Itu tanda terimakasih ku karena sudah membantu ku tadi pagi dan mengantar motor ini kesini, di bayar pula, karena anda tidak mau menerima uang ku, jadi terima itu saja, tolong jangan di tolak, memang tidak seberapa tapi aku tidak suka yang gratisan"
Jaffa terperangah melihat sebatang coklat di tangan nya. Sungguh menarik fikir nya. Coklat? Dia tidak pernah mendapat kan imbalan semacam ini dari seorang gadis pula. Sejujur nya dia tidak ingin mendapat kan imbalan apa-apa dari gadis ini, dia benar-benar ikhlas membantu.
Ini kali pertama nya dia peduli ingin membantu wanita dalam kesusahan, bukan dia tidak empati tapi dia tidak mau berakhir salah sangka. Dan itu pernah terjadi dengan nya.
"Baik lah aku terima hadiah nya"
Eehh... Jaffa pun menahan lengan Iliyana yang sudah hampir menarik gas motor nya.
"Ya"
Kini kedua mata mereka beradu. Jaffa dan Iliyana pun saling tatap. Dan yang terjadi jantung keduanya berdetak hebat. Mereka pun akhir nya salah tingkah sendiri. Sedetik itu juga Jaffa melepas kan genggaman tangan nya dari lengan Iliyana.
Dan dia pun mempersilakan Iliyana pergi. Perlahan Iliyana pun berlalu.
"Apa itu tadi, sungguh memalukan, ada apa dengan ku" lirih nya pelan sambil mengusap tengkuk nya dan tersenyum kecil.
Dia pun berlalu dengan mobilnya.
Di jalan pulang Iliayan dari tadi meniup-niup mulut nya. Rasa gugup saat mata nya beradu dengan Jaffa mengalir sampai ke wajah nya.
"Ya Tuhan kenapa muka aku jadi berasa beruap gitu ya. Mata nya tatapan nya aaaaaaakkkhh... Lupakan lupakan" Iliyana bermolog.
Cukup panjang perjalanan yang dia tempuh untuk sampai di kosan nya. Hari pun sudah mulai gelap. Masuk keperkarangan kosan nya Iliyana pun memarkir sepeda motor nya dengan hati-hati.
Tanpa dia sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan nya. Siapa lagi kalau bukan Jaffa ya entah perasaan apa yang menuntun dia mengikuti Iliyana sampai di depan kosan nya. Kosan yang cukup sederhana di tengah perumahan biasa.
"Di sini dia tinggal hemm... Cukup biasa-biasa saja" Jaffa membatin sambil terus memperhatikan gerak Iliyana yang sudah masuk menaiki tangga lantai 2 kosan.
Sampai saja di dalam kamar nya Iliyana pun melempar sepatu dan Tas nya ke sembarang tempat.
"Huuufff kenapa lelah sekali hari ini"
Kruk kruk...
Dert dert...
Ponsel nya berbunyi.
"Haa dia ? Kenapa dia menghubungi ku apa lagi?.. Ceekk"
"Iya hallo"
"Apa sudah sampai?"
"Iya sudah"
"Oh baik la kalau gitu baik la maaf mengganggu"
"Haa anda menelfon ku hanya untuk menanyakan itu"
Belum sempat Jaffa menjawab.
Kriuk kriuk....
Seketika Iliyana menekan perut nya agar tidak terdengat oleh Jaffa. Tapi Jaffa terlanjur mendengar nya.
"Tunggu apa itu? alarm dari perut mu?"
Iliyana pun menggigit bibir bawah nya dan menepuk-nepuk jidat nya sambil mengangkat kaki nya.
"Aaa.. Tidak i ii.. Tu suara kucing tetangga". Sambil memejam ka mata nya dan menggigit jari nya.
Jaffa pun tertawa. "hei aku ini bukan anak Tk yang bisa kau bodohi, keluarlah ayo kita makan aku juga lapar"
__ADS_1
"Apa di luar maksud nya?"
"Ya aku ada di depan kosan mu"
Seketika itu juga Iliyana melompat dari rebahan nya dan mematikan ponsel nya. Dengan langkah cepat dia keluar dari kamar nya. Ya benar saja dia dapat melihat Jaffa berdiri di seberang kosan nya sambil nyender di mobil nya dan melipat kedua tangan ny.
Iliyana pun segera berlari ke arah Jaffa.
"Sedang apa anda di sini? Apa anda mengukuti ku dari bengkel tadi?"
"Tunggu dulu jangan berfikir tidak-tidak aku hanya memastikan kau sampai dengan selamat, aku hanya takut motor nya kenapa-kenapa itu saja" Jaffa beralasan.
Iliyana pun memicing kan mata nya.
"Bukan nya tadi kau lapar?" Jaffa mencoba mengalih kan.
"Oh ayo la sebentar saja kau tidak jutek kepada ku"
"Baik la tapi aku tidak mau ikut dengan mu"
"Haa"
"Tinggal kan saja mobil mu di sini, kita akan makan di langganan ku di depan jalan sana"
"Lalu kesana nya kita jalan kaki"
"Auuhh.. Kenapa kaki ku di injak?"
"Itu hukuman karena kaki mu mengikuti ke sini"
"Kita akan kesana pakai motor"
"Motor?" saat Jaffa mau protes Iliyana sudah berlalu masuk ke perkarangan kosan nya.
Dengan terseret-seret Jaffa melangkah masuk juga, bagaimana tidak kaki nya tadi habis di injak Iliyana.
"Ada apa sih dengan pikiran gadis itu apa salah kaki ku?" batin nya.
"Ini " Iliyana menyerah kan kunci motor nya.
"Haa, begini bukan nya lebih aman kita pakai mobil saja?"
"Memang nya pakai motor tidak aman, lagi pula jarak tempat makan itu tidak terlalu jauh, lebih praktis kalau pakai motor"
Jaffa pun ragu-ragu untuk mengendarai motor matic Iliyana sesungguh nya dia jarang menggunakan sepeda motor matic, bahkan tepat nya dia tidak pernah mengendarai nya dalam jangka waktu lama.
Tapi dengan ragu-ragu dia pun meraih kunci dan memasuk kan ke lubang kunci motor.
"Baik la hanya di gas dan rem saja kan tidak ada hal lain yang harus di di injak" bermonolog sendiri.
Jaffa pun berdoa dalam hati semoga dia bisa dan tidak menjatuh kan harga diri nya di depan gadis cerewet ini. Bisa-bisa dia di tertawai oleh Iliyana.
Perlahan dia mengegas motor nya dan memutar ke arah jalan. Iliyana pun sudah duduk dengan baik di belakang Jaffa. Walau awalnnya sempat tersendat-sendat dan kaku akhir nya Jaffa bisa menguasai dengan lihai.
"Huuhh untung la" dia sudah berkeringat menahan gugup.
Di mana tempat makan nya?"
"Lurus aja nanti di ujung jalan situ ada tenda tulisan Pecel ayam. Nah berhenti di situ"
Jaffa hanya mengernyitkan dahi nya dia baru mendengar jenis menu itu. Sebelum nya dia belum pernah membaca jenis menu tersebut, tapi dia pasrah saja asal dia bisa makan malam dengan Iliyana.
🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa mampir, vote, like dan comment.
__ADS_1
Witha.