Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Tujuh Ratus Ribu


__ADS_3

halo semuanya.. ketemu lg di episode kedua yg aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


“Aku tidak tahan lagi.” Bibir Jarvis naik membasahi bibir Lindsey yang kering sambil tangannya membuka resleting celananya lalu mengeluarkan bungkus k*nd*m dari laci.


“Katamu kamu akan menghamiliku setelah kita bertemu lagi?” tanya Lindsey dengan senyum menggoda.


“Oh, kamu mau, Sayang?” balas Jarvis yang juga tersenyum.


“Haahaha.. Aawhh!” Jarvis membalikkan tubuh Lindsey yang akhirnya menungging dan bertumpu pada dipan ranjang. Dirobeknya kasar bungkus k*nd*m itu dan memasangnya kemudian sebelum masuk perlahan ke liang kenikmatan paripurna.


“E..eemmhh.. aahh..!” Menandakan milik Jarvis yang berhasil masuk.


Jarvis memainkannya maju mundur. Bersamaan dengan desahaan yang dikeluarkan dari mulut Lindsey. Dia mencengkeram dipan ranjang kuat-kuat.


“Aahh.. aahh.. ahh.. aah.. aahh.. Jarvis..!”


Mereka mencapai klimaksnya bersama-sama. Jarvis memeluk tubuh Lindsey dan menuntunnya duduk di pangkuannya dengan posisi yang membelakangi. Jarvis membuka kakinya lebar-lebar, mencium bibir Lindsey sebelum kembali menggoyangkan panggulnya. Tangannya memeluk tubuh Lindsey dengan erat, merraba buah dada Lindsey yang sudah tidak terjaga lagi. Tali gaun tidurnya sudah turun ke lengan.


“Aaahh.. aahh.. emhh.. ahh.. ahh.. aahh..”


“Aakhh..!”


Jarvis memeluk erat perut Lindsey dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung Lindsey sambil mengatur napasnya sebelum kembali lanjut.


Dan saat hendak kembali lanjut, mengatur posisi barunya, terdengar sebuah teriakan yang memanggil namanya dari bawah. Jarvis dan Lindsey membulatkan matanya sebelum membetulkan pakaian mereka masing-masing.


“Itu pasti Carlos. Tunggu di sini.” ucap Jarvis diakhiri dengan kecupan kening.


Lindsey pun menurut dan tetap berada di kamar saat Jarvis turun menemui orang yang meneriaki namanya. Karena rasa penasaran yang tinggi, Lindsey berjalan mendekati pintu untuk mendengar apa yang mereka bicarakan di bawah.


“Hari ini kan hari Minggu! Kenapa datang ke sini?!” tanya Jarvis tidak senang karena kedatangan Carlos telah mengganggu aktivitasnya bersama Lindsey di atas ranjang.


“Ini! Aku bawakan makanan untukmu! Setelah berpisah dengan Lindsey, kamu sudah kembali ke dirimu yang dulu. Yang tidak akan makan kalau tidak aku bawakan.” balas Carlos seraya mengeluarkan semua makanan yang dibawanya dari bungkusnya.


“Sstt.. Pelankan suaramu. Tidak perlu teriak-teriak seperti itu. Hanya ada kita berdua di sini.” ucap Jarvis.


“Coba kamu pikir deh. Lindsey saja menjalani hidupnya dengan baik setelah berpisah darimu. Dia bersenang-senang—“


“Sssttt!!”


“—hura-hura, jalan-jalan ke Las Vegas—”


“Carlos!”

__ADS_1


“—main judi, pesta miras sampai pagi. Mana ada dia memikirkan kamu seperti kamu memikirkan dia?”


“Ssttt! Hey! Hentikan!” Jarvis membekap mulut Carlos dengan tangannya.


“Kenapa kamu tidak bisa seperti dia? Payah sekali.” ucap Carlos setelah Jarvis melepas mulutnya.


“Sudah deh! Pergi saja sana! Pergi! Pergi! Jangan datang ke sini lagi!” Jarvis mengusir Carlos.


“Hey, yang harus kamu usir itu Lindsey, dari pikiranmu! Sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri!” balas Carlos.


“Iya, iya! Sana deh ah! Pergi!” ucap Jarvis.


“Jangan lupa transfer aku 700 ribu untuk makanan dan ongkos membawakannya ke sini.” ucap Carlos seraya berjalan menuju pintu.


“Idih! Lebih baik aku beli sendiri saja!” balas Jarvis.


“700 ribu sudah termasuk perhatian dan kekhawatiran yang tidak bisa kamu dapatkan dari manapun. Coba, mana lagi orang yang perhatian dan khawatir denganmu selain aku? Lindsey? Hahahha.. dia mungkin sedang bersenang-senang sekarang.” ucap Carlos.


Jarvis segera membuka pintu dan menjoroki Carlos ke luar kemudian menutup pintu kembali dari dalam.


Rasa tidak enak menyeruak dari dalam dadanya. Bagaimana dia harus menghadapi Lindsey? Mana Carlos bicara dengan kencang, pula. Seolah-olah tahu akan keberadaan Lindsey dan sengaja agar Lindsey mendengarnya dari manapun itu.


Setelah menutup pintu, Jarvis hendak kembali ke kamar namun kakinya tidak sengaja menendang sepatu kets milik Lindsey. Jarvis menghembuskan napas dengan panjang.


Sekarang dia tahu mengapa Carlos mengatakan hal tadi, mengeluarkan unek-uneknya untuk Lindsey meski tidak di depan wajahnya langsung. Ternyata dia tahu ada Lindsey di dalam unit penthouse itu. Jarvis menggaruk kepalanya.


“Sudah mau pulang?” tanya Jarvis.


“Iya.” jawab Lindsey.


“Menetaplah lebih lama lagi. Hari ini kan hari Minggu.” balas Jarvis.


“Orang rumah akan mencarikanku. Jangan lupa makan dan bersenang-senang meski tidak ada aku.” ucap Lindsey.


“Kamu mendengarnya, ya.. Carlos tadi itu hanya asal ngomong saja. Tidak perlu didengar.” balas Jarvis.


“Tapi aku setuju dengan setiap kalimat yang dia ucapkan. Kamu harus memikirkan dirimu sendiri. Dan.. ‘700 ribu sudah termasuk perhatian dan kekhawatiran yang tidak bisa kamu dapatkan dari manapun.’. Wah! Carlos menantangiku rupanya. Mulai sekarang aku akan tunjukkan bahwa yang bisa memberi perhatian untuk laki-laki ini bukan hanya dia saja!” ucap Lindsey.


Jarvis meraih pinggul Lindsey yang membawanya semakin dekat padanya. “Ini baru wanitaku.” ucap Jarvis.


“Dan ternyata.. laki-laki ini..” Jari jemari Lindsey mengancingkan kemeja Jarvis satu persatu dari atas.


“Mencari tahu apa yang aku lakukan sampai ke Las Vegas..” lanjut Lindsey.

__ADS_1


Jarvis tertangkap basah di depan orangnya langsung. Tidak lain dan tidak bukan adalah ulah asisten pribadinya sendiri.


“Itu... Karena.. itu.. aku..” Jarvis gelagapan.


“Fokus dengan dirimu sendiri, Jarvis. Oh, ya. Besok bisa datang ke kantorku? Aku pengacara yang akan mendampingimu dalam menghadapi kasusmu.” balas Lindsey.


“Serius? Padahal aku memilih GDP bukan ingin bertemu denganmu, loh. Serius!” ucap Jarvis.


“Aku menerima kasus itu juga bukan karena ingin bertemu denganmu. Sampai bertemu besok, di kantorku.” balas Lindsey.


“Kenapa tidak sekarang saja? Kan kita lagi bertemu.” tanya Jarvis.


Lindsey menggeleng. “Aku tidak ingin membahas pekerjaan di hari Minggu.” jawab Lindsey lalu berjalan menuju pintu.


“Jam?” tanya Jarvis.


“8 pagi. Aku tidak menoleransi keterlambatan.” jawab Lindsey berbalik badan kemudian berbalik lagi dan keluar dari unit penthouse Jarvis.


...****************...


Keesokan harinya, jam 5 dini hari Jarvis sudah terbangun dari tidurnya dan melakukan lari pagi di sekitar jalan dekat hotelnya. Sambil mendengarkan musik dari earbuds yang terpasang di telinganya, Jarvis berlari membakar kalorinya di pagi hari.


Udara saat masih subuh sangat disukai Jarvis. Karena udaranya belum tercampur dengan asap kendaraan, masih terasa segar dihirup dan mengenai wajahnya. Setelah melakukan lari pagi, Jarvis kembali ke hotel dan mandi, bersiap untuk ke firma menemui Lindsey.


Pagi itu Jarvis mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dan kemeja berwarna hitam. Ditambah dengan jam tangan berbahan rantai yang menambah kemaskulinannya. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum yang mampu memikat hati wanita. Terakhir, dia menyolek sedikit gel dan menata rambutnya bagian atas supaya rapi. Tepat di jam 7 pagi, Jarvis sudah siap pergi meluncur ke firma.


Berbeda dengan Lindsey, di jam 7 dia baru bangun dengan alasan suara alarm yang kecil. Pagi itu Lindsey bangun kelabakan, mandi dengan cepat, merias wajah dan 7.35, dia turun ke bawah, ingin langsung berangkat. Namun Kapten meneriakinya untuk sarapan sebentar.


Lindsey meneguk segelas susu tanpa jeda sampai habis lalu Kapten menaruh sehelai roti yang sudah dilipat dua di bibir Lindsey. Lindsey pun langsung menyalakan mobilnya dan pergi. Satu tangannya memegang setir mobil, dan tangannya yang lain memegang roti. Sambil mengemudi dia menghabiskan sarapannya.


Jam 8 lewat 5 menit, mobil Lindsey baru tiba di parkiran firma. Sebelum turun dari mobil, dia menyempatkan untuk mengaca, memastikan tidak ada bekas susu dan roti menempel di wajahnya. Lalu mengalungkan name tag tanda pengenalnya sebagai pengacara. Setelah itu dia turun dari mobil, berjalan masuk ke gedung. Matanya melihat jam tangan yang dia kenakan.


Duh, semoga Jarvis terlambat. batin Lindsey.


Lift yang ditumpangi Lindsey akhirnya tiba di lantai yang dia tuju. Lindsey menempelkan kartu tanda pengenal yang menggantung di lehernya di sensor pintu untuk membuka pintu tersebut.


“Pengacara Lindsey, ada seorang klien yang sudah menunggu anda.” ucap seseorang di meja penerima tamu setelah masuk pintu.


“Apa dia sudah menunggu lama?” tanya Lindsey dengan mendekatkan diri agar tidak didengar siapapun.


“Sudah sekitar 30 menit. Dia menunggu di ruang tunggu.”


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2