
halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻
...****************...
“Apakah aku seperti kanebo kering saat mengucapkannya tadi..? Aku belum pernah mengatakan itu kepada siapapun..” ucap Jarvis.
Kanebo kering ini bahkan mengenal diriku lebih baik dari aku mengenal diriku sendiri. batin Lindsey.
“Tidak. Aku terdiam karena aku baru saja mendapatkan apa yang ternyata aku sedang butuhkan.” balas Lindsey.
“...”
“Terima kasih, ya, Jarvis. Aku akan segera menemuimu.” ucap Lindsey.
“Santai saja. Aku selalu menunggumu kapanpun itu.” balas Jarvis.
Dan Pak Kanebo Kering telah membuat jantungku berdebar.
...****************...
Lindsey kembali mendatangani rutan tempat dimana Ferdi ditahan. Kali ini kunjungan Lindsey sebagai pengacara Ferdi diterima. Mereka disediakan ruangan untuk berbicara lebih leluasa. Namun tetap tangan Ferdi dalam kuncian borgol.
“Bagaimana hari pertamamu di rutan?” tanya Lindsey.
“Aku tidak cocok dengan menu makanan di sini, seluruh badanku terasa sakit karena kasur yang mereka sediakan terlalu tipis, panas, tidak ada AC, kipas angin juga harus berbagi. Kapan pengacara Lindsey akan segera membebaskanku?” jawab Ferdi.
“Mereka belum mengatur sidang pertamamu. Karena mereka sibuk dengan ikan yang baru saja mereka tangkap.” balas Lindsey.
“Apa? Ada seorang pengedar sepertiku juga yang tertangkap?” tanya Ferdi.
“Apa ada anggota dewan yang menjadi pengedar juga?” balas Lindsey.
“Banyak.” jawab Ferdi.
“Kamu mengenal orang ini?” tanya Lindsey seraya memperlihatkan foto Roland Gourman.
“Tidak. Siapa dia?” jawab Ferdi.
“Dia orang yang baru ditangkap pagi ini. Ditemukan 15 kg kok*in di rumahnya.” balas Lindsey.
“Hah? Apa dia pengedar juga? Tapi tidak mungkin. Aku tidak mengenal dia sebagai sesama pengedar.” ucap Ferdi.
__ADS_1
“Kamu mengenal banyak pengedar?” tanya Lindsey.
“Tentu saja. Aku sudah 7 tahun berkecimpung dalam bisnis ini.” jawab Ferdi.
“Orang yang tadi bukan pengedar. Lebih tepatnya dia dijebak menjadi pengedar. Tadi kamu bilang banyak anggota dewan yang juga seorang pengedar. Apa kamu memiliki daftar namanya?” balas Lindsey.
“Tidak lah. Untuk apa aku memiliki daftar nama? Aku bukan bandar.” ucap Ferdi.
Hmm.. sulit sekali untuk menemukan siapa yang menjebak om Roland.. batin Lindsey.
“Baiklah. Aku pergi dulu.” pamit Lindsey.
“Pengacara Lindsey akan segera mengeluarkan aku dari sini, kan?” tanya Ferdi.
“Iya. Dengan syarat kamu harus bersikap baik di sini. Mengeluarkan seorang yang sudah 7 tahun menjadi pengedar tidaklah mudah. Syukur syukur, kamu tidak mendapat hukuman mati.” ucap Lindsey.
“Pengacara Lindsey, boleh minta tolong?” ucap Ferdi.
“Katakan.”
“7 tahun menjadi pengedar, apa pengacara Lindsey tidak curiga kalau saya pemakai juga?” tanya Ferdi.
“Kamu ingin aku bawakan nark*ba untukmu?” balas Lindsey.
Lindsey keluar dari ruangan.
Lindsey melajukan mobilnya menuju kediaman orangtua Luven. Jadwalnya yang seharusnya bertemu dengan klien pun terpaksa dia batalkan.
Kediaman Roland.
“Om, aku dengar banyak anggota dewan yang juga menjadi pengedar. Pasti salah satu di antara merekalah yang sudah menjebak om.” ucap Lindsey.
“Serius? Lalu bagaimana cara kita cari tahu siapa orangnya, ya?” tanya Roland.
“Coba Om pikirkan. Apakah ada pihak yang diuntungkan dari terjeratnya om ke dalam kasus ini..” jawab Lindsey.
“Maaf, Lindsey.. tapi om tidak kepikiran 1 nama pun.” ucap Roland.
Raut wajah Lindsey tampak kecewa. Dia mulai bingung apa yang harus dia lakukan untuk membebaskan om Roland dari tuduhan.
“Baiklah, tidak apa-apa, om. Kalau om sudah kepikiran, segera hubungi aku ya.” ucap Lindsey.
__ADS_1
Lindsey kembali melajukan mobilnya menuju firma. Di tengah perjalanannya, mama angkat Lindsey meneleponnya untuk datang makan siang bersama di kediaman William. Sudah berkali-kali menolak, Lindsey tidak enak jika harus menolaknya lagi kali ini.
Dia pun mengiyakan ajakan makan siang itu dan melajukan mobilnya ke kediaman William. Kediaman yang begitu megah seperti istana. Untuk pertama kalinya Lindsey menginjakkan kakinya di sana. Baru memasuki pintu saja Lindsey sudah disambut oleh para pelayan berseragam di sana.
“Eh anak mama sudah datang. Ayuk ke meja makan, yuk. Mama sudah masak banyak untuk kamu.” sambut bu William yang tiba-tiba datang menjemput Lindsey di pintu.
“Mama bagaimana kabarnya? Papa mana?” tanya Lindsey.
“Papa sudah nangkring di meja makan karena tidak sabar menyantap makan siang bersama.” jawab bu William.
“Hey, Lindsey. Ayo duduk sini makan. Kita makan bertiga dulu karena anak papa yang lain jarang pulang nih.” ucap William sesampainya Lindsey di ruang makan.
Bu William mengambilkan nasi dan lauk ke piring Lindsey.
“Bagaimana pekerjaan? Lancar? Kemarin papa dan mama lihat kamu di berita. Meski kita baru bertemu, rasanya papa bangga sekali denganmu.” ucap William.
“Ah, iya. Terima kasih, ma.” Lindsey menerima piring yang sudah berisi nasi dan lauk. “Pekerjaanku lancar. Papa sudah lihat berita? Kejaksaan menggeledah rumah seorang anggota dewan tadi malam.” ucap Lindsey kemudian.
“Oh, ya papa sudah lihat itu. Memang tidak beres sekali. Papa yakin juga itu baru satu dari sekian banyak di dalamnya.” balas William.
“Itu papanya Luven. Aku membantu Luven mendampingi papanya dalam mengurus masalah ini.” ucap Lindsey.
“Oh, ya? Bukankah itu terlalu beresiko tinggi, Sayang? 15 kilo itu banyak, loh..” sahut bu William.
“Papanya Luven merasa dijebak atas 15 kilo nark*ba yang ditemukan di rumahnya. Aku dan Luven percaya akan hal itu. Kita sedang menggali kasus ini lebih dalam.” ucap Lindsey.
“Memangnya kamu yakin kalau papanya Luven itu dijebak? Kalau misal dia benar memilikinya bagaimana?” tanya William.
“Kalau benar memilikinya, seharusnya dia menyimpannya dengan baik. Buktinya setelah masuk kamar dan kotak itu langsung terlihat berada di kolong ranjang.” jawab Lindsey.
“Ya, sudah. Makan dulu. Bicaranya nanti lagi.” sahut bu William.
Lindsey menyantap makan siang bersama orangtua angkatnya. Setelah dipikir lagi, pantas saja orangtua angkatnya bersedia mengangkat Lindsey menjadi anaknya, karena mereka memiliki 6 anak tapi tidak ada seorang pun datang untuk makan siang bersama mereka.
Hubungan mereka seperti hubungan yang saling menguntungkan. Di satu sisi ada sepasang orangtua yang merasa kesepian meski memiliki banyak anak, dan di satu sisi ada seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua.
Setelah selesai makan siang, Lindsey berkeliling di sekitar ruang tamu sambil menggigit buah apel di tangannya. Lindsey mengamati foto-foto yang terpajang di dinding, hingga di meja tv.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih