
halo, sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya ☺️🙏🏻
...****************...
...****************...
“Katie, mana alamatnya?! Katanya kamu mau kasih?” Jarvis menagih alamat resto yang akan menjadi tempat makan siang bersama Lindsey. Rupanya sepeninggalan Katie, Jarvis terus memantengi ponselnya yang tidak ada pesan masuk dari Katie.
Saking tidak sabarannya lagi, Jarvis sampai keluar dari ruangan dan menagihnya ke Katie.
Katie pun spontan langsung berdiri begitu Jarvis menghampirinya.
“Oh, iya! Maaf!” Katie mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Tuh, sudah aku kirim. Sudah masuk, kan?” ucap Katie kemudian.
“Ok, sudah. Terima kasih!” balas Jarvis lalu kembali masuk ke ruangannya.
...****************...
...****************...
Di GDP Law Firm,
Ruangan Luven.
“Ini materi pembelajaranmu hari ini.” ucap Luven seraya memberikan setumpuk kertas.
“Tanyakan saja jika kamu ada pertanyaan.” sambung Luven.
“Aku malas belajar. Jujur saja, kamu juga malas mengajar, kan?” balas Lindsey.
“Hari ini memang bukan jadwalku untuk mengajar. Tapi mengevaluasi. Nih, kamu disuruh menjawab semua soal ini.” Luven memberikan beberapa lembar kertas lagi.
Sumpah. Apa yang harus aku isi? batin Lindsey sambil melongo melihat kertas soal yang diberikan Luven.
“Waktunya sampai jam pulang. Oh, ya. Ini foto yang aku kirimkan ke rumah orangtuaku. Aku mencetaknya 2 kali.” ucap Luven seraya memberikan sebuah amplop yang berisi foto mereka kemarin.
Lindsey menerima amplop tersebut dan mengeluarkan isinya, melihat lembar demi lembar kertas foto.
“Wow.. fotografernya pandai sekali mencari angle. Aku cantik sekali disini..” komentar Lindsey saat melihat foto itu.
“Mana ada? Wajahmu saja tidak kelihatan.” balas Luven.
“Ya, ya, ya. Lalu apa rencanamu berikutnya?” tanya Lindsey.
“Aku akan melihat reaksi kedua orangtuaku dulu. Dan mereka yang akan menjadi orangtuamu.” Luven memberikan kertas yang berisi profil seseorang.
Lindsey meletakkan foto mereka di atas meja dan mengambil kertas yang baru saja Luven berikan. Dia membaca dengan saksama siapa calon orangtuanya.
“Ketua hakim?! Gila kamu, ya?!” balas Lindsey.
“Mereka bersedia membantuku. Mereka juga menginginkan anak perempuan. Anak mereka 6 orang laki-laki semua.” ucap Luven.
“Mereka bersedia membantu?!” tanya Lindsey.
“Iya. Kamu akan menjadi anak angkat mereka. Mereka juga ingin secepatnya bertemu denganmu.” jawab Luven.
Sudah gila. Ketua hakim menjadi orangtuaku?! Tamat riwayatku kalau mereka tahu sebenarnya aku ini bagian dari kelompok kriminal. batin Lindsey.
“Yang lain saja deh, Luven. Jangan ketua hakim.” ucap Lindsey.
“Yang lain bagaimana? Tidak ada lagi. Mereka sudah yang terbaik.” balas Luven.
“Tapi mere—” ucap Lindsey terpotong karena telepon kantor di atas meja Luven berbunyi.
“Sebentar.” Luven izin mengangkat teleponnya.
__ADS_1
“Halo, dengan saya Lu—Baik, pa.” ucap Luven dengan singkat di telepon.
“Mereka memanggilku ke rumah untuk makan malam. Bersamamu.” ucap Luven setelah menaruh gagang teleponnya.
“Mereka siapa? Orangtuaku?” tanya Lindsey.
“Orangtuaku.” jawab Luven.
“Malam ini? Mana bisa. Aku kan harus mengerjakan soal ujian ini.” ucap Lindsey.
Luven menghela napas. “Kamu jawab saja sebisa kamu. Nanti sisanya aku yang isi.” balas Luven.
“Memangnya kamu tidak memiliki kunci jawabannya?” tanya Lindsey tanpa basa basi.
“Mana ada. Bukan aku yang memegang kunci jawabannya.“ jawab Luven.
Lindsey memegangi kepalanya.
“Kamu tega sekali denganku. Aku ini kekasihmu, lho.” ucap Lindsey.
Luven tertawa.
“Bagaimana lagi? Tenggat ujiannya memang hari ini. Kan, nanti aku bantu juga.” balas Luven.
“Aku juga ada jadwal ke persidangan hari ini. Belum lagi harus buat laporan. Lalu katamu juga calon orangtuaku ingin bertemu denganku secepatnya. Bagaimana bisa aku melakukan semua itu sedangkan aku tidak bisa membelah diri?” ucap Lindsey.
“Ya sudah, iya, iya. Nanti akan bilang hari ini kamu tidak perlu ke persidangan jadi tidak perlu buat laporan.” balas Luven.
Yes!
Lindsey mendapatkan hal yang dia inginkan dari permainan katanya.
“Tapi kamu harus ke suatu tempat denganku saat makan siang nanti.” sambung Luven.
Waduh. Berarti aku tidak bisa makan siang bersama Jarvis.. batin Lindsey.
“Setuju!” ucap Lindsey.
Buru-buru Lindsey menyembunyikan foto bersama Luven yang tergeletak di atas meja dan memasukkan ke dalam tasnya.
Luven bergerak menuju meja kerjanya dan menekan tombol pintu untuk membuka pintu, memberi izin seseorang masuk ke dalam ruangannya.
“Pengacara Luven, ada surat untuk anda.” ucap seorang wanita yang adalah bagian customer service firma hukum GDP Law Firm.
“Baiklah, terima kasih.” Luven menerima surat tersebut dan wanita itu pun keluar dari ruangan Luven.
“Surat dari kepolisian lalu lintas. Aku sudah membayar denda atas pelanggaranmu.” ucap Luven.
“Hehehe... Berikan nomor rekeningmu, nanti aku ganti.” balas Lindsey.
“Tidak usah. Mending kamu kerjakan saja soal ujiannya.” ucap Luven.
“Ok. Aku balik ya ke ruanganku.” Lindsey merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja sofa Luven dan membawa bersamanya ke ruangan.
Setelah sampai di ruangannya, Lindsey menelepon Katie.
“Lihat sekelilingmu. Pastikan kamu tidak berada di dekat Jarvis sekarang.” ucap Lindsey.
“Iya. Jarvis di ruangannya. Ada apa?” balas Katie.
“Ternyata aku harus pergi bersama Luven saat jam makan siang nanti .” ucap Lindsey.
“Serius?!” tanya Katie.
“Duarius.” jawab Lindsey.
“Jadi aku harus bilang apa, ya, ke Jarvis?” tanya Katie.
__ADS_1
“Bilang saja tidak jadi makan siang. Jadinya makan malam. Bagaimana?” balas Lindsey.
“Ok, aku coba bilang, ya.” ucap Katie.
“Eh, tunggu! Aku juga tidak bisa makan malam! Aku baru ingat orangtua Luven mengajak makan malam bersama.” ucap Lindsey.
“Wow. Kalian seperti pasangan sungguhan, loh.” balas Katie.
“Bisa jadi nanti malam aku dan Luven akan dieksekusi.” ucap Lindsey.
“Biasanya kalau hubungan kalian tidak disetujui, orangtua mentormu pasti menemuimu secara pribadi dan memberi sebuah amplop tebal.” balas Katie.
“Sepertinya tidak, deh. Luven mencarikan orangtua angkat untukku. Dan ternyata ayah angkatku adalah seorang ketua hakim.” ucap Lindsey.
“Gila. Jago sekali Luven bisa menjadikan ketua hakim sebagai orangtuamu.” balas Katie.
“Ah, aku tidak tahulah. Aku hanya mengikuti skenario yang dibuat Luven saja. Sudah dulu, ya. Kabari aku nanti.” ucap Lindsey.
“Ok. Bye..”
“Bye..”
...****************...
...****************...
Jam 10.58
Tok.. tok.. Luven mengetuk pintu ruangan Lindsey.
Tok.. tok.. Lagi, Luven mengetuk kaca jendela Lindsey dari luar saking tidak sabarannya. Mengganggu Lindsey yang sedang fokus menjawab soal ujiannya.
Dari posisi duduk di mejanya sekarang, Lindsey menekan tombol untuk membuka pintu ruangannya.
“Ada apa?” tanya Lindsey.
“Lindsey, ayo! Ikut aku. Kita pergi sekarang.” ajak Luven.
“Hah? Kan masih jam 11.” protes Lindsey.
“Sudah, ayo. Ikut aku. Sekarang kamu lagi ngapain itu?” balas Luven.
“Ngapain lagi? Mengerjakan soal, lah!” ucap Lindsey.
“Ah, gampang. Mengerjakan di mobil juga bisa. Itu kan hanya memilih jawaban yang benar, kan? Ayo, Lindsey. Kita sudah tidak punya banyak waktu.” balas Luven.
Lindsey terpaksa mengikuti kemauan Luven dan mengerjakan soal ujiannya di mobil.
“Keterangan saksi adalah apa yang saksi nyatakan disidang pengadilan mengenai hal: A. Yang dilihat sendiri oleh terdakwa. B. Yang dialami sendiri oleh saksi—Oh ini aku tahu jawabannya.” ucap Lindsey.
“Apa?” tanya Luven.
“B, kan?”
“Iya, benar.”
“Penyidik dapat menahan tersangka tanpa perpanjangan paling lama...” Lindsey membaca soal berikutnya.
“20 hari.” jawab Luven seraya menyetir.
Lindsey menandai jawaban yang benar di kertas soalnya.
Untung saja ada Luven. batin Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
halo semuanya, hari ini aku berniat update lebih dari 1 episode, jadi tolong di like episode yang ini dan yang sebelumnya ya kak ☺️☺️ terima kasihh ❤️❤️