
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻
...****************...
“Untuk apalagi masih berada di sini? Pergilah.” Piter mengusir Jarvis dan Carlos.
“Eits, aku harus memastikan dulu kalau kalian tidak jadi pergi.” ucap Jarvis.
“Dasar b*j*ng*n merepotkan!” umpat Piter. Dia bersama Kapten, dan Luven mengeluarkan kembali koper yang sudah tersusun rapi di bagasi mobil Katie.
Lindsey kembali masuk ke dalam rumah, disusul dengan yang lainnya.
Carlos mengulurkan tangannya dan ditepuk oleh Jarvis, menandakan keberhasilan mereka. Mereka pun kembali ke dalam mobil dan melaju pergi.
Setelah membaringkan Noah di ranjang, Lindsey turun ke bawah untuk mengambil minum dan berkumpul dengan geng di ruang tengah.
“Merepotkan sekali. Kalau begitu aku ingin pindah kuliah di sini.” ucap Piter.
“Mereka sudah membuat kita membatalkan penerbangan ke LA untuk yang kedua kalinya. Terlebih kita memesan tiket untuk 5 orang. Ratusan juta sudah raib.” sahut Luven.
“Terpaksa klien kita juga hanya yang ada di sini saja.” ucap Kapten.
“Argghhh! Padahal klien kita di LA kaya semua. Sanggup membayar mahal untuk kita.” sahut Piter.
“Maafkan aku..” ucap Lindsey yang tangannya sedang menggenggam erat gelas.
“Ini bukan salahmu. Ini hanya nasib kita saja yang buruk.” balas Piter.
“Tapi aku merasa kita kembali seperti dulu lagi. Bedanya sekarang kita kedatangan dua personil baru. Luven dan Noah. Aku senang rumah ini kembali ramai lagi.” ucap Katie.
“Pokoknya, apapun yang terjadi, kita harus terus bersama. Dimanapun dan kapanpun itu.” ucap Kapten.
Kapten mengulurkan tangannya ke tengah. Disusul dengan tangan yang lain.
“Geng Morex?”
“Cura, et valeas!”
“Cura, et valeas!”
“Cura, et valeas!”
“Ngomong-ngomong, Kapt... Mengenai sertifikat perusahaan JM Buildings.. ada di Fabero, ’kan?” tanya Lindsey.
“Kenapa bertanya soal itu?” tanya Kapten tanpa menjawab pertanyaan Lindsey.
“Karena itu tidak ada di tangan Jarvis.” jawab Lindsey.
“Aku pikir Fabero sudah menyerahkannya ke Jarvis setelah kita menyarankan dia untuk menggunakan sertifikat itu agar anaknya dapat dinikahi Jarvis.” sahut Piter.
“Bukannya sudah dinikahi? Kenapa sertifikatnya belum kembali ke Jarvis?” tanya Luven.
“Nah itu dia. Tadi aku bertemu dengan anaknya. Namun Jarvis telah mengajukan gugatan cerai.” sahut Lindsey.
“Aku jadi Jarvis juga memilih untuk cerai saja. Sertifikat tidak kembali, sudah 5 tahun berlalu loh. Lagi pula apa baiknya menjalani pernikahan tanpa cinta?” sahut Piter.
“Tahu darimana kamu pernikahan mereka tanpa cinta? Itu kan pernikahan mereka.” sahut Katie.
“Cintanya Jarvis kan hanya untuk Lindsey seorang.” balas Piter.
“Aku sudah berjanji pada Jarvis untuk mendapatkan sertifikat itu kembali. Karena JM Buildings adalah segalanya bagi Jarvis.” ucap Lindsey.
“Dengan menemui Fabero? Di Italy?” tanya Kapten.
“Lalu apa Kapten memiliki cara lain?” balas Lindsey.
“Batalkan janjimu itu. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan klien kita yang satu itu.” ucap Kapten.
“Mantan klien.” Luven mengoreksi.
“Tapi Jarvis harus mendapatkan sertifikat perusahaannya kembali, Kapt.” ucap Lindsey.
“Kalau aku bilang tidak, ya tidak. Aku sebagai adiknya saja sudah memutus hubungan dengannya, Lindsey. Mengertilah. Jangan mencampuri urusan permafiaan mereka.” balas Kapten. Kapten lalu naik ke kamarnya.
“Manusia itu, belakangan ini sensitif sekali.. kenapa ya..” ucap Piter sepeninggalan Kapten.
“Terbakar api cemburu.” bisik Luven di telinga Piter.
“Linds, aku ingin bertanya padamu. Tapi pertanyaanku memang random sekali.” ucap Piter.
“Apa?”
“Apa kamu pernah memanggil Kapten dengan panggilan khusus selain ‘Kapt’? ‘Sayang’, misalnya?” tanya Piter.
“Apa kamu penasaran sekali?” tanya Lindsey.
__ADS_1
“Iya.” jawab Piter.
“Eh, iya, Linds. Aku juga penasaran.” sahut Katie.
“Aku juga penasaran sekali.” sahut Luven.
“Jika ingin tahu jawabannya, bayar aku masing-masing seratus ribu.” balas Lindsey.
“Patungan tidak boleh?” tanya Piter.
“Tidak.” jawab Lindsey.
“Kalau ngutang boleh tidak?” tanya Luven.
“Apalagi itu, tidak.” jawab Lindsey.
“Kat, bayarin kita dong!” Luven memeras Katie.
“Baiklah! Nih sudah ya! Tiga ratus.” Katie menunjukkan bukti transfer.
“Ok. Jawabannya adalah.. tidak pernah. Aku hanya memanggilnya ‘Daddy’ jika ada Noah.” ucap Lindsey.
“Arghh.. penyesalan memang datang di akhir.” ucap Katie.
“Untung bukan pakai uang aku..” sahut Piter.
“Sudah, bubar. Kembali ke kamar masing-masing. Ingat, kamar masing-masing ya. Jangan ke kamar orang lain. Katie, kunci pintu kamarmu sebelum tidur.” ucap Lindsey lalu bangkit berdiri dan masuk ke kamarnya.
“Hmm.. sepertinya aku mengerti apa maksud Lindsey..” ucap Luven.
Saat masuk ke kamar, Lindsey mendapati Kapten sedang menaruh kembali pakaiannya di lemari.
Memang Jarvis sangat merepotkan. Dia membuat kita bekerja dua kali. batin Lindsey.
Lindsey juga ikut membuka kembali kopernya dan menaruh pakaiannya di lemari.
“Kapt, Kapten belum menjawab pertanyaanku.” ucap Lindsey memecah keheningan di kamar itu.
“Pertanyaan yang mana, ya?” tanya Kapten.
“Sertifikat perusahaan JM Buildings, ada di Fabero, ’kan?” Lindsey mengajukan pertanyaannya lagi.
“Kalau iya, kamu akan pergi menemuinya?” tanya Kapten.
“Iya.”
Seketika Lindsey terdiam. Sadar bahwa perkataan Kapten ada benarnya.
...****************...
“Huuaa... Huuaa... Huuaaa..!!!”
Di pagi hari mereka semua dibangunkan oleh suara tangisan Noah di kamarnya. Lindsey pun sampai loncat terbangun dari tidurnya. Begitu juga dengan yang lain. Lindsey menjadi orang pertama yang datang ke kamar Noah pagi itu.
“Kenapa Noah? Kamu mimpi buruk?” tanya Lindsey.
“Kok aku bangun tidur masih berada di sini???? Seharusnya kan aku sudah di pesawat! Huuaaa... Huuaa..” jawab Noah.
Oh, jadi itu penyebab Noah menangis.
“Cup.. cup.. cup... Noah jangan menangis.. dengar Mommy dulu..” kata Lindsey menenangkan Noah.
“Kenapa kita tidak jadi pulang lagi, Mommy?” tanya Noah.
“Iya, Noah.. karena terpaksa tiketnya dibatalkan. Tapi Noah jangan bersedih. Karena hari ini kita akan mencari sekolah untuk Noah.” jawab Lindsey.
“Hah? Yang benar, Mom?” tanya Noah.
“Iya, Sayang.” jawab Kapten yang baru memasuki kamar Noah.
Noah langsung berdiri di atas ranjang dan melompat kegirangan. “YEEYYY!! Terima kasih Daddy, terima kasih Mommy!”
Noah memeluk kedua orangtuanya.
“Kalau begitu bersiaplah. Setelah sarapan kita pergi, ok?” ucap Kapten.
“Ok, Daddy!”
Sesuai janjinya, mereka bertiga pun berkunjung ke tiga sekolah kindergarten untuk memilih yang Noah paling sukai. Tentu saja namanya taman kanak-kanak yang di dalamnya penuh mainan, Noah pun semakin tidak sabar ingin bersekolah.
“Sepertinya sekolah yang ini pas. Jaraknya dekat, tempatnya luas dan nyaman—” ucap Kapten yang terpotong.
“Mainannya banyak!” kata Noah.
“Noah mau bersekolah di sini?” tanya Lindsey.
“Mau!” jawab Noah.
__ADS_1
“Kalau begitu Noah sudah bisa bergabung dengan teman-teman yang lain besok.” ucap kepala sekolah di sana.
“Baiklah, bu. Terima kasih, ya.” balas Lindsey.
“Boleh bapak atau ibu mengisi data diri Noah? Untuk keperluan administrasi sekolah.” tanya kepala sekolah.
“Wah, akta kelahiran dan surat-surat kita masih di LA, Linds.” ucap Kapten.
“Oh, iya. Maaf, bu, apakah boleh beberapa hari lagi kita mengisinya?” tanya Lindsey.
“Boleh, tapi kita minta nama dan nomor telepon bapak dan ibu, ya.” jawab kepala sekolah.
“Baiklah.”
Setelah mendaftar sekolah, Lindsey, Kapten, Noah mendatangi sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan sekolah Noah. Keobsesiannya yang tinggi terhadap buah membuat Noah memilih tas sekolah berbentuk lingkaran yang bergambar buah jeruk. Kotak pensil dan buku juga maunya yang ada gambar buahnya.
Lindsey pun menjadi gemas dengan tingkah Noah. Dan lagi-lagi Noah memilih sepatu sekolah berbentuk kumpulan anggur yang masih ada tangkainya.
“Tidak boleh, Noah. Sepatu sekolah itu harus berwarna hitam. Noah tidak lihat tadi ibu guru sepatunya warna hitam?” ucap Lindsey.
“Kalau Noah mau sepatu ini, boleh. Tapi tidak boleh dipakai ke sekolah. Bagaimana?” sahut Kapten.
“Ok. Noah mau sepatu hitam saja.” balas Noah.
Lindsey pun mencarikan sepatu hitam untuk ukuran kaki anak-anak seperti Noah. “Sempit tidak?” tanya Lindsey setelah memasangkan untuk Noah.
“Tidak, Mi... Daddy, Mommy, kita cari stiker bergambar buah, yuk!” jawab Noah.
“Yuk...”
Setelah berjalan mencari stiker buah, Noah akhirnya menemukannya bahkan dari kejauhan. Segera dia berlari mengambil stiker buah itu.
“Yey, stiker buah! Aku mau tempel ke sepatu hitam aku biar sepatu aku ada gambar buahnya juga!” ucap Noah.
“Astaga, Noah...”
“Jangan dong, Sayang. Tempel di mobil Daddy saja, ya?” ucap Kapten.
“Kenapa Daddy?” tanya Noah.
“Supaya sopan dan rapi, Noah.” jawab Kapten.
“Yah, ok deh.”
“Noah, itu ada stiker buah jeruk yang besar tuh. Buat ditempel di kamar Noah, bagaimana?” sahut Lindsey.
“Woahh...”
“Ambil Noah kalau mau. Habis itu kita bayar ke kasir.” kata Kapten.
Setelah berbelanja “buah-buahan”, mereka bertiga kembali ke rumah.
“Ebuset banyak sekali belanjaannya! Beli apa saja, Noah?” tanya Piter.
“Beli tas jeruk, sepatu, kotak pensil, buku, stiker buah, beli buah jeruk, belimbing, buah naga, apel, ini, ini, itu, itu, banyak deh!” jawab Noah.
“Wah.. buah yang dari kebun opa kemarin kan masih banyak di kulkas, Noah..” sahut Luven.
“Iya, kata opa kita harus makan buah yang banyak. Supaya kita sehat, supaya kita tidak gampang sakit.” balas Noah.
Ting.. tong...
Bel rumah mereka berbunyi.
“Siapa itu yang datang?” tanya Noah.
“Jarvis.” jawab Luven setelah melihat dari monitor di dalam.
“Mau ngapain lagi dia ke sini?!” ucap Piter dengan kesal.
“Biar aku yang keluar.” balas Kapten lalu keluar membuka pintu.
“Aku ingin bertemu anakku. Mana Noah?” ucap Jarvis.
Kapten fokus kepada tangan Jarvis yang penuh dengan belanjaan.
Kapten pun mempersilahkan Jarvis masuk.
“Halo, Noah..” sapa Jarvis.
Noah terdiam melihat Jarvis. “Ini teman Daddy, Noah. Namanya om Jarvis.” sahut Kapten.
“Om Apis?” kata Noah.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih