
“Mmh.. ah, baby!” Sebuah desahaan lolos dari mulut Lindsey begitu Kapten melepas bibirnya. Kapten segera menempelkan kedua bibir mereka kembali Jarvis sontak langsung melihat ke arah mereka yang sedang di pojokan begitu mendengar suara halus yang tidak asing di telinganya. Ibu jarinya tidak sengaja menekan tombol telepon untuk menelepon Lindsey.
Ya, ya, aku bisa mengerti. Laki-laki itu sama seperti aku jika bertemu Lindsey. Namun bedanya, aku masih tahu tempat. Eh, astaga! Aku kepencet telepon! batin Jarvis.
Jarvis hendak membatalkan panggilannya dengan Lindsey begitu menyadari dia tidak sengaja menekan tombol untuk menelepon.
Ponsel Lindsey berdering di dalam tasnya. Lindsey menyadarinya, Kapten pun juga mendengarnya. Aktivitas mereka sempat berhenti sejenak.
Eh, tunggu! Aku seperti mendengar suara dering ponselnya Lindsey.. batin Jarvis kemudian yang menggagalkan ibu jarinya untuk membatalkan panggilan.
Jarvis mulai celingak-celinguk mencari asal suara dering ponsel yang dia kenali itu. Kemudian dia kembali menatap pasangan yang sedang bercumbu di pojokan.
Ah, tidak mungkin! Bukan Lindsey doang yang memiliki suara dering ponsel seperti itu! batin Jarvis. Ibu jarinya kemudian menekan tombol telepon berwarna merah untuk membatalkan panggilannya. Lift kemudian terbuka di depannya, Jarvis segera masuk ke dalam agar tidak melihat pasangan yang dikatai gila olehnya itu.
“Maaf....” ucap Kapten setelah menghentikan aktivitas mereka begitu mengetahui Jarvis sudah masuk ke dalam lift.
“Kenapa minta maaf, Kapt? Memangnya kalian habis berbuat kesalahan?” tanya Piter dari earbuds.
“Benar kata Piter. Itu bukan kesalahan.” ucap Lindsey.
“Tetap saja—” ucap Kapten yang terpotong.
“Kita sedang berada di situasi genting tadi, Kapt.” balas Lindsey.
“Baiklah.” Kapten melepas earbuds-nya dan mematikannya.
“Namun bibirmu tipis sekali, sangat tidak berasa. Aku tidak puas dengan bibirmu.” ucap Kapten kemudian.
Lindsey juga mematikan earbuds di telinganya. “Jadi, tipe Kapten adalah yang bibirnya tebal? Tipeku adalah yang memiliki kumis tipis jadi menimbulkan kegelian di wajahku saat berciuman. Sedangkan Kapten terlalu bersih, tidak menarik.” balas Lindsey.
“Kenapa dua manusia ini mematikan earbuds-nya? Apa yang sedang mereka bicarakan?” ucap Piter yang tidak mungkin terdengar oleh keduanya.
Kapten menaruh tangannya di pinggang Lindsey sambil jalan keluar dari hotel karena harus melewati meja resepsionis yang terdapat staf hotel wanita yang baru saja dia sogok. Tentu saja mereka harus terlihat sebagai pasangan yang mesra di depan staf hotel itu.
Sesampainya di luar, petugas di depan membukakan pintu mobil untuk Kapten dan Lindsey. Keduanya memakai sabuk pengaman dengan buru-buru, ingin cepat sampai ke rumah markas. Di sepanjang perjalanan, Lindsey hanya bisa terdiam dan menggigit bibir bagian bawahnya.
Aku tidak menyangka pergerakan bibir Kapten sangat lihai seperti tadi... batin Lindsey kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
Apa maksudmu, Lindsey? Kapten juga laki-laki. Dia pasti sudah menyobai belasan bibir wanita lain sebelum bibirmu! Dan apa?! Bibirku tipis? Jarvis bahkan sangat menyukainya! batin Lindsey kemudian.
__ADS_1
“Sehabis ini, kamu tidak berniat filler bibir, kan, Lindsey?” tanya Kapten yang memecah keheningan di perjalanan.
“Ya, tidak lah! Lagi pula Jarvis menyukainya.” jawab Lindsey.
“Oh, ya? Sudah sejauh mana hubungan kalian?” tanya Kapten.
”Entahlah. Aku hampir tidak bisa membedakan yang mana bagian dari misi, dan yang nyata.” jawab Lindsey.
“Sejauh apapun, aku harap kamu bisa mengakhirinya begitu misi kita berakhir.” balas Kapten.
“Aku tahu itu.” ucap Lindsey.
“Kapt, apa Kapten masih betah sendiri? Cobalah sekali-sekali cuci mata cari wanita di klub. Banyak kok yang bibirnya tebal.” oceh Lindsey kemudian.
“Tidak perlu. Walaupun aku sendiri, tapi aku tidak kesepian.” balas Kapten.
“Lagi pula, sulit mencari pasangan yang bisa menerima pekerjaan kita.” tambah Kapten.
“Iya. Mereka tidak tahu saja seberapa banyak uang yang kita dapatkan.” balas Lindsey.
“Oh, ya... Mengenai sertifikat JM Buildings.. klien kita akan mengutus seseorang ke sini dan kita akan bertemu di bandara untuk menyerahkan sertifikatnya itu.” ucap Kapten.
“Jangan pergi. Bukankah kata Kapten tidak ada yang bisa dihubungi?” ucap Lindsey.
“Tapi mereka tidak mungkin melakukan hal yang buruk padaku.” balas Kapten.
“Pokoknya jangan pergi. Perasaanku tidak enak. Apalagi Jarvis baru saja membakar ladang milik pamannya. Pasti pamannya sedang emosi dan ingin membalas perbuatan Jarvis. Percaya deh, pamannya Jarvis akan menggunakan sertifikat itu bukan untuk hal yang baik.” ucap Lindsey.
“Itu urusannya sendiri. Kita hanya menjalankan tugas. Lalu bagaimana aku bisa menyerahkan sertifikat itu?” tanya Kapten.
“Tunggu saja sampai pamannya Jarvis yang menghubungi duluan.” jawab Lindsey.
...****************...
“Hey, Jarvis dan Carlos menunggumu di restoran—” ucap Katie yang terpotong .
“Bagaimana? Kamu sudah menemukan rekaman CCTV itu?” tanya Lindsey kepada Piter sesampainya di rumah.
“Kalian semua harus melihat ini..” ucap Piter seraya menunjuk ke layar komputer.
__ADS_1
Para anggota geng mengerumuni layar komputer untuk melihat rekaman CCTV yang berhasil Piter dapatkan dari perusahaan CCTV tersebut.
Dan ternyata di video itu terekam seorang laki-laki yang keluar dari kamar hotel 3205 dengan berpakaian serba hitam, ditambah topi dan masker yang menutupi wajahnya. Pakaiannya begitu mencurigakan dan sepatutnya dicurigai sebagai pembunuh.
“Dia pembunuhnya?!” tanya Katie.
“Sebentar. Kalian juga harus lihat ini.” ucap Piter lalu mengklik sesuatu di komputernya.
“CCTV ini berada di luar jendela kamar Jarvis. Entah mengapa CCTV ini berada di folder sampah perusahaan itu.” ucap Piter.
Piter memutarkan sebuah video yang berisi seorang laki-laki yang berbeda, keluar melalui jendela balkon di kamar Jarvis. Seorang laki-laki itu juga mengenakan pakaian serba hitam dan masker serta topi yang menutupi wajahnya. Yang membedakan adalah, laki-laki yang keluar dari jendela memiliki postur tubuh lebih kurus dan mengenakan sarung tangan bahan kulit berwarna hitam.
“Jadi.. ternyata..? Di jendela kamarnya ada balkon..?” ucap Lindsey.
“Kamu tidak tahu?” tanya Piter.
“Tidak. Jendela itu selalu tertutup gordyn. Dan ada jendela lain yang dibuka untuk pencahayaan.” jawab Lindsey.
“Mereka sama-sama keluar di waktu yang sama. Hanya beda beberapa detik saja.” ucap Kapten.
“Pembunuhnya pasti yang keluar dari jendela balkon kamar Jarvis dan dia juga memakai sarung tangan.” sahut Lindsey.
“Piter, coba diperbesar bagian wajahnya.” ucap Lindsey kepada Piter.
Piter menghentikan video dan memperbesar bagian wajah laki-laki itu meskipun hanya kelihatan matanya saja.
“Mata ini.. seperti tidak asing..” ucap Katie.
“Coba perbesar lagi.” pinta Lindsey.
Piter memperbesar lagi di bagian wajahnya hingga paling maksimal. “Ini sudah mentok.”
Lindsey mengambil alih mouse dari tangan Piter dan menggerakkan mousenya sedikit.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1