Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Jantung Yang Kembali Berdebar


__ADS_3

halo semuanya... kembali lg di bab yg ke 2 yg aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


Lindsey mengerdikkan bahunya. “Tidak tahu.”


“Jangan sampai kelelahan. Ingat, nanti malam kamu masih harus—” ucap Jarvis yang terpotong karena Lindsey segera menutup mulut Jarvis dengan tangannya.


“Iya, iya, iya! Sudah ah! Sana, pergi!” balas Lindsey.


“Kiss dulu di sini.” Jarvis memonyongkan bibirnya.


“Ih! Apaan, sih, Jarvis?” Lindsey mulai ketar-ketir. Dia selalu merasa was-was jika ada yang melihat mereka di parkiran.


“Kiss dulu. Tidak kiss, aku tidak akan pergi.” ucap Jarvis.


“Jarvis?! Ini tempat kerja!” balas Lindsey.


“Bukan, ini parkiran.” ucap Jarvis.


“Bagaimana kalau orang lihat?” balas Lindsey.


“Tidak ada siapa-siapa di sini, Lindsey. Hanya ada kita. Just two of us.” ucap Jarvis.


“Baiklah, 1 detik.” ucap Lindsey.


“Tidak, 3 detik.” balas Jarvis.


“Lama amat!” protes Lindsey.


“Ya, sudah. Aku tidak akan pergi.” ucap Jarvis.


Lindsey menghela napasnya. Saat memutuskan untuk kembali bersama, Lindsey juga harus siap menerima sifat Jarvis yang terkadang keras kepala dan kekanak-kanakkan yang suka merajuk jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Baiklah, baiklah. Tapi jangan minta lebih.” ucap Lindsey lalu meraih wajah Jarvis yang bertengger di jendela mobil lalu mengecupnya.


Bukan Jarvis namanya jika tidak memanfaatkan kesempatan yang ada di depannya, merasa mendapatkan kesempatan emas, Jarvis meraih tengkuk Lindsey dan melumatt bibirnya agar ciuman mereka tidak sekedar kecupan yang begitu singkat saja.


Lindsey menjauhkan tubuhnya begitu Jarvis melepasnya. Dia memegangi bibirnya.


“Bibirmu bengkak, tuh. Hati-hati nanti ketahuan orang-orang. Aku pergi dulu, bye!” ledek Jarvis lalu kabur mengendarai mobilnya keluar dari parkiran.


“Jarvis!”


Setelah kepergian Jarvis, Lindsey memegangi dadanya seraya menatap mobil Jarvis yang semakin jauh dan tidak terlihat lagi.


Jantung ini.. kembali berdebar. Dan karena orang yang sama..

__ADS_1


Oh, ya. Aku harus ke galeri seni Art Spring. batin Lindsey lalu berjalan ke mobilnya yang berada di parkiran.


Kemudian dia mengemudikan mobilnya menuju galeri seni Art Spring dengan bantuan arahan dari Maps.


Tibalah Lindsey di depan gedung yang berdominasi warna putih, galeri seni yang bernama Art Spring itu. Bentuk gedungnya pun unik, untuk masuk ke dalam gedung, ada sebuah jalan yang agak menurun dan gelap seperti parkiran. Lindsey menyusuri jalan itu dan berpapasan dengan seseorang tukang yang sedang mendorong gerobak berisi guci putih yang sudah pecah berlubang.


Seperti kata Jarvis, galeri seni itu akan mengadakan pameran besok dan mungkin saat ini semua orang sedang sibuk mempersiapkan karya seni yang akan dipamerkan. Setelah menyusuri jalan, baru ketemulah pintu untuk masuk ke gedung bernama Art Spring itu. Dari dia keluar dari mobil, Lindsey memperhatikan sekitar gedung itu.


Lindsey pun masuk ke dalam. Tampak banyak orang yang sedang sibuk dan kerepotan mengurus ini itu. Bahkan tidak ada yang menyadari kedatangannya hingga seorang wanita muda datang menghampirinya.


“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu.


“Oh, saya sedang melewati jalan ini dan menemukan ada galeri seni baru. Apakah benar ini adalah galeri seni?” jawab Lindsey.


“Iya, benar. Kami baru saja buka dan akan mengadakan pameran besok.” balas wanita itu.


“Benarkah?! Wah, saya salah satu orang yang gemar mendatangi galeri seni.” ucap Lindsey.


“Kalau begitu, anda bisa datang ke pameran kami besok. Oh, ya, sebentar saya ambilkan undangannya, ya.” ucap wanita itu lalu pergi sebentar mengambil undangan.


Jarvis bilang pemilik gedung ini adalah laki-laki. Kira-kira yang mana ya orangnya? batin Lindsey seraya matanya memperhatikan orang yang berada di dalam gedung itu.


“Ini. Kami tunggu kehadiran anda besok, ya..” ucap wanita itu seraya memberikan sebuah undangan yang dihiasi pita cantik.


“Oh, iya. Pasti saya akan datang besok. Oh, ya, apakah anda pemilik galeri ini?” balas Lindsey.


“Hmm, begitu.. Apa anda memiliki kartu namanya? Ah, begini.. Jadi, sebenarnya saya banyak mensponsori beberapa galeri seni dan saya tertarik untuk mensponsori galeri seni ini.” balas Lindsey.


“Oh, kalau kartu nama saya tidak ada sih. Tapi saya ada nomornya. Anda mau? Atau mungkin anda bisa bertemu langsung dengannya besok.” ucap wanita itu.


“Baiklah, nomornya saja juga tidak apa-apa.” balas Lindsey.


“Sebentar, ya. Nah, ini dia.” Wanita itu menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan nomor seseorang.


“Baik. Atas nama siapa?” tanya Lindsey.


“Pak Lukman. Lukman Yantoro.” jawab wanita itu.


“Baiklah, terima kasih, ya. Saya kembali dulu. Semangat berbenahnya, ya!” balas Lindsey lalu keluar dari galeri seni itu.


“Halo, Piter? Bisa tolong cari tahu informasi mengenai seseorang? Lukman Yantoro namanya. Cari tahu sebanyak-banyaknya mengenai orang itu dan orang yang berada di sekitarnya.” ucap Lindsey di telepon seraya berjalan keluar dan memasuki mobilnya.


Tiba-tiba tercetuslah sebuah ide di kepalanya. Segera dia mengemudikan mobilnya kembali ke firma dan menemui Luven. Dengan kemampuan mengebutnya, Lindsey berhasil sampai di firma dalam waktu 15 menit saja dengan jarak 10 km.


Tanpa disadari, cara Lindsey mengetuk pintu ruangan Luven, sama seperti cara Luven mengetuk pintu ruangan Lindsey. Bagi mereka itu mengetuk biasa, namun bagi orang lain yang mendengarnya itu seperti rentenir yang menggedar-gedor rumah si peminjam uang.


“Luven!”

__ADS_1


“Apa?”


“Kamu bisa bantu aku tidak?”


“Apa?”


“Apa kamu kenal dengan jaksa yang bernama Rivan?” tanya Lindsey.


“Distrik mana?” balas Luven.


“Aduh! Distrik mana, ya? Tidak tahu deh. Pokoknya dia yang menangani kasus klienku.” jawab Lindsey.


“Dasar.. distrik yang menangani kasus klienmu saja tidak tahu. Padahal itu penting.” balas Luven.


“Kan aku masih baru. Jadi kamu kenal dia atau tidak?” tanya Lindsey.


“Aku tahu orangnya yang mana. Sebentar aku mintakan nomornya.” jawab Luven.


“Apa kamu tahu dia jaksa yang seperti apa?” tanya Lindsey.


“Hmm.. dia sangat objektif. Dan tunduk kepada bukti. Beberapa orang menjuluki dia sebagai “penyembah” bukti. Dan, oh, ya. Beberapa orang juga mengatakan dia adalah orang yang gigih. Pandangannya selalu lurus ke depan untuk mengejar yang dia inginkan. Bahkan dia tidak peduli jika atasannya menghalangi jalannya.” jawab Luven.


Lindsey menghembuskan napas berat.


“Kenapa? Kamu sudah jiper duluan sebelum menghadapi dia?” tanya Luven.


“Bukan.. jadi seseorang memberikan hadiah jam tangan untuk klienku dan klienku tidak tahu kalau di bawah jam tangan itu ada nark*ba sampai kopernya di geledah di bandara.” jawab Lindsey.


“Lalu?”


“Ya, aku ingin jaksa itu juga menggeledah koper orang yang memberikan jam tangan itu ke klienku. Orang itu sedang ada di luar kota dan baru kembali besok.” ucap Lindsey.


“Lalu menurutmu jaksa Rivan akan menurutimu begitu saja? Dan kalau jaksa Rivan menurutimu, menggeledah koper orang itu dan ditemukan nark*ba juga di dalamnya, apakah klienmu akan bebas dari tuduhan? Tidak, Lindsey. Malah kamu membantu jaksa menambah jumlah pengedar yang ditangkap.” balas Luven.


Hmm.. lalu bagaimana cara membebaskan Jarvis dari tuduhannya, ya..? batin Lindsey.


“Aku sudah dapat nih nomornya. Sebaiknya kamu pergunakan nomor ini dengan baik.” ucap Luven kemudian.


“Baiklah.” Lindsey keluar dari ruangan Luven.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


hari ini aku up 3 sekaligus.. jgn lupa di like tiga tiganya yaa ☺️☺️ terima kasiiihhh 🙏🏻🙏🏻❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2