
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Namun ada satu kalimat yang Katie membuatku sedikit terkejut.
“...Pernah aku tidak sengaja melihat ada cincin melingkar di jari manisnya.”
Itu artinya Jarvis sudah menikah. Cukup membuatku terkejut karena rupanya kami bernasib sama. Kami telah menikah dengan pasangan kami masing-masing meski kami pernah memiliki rasa cinta yang sangat deras bagaikan hujan terhadap satu sama lain. Namun sederas-derasnya hujan, pasti akan berhenti juga, ’kan? Dan hidup harus terus berjalan, bukan?
“Bayarin dong tiket kita ke sana, bu CEO. Seperti yang kamu bilang, pawang Lindsey kan banyak.” sahut Luven. Ah, jika Luven yang berbicara, aku tidak perlu khawatir lagi. Manusia itu memang pintar sekali mulutnya.
“Maklum, Luven. Katie kan sudah menjadi CEO dan CEO bisanya hanya menyuruh doang.” tambah Kapten.
“Aduh, Kapt! Jangan bicara seperti itu, dong! Ok, aku transfer sekarang, besok kalian langsung terbang ke sini, ya?” balas Katie.
“Waduh, tidak perlu, Katie. Aku hanya bercanda. Eh, Katie! Baterai Lindsey sudah mau habis, tuh! Lanjut nanti lagi, ya! Byeee!” ucap Luven lalu menekan icon gambar telepon berwarna merah.
“Katie pasti senang sekali kalau kita ke Jakarta. Daritadi sudah mendesak kita terus.” ucap Kapten.
“Iya. Aku kembali kamar ingin mengemas pakaianku dan Noah dulu.” Aku langsung masuk ke kamar, meninggalkan 2 lelaki itu.
“Tidak ikut istri?” ledek Luven ke Kapten.
Kapten menguyel mulut Luven sebelum akhirnya dia mengikuti Lindsey ke dalam kamar.
Aku sibuk melipat beberapa pasang pakaianku dan memasukkannya ke dalam koper, juga membantu mengisi koper milik Kapten dengan memastikan kebutuhan yang harus dibawa. Tiba-tiba Kapten mengajukan sebuah pertanyaan padaku.
“Apakah kamu kira-kira sudah menentukan berapa lama kita berada di Jakarta?” tanya Kapten.
“Aku juga tidak tahu. Kira-kira berapa banyak waktu yang tepat untuk liburan?” balasku.
“Kamu tahu kita semua mengikutimu ke Jakarta, bukan untuk liburan.” ucap Kapten.
“Mustahil jika aku bilang aku ingin menemui om Lexis sebentar saja. Tapi tidak mungkin juga kita berlama-lama di Jakarta, ’kan?” balasku.
Kapten mengerti apa maksudku. “Kamu tidak perlu takut, ada aku yang akan memasang badanku untuk kamu dan Noah dimanapun kalian berada.” ucap Kapten.
Jujur, aku memang masih tidak siap untuk bertemu Jarvis. Atas apa yang telah aku lakukan padanya, rasanya aku tidak memiliki muka untuk bertemu dengannya. Meski aku tahu, yang aku lakukan ini tetaplah salah, untuk alasan apapun itu.
Tapi setelah Kapten mengatakan hal itu, hatiku langsung merasa lebih tenang dari sebelumnya. Karena aku percaya dan telah melihatnya sendiri bagaimana Kapten yang selalu memasang badan untuk menjaga aku dan Noah. Padahal menurutku, menjadi figur seorang ayah untuk Noah itu sudah lebih cukup dariku.
Aku memang yang telah mengandung Noah, melahirkannya ke dunia, namun memberi figur ayah sejujurnya aku tidak bisa...
...****************...
__ADS_1
Pesawat menuju Jakarta
Aku pun duduk tenang menatap awan di luar jendela. Noah sudah terlelap di pangkuanku seperti koala. Tiba-tiba Kapten menggenggam tanganku dengan hangat.
“Aku akan selalu bersamamu dan Noah.” ucap Kapten.
...****************...
POV Author
BANDARA SOETTA, JAKARTA.
Mereka semua tiba di Jakarta. Setelah menempuh perjalanan sehari lebih di pesawat dan transit, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Mereka semua berjalan menuju pintu keluar, tangan Lindsey penuh karena menggendong Noah, Kapten mendorong kopernya dan Lindsey, Piter mendorong kopernya dan Noah, sementara Luven mendorong kopernya dan sebuah tas berisi buah tangan yang mereka persiapkan dari LA untuk kerabat di Jakarta.
Tujuan pertama mereka adalah ke rumah markas untuk beristirahat. Akhirnya, setelah 5 tahun berpisah, mereka semua kembali ke rumah yang sekaligus menjadi markas mereka. Tempat yang menjadi sarang mereka merencanakan misi. Saat itu rumah markas kosong karena Katie sedang bekerja. Ini adalah waktu yang tepat untuk mereka menyiapkan kejutan untuk Katie.
Saat mereka memasuki rumah, sampailah mereka di ruang tengah, ruang yang menjadi tempat berkumpul, membuat rencana dan mengistirahatkan diri setelah dari luar. Tidak ada yang berubah dari ruang tengah itu.
Namun setelah itu, Lindsey pergi ke kamarnya dulu, mengobati kerinduan di kamar yang sudah lama dia tinggalkan.
“Sepertinya kamar ini akan menjadi kamar Noah.” ucap Kapten yang datang dari belakang sambil menggendong Noah.
“Kamarku?” tanya Noah.
“Hanya sementara, sayang. Kita tidak menetap di sini.” sahut Lindsey.
“Em!” Noah mengangguk.
“Hey, Katie benar-benar gila. Masa di kulkas tidak ada makanan satupun? Hanya ada beberapa botol air putih saja? Memangnya dia tidak makan?!” oceh Piter dari bawah dengan hebohnya sampai seisi rumah pun dapat mendengar.
“Kalau begitu, isikanlah kulkasnya.” balas Luven dengan singkat, padat, dan jelas.
Dan pastinya hal itu juga disetujui oleh yang lainnya.
“Baiklah. Aku akan pergi ke supermarket. Kalian mau menitip apa?” tanya Piter.
“Mau steak untuk makan malam?” tanya Kapten kepada semuanya.
“Setuju.” jawab Lindsey dan Piter.
“Setuju. Bagaimana dengan minum sedikit?” tanya Luven.
“Setuju! Ah, malam ini pasti akan menjadi malam yang menyenangkan. Kalau begitu aku pergi sekarang. Luven, ikut aku.” ucap Piter.
“Hem, Piter, aku titip kentang ya untuk membuat kentang tumbuk.” sahut Lindsey.
__ADS_1
“Kentang tumbuk? Aku suka itu! Baiklah, ayo Luven!” Piter dan Luven pergi ke supermarket.
Entah apa yang akan dibeli kedua laki-laki yang tidak pernah berbelanja kebutuhan bahan makan tapi kita percayakan saja.
“Apa kamu capek, Noah?” tanya Kapten selepas kepergian Luven dan Piter.
“No, Dad. Aku sudah tidur panjang sebelum sampai.” jawab Noah.
“Kalau begitu, mau ikut Daddy?” tanya Kapten.
“Mau kemana?” tanya Lindsey.
“Daddy ingin mengenalkan kamu ke seseorang. Mommy juga ikut. Ayo, kita pergi!” Lindsey, Kapten, dan Noah juga pergi, meninggalkan rumah itu kembali kosong.
Dengan duduk di atas pangkuan Lindsey, Noah melihat ke arah luar, sepanjang jalanan yang melintasi kota Jakarta, kota yang berbeda dengan kota yang dia tinggali di LA.
“Buwung! Mommy lihat di langit!” seru Noah.
“Wah, iya! Ada berapa tuh burungnya, Noah?” tanya Lindsey.
“Duwa, tiga, empat, lima..” Noah menghitung.
“Anak pintar..” Lindsey mengusap kepala Noah dan menciumnya.
Kemudian mereka bertiga sampai di sebuah tempat. Lindsey langsung mengetahui tempat apa itu.
Namun sebelum masuk, mereka pergi ke sebuah toko bunga yang berada di dekatnya. Sambil menunggu sebuket bunga yang sedang dibuat, Lindsey dan Noah berkeliling, melihat bunga yang berbeda-beda.
“Ini bunga apa, Mommy?” tanya Noah.
“Hmm...”
“Itu namanya bunga anggrek, Noah.” sahut Kapten.
Sepertinya Noah salah orang untuk bertanya. Karena Lindsey tidak mengenal jenis bunga.
“Hmm, wangi.. aku suka. Kalau ini namanya apa, Daddy?” tanya Lindsey.
“Melati.” jawab Kapten.
“Woah! Cantiknya!” seru Noah saat melihat bunga lily.
“Ambil bunganya, Noah. Kasih itu ke Mommy.” bisik Kapten.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih