
“Apakah itu penting?” balas Lindsey.
“Ya.”
“Apa yang wanita itu katakan padaku itu penting bagimu?” tanya Lindsey.
“Ya.”
“Bagaimana dengan aku?” tanya Lindsey.
Jarvis terdiam.
Namun diamnya Jarvis termasuk sebuah jawaban bagi Lindsey. Dia mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu akan melepehkanku saat kamu sudah merasa bosan sama seperti yang kamu lakukan terhadap wanita itu. Itu yang dikatakan wanita itu.” jawab Lindsey lalu berjalan meninggalkan Jarvis.
Jarvis meraih tangan Lindsey dan menghalangi jalannya. “Dia mengatakan itu padamu?” tanya Jarvis.
“Ya.”
“Lalu, apa aku terlihat akan seperti itu padamu?” tanya Jarvis lagi.
“Ya.”
“Rupanya kamu tidak mempercayaiku, ya.” ucap Jarvis.
“Apa yang harus aku percayai darimu? Apa masih ada yang bisa aku percayai darimu? Setelah aku mengalami semua ini?” balas Lindsey. Gumpalan air mata yang tertahan di matanya pun turun. Kejadian yang dia alami begitu mengerikan dan mengguncangnya.
“Semuanya. Kamu harus mempercayai semuanya dariku.” ucap Jarvis yang kemudian menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi Lindsey.
“Aku akan segera menemukan wanita yang melukai wajah cantik kekasihku ini.” ucap Jarvis kemudian seraya mengusap pipi Lindsey.
“Hanya kamu wanitaku. Tidak ada utama atau simpanan, pertama atau kedua. Wanitaku hanya kamu, Lindsey.” tambah Jarvis.
“Manis sekali mulutmu, Jarvis. Tapi sayangnya aku tidak suka sesuatu yang manis. Itu hanya akan membuatku enek.” balas Lindsey.
“Bawakan wanita itu kepadaku baru aku akan mempercayaimu.” tambah Lindsey.
Jarvis mengangguk setuju. “Baiklah, akan aku bawakan dan akan aku buktikan bahwa kamulah satu-satunya wanitaku.” ucap Jarvis.
“Lalu kenapa kamu membakar gudang itu?” tanya Lindsey.
Jarvis menurunkan tangannya dari bahu Lindsey.
“Kenapa kamu menuduhku? Kamu punya bukti bahwa akulah yang membakar gudang itu?” balas Jarvis.
Benar juga. Aku tidak memiliki bukti. Yang aku punya hanyalah keyakinan. Keyakinan bahwa Jarvis yang membakar gudang itu. Dan Jarvis seperti menantangku sekarang. batin Lindsey.
“Yang tahu tempat itu hanya aku, kakakku, kamu, Carlos, dan anak buahmu. Jika memang bukan kamu yang membakarnya, apa mungkin Carlos? Atau anak buahmu? Aku kemarin melihat kamu datang bersama anak buahmu yang bejibun.” ucap Lindsey.
__ADS_1
“Mereka bukan anak buahku. Mereka hanya pengawal biasa. Pengawal yang aku rekrut khusus untuk menjagaku karena aku selalu merasa tidak aman. Dan bukan salah satu dari kita yang membakar gudang itu.” balas Jarvis.
Lindsey menatap mata Jarvis dengan tajam. Apalagi yang kamu sembunyikan, Jarvis..? batin Lindsey.
“Percaya padaku, Lindsey. Akulah satu-satunya orang yang paling tidak menginginkan hal berbahaya terjadi padamu, Lindsey.” ucap Jarvis kemudian. Tangannya kembali merangkum lengan Lindsey paling atas.
“Singkirkan tanganmu. Carlos bisa melihatnya.” balas Lindsey dingin.
“Tidak. Dia jauh.” ucap Jarvis yang menolak permintaan Lindsey.
“Singkirkan tanganmu kubilang!” balas Lindsey dengan nada yang meninggi.
Jarvis akhirnya menurut dan melepas lengan Lindsey.
“Lindsey, apa kamu tahu hal apa yang sangat ingin aku lakukan saat ini?
Memelukmu. Aku sangat ingin melakukannya saat ini.” ucap Jarvis.
“Aku sudah terlambat.” balas Lindsey lalu berjalan menuju ke mobilnya. Lindsey membuka pintu mobil dan berniat masuk namun dicegat oleh Jarvis.
“Kamu benar sudah tidak apa-apa?” tanya Jarvis yang meraih pergelangan tangan Lindsey.
“Iya, Jarvis.” jawab Lindsey.
“Sepertinya tidak.” balas Jarvis lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan Lindsey dan duduk di kursi pengemudi.
“Sedang apa kamu, Jarvis?” tanya Lindsey.
“Aku masih bisa mengemudi. Aku hanya mengalami luka lecet saja, bukan lumpuh. Cepat turun dari mobilku.” balas Lindsey.
“Tidak mau.” ucap Jarvis lalu menutup pintu mobil.
Lindsey mengerutkan dahinya. Tingkah Jarvis membuatnya bingung. Namun akhirnya Lindsey masuk dan duduk di kursi penumpang bagian depan.
“Apa? Kenapa?” tanya Lindsey yang kala itu Jarvis sedang menatapnya.
Kemudian Jarvis memajukan tubuhnya ke arah Lindsey, mengikis jarak di antara mereka. Bahkan hembusan napas Jarvis pun dapat terasa di wajah Lindsey. Dengan jarak sedekat ini membuat jantung Lindsey berdetak di atas kecepatan normal, wajahnya memerah. Lindsey memejamkan matanya. Sementara tangan Jarvis meraih seatbelt dan memasangkannya untuk Lindsey.
Lindsey membuka matanya kembali. Ada kesalahpahaman di sini. Lindsey mengira Jarvis ingin menciumnya, namun ternyata Jarvis hanya ingin memasangkan sabuk pengaman untuk Lindsey. Dan bukan pertama kalinya Jarvis memasangkan sabuk pengaman untuk Lindsey.
“Kenapa kamu selalu lupa memakai sabuk pengaman? Apa ini hanya akal modusmu saja supaya aku memakaikannya untukmu?” tanya Jarvis.
“Modus? Baru 2x aku lupa, tahu! Cepat jalan, atau lebih baik kamu turun saja.” jawab Lindsey.
“Iya, iya, berangkat. Lagi pula modus sama pacar sendiri sah sah saja kok.” balas Jarvis lalu menjalankan mobil.
“Aku tidak modus, Jarvis.” ucap Lindsey.
Jarvis mengemudikan mobil Lindsey sampai ke firma. Dia terlalu mencemaskan wanitanya hingga tidak bisa membiarkan Lindsey yang mengemudikan mobilnya sendiri. Sesampainya di firma, Lindsey mengarahkan Jarvis untuk masuk ke parkiran. Jarvis dan Lindsey turun dari mobil setelah mobil sudah diparkir.
__ADS_1
“Salep dari dokter sudah dioleskan?” tanya Jarvis.
“Sudah.”
“Obat untuk membantu proses penyembuhan luka sudah diminum?” tanya Jarvis.
“Sudah.”
“Bagaimana dengan sarapan?” tanya Jarvis.
“Sudah.”
“Oh, baguslah. Aku belum.” ucap Jarvis.
“ Di sekitar firma banyak tempat makan. Pergilah sarapan.” balas Lindsey.
“Baiklah.” ucap Jarvis.
Lindsey berjalan menuju pintu masuk ke gedung. Namun baru 2 langkah, kakinya terhenti dan berbalik ke arah Jarvis.
“Oh, ya. Bagaimana cara kamu kembali ke kantormu?” tanya Lindsey.
“Ah, gampang! Aku bisa naik taksi. Kamu tidak perlu khawatir.” jawab Jarvis.
“Oh, ya sudah. Aku masuk dulu.” balas Lindsey lalu kembali berjalan.
“Lindsey..” panggil Jarvis yang membuat langkah kaki Lindsey kembali terhenti.
“Apa?”
“Sepulang kerja nanti ke hotelku ya. Sekedar mampir atau menginap juga boleh.” ucap Jarvis.
“Baiklah.” balas Lindsey lalu berjalan masuk ke gedung firma, meninggalkan Jarvis di parkiran.
Setibanya di ruangannya, Lindsey meletakkan bokongnya di atas kursi sejenak. Sembari dia mengecek email di komputernya mengenai jadwal dan tempat sidang yang harus dia hadiri. Lindsey menghembuskan napas berat begitu mengetahui hari ini dia harus menghadiri 2 sidang yang berbeda. Juga dia harus membuat 2 laporan mengenai masing-masing sidangnya.
Baru melihat jadwal saja rasanya Lindsey sudah capek. Padahal dia belum melakukan apapun. Dan itu harus dia lakukan sampai 60 hari.
Tok tok..
Seseorang dari luar mengetok pintu ruangannya.
“Permisi.” Seorang laki-laki menampakkan wajahnya setelah membuka pintu ruangan Lindsey.
“Iya, ada apa?” tanya Lindsey.
“Perkenalkan aku Aiden, pengacara baru di sini. Kita menandatangani kontrak di hari yang sama.” ucap laki-laki itu.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih