Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Peramal


__ADS_3

“Tidak, kok. Sebentar lagi sampai.” ucap Katie.


Mobil Katie berhenti di suatu tempat. Tempat tersebut adalah bangunan seperti kuil. Tempat yang tidak pernah Lindsey kunjungi sebelumnya.


“Tempat apa ini?” tanya Lindsey seusai turun dari mobil.


Namun bukan kuil yang mereka masuki. Namun sebuah bangunan di belakangnya. Katie membawa Lindsey masuk dan bertemu seseorang di dalam. Katie duduk di lantai, berhadapan dengan orang itu. Lindsey pun tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.


“Ini kita dimana, sih?” bisik Lindsey.


Katie menarik tangan Lindsey dan meletakkannya di atas meja.


“Kali ini bukan saya, tapi dia.” ucap Katie kepada orang itu.


Orang itu menatap telapak tangan Lindsey dengan jarak dekat, mengenakan kaca pembesar, lalu menatap wajah Lindsey.


Lindsey kebingungan. Dia tidak tahu akan diapakan oleh sahabatnya ini namun satu hal yang pasti, Katie sedang melakukan hal yang aneh.


“Kamu dikelilingi orang baik karena pribadimu yang menarik dan menyenangkan. Banyak orang baik seperti malaikat, dan di sini saya melihat lebih dari 2 orang, mungkin lebih dari 3 orang juga. Saking baiknya, mereka semua selalu melindungimu bahkan rela mengorbankan nyawanya untukmu. Saya melihat di sini kamu nantinya akan merasa kebimbangan yang luar biasa. Kamu dihadapkan pilihan yang sulit, namun akan ada seseorang yang akan membantumu menentukan pilihanmu nantinya. Dan orang ini sangat berharga di dalam hidupmu. Kamu juga rela mengorbankan nyawamu untuk dia.” ucap orang itu.


Katie gila. Dia membawaku ke dukun? Peramal? batin Lindsey.


“Bagaimana dengan jodohnya? Laki-laki seperti apa yang akan menjadi jodohnya? Kaya? Tampan? Atau seperti apa?” tanya Katie kepada sang peramal.


“Kaya sih mungkin tidak. Tampan, iya. Hmm, soal jodoh mungkin anak ini sangat beruntung. Dia mendapatkan laki-laki yang bersedia memberikan semuanya untuk anak ini. Cinta, perhatian, ketulusan, kesetiaan, kesabaran, kejujuran, segalanya. Walaupun penuh lika-liku untuk bersatu.” jawab sang peramal.


“Berarti bukan Jarvis. Karena tidak kaya. Oh, ya! Apakah laki-laki itu kejam?” tanya Katie.


Katie benar-benar cari mati denganku. batin Lindsey.


“Sudah gila, ya, kamu?. Aku tidak percaya dengan semua ini. Ayo kita pulang.” Lindsey bangkit berdiri.


“Laki-laki itu kejam atau tidak, tergantung dengan dirimu memperlakukannya seperti apa.” ucap peramal itu.


“Ya, ya, ya. Baiklah, terima kasih. Katie, ayo pulang!” balas Lindsey.


“Kamu saja. Aku masih mau mendengar tentangmu.” ucap Katie.


“Huh?”

__ADS_1


“Katie benar-benar gila. Bisa-bisanya dia membawaku ke seorang peramal? Apa dia tidak tahu kalau peramal itu hanya menghabiskan uangnga saja dengan mengucapkan hal omong kosong? Katie sinting. Kalau bukan teman, sudah aku bejek-bejek wajahnya, aku jorokin ke ******!” Lindsey mendumel selama perjalanannya keluar dari tempat itu dan ke mobil.


Ponsel Lindsey berdering.


“Siapa lagi, sih?” Lindsey mengeluarkan ponselnya.


Jarvis is calling....


“Halo? Sayangku, dimana?”


“Aku di sebuah  tempat. Hey, memangnya Katie tidak bekerja hari ini? Kenapa kamu tidak menyibukkan dia dengan pekerjaan agar dia berhenti melakukan hal yang tidak berguna? Kalau perlu jangan biarkan dia pulang sebelum kamu pulang.” Jarvis menjadi tempat sasaran Lindsey melampiaskan emosinya.


Jarvis sampai menjauhkan sedikit ponselnya dari telinganya. Suara Lindsey membuat telinganya nyeri, seperti ada sesuatu yang menusuk di telinganya.


“Sabar, sayang. Hari ini memang semua karyawanku aku suruh pulang lebih awal. Karena mau ada perbaikan CCTV secara keseluruhan. Memangnya Katie kenapa? Dia menyuruhmu menggantikan kencan butanya lagi?” balas Jarvis.


“Bukan itu. Sudahlah, jangan bahas dia lagi.” ucap Lindsey.


“Kamu jadi kan ke hotel? Aku jemput. Ini aku lagi bersiap mau pulang. Kebetulan hari ini aku bawa mobil sendiri karena Carlos masih mengurus CCTV.” balas Jarvis.


“Tidak usah. Nanti Katie yang akan mengantarku ke hotel.” ucap Lindsey.


“Baiklah. Sampai bertemu di hotel.” balas Jarvis.


“Huh. Seharusnya 1 laporan sudah jadi kalau aku tidak ke sini.”


Tidak lama kemudian, Katie keluar dan menghampiri Lindsey yang sudah menunggu di mobil.


“Sepertinya jodohmu bukan Jarvis. Aku penasaran siapa jodohmu nanti kalau bukan Jarvis..” ucap Katie.


Lindsey mengambil tisu dan mengepalkannya bulat-bulat sebelum dia masukkan ke mulut Katie untuk menyumpalnya.


“Antar aku ke hotel Grand Mansion!” pinta Lindsey.


“Ponsel dan kartu kredit Kapten yang diberikan padaku sedang terancam disita. Kalau Kapten tahu aku bukannya membuat laporan tapi malah ke tempat seperti ini, bisa habis aku. Aku tahu kamu anak orang kaya yang gabut, kenapa tidak sekalian membawa Kapten dan Piter untuk dibaca juga masa depannya? Kenapa hanya aku? Tidak adil sekali.” oceh Lindsey di tengah perjalanan.


“Karena hanya kamu yang tidak mempercayai ramalan masa depan.” jawab Katie.


“Ja-jadi maksudmu Kapten dan Piter percaya, begitu?” tanya Lindsey.

__ADS_1


“Iya. Mereka juga yang merekomendasikan peramal tadi itu. Katanya ramalan peramal itu selalu tepat sasaran. Pengusaha, pejabat, dan orang penting lainnya dari kalangan atas juga rutin datang ke sini.” jawab Katie.


Lindsey menghembuskan napas berat. “Gila. Berarti hanya aku yang tidak mempercayai itu di antara kita berempat. Peramal itu benar-benar pintar.  Dia tahu cara menghabiskan uang kita.” balas Lindsey.


“Memangnya kamu yakin kalau Jarvis adalah jodohmu?” tanya Katie.


“Jodoh, apanya. Sudahlah, untuk apa kita memikirkan jodoh? Kenapa kamu tidak meminta peramal itu membacakan nasib misi kita akan berhasil atau tidak?” balas Lindsey.


“Kalau soal itu, sudah ada yang menanyakannya.” ucap Katie.


“Siapa?” tanya Lindsey.


...****************...


“Misi kalian.. hmm.. kenapa sulit sekali membacanya, ya..?” ucap peramal itu.


“Kenapa sulit? Kita sudah membayar, loh!” protes Piter.


“Sst.. lebih baik kamu diam. Peramalan ini dibutuhkan ketenangan dan konsentrasi.” sahut Kapten.


“Entah kenapa.. aku tidak bisa melihat gambarannya. Namun yang pasti, akan ada hal baik yang membuat kalian merasa puas dan bahagia di hidup kalian nantinya.” ucap peramal itu.


“Apa kita akan terus bersama-sama?” tanya Kapten.


“Aku lihat kalian berumur panjang. Kalian juga selalu solid. Hubungan kalian satu sama lain juga baik. Dan nantinyabkalian akan mendapat personil baru. Seseorang akan hadir di tengah kalian.” jawab peramal itu.


“Siapa?” tanya Kapten dan Piter yang saling menatap satu sama lain.


“Orang ini seperti berkat, anugrah, yah semacam itulah yang akan kalian syukuri.” jawab peramal itu.


“Apakah nantinya kita akan ketahuan?” tanya Piter.


“Entahlah. Bagaimana akhir dari misi kalian aku tidak bisa membacanya. Mungkin Tuhan dan dewa lainnya masih belum menentukan akhirnya.” jawab peramal itu.


Selesai sesi peramalan, Kapten dan Piter berjalan keluar.


“Tidakkah peramal itu kelihatan sekali bohongnya?” tanya Piter.


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2