
“Iya. Kan apartemen ini akan menjadi tempat tinggalku untuk sementara. Oh, ya. Nanti bantu aku pakai koyo, ya. Di pinggul.” jawab Jarvis.
Lindsey tertawa. “Hahahah..!!! Kenapa pinggulmu? Karena semalam, ya? Makanya jangan terlalu ekstra. Hahahaha..!!!”
“Ya, sakit. Sedikit. Tapi kalau lanjut lagi aku masih mampu, kok. Tuh, ginseng juga masih sisa setengah botol.” balas Jarvis.
“Nanti kalau kamu ke pasar lagi coba carikan stik dan bola golf, ya.” ucap Lindsey.
“Kamu mau main golf?” tanya Jarvis.
“Iya. Dan aku akan melayangkan pukulan pertamaku ke botol ginseng itu.” jawab Lindsey.
“Ouch! Hatiku terasa perih membayangkannya. Langkahi dulu mayatku. Eh, firma kamu pintar sekali mencari tempat. Apartemen ini lokasinya sangat strategis. Di belakang apartemen ada pasar, di sebrang ada minimarket, di sebelahnya ada toserba, 200 meter ke arah utara ada mall. Pasti harganya selalu naik dari tahun ke tahun. Wah.. aku jadi ingin membeli gedung apartemen ini, tinggal di sini dan menua bersamamu.” ucap Jarvis.
Jarvis menyajikan hasil karyanya selama 2 jam bergulat di dapur.
Sepertinya dia benar-benar ke pasar. Jarvis bahkan tahu apa saja yang ada di luar. batin Lindsey.
Lindsey mengerutkan dahinya. “Menua bersama? Kurasa itu teralu jauh. Kamu lupa kamu sedang menghadapi kasus?” balas Lindsey.
Lindsey membasahi bibirnya karena tidak sabar menyantap masakan Jarvis. Karena dari aromanya saja sudah menggugah selera.
“Aku tidak takut karena aku tidak membunuhnya. Dan juga, kekasihku ini akan membuktikan kalau aku tidak membunuhnya.” ucap Jarvis seraya memberikan pisau dan garpu untuk Lindsey.
“Apa kamu tahu, kamu sudah menambah pekerjaanku. Aku semakin sibuk karena kamu.” balas Lindsey lalu memotong steak ikan tuna yang dibuat Jarvis.
“Aku juga sudah menambah saldo di rekeningmu.” ucap Jarvis seraya mengisi gelas dengan air dan menaruhnya di samping piring Lindsey.
Lindsey langsung mengecek ponselnya. Mulutnya ternganga sebelum dia menutupnya dengan tangannya sendiri. “I-i-ini banyak sekali!”
Jarvis meletakkan beberapa lembar tisu di samping piring dan gelas Lindsey. Dan tanpa sadar Lindsey mengambilnya untuk mengelap sisa ikan di sekitar bibirnya. Acts of service rupanya.
Jika orang bilang tidak boleh bangun siang maka rejeki akan dipatok ayam, berbeda dengan Lindsey. Dia malah mendapat rejeki yang besar. Saldo di rekeningnya baru saja bertambah sebanyak 100.000.000.
“Itu baru uang muka.” balas Jarvis.
“Aku tidak tahu berapa bayaranmu, tapi dilihat dari kemampuanmu sepertinya kamu sudah senior, ya? Bayaranmu pasti tinggi.” lanjut Jarvis.
Sudah senior..? Kenapa orang-orang mengira kalau otak aku ada isinya, sih? Padahal kan kosong.. batin Lindsey.
“Amin. Doakan saja.” ucap Lindsey.
“Loh, belum ya?! Pasti satu tingkat di bawah senior?” balas Jarvis.
“Makananmu sudah dingin, tuh.” ucap Lindsey mengalihkan.
“Oh, ya, Jarvis. Kamu yakin tidak mengenal mayat yang ditemukan di kamar hotelmu itu?” tanya Lindsey.
“Hooh, aku yakin. Wanita yang aku kenal hanya kamu di dunia ini.” jawab Jarvis.
__ADS_1
“Mayat itu adalah wanita yang menyekapku di gudang.” ucap Lindsey.
“Apa?”
“Iya. Wanita yang katanya ingin kamu bawa kepadaku. Ternyata beneran kamu bawa, ya.” ucap Lindsey.
Jarvis batuk karena tersedak.
“Hati-hati mengunyahnya.” Lindsey memberikan segelas air.
Jarvis meneguk air hingga habis.
“Lindsey, kalau aku yang membunuhnya, tidak mungkin aku biarkan di kamarku, ya, kan? Kamu kan pengacara, seharusnya kamu tahu.” ucap Jarvis.
“Iya, aku tahu. Aku juga bisa membaca gerak-gerik pembunuh. Biasanya kalau pembunuh tidak membereskan mayatnya, berarti ada rencana yang sudah dia persiapkan.” balas Lindsey.
“Kamu sedang tidak menuduhku sebagai pembunuh, kan?” tanya Jarvis.
“Tentu saja tidak. Aku hanya bersikap skeptis.” jawab Lindsey.
“Tentu saja kamu percaya denganku. Kalau kamu tidak percaya, aku tidak mungkin berada di sini, memasak dan sarapan di hadapanmu sekarang.” balas Jarvis.
“Oh, ya. Darimana kamu bisa kepikiran mengenai CCTV JM Buildings?” tanya Jarvis kemudian.
“Kamu dengan percaya diri mengatakan kalau kamu tidak membunuhnya dan kamu dijebak. Menurutku, kalau benar kamu tidak membunuhnya, seharusnya kamu tidak berada di TKP saat pembunuhan itu terjadi. Dan benar saja, CCTV menunjukkan kamu seharian tidak keluar dari kandang.” jawab Lindsey.
“Jika benar kamu mengedit CCTV di JM Buildings, hukumanmu akan ditambah. Aku tidak akan membantumu lagi.” balas Lindsey.
“Jadi, aku akan dipenjara? Kira-kira berapa lama hukumannya?” tanya Jarvis.
“Hmm.. 10 tahun..?”
“Apa kamu bisa hidup tanpaku selama 10 tahun itu? Tentu saja tidak bisa. Maka dari itu kamu harus membebaskanku.” ucap Jarvis.
“Kamu itu hanya dipenjara, bukan mati. Lagi pula masih banyak ikan di laut.” balas Lindsey.
Jarvis meletakkan sendoknya dengan kasar. Rupanya emosi Jarvis mulai terpancing mendengar kalimat Lindsey. Api kecemburuannya mulai membara. “Jadi, kamu akan ke laut dan mencari ikan baru?!” tanya Jarvis. Tangannya spontan menancapkan pisau di atas steak ikan yang dibuatnya sendiri. Dia jadi membenci ikan, dan tidak ingin memakan hasil masakannya sendiri.
“Mungkin lebih tepatnya aku akan ke klub sih, bukan ke laut.” jawab Lindsey dengan sengaja memperbesar bara api kecemburuan Jarvis.
“Aku yakin tidak akan kamu menemukan ikan sepertiku!” balas Jarvis.
“Tapi aku akan menemukan yang lebih baik darimu, begitu maksudmu?” tanya Lindsey.
“Aku tidak akan dipenjara. Tidak akan aku biarkan diriku di penjara! Wanitaku sangat nakal ternyata. Maka dari itu pawangnya tidak boleh dipenjara.” jawab Jarvis.
“Hahahah.. Ngomong-ngomong, sepertinya kamu sudah tidak ke klub itu, ya? Biasanya kamu rutin kesa—” Ucapan Lindsey terpotong begitu dia menyadari hampir saja dia keceplosan kalau diam-diam Lindsey bersama gengnya sering menyelidiki aktivitas rutin Jarvis. Dan berkat itulah Lindsey bisa mengatur pertemuan pertamanya dengan Jarvis di klub itu.
“Sudah tidak lagi kalau tidak bersama kamu. Eh, kamu tahu darimana aku rutin kesana?” balas Jarvis.
__ADS_1
“Em, namamu tercatat di buku keanggotaan beserta jadwal kamu datang. Aku sempat melihatnya.” ucap Lindsey. Untung saja Lindsey mampu berpikir cepat untuk mengatakan alasannya.
“Oh, ya. Waktu itu kan kamu menggantikan temanmu, ya? Temanmu yang mana?” tanya Jarvis.
“Hm, bukan temanku. Tapi temannya Katie. Aku juga tidak mengenalnya.” jawab Lindsey.
“Bukankah itu seperti takdir kita untuk bertemu?” tanya Jarvis yang mendekatkan wajahnya dengan wajah Lindsey.
“Ka-kamu.. percaya takdir..?” ucap Lindsey.
“Tidak. Sebelum bertemu denganmu.” balas Jarvis.
Glek. Lindsey menelan paksa salivanya. Jarak di antara mereka sangat dekat. Mata mereka bertemu dan saling pandang. Jantung Lindsey tiba-tiba berdebar kencang. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya. Lindsey sedang gugup sekarang.
Siapa yang tidak akan meleleh dengan tatapan dan kalimat seperti itu?
“A-aku sudahan sarapannya! Terima kasih atas pelayanannya! Bintang 5 untukmu.” ucap Lindsey kemudian sembari berdiri dan mengambil tasnya.
“Hey, kamu lupa sesuatu.” Jarvis mendekati Lindsey.
“Apa?”
Jarvis mencium bibir Lindsey dan memberi hisapan lembut.
“Kamu harus segera kembali. Aku akan menunggumu.” ucap Jarvis.
“Akan aku kabari lagi nanti.” balas Lindsey lalu keluar dari apartemen.
Lindsey mengemudikan mobilnya menuju ke rumah markas. Anggota geng sudah menunggunya di ruang tengah. Semenjak bertemu dengan Jarvis, Lindsey jadi jarang pulang. Sesampainya di rumah markas, Lindsey bergabung bersama anggota gengnya di ruang tengah dan berkumpul untuk berdiskusi.
“Aku telah resmi ditunjuk Jarvis menjadi pengacaranya. Dia sudah mengirim 100 juta untuk uang muka.” ucap Lindsey.
“Sebenarnya aku merasa kasihan dengan Jarvis karena telah menunjuk orang yang salah.” sahut Piter.
“Hey, semalam aku berhasil membebaskan Jarvis, tahu. Semalam dia sudah ditetapkan sebagai tersangka dan tangannya sudah diborgol.” balas Lindsey.
“Cepat sekali?” sahut Katie.
“Pasti ada yang bekerja sama di balik kasus ini.” sahut Kapten.
“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi bukti yang mereka punya hanya hasil autopsi saja. Forensik menemukan ada sidik jari Jarvis di kuku korban. Tentu saja itu tidak cukup sehingga Jarvis bisa bebas dari ditahan.” balas Lindsey.
“Oh, ya. Aku dan Piter juga sudah menyelidiki korban pembunuhan itu. Dan ini dia orangnya.” Kapten menempelkan foto korban di papan tulis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1