
Lampu tiba-tiba menyala. Duaarrr...!! Duaaarrr...!! Pwiiittt...!!!
“YEEEYYYY...!!! Lindsey, selamat! Kamu berhasil diterima bekerja di GDP! Horeeee..!!!”
Pwiiiittt...!!!!
“Hah.”
“Ini beneran! Lihat nih!” Kapten memberikan tabletnya yang menunjukkan bukti email dari firma hukum GDP kalau Lindsey berhasil.
Selamat! Anda berhasil bergabung dengan GDP Team! Kini Anda sudah resmi menjadi bagian dari keluarga GDP dan bergabung di firma hukum kami sebagai pengacara tingkat 2. Untuk kontrak kerja dan info lebih lanjut harap datangi bagian personalia. Kami berterima kasih atas usaha dan kerja keras Anda. Welcome to the GDP!
“WHAAATTTT!!!! Lindsey!!!!” Katie bersorak dan bertepuk tangan karena tidak menyangka kalau Lindsey akan diterima.
“Tidak main-main, pengacara tingkat 2 loh!” sahut Piter.
“Ini seperti mimpi. Aku senang sekali! Meskipun CV dan prestasi buatan. Hahahaha!!” ucap Lindsey.
“Selamat, Lindsey.” ucap Kapten seraya membawa Lindsey ke dalam dekapannya dan memberi pelukan hangat. Lindsey membalas pelukan itu.
“Uuuu.. terima kasih, Kapt!” balas Lindsey.
Kapten mengusap-usap kepala Lindsey, memperlakukan Lindsey seperti anak kecil. Sementara kedua tangan Lindsey masih berada di punggung Kapten.
“Haruskah aku memanggilmu dengan sebutan ‘Pengacara Lindsey’?” goda Kapten.
“Boleh. Hahahaha...!!” balas Lindsey.
Meja di ruang tengah pun sudah penuh dengan beberapa kardus pizza, makanan ringan, botol bir maupun bir kalengan. Semuanya tersusun rapi dan siap disantap.
“Khusus malam ini saja, kita harus memberikan reward untuk diri kita sendiri. Mari berpesta!” ucap Piter.
“YEAYYY!”
Mereka semua menghampiri meja dan duduk di lantai. Disaat semua mengambil potongan pizza, Lindsey membuka botol bir dan menuangkan ke gelas masing-masing rekan gengnya.
“Hey, kan aku yang sudah berhasil masuk, jadi boleh kan kalau aku minum paling banyak?” tanya Lindsey.
“Justru aku dan Kapten menyiapkan bir kalengan untukmu. Karena besok kamu sudah mulai kerja.” jawab Piter.
“Apa apaan bir kalengan?!” Lindsey tidak terima.
“Kamu akan kesiangan besok kalau minum terlalu banyak.” ucap Kapten.
“Ayo kita bersulang dulu!” Piter mengangkat gelasnya.
Disusul oleh ketiga anak geng yang lainnya. Keempat gelas itu bertemu dan bir bergoyang di dalam gelasnya. Cling!
“Cheers!”
__ADS_1
Mereka serempak meneguk bir di gelas masing-masing sampai habis dalam sekali teguk.
“Ahh... Mantap..!!” ucap Piter.
“Kita harus sering-sering memanjakan diri seperti ini. Lindsey pasti makin semangat kerjanya.” ucap Katie.
“Oh, ya. Aku punya berita baik. Aku sudah meminta Jarvis memasukkan Katie ke JM Buildings dan dia akan bekerja sebagai sekretaris.” ucap Lindsey.
“Kemampuan melobimu memang tidak perlu diragukan lagi, Lindsey. Mantap!” puji Piter.
“Kalau terus seperti ini, kamu juga bisa menaklukkan Jarvis.” sahut Kapten.
“Carlos saja sudah berhasil dia taklukkan.” sahut Katie.
“Oh, ya. Aku baru tahu kalau mulut Carlos ternyata sangat lemas. Dia bisa memberikan semua informasi yang aku inginkan kalau tidak ada Jarvis.” ucap Lindsey.
“Jarvis menghalanginya?” tanya Piter.
“Iya. Aku memancingnya dengan bertanya dimana Jarvis menyembunyikan harta warisannya, raut wajah mereka langsung berubah. Saling menatap tajam. Mereka pasti benar-benar menyembunyikannya di suatu tempat.” jawab Lindsey.
“Sulit sekali untuk mencari tempat persembunyiannya..” ucap Piter.
“Carlos juga bilang kalau keluarga Jarvis mengolah emas menjadi perhiasan. Ada emas batangan juga. Tapi Jarvis tidak tertarik dengan usaha itu. Dia memilih bisnis real estate.” ucap Lindsey.
“Itu bohong. Jarvis melanjutkan usaha itu. Masih sampai detik ini.” sahut Kapten.
“Benarkah?” tanya Lindsey.
“Apa ada yang tidak kita ketahui, Kapt?” tanya Piter.
“Dari klien kita. Aku tidak berniat menjelaskan ini ke kalian karena terlalu rumit untuk dimengerti. Jadi, klien kita adalah pamannya Jarvis, adik dari ayahnya Jarvis. Klan mereka terpecah karena memperebutkan usaha emas yang diturunkan ke ayahnya Jarvis.” jawab Kapten.
“Tunggu, tunggu. Kapten pernah bilang bahwa ada tragedi yang menewaskan orangtuanya. Apa itu karena klien kita?” tanya Lindsey.
“Iya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara klien kita menewaskan kedua orangtuanya Jarvis untuk merebut usaha emas itu.” jawab Kapten.
“Dan saat itu Jarvis masih berusia 6 tahun. Bagaimana dia bisa melanjutkan usaha emas di umur yang sekecil itu?” tanya Lindsey.
“Jarvis saat itu membiarkan klien kita merebut usaha emasnya. Klien kita sempat mencapai puncak kejayaannya. Namun di saat Jarvis sudah berusia sekitar 18-19 tahun, dia membalas dendam dan merebut kembali usaha emas itu. Salahnya klien kita adalah terlalu meremehkan Jarvis. Kekuasaan Jarvis semakin menguat karena anak buahnya sudah berada dimana-mana. Dia juga selalu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan kekerasan.” jawab Kapten.
“Kasihan Jarvis.. baru 6 tahun sudah hidup sendiri dan bertahan, melewati hal semacam itu. Pasti menimbulkan luka dan trauma yang mendalam.” ucap Piter.
“Luka dan trauma itu yang menciptakan Jarvis seperti sekarang. Kejam, dan tidak berperasaan. Seperti film Joker.” sahut Lindsey.
“Jadi, klien kita menyewa jasa kita untuk merebut usaha emasnya dari tangan Jarvis?” tanya Katie.
“Merebutnya mungkin akan sulit dan mereka tahu itu. Mereka menyuruh kita untuk menguras habis harta Jarvis sampai ke akar-akarnya.” jawab Kapten.
“Apa Kapten pernah bertemu secara langsung dengan klien kita?” tanya Lindsey.
__ADS_1
“Tidak.” jawab Kapten.
“Klien kita adalah orang Italia?” tanya Lindsey.
“Ya.” jawab Kapten.
“Lantas, darimana Kapten tahu semua itu? Kapten dengan klien kita saja tidak pernah bertelepon lebih dari 5 menit.” tanya Lindsey.
“Benar juga, Kapt. Darimana juga Kapten bisa mengenal klien orang Italia? Baru kali ini kita mendapat klien dari luar negeri. Apakah kita sudah terkenal sampai ke luar negeri?” sahut Katie.
“Aku hanya mendapat panggilan telepon saja. Aku bisa tahu semua itu karena Lexis pernah bercerita mengenai perseteruan antara Jarvis dan pamannya.” ucap Kapten.
“Om Lexis ternyata mengenal Jarvis? Bagaimana bisa?” tanya Lindsey.
“Soal itu aku kurang tahu, Lindsey.” jawab Kapten.
“Aku yakin pasti om Lexis mengetahui banyak tentang perseteruan antara Jarvis dan pamannya.” balas Lindsey.
“Om Lexis sudah meninggal, kita tidak bisa menanyakan banyak hal padanya.” ucap Katie.
“Itu dia.” balas Lindsey.
“Tapi satu hal yang pasti, om Lexis berpihak pada klien kita. Kalau berpihak pada Jarvis..” ucap Piter.
“Tidak mungkin Jarvis membunuhnya.” sambung Katie.
“Aku juga berharap tidak ada satu di antara kita yang pindah haluan.” sahut Kapten.
Mata mereka tertuju pada Lindsey yang dengan polosnya mengunyah pizza.
“Apa? Kenapa semuanya melihat aku?
Oh ya, Kapt, aku rasa Katie juga harus melakukan tugas yang sama seperti aku. Bagaimana dengan Carlos? Dia jauh lebih mudah untuk dikorek. Pasti akan lebih cepat misi kita selesai kalau Katie juga mendekati Carlos.” ucap Lindsey.
“Tidak bisa. Carlos tidak mudah didekati. Tidak semudah Jarvis.” balas Katie.
“Tapi mulut Carlos lebih lemas dari Jarvis.” ucap Lindsey.
“Apa yang dikatakan Lindsey benar. Sebaiknya kamu juga mendekati Carlos. Apalagi kalau Katie bekerja sebagai sekretaris di JM Buildings. Kamu memiliki banyak kesempatan emas, Katie.” balas Kapten.
Piter menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bahkan di dalam geng kita kamu menggunakan kemampuan melobimu, Lindsey?”
“Bubar, bubar. Pesta berakhir. Kembali ke kamar masing-masing. Besok kalian kan akan bekerja sungguhan.” ucap Kapten yang merujuk kepada Lindsey dan Katie.
“Yaaahhh.... Kok bubar? Minumannya kan belum habis???” protes Katie.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih