Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Keluarga


__ADS_3

halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku rencananya up 3 episode tapi aku kasih 💙 bonus akhir bulan 💙 ya heheheeh jadi up 5 episode sekaligus.. jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻


sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻


...****************...


“Apalagi kalau buah yang sudah dipotong, kulit dan bijinya dibuang.” ucap Jarvis sambil menatap Lindsey.


Semoga kamu masih ingat, Lindsey... batin Jarvis sambil menatap mata Lindsey.


“Wah aku juga! Tapi kata Mommy, Noah pemalas dan banyak maunya.” ucap Noah.


“Bagaimana kalau tangan kita sedang sakit? Kita tidak bisa melakukannya sendiri?” tanya Jarvis yang masih menatap Lindsey.


“Yang tangannya baik-baik saja yang harus melakukannya!” jawab Noah.


“Cepat habiskan es krimmya. Sudah mau mencair, tuh.” ucap Lindsey.


Jarvis mengantar Lindsey dan Noah pulang ke rumah lalu kembali pergi ke kantor.


“Eh Noah sudah pulang! Main game, yuk!” ucap Piter setibanya Lindsey dan Noah di rumah.


“Aku mau mandi dulu ya, om..” balas Noah.


“Ok dehhh!”


Lindsey dan Noah naik ke kamar dan mandi.


“Tapi bayarannya sangat besar sekali, Kapt. Apalagi kalau dolar amerika ditukar ke rupiah. Itu besar sekali. 1,1 Milyar, Kapt.” Piter menunjukkan perhitungannya di ponselnya.


“Tapi Lindsey dan Noah tidak bisa ikut. Karena Noah sudah sekolah sekarang.” balas Kapten.


“Ya sudah kita bertiga saja. Bukankah tugas laki-laki untuk mencari nafkah?” ucap Piter.


“Benar, Kapt. Lagipula hanya 5 hari dan 2 hari di perjalanan ke LA lalu kembali ke Jakarta lagi. Kapan lagi kita dapatkan 1,1 milyar dalam 7 hari?” sahut Luven.


Pintu kamar Noah terbuka. Keluarlah Noah dan Lindsey. “Habis makan nasi, makan buah ya, Mommy.” ucap Noah.


“Iya, Mommy potong buahnya saat Noah makan nasi.” balas Lindsey.


“Wangi sekali keponakan om!” ucap Piter.


Lindsey mengambilkan piring nasi beserta lauknya untuk Noah. “Mommy, Noah mau makan di sana sama om sama Daddy.” ucap Noah.


Lindsey membawa piring Noah beserta piring dan 1 buah pepaya yang ingin dipotongnya ke ruang tengah.


“Klien kita di LA ingin menggunakan jasa kita lagi, Lindsey. Dia memberikan $75.000 untuk kita.” ucap Luven.


“Oh, ya? Wow.. aku pikir tidak ada yang mau memakai kita lagi karena sudah berada di Jakarta.” balas Lindsey.


“Aku, Piter, dan Luven akan ke LA malam ini. Karena perjalanan ke sana membutuhkan waktu 1 hari.” ucap Kapten.


“Kamu dan Noah tidak apa-apa kan kalau kita tinggal? Kita hanya 7 hari saja.” tanya Luven.


“Tentu saja. Aku kan tidak sendiri di sini.” jawab Lindsey.


“Sekalian aku akan mengurus perpindahan kampus. Aku tidak ingin kuliah di sana lagi.” ucap Piter.


“Jadi om sama Daddy mau kembali ke rumah kita yang lama?” tanya Noah.


“Hanya 7 hari, Noah. Tidak apa-apa, ’kan?” balas Kapten.

__ADS_1


“Nanti Daddy ke sini lagi?” tanya Noah.


“Pasti dong. Daddy ’kan tidak bisa berlama-lama jauh dari Noah.” jawab Kapten.


“Ok, Daddy. Jangan lupa beli buah yang banyak, ya!” ucap Noah.


Lindsey menggeleng-gelengkan kepalanya.


19.00


Mereka semua sedang menyantap makan malam bersama di meja makan.


“$75.000? Minta $80.000. Kalian kan jauh ke sana, ongkosnya mahal.” ucap Katie.


“$75.000 cukup kok.” sahut Luven.


“Kalian tenang saja. Aku yang akan menjaga Lindsey dan Noah di sini.” balas Katie.


“Lebih baik kamu menjaga dirimu sendiri saja.” sahut Lindsey.


Ting.. tong..


“Dia belum tahu PIN rumah kita?” tanya Luven.


“Belum. Kalian tidak ada yang memberitahunya?” balas Kapten.


“Biar aku saja yang buka!” Noah mengajukan diri untuk membuka pintu.


“Om Apis!”


“Noah! Lihat ini!”


“Woah! Buah apa ini, om?” tanya Noah.


“Oh, buah kelengkeng seperti ini rupanya! Terima kasih, ya, om!” balas Noah.


“Sama-sama, Noah.” Jarvis dan Noah masuk ke ruang tengah.


“Jarvis, sudah makan?” tanya Katie.


“Sudah. Tidak perlu khawatirkan aku. Lanjutkan saja makan kalian.” jawab Jarvis.


“Sepertinya kita harus ke bandara sekarang.” ucap Piter.


“Noah, mau ikut aunty antar Daddy sama om ke bandara?” tanya Katie.


“Mommy?”


“Mommy tidak ikut, Noah. Mommy mau beberes setelah makan malam.” jawab Lindsey.


“Hm, kalau begitu aku juga tidak ikut.” balas Noah.


“Daddy pergi dulu ya, Sayang. Jangan nakal, nurut sama Mommy, ok?” ucap Kapten.


“Ok, Daddy.” balas Noah.


“Om juga pergi dulu, ya. Nanti kita video call an, ya.” ucap Luven.


“Ok, om.”


“Om juga pergi dulu. Jaga Mommy dari om Apis, ya. Karena om Apis itu nakal.” bisik Piter.

__ADS_1


“Nakal bagaimana, om?” tanya Noah.


“Suka jahilin Mommy. Pokoknya Noah jaga Mommy terus, ya? Ok?” bisik Piter.


“Ok, om!”


“Bye, Noah...” Tiga laki-laki dewasa itupun pergi keluar dengan membawa koper. Katie juga pergo mengantar mereka ke bandara.


Kini tersisa 3 orang di rumah. Jarvis, Lindsey, dan Noah.


“Yah.. rumahnya jadi sepi deh..” ucap Noah.


“Om Apis! Om Apis sedang apa?” tanya Noah yang menghampiri Jarvis di sofa.


Kala itu Jarvis sedang memandangi sketsa sebuah bangunan rumah di tabletnya. “Woah.. keren sekali rumahnya, om!” ucap Noah ketika melihat sketsa rumah di tablet Jarvis.


Jarvis tersenyum. “Terima kasih, Noah.”


“Om, sebelum om tinggal di sini, om tinggal dimana?” tanya Noah.


“Di kondominium, Noah.” jawab Jarvis.


“Kondominium itu apa, om?” tanya Noah.


“Sama seperti apartemen tetapi lebih mewah dan memiliki hak kepemilikan. Kalau apartemen biasa, Noah hanya bisa menyewa saja.” jawab Jarvis.


“Kenapa om tidak tinggal di rumah?” tanya Noah.


“Karena om Jarvis belum memiliki keluarga. Rumah itu terlalu besar untuk satu orang saja.” jawab Jarvis.


“Jadi om Apis tinggal sendiri?” tanya Noah.


“Iya.”


“Kalau begitu biar aku saja yang menjadi keluarga om Jarvis. Jadi, kita bisa tinggal bersama.” ucap Noah.


“Hm, ide bagus, Noah! Tapi 2 orang saja masih belum cukup.” balas Jarvis.


“Mommy, kita jadi keluarganya om Apis, yuk! Supaya om Apis tidak tinggal sendiri lagi.” ucap Noah ke Lindsey yang berada di dapur sedang mencuci piring.


Jarvis tersenyum lebar.


“Noah, sudah malam. Waktunya tidur, besok kan sekolah.” ucap Lindsey.


“Mommy, ayo jadi keluarganya om Apis. Kasihan om Apis tinggal sendiri. Kalau Daddy ’kan ada om Piter, om Luven sama aunty Katie. Jadi Daddy tidak tinggal sendiri.” ucap Noah.


“Sekarang ’kan om Apis tinggal bersama kita di sini. Lagi pula bukankah Noah senang kalau rumah ini ramai? Kalau tinggal bersama om Jarvis nanti kita hanya bertiga loh.” balas Lindsey.


“Tidak. ’Kan nanti Noah punya adik.” ucap Noah.


“Hah?”


“Iya, teman-teman Noah bilang kalau kita sudah besar nanti kita punya adik. Noah ’kan sekarang sudah besar. Teman-teman Noah juga sudah ada yang memiliki adik. Ayooo, Mommy.. Noah mau punya adik.” ucap Noah.


“Noah, adik itu pemberian Tuhan. Noah tidak bisa meminta sama Mommy. Ayo naik ke kamar tidur, sudah malam.” balas Lindsey.


Dengan cemberut, Noah naik ke kamar bersama Lindsey.


“Ya Tuhan, Noah ingin punya adik, laki-laki atau perempuan apa saja tidak apa-apa, Noah tidak ingin om Apis tinggal sendiri lagi ya Tuhan. Amin.” ucap Noah lalu menarik selimutnya untuk tertidur.


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2