
halo semuanya.. maaf kemarin ga sempet up. sebagai gantinya hari ini aku up banyakan yaa tp episode yg lainnya segera menyusul.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻
...****************...
Jam 19.30
Rumah markas
Katie sampai di rumah setelah pulang bekerja. Dia melihat Lindsey, Piter dan Kapten sedang berkumpul di ruang tengah sambil berdiskusi serius. Ada sebuah peta yang terpampang di atas meja.
“Tidak, Kapt. Kita harus lewat jalan yang ini. Ini jalan yang tercepat untuk sampai ke bandara.” ucap Lindsey.
“Tapi disini akan melewati tol, dan di tol itu terkadang ada pengecekan isi truk. Bagaimana?” balas Kapten.
“Iya, tidak bisa, Lindsey. Kita hanya bisa lewat jalan yang ini.” sahut Piter.
“Bagaimana kalau kita ketahuan karena lambat?” tanya Lindsey.
“Kalian sedang apa?” tanya Katie yang ikut hadir di tengah mereka.
“Jarvis sudah pergi?” tanya Kapten.
“Iya, sudah pergi. Aku tidak ikut karena dia tidak percaya lagi denganku.” jawab Katie.
“Dia pergi dengan apa?” tanya Piter.
“Jet pribadinya. Kalian sedang apa, sih?” jawab Katie.
“Kita akan mengambil emas itu sekarang. Aku, Lindsey, dan Piter akan ke markas Jarvis. Katie, kemasi barangmu dan bawa koper-koper itu ke bandara setelah aku berikan perintah. Kita akan pergi ke Las Vegas setelah misi ” ucap Kapten.
Lindsey, Kapten, dan Piter sudah mengemas barangnya terlebih dahulu tadi siang. Sesuai rencana, setelah mengambil emas itu, mereka akan pergi ke bandara menuju Las Vegas.
“Demi apa?! Las Vegas?” tanya Katie terkejut.
__ADS_1
“Iya. Aku dan Lindsey sudah mengasah kemampuan kita bermain Poker. Kita akan pergi ke kasino, menghamburkan uang sepuasnya di sana!” jawab Piter.
“Apakah emas-emas itu akan ikut bersama kita?” tanya Katie.
“Ya, tidak lah. Emas sebanyak itu bagaimana caranya melewati proses pengecekan di bandara.” jawab Piter.
“Lalu kalau sudah berhasil mengambil emas itu, akan diapakan?” tanya Katie.
“Kita akan menyimpannya di tempat yang aman.” jawab Kapten.
“Baiklah. Kita akan berangkat. Aku dan Piter akan berangkat dengan mobil Lindsey. Lindsey akan menjadi sopir kita malam ini. Lalu akan disusul 8 truk di belakang.” ucap Kapten kemudian.
“Semoga berhasil!” seru Katie.
Mereka mengumpulkan tangan kanan mereka di tengah dan melambungkannya ke atas sambil bersorak mengucapkan moto kelompok mereka.
“Cura, ut valeas!”
“Cura, ut valeas!”
“Cura, ut valeas!”
Dan jalanan yang dia telusuri sekarang adalah jalanan yang pernah dia telusuri bersama Jarvis saat subuh hari ke markas Jarvis untuk pertama kalinya. Setiap hal kecil mengingatkannya kembali pada Jarvis. Hubungan mereka sudah berakhir tadi siang, karena itulah Lindsey menjadi galau sekarang.
Sementara Kapten dan Piter memperhatikan jalanan. Setiap melewati jalan baru, Piter selalu meretas CCTV yang ada di jalanan tersebut agar mereka tidak meninggalkan jejak dan sulit dilacak.
Karena mobil Lindsey memiliki kecepatan yang lebih tinggi, mereka sudah tiba di tol menuju pulau tempat markas Jarvis berada setelah mengendarai mobil selama 3 jam.
“Baik, kita setelah beberapa ratus meter lagi kita akan keluar dari tol dan tiba di pulau itu. Retas semua CCTV yang ada.” ucap Kapten.
Mobil Lindsey akhirnya tiba di pulau pribadi markas Jarvis beserta 8 truk yang mengekorinya di belakang. Jantung Lindsey berdegup kencang. Misi mereka mendekati garis akhir. Atas semua perjuangan yang telah mereka semua kerahkan, tibalah hari yang mereka tunggu-tunggu.
Lindsey menurunkan kaca jendelanya sedikit agar bisa merasakan hembusan angin dari pantai saat dia berkendara. Bahkan hembusan angin saja kembali mengingatkannya pada Jarvis yang katanya berjanji membawanya ke pantai itu kembali di lain waktu.
__ADS_1
Namun bukan Jarvis tidak bisa menepati janjinya, tapi karena Lindsey yang menolak semua yang telah Jarvis janjikan. Perlahan, mobil Lindsey dengan mulusnya melaju menuju markas Jarvis. Jantungnya berdetak semakin kencang tidak karuan.
Akhirnya mobil Lindsey dan 8 truk tiba di markas Jarvis pada 11.20 malam. Lindsey, Kapten, dan Piter pun turun dari mobil dengan berpakaian yang serba hitam. Lindsey mengenakan kaos hitam dilapisi jaket kulit berwarna hitam, topi dan kacamata.
Mereka memasuki markas Jarvis. Sementara pengendara truk yang lainnya membuka pintu truk kontainer untuk bersiap. Lindsey berjalan lurus di dalam markas Jarvis, diekori 2 orang di belakangnya, dengan Piter yang sudah bersiap laptop di tangannya untuk meretas kunci keamanan ruang bawah tanah tempat emas Jarvis berada.
Memori saat hanya ada dirinya dan Jarvis di markas itu kembali berputar tanpa seizinnya. Dengan api unggun di tengah mereka yang menghangatkan percakapan dingin mereka kala itu. Bahkan baru beberapa jam setelah berpisah dengan Jarvis, namun Lindsey sudah merasa rindu.
Lindsey mengangkat sebuah spanduk yang menutupi pintu ruang bawah tanah dan bergantian Piter yang beraksi; meretas kunci keamanan pintu agar bisa terbuka. Misi mereka semakin mendekati akhirnya. Perut Lindsey pun seketika terasa mules saking gugupnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Piter berhasil membuka pintu tersebut. Lindsey lah orang pertama yang masuk setelah pintu itu terbuka. Dan kakinya melemas, seperti ada yang menyerang jantungnya, membuat dia terkejut sampai ingin pingsan ketika melihat ruang bawah tanah itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada tumpukan emas batangan seperti yang dia lihat waktu itu. Hanya ada debu yang menempel di sana.
Kapten dan Piter pun ikut menyaksikan ruang bawah tanah yang kosong itu. Jangankan mengambil semua emas itu, melihatnya saja mereka gagal. “Ini jebakan!” seru Kapten.
“Cepat keluar dari sini!” seru Kapten berikutnya. Kapten meraih tangan Piter dan Lindsey, mengajak mereka berlari keluar dari markas itu. Mereka berlari kencang semampu mereka untuk segera keluar dari markas itu.
Lindsey sambil berpikir jebakan apa yang dipasang Jarvis. Sekitar 3 langkah lagi mereka keluar dari markas itu, dan duar...!!! Terjadi sebuah ledakan di markas. Tubuh mereka bertiga terhempas keluar dari markas dan jatuh tersungkur ke tanah.
“Kalian tidak apa-apa?” Kapten bangun dari posisinya dan memeriksa Piter dan Lindsey.
“Argh.. laptopku!” Piter mengecek keadaan laptopnya.
Lindsey juga terbangun, menyaksikan kebakaran yang melahap markas itu. Semakin jelas sudah apa yang dikatakan Kapten. Bahwa ini adalah jebakan.
Mereka gagal. Bukannya mendekati akhir, justru rasanya mereka harus mengulang kembali misinya dari awal lagi.
“Kita harus segera pergi dari sini. Ayo.” ucap Kapten lalu berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu mereka berdiri.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1