Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Motif


__ADS_3

Mata Katie pun juga tertuju pada Lindsey sebelum dia mendaratkan bok*ngnya di kursi. Meski duduk berjauhan, ujung ketemu ujung, tapi mereka berada di tempat yang sama. Mana pula restoran itu tidak ramai kalau siang hari. Banyak meja dan kursi yang kosong sehingga dalam sekali tengok pun Jarvis akan melihat Lindsey.


Katie pun ikut membulatkan matanya begitu melihat Lindsey.


Kamu ngapain disini? Katie menyiratkan kalimat tersebut dari gerak-gerik matanya.


“Aku—aku tidak tahu.” ucap Lindsey.


“Hm?”


“Hm, maksudku tidak ada..” ucap Lindsey kemudian.


“Oh, mungkin kamu banyak yang dekati tapi kamu tidak tahu harus memilih yang mana, ya... Mama mengerti karena mama dulu pas muda juga seperti itu.. hahaha..” balas bu William.


Ting..


Katie.


Kamu ngapain disini, woy


Lindsey.


Harusnya aku yang bertanya. Aku kan sudah bilang di telepon tadi.


Katie.


Kita ingin menemui calon pembeli gedung di sini.


Lindsey.


Lalu nasibku bagaimana?


“Tan, om, kayaknya kita harus kembali ke firma. Jam makan siang sudah mau habis, soalnya.” celetuk Luven.


Lindsey menatap Luven. Bagaimana aku keluarnya? Itu artinya aku harus melewati Jarvis dulu! batin Lindsey.


Lindsey.


Weh.. aku mau pulang...


Tapi harus melewati Jarvis...


Katie.


Lewat saja, Linds. Nanti aku alihkan pandangan Jarvis...


Lindsey.


Bagaimana dengan Carlos? Mata dia tajam, lho.


Katie.


Gampang...

__ADS_1


“Yah... Cepat sekali, ya... Ya sudah, deh. Kita juga sekalian pulang ya, pa.” ucap bu William.


“Ya, sudah. Ayo, keluarnya barengan saja.” sahut William.


Mereka berempat serempak bangkit dari kursinya dan ingin berjalan keluar dari restoran. Tidak perlu ditanya lagi seberapa lemasnya kaki Lindsey sekarang saat mengetahui bahwa dia harus berjalan melewati Jarvis.


Bu William menggandeng tangan Lindsey saat berjalan sedangkan William dan Luven berjalan mendahului mereka.


“Terima kasih, ya, Lindsey... Sudah mau datang dan menjadi bagian dari keluarga kita.” ucap bu William.


“Justru aku merasa terhormat dan bersyukur, aku bisa diterima di keluarga kalian.” balas Lindsey.


Langkah kaki mereka semakin mendekat ke Jarvis. Lindsey semakin takut, gemetaran hingga merasa lemas di sekujur tubuhnya.


Mata Lindsey dan Katie bertemu. Lindsey memberi kode bahwa Katie hsrus mengalihkan pandangan dua laki-laki itu karena Lindsey semakin mendekat.


Katie berpura-pura menyenggol cangkir berisi teh yang tumpah ke pakaian Jarvis.


“Whoops! Maaf, maaf. Maaf, Jarvis. Aduh! Maaf sekali!” ucap Katie yang bangkit dari kursinya, mengambil beberapa lembar tisu dengan asal dan berdiri di samping Jarvis agar Jarvis dan Carlos tidak melihat Lindsey.


Nice, Kat. batin Lindsey.


Lindsey merasa aman dan dapat keluar bersama mama angkatnya itu. Namun tiba-tiba langkah mama William terhenti.


“Eh, Lindsey.. mama minta nomor ponsel kamu, dong.” Mama terhenti sejenak, mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


“Lindsey?” ucap Jarvis. Jarvis menengok ke sekitar, mencari asal suara yang memanggil Lindsey itu. Katie semakin mendekatkan tubuhnya agar pandangan Jarvis dan Carlos terhalang.


“Oh.. iya... Sambil jalan saja yuk, ma.” ucap Lindsey dan lanjut berjalan bersama mamanya keluar dari restoran. Lindsey mengedipkan sebelah matanya pada Katie sebelum pergi.


“Hah? Kamu kenapa, Jarvis?” balas Katie.


“Tadi jelas sekali aku mendengar ada yang memanggil Lindsey.” ucap Jarvis.


“Hah? Tapi tidak ada Lindsey di sini... Mungkin pelayan mengucapkan ‘Permisi’ di meja sebelah tapi kamu salah dengar jadi ‘Lindsey’.” balas Katie.


“Iya, Jarvis. Lebih baik kamu bersihkan dulu ke toilet sana.” sahut Carlos.


“Ya, ya, baiklah.” balas Jarvis lalu bangkit berdiri.


“Maaf ya, Jarvis.” ucap Katie.


“Untung aku tidak jadi makan siang dengan Lindsey..” balas Jarvis lalu pergi ke toilet.


...****************...


“Nanti Lindsey main ke rumah kita, ya. Kita tidak sabar ingin mengenalkan kamu ke anak kita yang lain.” ucap William.


“Iya, nanti kabar-kabaran saja, ya.” tambah bu William.


“Iya, siap. Aku akan meluangkan waktu.” balas Lindsey.


“Kalau begitu kita pergi dulu ya, om, tante.” sahut Luven.

__ADS_1


“Iya, hati-hati ya.”


Mereka saling melambaikan tangan sebelum mobil Luven meninggalkan restoran.


...****************...


...****************...


Jam 22.00


Rumah markas.


“Errgghh..!! Hari yang melelahkan!” Lindsey merebahkan tubuhnya di atas sofa. Di saat inilah tubuhnya baru beristirahat. Hari ini adalah hari yang produktif baginya. Dia pergi ke mall dan mencobai beberapa pasang baju, lalu pergi menemui orangtua angkatnya, kembali ke firma dan pergi lagi ke rumah orangtua Luven.


Singkat cerita, saat makan malam di rumah orangtua Luven, orangtua Luven menentang keras hubungan mereka. Orangtua Luven justru mempercepat tanggal pernikahan Luven. Akting mereka untuk menggagalkan pernikahan tersebut belum berhasil. Itu semua karena mereka belum mengeluarkan kartu emas mereka. Orangtua Luven tidak mengetahui siapa orangtua Lindsey, dan Luven berniat mengeluarkan kartu emas tersebut dengan rencananya sendiri.


“Lindsey, tidakkah kamu merasa aneh? Sepasang suami-istri yang memiliki kekuasaan dan nama, tiba-tiba menerima tawaran Luven dan bersedia menjadikanmu sebagai anak mereka? Terlepas dari apapun alasannya, mereka butuh anak perempuan lah, atau apalah, tetap saja aneh sekali mereka ingin mengadopsimu yang bahkan kalian tidak pernah bertemu?” oceh Katie.


“Aku rasa Luven ‘menawarkan’ sesuatu kepada mereka sehingga mereka mau mengadopsi Lindsey.” sahut Piter.


“Apa kamu ‘dijual’ Luven ke mereka?” tanya Katie.


“Tapi masalahnya tidak ada sisi dari Lindsey yang ‘menjual’. Apa keuntungannya kalau Luven ‘menjual’ Lindsey? Nama tidak ada, kekuasaan tidak, keahlian dalam hukum juga tidak.” sahut Kapten.


Benar juga. Tidak mungkin mereka tiba-tiba bersedia mengadopsiku, dan sangat baik ke aku yang tidak pernah mereka temui. batin Lindsey.


“Dan bukankah Lindsey sudah terlalu dewasa untuk diadopsi?” sahut Katie.


“Ini si Luven sepertinya serigala berbulu domba. Sepertinya dia memiliki motif tersembunyi, ya, ga, sih?” ucap Piter.


“Oh, ya. Tadi siang Luven mengirimkan semua barang itu.” Kapten menunjuk ke arah kumpulan paperbag yang berjajar di samping sofa.


Lindsey bangkit berdiri. Perlahan dia mendekati kumpulan paperbag tersebut. Dan syok ketika melihat isinya adalah pakaian beserta sepatu yang dia coba tadi di mall.


“Di struk totalnya hampir 40 juta, loh ya, Lindsey. Luven tidak mungkin melakukannya secara cuma-cuma, kan?” ucap Piter.


“Em-empat—empat puluh juta?!” tanya Lindsey tidak percaya.


“Nih, lihat sendiri struknya!” Piter menempelkan struk ke dahi Lindsey bak vampir.


“Whoa! Gila!”


“Tapi coba kamu balik kertas struknya. Dia meninggalkan sebuah pesan.” ucap Kapten.


Pakai ini saat bertemu orangtuaku. —Luven


“Tetap saja. 40 juta itu berlebihan untuk seorang teman yang baru saja dia kenal. Banyak kok butik yang murah tapi bajunya bagus bagus. Kamu jangan terlena dulu, Lindsey. Justru kamu harus menyelidiki motif Luven yang sebenarnya.” sahut Katie.


“Benar. Kalau membutuhkan bantuan untuk menggagalkan pernikahan, kenapa harus kamu yang dia tunjuk untuk dimintai bantuan? Dia ’kan koneksinya luas, kenapa tidak mencari bantuan dari orang lain saja?” tambah Kapten.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2