Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Persidangan 2


__ADS_3

halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Keberatan ditolak. Jaksa penuntut, pengacara pembela hanya menanyakan apakah anda sudah memeriksa sumber informasi anda, bukan menanyakan siapa sumber informasi.” ucap hakim.


Satu seri. 1 vs 1


“Ya, Yang Mulia. Kami sudah memeriksa sumber informasi kami.” ucap Rivan.


“Pengacara pembela, silahkan lanjutkan.” ucap hakim ketua.


“Baik, Yang Mulia. Setelah mendapat informasi tersebut, anda langsung menggeledah kediaman terdakwa dan menemukan sebuah kotak berisi 15 kilogram nark*ba jenis kok*in.” ucap Lindsey.


“Ya, benar.” balas Rivan.


“Apakah anda sudah memeriksa apakah 15 kilogram nark*ba tersebut adalah milik terdakwa?” tanya Lindsey.


“...” Rivan sempat terdiam. Kemudian dia menjawab pertanyaan Lindsey. “Bukankah itu tidak perlu diperiksa lagi?” ucap Rivan.


“Anda sudah memeriksa atau belum?” tanya Lindsey.


“Itu ditemukan di kediaman terdakwa. Sudah jelas it—” jawab Rivan.


“Jadi, anda belum memeriksa apakah 15 kilogram nark*ba tersebut betul betul milik terdakwa?” tanya Lindsey.


“Apa? Jaksa belum memeriksa kepemilikan nark*ba itu?”


“Bagaimana bisa Jaksa tidak memeriksanya terlebih dahulu?”


“Jaksa terlihat becus di sini.”


Rivan bangkit berdiri. “Yang Mulia, 15 kilogram nark*ba tersebut ditemukan di kediaman terdakwa. Itu cukup membuktikan kalau nark*ba adalag milik terdakwa.” ucap Rivan.


“Belum tentu, Yang Mulia. Kita ambil contoh, jika seorang sopir meninggalkan sebuah payung di mobil anggota dewan Roland, apakah bisa langsung diklaim kalau payung itu adalah milik anggota dewan Roland? Mobil itu memang milik anggota dewan Roland, namun belum tentu semua milik anggota dewan Roland.” ucap Lindsey mematahkan argumen Rivan.


“Analogi yang masuk akal.”


“Pengacara lebih unggul di sini.”


“Yang Mulia, kotak yang berisi 15 kilogram nark*ba tersebut ditemukan di kamar terdakwa. Kamar yang hanya ditempati terdakwa dan istrinya. Jadi bisa dipastika—” ucap Rivan yang terpotong.


“Tempat ditemukannya nark*ba adalah di kamar yang ditempati oleh dua orang. Dan setiap harinya pelayan masuk untuk membersihkan kamar itu. Artinya kemungkinan nark*ba itu milik terdakwa sangat kecil sekali.” balas Lindsey.


“Kalau bukan milik terdakwa, nark*ba itu milik siapa? Istri terdakwa? Pelayan?” balaa Rivan.


“Itu sebabnya saya di awal bertanya apakah anda sudah memeriksa kepemilikan nark*ba yang anda ditemukan? Sekian, Yang Mulia.” ucap Lindsey lalu kembali berjalan ke mejanya dan duduk di kursi.


Hakim dan majelis hakim melakukan pertimbangan untuk memutuskan permohonan eksepsi tersebut secara sederhana, maka sidang diskors selama beberapa menit untuk menentukan putusan sela.


Hakim meninggalkan ruang sidang untuk membahas/mempertimbangkan putusan sela di ruang hakim, sedangkan jaksa penuntut umum, terdakwa/penasehat hukum serta pengunjung sidang tetap tinggal di tempat.


Setelah hakim sudah mempertimbangkan putusan sela, hakim mencabut skorsing atau membuka sidang kembali. Hakim menetapkan bahwa sidang pemeriksaan perkara harus diteruskan maka acara persidangan memasuki tahap pembuktian yaitu pemeriksaan terhadap alat bukti-bukti dan barang bukti yang di ajukan.


Jaksa menghadirkan saksi korban ke dalam ruang sidang. Dan saksi tersebut adalah pelayan yang biasa membersihkan dan merapikan kamar Roland.


“Sudah berapa lama anda membersihkan dan merapikan kamar terdakwa dan istri?” tanya Rivan.


“Sudah 17 tahun.” jawab pelayan.


“Yang Mulia, terdakwa dan istri tidak membiarkan pelayan lain selain beliau untuk masuk ke kamar mereka.” ucap Rivan.

__ADS_1


“Silahkan dilanjutkan.” ucap hakim.


“Apakah anda menyadari ada sebuah kotak besar di bawah ranjang?” tanya Rivan.


“Iya.” jawab pelayan.


“Sudah berapa lama anda menyadari ada kotak tersebut di bawah ranjang?” tanya Rivan.


“Sudah 3 hari.” jawab pelayan.


“Apakah anda tahu kotak itu milik siapa?” tanya Rivan.


“Itu milik tuan. Sopir menyuruh saya menaruh kotak itu di bawah ranjang. Karena hanya saya yang boleh masuk ke kamar tuan.” jawab pelayan.


“Sekian, Yang Mulia.” ucap Rivan lalu kembali duduk.


“Bagaimana pengacara pembela? Apa yang ingin ditanyakan kepada saksi?” tanya hakim.


“Tidak ada, Yang Mulia. Namun saya ingin menghadirkan seorang saksi.” jawab Lindsey.


“Pengajuan diterima. Silahkan.” ucap hakim.


Pemanggilan saksi yang kedua yaitu sopir pribadi Roland.


“Anda yang menyuruh pelayan menaruh kotak itu di bawah ranjang? Apa anda tahu apa isi kotak tersebut?” tanya Lindsey.


“Tidak tahu.” jawab sopir.


“Darimana anda dapatkan kotak tersebut?” tanya Lindsey.


“Dari seorang sopir yang makan siang bersama tuan saat itu.” jawab sopir.


“3 hari sebelum kejadian.” jawab sopir.


“Apa yang dikatakan sopir itu saat menyerahkan kotak?” tanya Lindsey.


“Dia hanya mengatakan disuruh letakkan di bawah kasur.” jawab sopir.


“Apakah anda melihat wajah orang yang makan siang bersama tuanmu saat itu?” tanya Lindsey.


“Saya melihatnya.” jawab sopir.


“Apakah wajahnya seperti ini?” tanya Lindsey seraya menunjukkan foto Zoe ke sopir.


“Iya, benar. Dia orangnya.” jawab sopir.


“Satu pertanyaan terakhir. Apakah tuanmu pulang ke kediamannya sejak makan siang itu?” tanya Lindsey.


“Tidak. Tuan menginap di rumah mertuanya selama 2 hari. Lalu esok harinya, tuan sampai di rumah jam 11 malam dan jam 1 terjadi penggeledahan.” jawab sopir.


“Yang Mulia, dapat disimpulkan bahwa terdakwa dijebak atas kasus ini oleh seorang anggota dewan yang sudah ditangkap sebagai pengedar beberapa hari yang lalu. Terdakwa tidak menyadari adanya kotak itu ada di dalam rumahnya terutama di kamarnya karena terdakwa tidak pulang ke rumah.” ucap Lindsey.


Apa?! Lindsey kini melimpahkan kesalahan kliennya ke Zoe?! batin Rivan.


“Keberatan, Yang Mulia! Yang dikatakan oleh pengacara pembela hanya asumsi pribadi saja.” Rivan bangkit berdiri.


“Bagaimana kalau kita memanggil Zoe Todd yang baru ditangkap beberapa hari yang lalu sebagai pengedar nark*ba?” balas Lindsey.


“Pengajuan diterima. Pemanggilan saksi ketiga akan dilanjutkan di persidangan berikutnya yang akan dilaksanakan 2 hari lagi. Sidang ditunda.” ucap hakim dan diakhiri dengan ketukan palu. Tok.. tok.. tok..


Akhirnya sidang yang penuh ketegangan dan cukup membuat Lindsey berkeringat itu berakhir setelah 4 jam berlangsung. Lindsey mengembuskan napas lega karena akhirnya dia bisa bernapas sejenak. Meski sidang belum sepenuhnya berakhir, Lindsey dan Rivan akan saling berhadapan lagi dalam 2 hari.

__ADS_1


"Hakim akan meninggalkan ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri."


Semua yang hadir di ruangan sidang tersebut berdiri. Hakim dan majelis hakim meninggalkan ruang sidang melalui pintu khusus. Para pengunjung sidang berangsur-angsur meninggalkan ruang sidang.


“Persidangan yang bagus, Lindsey.” ucap Roland kepada Lindsey.


“Aku akan melakukan yang terbaik sampai persidangan berakhir, om.” balas Lindsey.


Rivan dan bawahannya keluar dari ruang sidang, begitu juga dengan Lindsey dan Roland.


Rivan dan bawahannya berhadapan dengan media yang sudah menunggu di depan gedung.


“Bagaimana tanggapan anda di persidangan tadi?”


“Apakah 15 kilogram itu benar milik anggota dewan Roland?”


“Kalau kotak itu milik Zoe Todd, apakah hukumannya akan bertambah?”


“Apakah ada kemungkinan Zoe Todd akan dihukum mati?”


“Apa anda yakin bahwa anggota dewan Roland bersalah?”


“Berikan tanggapan anda!”


Rivan dan bawahannya tidak memberikan tanggapan satu katapun dan memilih berjalan melewati kerumunan media.


Bergantianlah dengan Lindsey dan Roland yang berjalan keluar, menghadapi kerumunan media.


“Bagaimana tanggapan anda atas persidangan tadi?”


“Apakah kotak itu milik Zoe Todd?”


“Apakah anda tidak sedang melimpahkan kesalahan ke Zoe Todd?”


“Apakah anda yakin bisa memenangkan persidangan ini 2 hari lagi?”


“Berikan tanggapan anda!”


Sama seperti Rivan, Lindsey dan Roland memilih untuk bungkam dan berjalan melewati kerumunan.


“Kerja bagus, Lindsey.” ucap Roland dari dalam mobilnya.


“Sampai bertemu 2 hari lagi, om.” balas Lindsey lalu mobil yang ditumpangi Roland melaju meninggalkan halaman gedung pengadilan.


Lindsey pun juga berniat untuk pergi. Ting...


Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


Jarvis.


Mau makan siang bersama?


Lindsey tersenyum.


Mereka makan siang bersama berempat. Lindsey berekspetasi hanya makan siang berdua saja dengan Jarvis, namun ternyata ada bala-balanya yaitu Carlos dan Katie.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2