
halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
“Waktunya mengganti perban.” ucap suster yang masuk ke kamar rawat Jarvis.
“Letakkan saja di sana. Saya memiliki perawat pribadi.” balas Jarvis.
Lindsey menunjuk dirinya dan bertanya. “Maksudmu itu aku?”
“Baiklah. Saya permisi dulu.” ucap suster dan keluar dari kamar rawat.
“Memangnya kamu bersedia kalau aku disentuh wanita lain? Tidak, ’kan? Cepat gantikan perbanku.” ucap Jarvis.
Lindsey membuang napasnya dengan kasar.
Laki-laki ini menyebalkan tapi ada benarnya juga! batinnya.
Lindsey mengganti perban yang ada di perut, telapak tangan, lengan, dan dahi Jarvis. Hampir rasanya dia ingin menyerahkan tubuh laki-laki yang penuh luka iñi kepada suster tadi. Namun setelah dipikir lagi, dia sangat tidak ikhlas melihat Jarvis disentuh oleh wanita lain.
“Sudah!” ucap Lindsey setelah mengganti perban Jarvis.
“Terima kasih.” ucap Jarvis.
Lindsey kemudian kembali duduk di tepi ranjang dan menarik telapak tangan Jarvis.
Punya Lindsey !!!
Lindsey menuliskan 2 kata itu di perban yang terbalut di telapak tangan Jarvis. Disertai kejahilannya yang memberi penekanan pada saat membuat titik untuk tanda seru sebanyak tiga kali hingga membuat Jarvis kesakitan.
“Tangan ini hanya boleh digenggam dan menggenggamku!” ucap Lindsey.
Jarvis tersenyum, melihat tingkah Lindsey yang tidak berbeda dengan bocah yang tidak ingin barang miliknya disentuh oleh orang lain.
“Kenapa tersenyum? Apanya yang lucu?” tanya Lindsey.
“Tidak. Aku teringat pada bocah ingusan di taman tadi.” jawab Jarvis seraya menyembunyikan senyumannya.
...****************...
Malam hari, setelah selesai makan malam, Jarvis berdiri menghadap jendela, memandangi langit yang berwarna hitam dan beberapa bintang kecil yang berkelap kelip. Lindsey kembali dari wastafel setelah mencuci peralatan makan bekas makan malam Jarvis dan mendapati Jarvis sedang berdiri di jendela.
“Kenapa tidak berbaring di ranjang?” tanya Lindsey.
Lindsey berjalan menghampiri Jarvis. “Aku sedang mengamati bintang.” Jarvis merangkul bahu Lindsey.
“Kamu ingin beralih profesi menjadi astronom?” tanya Lindsey.
“Tidak. Aku hanya mengamati saja. Kamu lihat bintang yang itu? Bintang itu sebenarnya ada dua namun karena berdempetan, makanya terlihat seperti satu bintang. Dan karena ada dua, bintang itu bersinar paling terang.” jawab Jarvis.
“Whoaa...” Lindsey takjub melihat bintang yang ditunjuk Jarvis.
__ADS_1
“Daritadi aku menerka-nerka, apakah sebenarnya kedua bintang itu adalah janin kembar kita? Saat bintang itu berkelap-kelip, terlihat seperti sedang mengatakan sesuatu padaku. Mereka sedang mengawasi kita di atas sana.” ucap Jarvis.
“Mereka memang telah menjadi bintang. Tapi bukan di langit, namun di hatiku.” balas Lindsey.
Jarvis memeluk Lindsey dari belakang. “Mereka adalah bintang yang paling bersinar yang pernah ada.” ucap Jarvis.
...****************...
Lindsey menarik selimut Jarvis hingga ke atas, menyisakan kepala Jarvis saja dan memasukkan tangan Jarvis ke dalam selimut. Saat itu Jarvis sudah terlelap dalam tidurnya. Lindsey mengecup kening Jarvis.
“Mimpi indah, Sayangku.” bisik Lindsey.
Lindsey beralih ke sofa untuk tidur. Ponselnya tiba-tiba saja berbunyi dan membuat Lindsey ingin mengecek ponselnya.
Kapten.
Berkumpul di markas untuk rapat.
Lindsey membaca pesan itu kemudian menatap Jarvis yang berada di depan matanya, laki-laki yang sedang tertidur pulas itu.
...****************...
Rumah Markas
23.00
“Kita akan memulai pengambilan emas besok malam. Namun sebelum itu, ada yang harus kita lakukan. Menarik dana perusahaan JM Buildings. Kalian semua tahu apa yang dilakukan Jarvis untuk mendirikan JM Buildings. Bisa dibilang, ada haknya para korban juga di sana.” ucap Kapten.
“Kapten sudah membuat script-nya?” tanya Katie.
“Lindsey akan berperan sebagai makelar berkomisi yang membuat Dimas mau membuka rekening dan mengenaIkan Dimas kepada bank fiktif. Aku akan menjadi pegawai sales yang menarik nasabah. Piter dan Luven mengawasi uang yang masuk dari rumah.” ucap Kapten kemudian.
“Baiklah. Lalu dimana aku harus menemui Dimas ini?” tanya Lindsey.
“Di JM Buidings. Saat ini dipastikan Carlos dan Jarvis tidak akan datang ke sana.” jawab Kapten.
“Ini parfum yang aku dapatkan dari dukun. Pakai parfum ini saat di dekat dia maka dia akan langsung tertarik denganmu.” ucap Kapten kemudian memberikan sebotol parfum.
...****************...
Keesokan harinya.
09.00
Lindsey, Katie, dan Kapten berada di dalam mobil yang sudah terparkir di parkiran JM Buildings. Sambil menunggu kedatangan Dimas, Lindsey bersiap memakai wig rambut palsu dan kacamata.
“Itu Dimas! Lindsey, cepat turun!” ucap Kapten.
Lindsey pun turun dari mobil. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum andalannya.
Lindsey berdiri di samping Dimas yang sedang menunggu lift. Sudah beberapa kali Dimas melirik ke arah Lindsey. Hingga lift pun tiba dan keduanya masuk ke dalam lift.
__ADS_1
“Ke lantai berapa?” tanya Dimas.
“Hmm.. apa anda tahu Pak Dimas Black? Saya ingin bertemu dengannya.” jawab Lindsey.
“Saya orang yang anda cari. Ada apa, ya?” tanya Dimas.
“Hm, begini—” ucap Lindsey terpotong.
“Begini saja, saya sedang ada pekerjaan penting. Kalau tidak keberatan, saya ingin menraktirmu minum.” Dimas menyela.
Parfum dari dukun itu bekerja dengan cepat juga. batin Lindsey.
“Tidak masalah.” ucap Lindsey.
...****************...
Setelah memastikan Jarvis sudah terlelap, Lindsey beralih ke bar untuk menemui Dimas di sana.
Keduanya duduk sambil menikmati minuman yang dibuat oleh bartender.
“Jadi ada apa nona cantik ini menemuiku?” tanya Dimas.
Lindsey tertawa kecil. “Aku menganggap diriku seorang makelar, namun sebagian orang menganggapku sebagai pelobi.” ucap Lindsey.
“Kurasa makelar lebih cocok. Jadi apa sebenarnya niatmu, bu Makelar?” tanya Dimas.
“Kamu yang mendekatiku untuk tidur denganku, Pak Dim.” jawab Lindsey.
“Kalau tahu, izinkanlah.” balas Dimas.
“Itu bergantung padamu.” ucap Lindsey.
“Baik, kita dengar apa yang diinginkan nona cantik ini.” balas Dimas.
“Kita buka satu rekening. Rekening untuk mengelola seluruh dana JM Buildings selama tiga tahun. Kamu pengelola seluruh rekening perusahaan, kan?” ucap Lindsey.
Dim tersenyum. “Kamu makelar berkomisi?” tanyanya.
“Ini hadiah untukmu.” Lindsey memberikan sebuah kotak yang berisi jam tangan berlapis emas 24K yang harganya setara dengan 1 mobil sedan.
Dim membuka kotak tersebut. Betapa indah dan berkilau jam itu.
“Bersulang?” Lindsey mengangkat gelasnya.
“Bersulang.”
Cling!
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih