
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya..
‼️SPOILER‼️sedikit: bbrp bab ke depan isinya full keuwuan Lindsey & Jarvis 🥰🥰🥰❤️🔥❤️🔥❤️🔥❤️🔥
simak terus ya ceritanya 🤗🤗 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke bab sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih semua 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Kapten datang dengan antiseptik dan salep luka yang dia dapat dari apotek. Kapten membersihkan luka di siku Lindsey yang terluka karena membuka kaca jendela Jarvis dengan antiseptik dan mengolesinya dengan obat salep.
“Kamu sudah menghubungi Carlos?” tanya Lindsey kepada Katie.
“Sudah. Tapi ponselnya tidak aktif.” jawab Katie
Ini aneh. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Jarvis bisa celaka dan Carlos tidak dapat dihubungi? batin Lindsey.
Lindsey menundukkan kepalanya, kedua tangannya berada di atas paha untuk menopang kepala. Kapten kemudian merangkul bahu Lindsey, mengusap punggungnya dan perlahan membawa Lindsey ke dalam dekapannya, mendekapnya dengan hangat. Di sana, Lindsey menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan apa yang dia rasakan dalam bentuk tangisan kencang.
Tangisan Lindsey sudah mengatakan semuanya. Semua yang disana pun mengerti apa yang sedang Lindsey rasakan. Sudah cukup lama baginya menahan, tetap berusaha tenang, seolah tidak merasakan apa-apa. Tangisannya membuktikan betapa lelahnya berusaha kuat dan baik-baik saja.
Setelah 6 jam lamanya, dokter pun akhirnya keluar.
“Kami berhasil menghentikan pendarahan di bagian dalam perut dan kepalanya. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke kamar rawat.” ucap dokter.
Tampak kelegaan dari wajah Lindsey saat mendengarnya. Seolah segala rasa cemas dan kegelisahannya hilang begitu saja.
“Kalian pulang saja. Aku akan menemani Jarvis malam ini sampai dia sadar.” ucap Lindsey.
“Linds, di saat seperti ini bukankah adalah waktu yang tepat untuk mengambil emas? Carlos tidak dapat dihubungi dan Jarvis sedang—” Luven segera menutup mulut Piter yang sedang berbicara.
“Kapt, tidak bisakah kita berhenti saja dari misi ini?” ucap Lindsey.
“Kita akan mencari waktu lain. Tapi, untuk berhenti, kita tidak bisa.” balas Kapten.
“Apa kalian tidak lihat apa yang barusan terjadi pada Jarvis?” ucap Lindsey.
“Peringatan kedua untuk Lindsey. Kamu tahu apa yang terjadi setelah peringatan ketiga? Aku sudah melarangmu untuk tidak mencampur adukkan perasaanmu dalam misi ini. Dan Kamu melanggarnya. Jika perasaan itu ada, maka jagalah baik-baik! Jangan sampai menghancurkan semuanya.” balas Kapten lalu pergi.
“Maaf, Lindsey. Tapi kali ini aku setuju dengan Kapten.” ucap Piter sebelum menyusul Kapten pergi.
“Kita sudah sampai sejauh ini. Sedikit lagi misi kita akan selesai. Pikirkan baik-baik. Ok?” ucap Katie sebelum menyusul Kapten dan Piter pergi.
Berbeda dengan Luven, dia memilih untuk mengusap bahu Lindsey saja dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
...****************...
Kini Jarvis sudah dipindahkan ke kamar rawatnya. Lindsey masih setia berada di samping Jarvis. Menanti Jarvis sadar dari pengaruh obat bius, tidak pernah sedetik pun Lindsey melepas tangan Jarvis yang dibalut perban. Melihat kondisi Jarvis sekarang membuatnya goyah. Entah mengapa dia merasa takut.
Takut jika Jarvis berada dalam bahaya, takut jika Jarvis kalah dalam bertarung, dipukuli habis-habisan hingga babak belur, takut jika Jarvis terluka hingga parah, dan takut jika Jarvis tidak lagi membuka matanya.
Air mata Lindsey tidak berhenti mengalir dari membasahi pipinya. Dia menangis tanpa suara. Mungkin hanya satu yang dapat menghentikan air matanya, yaitu melihat Jarvis membuka matanya.
Sesaat Lindsey mengingat kembali percakapannya bersama Jarvis tadi di kantor.
“Aahh Katie beruntung sekali memiliki teman sepertimu. Lalu bagaimana kalau aku yang jatuh sakit?” balas Jarvis.
“Hmm..” Lindsey memutar bola matanya untuk berpikir sejenak.
“Aku akan merawatmu..? Berada di sampingmu..?” jawab Lindsey.
“Sampai aku sembuh...?” tanya Jarvis.
“Sampai kamu sembuh.” jawab Lindsey.
“Kalau begitu, Tuhan.. aku ingin sakit sekarang..” ucap Jarvis.
“Hey..!! Hahhahah...”
Sekarang aku tahu. Mengapa hatiku memilih Jarvis untuk aku cintai dibandingkan Carlos yang berusaha banyak untukku. Karena kini aku telah menemukan jawabannya.
Aku mencintai Jarvis yang selalu memelukku erat dan tidak mau melepaskan tubuhku saat kami tertidur.
Aku mencintai Jarvis yang selalu menatapku dan mendengarkanku ketika aku bercerita. Dan terkadang dia menyelipkan rambutku di belakang telingaku. Aku menyukai matanya yang menatapku dan jarinya yang menyelipkan rambutku.
Aku juga mencintai Jarvis yang selalu menarik selimutku hingga menutupi seluruh tubuhku saat aku tertidur, meninggalkan kecupan lembut di keningku sebelum dia meninggalkan aku yang masih tertidur karena harus berangkat kerja terlebih dahulu.
Aku juga mencintai Jarvis yang selalu bangun lebih awal, membuatkan sarapan enak untukku, atau ketika ia menaruh saus dengan bentuk hati, dan meninggalkan catatan kecil yang membuat bibirku langsung melebar ketika membacanya.
Aku juga mencintai Jarvis yang selalu tersenyum lebar saat melihatku, meneleponku di saat pekerjaannya telah selesai dan mengajakku makan bersama setelahnya.
Aku juga mencintai Jarvis yang selalu mengerangg menyebutkan namaku di saat kami ingin mencapai puncaknya ketika bercinta.
Namun dari itu semua, aku mencintai Jarvis dari tatapan matanya saat menatapku.
Jadi, Jarvis, ayo bukalah matamu. Dan tatap aku.
Kini telah aku sadari, aku mencintai Jarvis karena aku ingin mencintai Jarvis. Jarvis telah memenangkan hatiku dengan cara yang sederhana, bukan seperti Carlos yang berusaha banyak untukku.
__ADS_1
Jarvis telah memenangkan hatiku, membuatku mencintainya dengan sebegitu dalamnya, seperti samudra, dengan sebegitu derasnya bagaikan hujan, dan membuatku tenggelam dalam cintaku sendiri.
“Jarvis.. aku mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu.” ucap Lindsey.
Meski rasanya aku tidak layak untuk mencintai dan menerima cinta darimu..
Dan kelak kamu akan membenciku.. karena aku memang layak untuk kamu benci.
Aku hanya dapat mendatangkan luka yang begitu dalam untukmu.
Aku memang tidak layak untukmu, Jarvis.
Sungguh tidak layak..
“Hiks.. hiks..” Air mata Lindsey menjadi deras mengalir. Suara tangisannya pun pecah meski sudah dia tahan sekuat mungkin.
“Maafkan aku.. hiks.. hiks..” ucap Lindsey dibarengi dengan tangisannya.
“Apa maksudmu? Tadi kamu bilang mencintaiku dan sekarang malah meminta maaf .” balas Jarvis.
Lindsey terkejut dengan suara Jarvis, ketika dia lihat, laki-laki itu sudah membuka matanya. Jarvis sudah sadar dari pengaruh obat bius.
“Jarvis? Kamu sudah sadar?” Lindsey bangkit berdiri. Dia hendak menekan tombol yang memanggil dokter atau suster. Namun Jarvis segera mencegahnya, diraihnyalah tangan wanita yang setia menemaninya selama dia tidak sadarkan diri.
“Memanggil mereka hanya akan mengganggu kebersamaan kita berdua.” ucap Jarvis.
“Tapi Jarvis—”
“Sudah sstt.. lebih baik kamu bantu aku duduk.” sela Jarvis. Jarvis berusaha duduk dari tidurnya seraya memegangi perutnya yang habis dioperasi karena luka tusuk.
Lindsey membantu Jarvis untuk duduk, menaikkan posisi ranjang dengan remote.
“Aku panggil dokter, ya? Setidaknya kamu harus diperiksa dulu.” ucap Lindsey.
“Sudah.. tidak perlu. Aku sudah tidak apa-apa. Duduk kembali di sampingku. Aku hanya butuh kamu saat ini.” balas Jarvis.
“Jarvis.. apa yang—”
“Lindsey, bisakah aku minta tolong padamu? Jangan tanyakan apa yang sudah terjadi padaku.” ucap Jarvis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih