Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Menaruh Curiga (2)


__ADS_3

Oh. Aku mengerti sekarang. Jarvis pasti sudah tahu mengenai semalam. batin Katie.


“Iya, dia suka ngebut di jalan tol kalau sedang stress dan banyak pikiran. Terkadang juga pergi menembak untuk melampiaskan stress.” jawab Katie.


Oohohh... Pantas saja... batin Jarvis seraya menganggukkan kepalanya.


“Kenapa? Ada lagi yang ingin kamu ketahui tentang Lindsey?” tanya Katie.


“Ada satu hal yang ingin aku ketahui. Mengenai tato di lengan kiri dan paha kanan Lindsey.” jawab Jarvis.


Mati. Tato itu kan Lindsey buat untuk menutupi bekas jahitan akibat luka tembak. Sepertinya Jarvis mulai menaruh curiga ke Lindsey. batin Katie.


“Tekstur kulitnya seperti ada yang menonjol, seperti ada bekas jahitan di sana, bekas jahitan apa itu?” tanya Jarvis.


“Lindsey tidak bercerita padamu?” balas Katie.


“Sepertinya tidak, ya. Mungkin ada alasan kenapa Lindsey tidak cerita dan aku tidak berkapasitas untuk memberitahumu.” ucap Katie kemudian.


Si*l. Katie membuatku mati penasaran. Kenapa Lindsey bisa mendapatkan bekas jahitan di lengan dan pahanya? Apa dia pernah mengalami kecelakaan? batin Jarvis.


“Jadi, itu urusan kalian berdua. Aku tidak akan mengatakan hal apapun. Bagaimana? Ada lagi yang bisa aku bantu?” sambung Katie.


Jarvis membuang napas dengan kasar.


“Baiklah. Semalam Lindsey sampai rumah jam berapa?” tanya Jarvis.


Hmmm... Jarvis pasti ingin tahu apa yang dilakukan Lindsey semalam.. batin Katie.


“Jam 9 lewat setengah sepertinya dia sudah sampai di rumah.” jawab Katie.


Lho? Pertemuan di bandara itu kan jam 10, kalau jam setengah 10 Lindsey sudah di rumah, jadi, siapa yang mengemudi mobil Lindsey di foto itu? batin Jarvis.


“Mobilnya juga di rumah?” tanya Jarvis.


“Oh, kalau mobil tidak. Semalam dia pulang dengan taksi. Dia bilang temannya meminjam mobilnya.” jawab Katie.


“Teman? Teman yang mana?” tanya Jarvis.


Seberapa dekat pertemanan mereka sampai Lindsey pergi di tengah makan malam bersamaku dan rela pulang dengan taksi? batin Jarvis.


“Teman kuliahnya dulu.” jawab Katie.


“Wanita?” tanya Jarvis.


Kalau aku jawab ‘laki-laki’, bagaimana reaksi Jarvis, ya? Sekalian saja aku mengetes Jarvis, ah! batin Katie.


“Laki-laki.” jawab Katie.


“Hah?” Jarvis membuka lacinya sedikit untuk memastikan sekali lagi di foto yang sedang mengemudi terlihat seperti tangan wanita atau bukan. Dan benar, dirinya yakin sekali kalau itu tangan wanita.


Kok wajah Jarvis malah kebingungan gitu? Harusnya dia cemburu, dong. batin Katie.


“Kamu yakin?” tanya Jarvis sekali lagi.


“Tidak. Itu hanya dugaanku saja. Aku tidak bertanya temannya yang mana.” jawab Katie.


Lagi-lagi Jarvis menghela napasnya.


“Baiklah. Kamu boleh pergi.” ucap Jarvis.


“Kalau misalnya ‘laki-laki’, memangnya kamu tidak cemburu?” tanya Katie.


“Kalau yang meminjam mobil Lindsey itu ‘laki-laki’ berarti laki-laki itu tidak modal, dong. Masa meminjam mobil wanita? Dan mengapa laki-laki sekelasku harus cemburu dengan laki-laki yang tidak bermodal?” balas Jarvis.


“Wah.. kamu jangan salah. Di mata Lindsey, semua kemewahan yang kamu berikan untuknya akan kalah dengan seseorang yang mampu memberikan kenyamanan untuknya. Kenyamananlah juaranya.” ucap Katie.

__ADS_1


Kalimat Katie berhasil membangkitkan gelora api cemburu Jarvis. Entah mengapa dia jadi terpengaruh oleh kalimat Katie yang padahal belum tentu benar temannya Lindsey itu seorang laki-laki. Jarvis dengan yakin berpendapat bahwa tangan yang mengemudi adalah tangan wanita. Namun setelah menelaah kembali kalimat Katie, Jarvis menjadi tersulut api cemburu.


“Jangan bicara apapun lagi padaku. Setiap kata yang keluar dari mulutmu akan memotong per ratusan ribu dari gajimu.” balas Jarvis saking kesalnya.


Yehh.. tidak takut. Toh, semua hartamu nanti akan menjadi bagianku. batin Katie.


“Nanti aku akan makan siang bersama Lindsey. Bagaimana kalau aku berikan tempatku untukmu?” tanya Katie untuk meredakan kekesalan Jarvis.


Jarvis membulatkan matanya dan bangkit dari sandaran, berduduk tegak.


“Kalau begitu cek ponselmu. Aku akan mengirimkan alamat restorannya.” ucap Katie kemudian.


Jarvis langsung mengeluarkan ponselnya saking bersemangat ingin makan siang bersama Lindsey. Sementara itu Katie berjalan keluar dari ruangan Jarvis dan duduk di tempatnya.


Setelah kepergian Katie, Jarvis meraih gagang telepon yang berada di sisi kanan meja kerjanya.


“Carlos, selidiki kehidupan Katie juga.” perintah Jarvis lalu kembali meletakkan gagang telepon.


Setelah keluar dari ruangan Jarvis, Katie mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


Katie.


Guys.


Jarvis sudah curiga kalau Lindsey yang mengendarai mobil bersama Kapten semalam.


Piter.


Apa yang dia katakan?


Rupanya Katie mengirim pesan di grup gengnya.


Katie.


Dia basa-basi menanyakan apakah Lindsey memiliki hobi ngebut atau tidak.


Kapten.


Lalu?


Katie.


Dia juga menanyakan semalam Lindsey sampai di rumah jam berapa.


Aku bilang jam setengah 10 Lindsey sudah di rumah dan mobilnya dipinjam teman kuliah.


Piter.


Hahahaha... Teman kuliah yang mana? Lindsey kan tidak kuliah ckckck...


Lindsey.


Kurang ajar.


Awas kamu, ya! @Piter.


Kapten.


Kalau sampai Jarvis curiga, kamu yang harus berakting menjadi teman kuliahnya.


Piter.


Hah mana bisa?! Aku kan peretas, mana bisa berakting.


Katie.

__ADS_1


Lalu dia juga menanyakan perihal tato yang menutupi bekas jahitan Lindsey karena ditembak waktu itu.


Piter.


Sepertinya dia mulai curiga mengapa Lindsey bisa memiliki luka tembak. 2 biji pula.


Kapten.


@Lindsey. Berhati-hatilah. Jarvis mulai menaruh curiga padamu.


Katie.


Aku berbohong pada Jarvis soal makan siang dengan Lindsey hari ini, aku bilang akan memberikan tempatku untuk dia.


@Lindsey. Resto XXXX. Datanglah ke resto ini saat jam makan siang.


Lindsey.


Ok. Sisanya biar aku yang urus.


@Kapten. Sebaiknya Kapten pastikan orang yang mengambil file kemarin dapat kembali dengan selamat dan file itu berada di tangan pamannya Jarvis.


Kapten.


Baiklah. Biar aku yang urus.


@Katie. Apakah Jarvis ada menyinggung soal aku yang bertemu dengan utusan klien di bandara lalu masuk ke mobil Lindsey?


Katie.


Tidak, dia tidak menyinggung soal itu.


Bahkan siapa yang mengemudi mobil Lindsey saja Jarvis tidak tahu.


Piter.


Itu pasti karena sudah malam dan pencahayaannya kurang. Kamera CCTV pun sulit menunjukkan siapa siapa saja pengemudi yang ada di jalan itu.


Lindsey.


Berarti wajahku tidak terlihat, kan?


Piter.


Yup.


Pintu ruangan Jarvis terbuka lebar dan Jarvis keluar dari dalam pintu tersebut.


“Katie, mana alamatnya?! Katanya kamu mau kasih?” Jarvis menagih alamat resto yang akan menjadi tempat makan siang bersama Lindsey. Rupanya sepeninggalan Katie, Jarvis terus memantengi ponselnya yang tidak ada pesan masuk dari Katie.


Saking tidak sabarannya lagi, Jarvis sampai keluar dari ruangan dan menagihnya ke Katie.


Katie pun spontan langsung berdiri begitu Jarvis menghampirinya.


“Oh, iya! Maaf!” Katie mengetikkan sesuatu di ponselnya.


“Tuh, sudah aku kirim. Sudah masuk, kan?” ucap Katie kemudian.


“Ok, sudah. Terima kasih!” balas Jarvis lalu kembali masuk ke ruangannya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


halo semuanya, hari ini aku berniat update lebih dari 1 episode, jadi tolong di like smuanya ya kak ☺️☺️


__ADS_2