
halo semuanya.. ketemu lg si bab ke 3 yg aku up hari ini... sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻
...****************...
Hmm.. lalu bagaimana cara membebaskan Jarvis dari tuduhannya, ya..? batin Lindsey.
“Aku sudah dapat nih nomornya. Sebaiknya kamu pergunakan nomor ini dengan baik.” ucap Luven kemudian.
“Baiklah.” Lindsey keluar dari ruangan Luven.
Namun setelah diberi saran oleh Luven, Lindsey tetap pada ide pertamanya yaitu pergi menemui jaksa yang menangani kasus Jarvis.
Setelah 30 menit lamanya Lindsey duduk di kursi tunggu di kejaksaan, jaksa yang menangani kasus Jarvis yang bernama Rivan itu masih belum menampakkan diri. Padahal dia sudah sepakat bertemu di dalam gedung kejaksaan.
Ujung sedotan kopinya pun sudah hancur, terus Lindsey gigiti karena menahan kesal jaksa itu belum muncul juga. Bahkan tangannya sudah siap meremuk gelas kopi yang berbahan plastik itu.
“Pengacara Lindsey? Maaf, lama.” ucap Rivan dari belakang.
Lindsey pikir jaksa yang bernama Rivan ini sudah berumur paruh baya makanya tidak peduli dengan anak muda yang menungguinya. Ternyata masih muda, Lindsey menebak usianya paling masih di awal 30an.
“Iya, betul.”
“Mari bicara di kantin.” ajak Rivan.
Keduanya pun kini duduk berhadapan di sebuah meja.
“Ada perlu apa ya pengacara dari GDP menemui saya?” tanya Rivan memulai pembicaraan.
“Saya pengacara klien saya yang tertuduh sebagai pengedar nark*ba. Yang ditangkap langsung di bandara.” Lindsey memperkenalkan diri.
“Oh. Lalu?”
“Klien saya mengaku jam tangan yang ditemukan nark*ba di dalamnya itu adalah pemberian orang lain.” ucap Lindsey.
“Saya tahu. Tapi tidak ada bukti yang memperkuat pengakuan itu. Sedangkan di persidangan yang dibutuhkan adalah bukti.” balas Rivan.
Beberapa orang menjuluki dia sebagai “penyembah” bukti.
Sekilas Lindsey teringat akan potongan kalimat yang Luven katakan di ruangannya tadi.
Hm. Benar kata Luven. Orang ini “penyembah” bukti. Ya, memang sih bukti itu penting, tapi pakai logika juga, dong! batin Lindsey.
__ADS_1
“Buktinya ada kok. Anda saja yang kurang menggali.” ucap Lindsey.
“Oh, ya? Bukti seperti apa?” tanya Rivan.
Lindsey mengeluarkan buku catatannya dan merobek selembar kertas dari sana. Lalu dia menuliskan nama dan nomornya Lukman yang baru dia dapatkan tadi.
“Bandara XXX, besok jam 7 pagi. Buktinya ada di sini.” ucap Lindsey seraya menyodorkan kertas itu lalu bangkit berdiri dari kursinya. Kakinya melangkah pergi.
“Tunggu.” kata Rivan yang membuat langkah kaki Lindsey terhenti.
“Pembicaraan kita belum selesai, pengacara Lindsey. Boleh tolong duduk kembali?” ucap Rivan kemudian.
Lindsey pun akhirnya duduk kembali.
“Ada apa dengan Lukman Yantoro?” tanya Rivan.
“Saya rasa sebaiknya anda pergi meminta surat perintah penggeledahan barang bawaan Lukman di bandara besok pagi.” jawab Lindsey.
Rivan tersenyum. “Apakah anda tahu siapa orang ini?” tanya Rivan sambil menunjuk kertas yang diberikan Lindsey tadi.
Lindsey tidak tahu siapa Lukman itu. Yang dia tahu hanyalah pemilik galeri seni yang baru dan yang menjebak Jarvis.
“Dia adalah pewaris tunggal A Group. Saya tidak bisa asal menggeledah begitu saja.” ucap Rivan kemudian.
“Lagi pula kami sudah bekerja sama dengan bandara untuk memperketat pemeriksaan yang masuk dan keluar.” tambah Rivan.
“Hm, kalau begitu, apakah anda tidak berpikir para penyelundup akan memilih cara yang lain untuk menyelundupkan nark*ba?” tanya Lindsey.
“Dapatkan saja surat perintah penggeledahan untuk Lukman besok. Jika ternyata tidak ditemukan satu butir pun nark*ba, saya akan membiarkan anda menang di kasus klien saya.” tambah Lindsey.
Lindsey kemudian pergi meninggalkan Rivan. Baru saja dia mempertaruhkan Jarvis hanya karena ingin Lukman tertangkap. Padahal belum tentu Lukman adalah pengedar.
...****************...
Keesokan harinya..
Jam 5.30 AM
“Hah? Jam segini sudah mau berangkat kerja?” Kapten menoleh ke arah Lindsey yang sedang menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi seperti mau kerja.
“Iya. Aku harus mengintai seseorang.” ucap Lindsey.
__ADS_1
“Butuh bantuan?” tanya Kapten.
“Tidak. Bantuanku sudah banyak.” jawab Lindsey.
...****************...
Jam 06.45
Di Bandara.
“Pengacara Lindsey.” ucap Rivan dari telepon. Padahal ternyata mobil mereka terparkir bersampingan. Mereka sudah stand by menunggu kedatangan Lukman di bandara.
“Oh, iya. Saya sudah di bandara, menunggu kedatangan Lukman. Anda sudah mendapatkan surat perintah penggeledahannya?” balas Lindsey.
“Sudah. Namun anda harus tahu, keberlangsungan saya di kejaksaan sangat bergantung pada ini.” ucap Rivan.
“Saya juga mempertaruhkan klien saya pada ini.” balas Lindsey.
“Apa seharusnya kita lepaskan saja—” ucap Rivan yang terpotong.
“Itu Lukman sudah keluar!” seru Lindsey lalu mematikan teleponnya.
Mobil dari kejaksaan yang berisikan Rivan dan timnya mengikuti mobil Lukman dari belakang. Mobil Lukman sendiri di kawal oleh beberapa mobil lainnya dan mendapat pengawalan dari polisi bersepeda motor. Juga ada sebuah truk yang diduga berisi oleh-oleh dari Bali. Sedangkan Lindsey berada di belakang mobil kejaksaan sambil mengawasi pergerakan mobil Lukman.
Lukman bisa keluar dari bandara itu artinya mesin pemeriksaan di bandara tidak menemukan adanya nark*ba. Mungkin seperti yang pengacara Lindsey bilang, dia memiliki cara lain. batin Rivan.
Mobil kejaksaan terus mengikuti mobil Lukman dari belakang hingga akhirnya di jalanan yang panjang dan sepi, Rivan memerintahkan untuk menyalip motor yang dikendarai seorang polisi yang mengawal Rivan. Otomatis motor itu berhenti, begitu juga dengan mobil Rivan dan ekor-ekornya di belakang, termasuk Lindsey.
Dari dalam mobilnya, Lindsey memperhatikan Rivan, mulai dari dia dan timnya turun dari mobil, mengeluarkan surat perintah penggeledahan dari jasnya dan menunjukkan ke polisi serta pengawal pribadi Lukman. Bahkan juga menunjukkan ke Lukman yang turun dari mobil.
Para reporter dan kameramen juga tiba-tiba datang bergerombol ke tempat itu, mengerumuni lokasi. Hal itu mengejutkan Rivan.
Kameramen sibuk mengambil gambar yang terjadi di sana, menyoroti wajah Rivan dan Lukman sebagai tokoh utama. Sedangkan reporter sibuk membuat berita live di tempat.
Ok. Sejauh ini masih berjalan sesuai dengan rencana. batin Lindsey yang mengamati kerumunan itu dari jauh di belakang.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1
ini bab terakhir yg aku upload hari ini.. jgn lupa di like ya 3 bab nyaa ☺️☺️☺️ terima kasiiihhh 🙏🏻🙏🏻❤️❤️❤️