
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻
...****************...
“Jangan gila kamu, Jarvis! Jadi Noah akan berpisah dengan ayahnya? Tega sekali kamu!” Lindsey bangkit berdiri.
“Selama aku tidak bahagia, aku juga tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia.” balas Jarvis.
“Baiklah. Aku akan mencari cara sendiri untuk membebaskan ayahnya Noah. Tapi sebelum itu, apa kamu tahu kemana semua hartamu hasil curian kita? Kita sudah membagikan rata kepada karyawanmu yang cacat sebagai kompensasi, bahkan sampai ada yang meninggal juga. Bagaimana nasibmu jika aku mengungkapkan itu semua di pengadilan?” balas Lindsey.
Jarvis terdiam sejenak dan menggertakkan giginya. Kemudian dia meraih ponselnya. “Bebaskan Fabio.” ucap Jarvis kepada Carlos.
“Terima kasih.” Lindsey berbalik badan dan jalan menuju pintu. Sebelum dia keluar dari pintu, Jarvis mengucapkan sebuah kalimat yang membuat tubuhnya seakan kaku tidak bisa digerakkan.
“Jawab dulu pertanyaanku. Anakmu itu anakku, ’kan?”
Lindsey terdiam. Dia mengambil napas dalam-dalam dan menghempaskannya. Kemudian dia kembali berbalik badan. “Sudah 5 tahun, Jarvis. Aku sudah melupakanmu dan bahagia dengan keluarga kecilku.” ucap Lindsey.
“Jawab saja pertanyaanku. Dia anakku atau Fabio?” Jarvis memaksa.
“Fabio.” jawab Lindsey.
“Hm, baiklah. Kita lihat saja watak anakmu ketika sudah besar nanti. Dia akan mewarisi siapa. Konon katanya darah lebih kental daripada air.” balas Jarvis.
“Dan apa kamu tahu? Gen ayah kandungku memiliki riwayat penyakit leukimia. Mungkin aku bisa kena, atau anakku. Tapi syukurlah jika anakmu itu bukan anakku.” ucap Jarvis kemudian.
Lindsey membulatkan matanya.
“Lindsey.” panggilnya lagi. Membuat Lindsey lagi-lagi gagal melangkah.
“Apakah ada satu hal saja yang sungguhan dari hatimu?” tanyanya.
“Bukankah semuanya sudah jelas? Aku mendekatimu dan Carlos hanya lah sandiwara. Semuanya adalah sandiwara. Jadi jangan pernah mengambil hati dan berharap ada yang sungguhan dariku meski satupun.” jawab Lindsey.
“Kemana anak kita? Aku ingat sekali malam itu aku mengeluarkannya di dalam.” tanya Jarvis.
__ADS_1
“Anak kita? Tidak ada. Sudah aku gugurkan. Aku melakukan aborsi.” jawab Lindsey berbohong.
“Apa kamu sudah gila?! Itu kan anakku juga!” ucap Jarvis yang langsung bangkit berdiri dari meja kerjanya. Berjalan mendekat ke arah Lindsey yang berdiri di pintu.
“Itu hanya kesalahan! Sadarlah, Jarvis!” balas Lindsey.
“Kamu yang seharusnya sadar! Meskipun semua yang kamu lakukan padaku hanyalah sandiwara, sebenci-bencinya kamu denganku, kamu tidak perlu sampai merampas hak hidup anakku! Dia tidak bersalah!” ucap Jarvis dengan meninggi.
“Ini tubuhku. Aku juga memiliki hak atas tubuhku sendiri! Jika kamu terobsesi dengan seorang anak, tanam benihmu dengan wanita lain!” balas Lindsey.
“Rupanya kamu tidak ada rasa bersalah, ya? Jika kita tidak bisa menghidupkan kembali yang sudah mati, kita bisa membuatnya yang baru, kan?” balas Jarvis. Tangannya mulai merraba paha Lindsey yang ditutupi celana jeans itu, mengangkat dagunya, dan..
Brak!
Lindsey mendorong tubuh Jarvis sekuat tenaganya dan keluar dari ruangan Jarvis. Pertemuan mereka selesai sampai di sana. Benar kata Kapten. Jarvis lebih berbahaya. Mereka semua harus segera kembali ke LA. Karena tidak tahu hal berbahaya apa yang akan Jarvis perbuat di kemudian hari.
“Urusan kita tidak selesai sampai di sini, Lindsey. Urusan kita tidak akan pernah selesai.” ucap Jarvis setelah Lindsey pergi.
Lindsey berlari sekencang mungkin untuk sampai ke mobilnya di parkiran. Setengah hatinya merasa takut, setengah hatinya lagi dia merasa tahu apa penyebabnya. Sesampainya di dalam mobil, Lindsey duduk sejenak, mengatur kembali napasnya yang tidak beraturan dengan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya melalui mulut. Begitu terus dia lakukan hingga beberapa menit sebelum akhirnya Lindsey menancapkan gasnya dan melaju meninggalkan parkiran JM Buildings.
Lihatlah semua kekacauan yang telah kamu buat Lindsey. Seandainya kamu tidak berurusan dengan Jarvis dari awal, ini semua tidak akan terjadi. Dan andai saja jika kamu bisa memaafkannya setelah kepergian om Lexis, ahh... Seharusnya kamu ikut om Lexis saja. Ini semua tidak akan terjadi jika kamu ikut om Lexis. tutur batinnya.
Tririring... Ponselnya yang berdering berhasil membuyarkan pikirannya. Lindsey segera menjawab panggilan dari Luven.
“Lindsey, kamu dimana?! Kapten sudah kembali tapi mengapa kamu belum?!” tanya Luven dari sebrang sana.
Kapten merebut ponsel Luven dari genggaman pemiliknya untuk berbicara dengan Lindsey. “Lindsey, kamu dimana? Apa kamu menemui Jarvis? Hey, jawab aku. Tidak ada sesuatu yang terjadi padamu, ’kan?” tanya Kapten.
“Kapten sudah di rumah? Syukurlah. Ini aku sedang di jalan. Sebentar lagi aku sampai.” jawab Lindsey.
“Baiklah. Aku tunggu di rumah.” balas Kapten.
“He’em.”
Panggilan berakhir.
Lindsey kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah markas. Dia sudah merasa jauh lebih baik saat mengetahui Kapten sudah kembali ke rumah. Itu artinya Jarvis telah mencabut tuntutannya dan membebaskan Kapten.
__ADS_1
Sesampainya di rumah markas, Lindsey langsung disambut oleh semua orang kecuali Noah. Semua orang mengkhawatirkan Lindsey yang kembali terlambat. Namun syukurnya tidak ada yang terjadi.
“Kalian semua tidurlah. Kita kan ada flight pagi besok.” ucap Lindsey menenangkan semua orang.
Tanpa banyak bicara lagi setelah itu, Lindsey langsung naik ke kamarnya. Kapten pun juga mengikutinya ke kamar. Anak geng yang lain juga berpencar memasuki kamarnya masing-masing dan tidur setelah itu.
“Kamu menemui Jarvis?” tanya Kapten kepada Lindsey setelah berada di kamar.
Lindsey terdiam.
“Kenapa kamu melakukan itu, Lindsey?” tanya Jarvis kemudian.
“Hanya itu satu-satunya car—” ucap Lindsey yang terpotong karena Kapten langsung menyelanya.
“Bahkan jika hanya itu satu-satunya cara aku tetap tidak mau kamu menemuinya lagi. Terlebih untuk membebaskanku, itu hal yang konyol, Lindsey. Lebih baik aku tidak perlu bebas daripada kamu harus bertemu dengan dia.” balas Kapten.
“Jadi, Kapten lebih memilih tidak dibebaskan dan kita semua kembali ke LA tanpa Kapten?” tanya Lindsey.
“Apa Kapten tidak tahu betapa kencangnya tangisan Noah setelah Kapten pergi dijemput polisi tadi? Noah menangis begitu kencang dan menjerit! Aku harus diam saja, begitu?” sambung Lindsey kemudian.
“Noah begitu khawatir dengan Kapten. Mungkin Kapten tidak mengetahuinya karena Kapten merasa itu tidak mungkin.. karena Noah bukan anak kandung Kapten, ’kan?” ucap Lindsey kemudian.
“Lindsey! Aku sama sekali tidak pernah merasa seperti itu. Aku sudah menganggap Noah sebagai anakku sendiri sejak pertama kali dia lahir ke dunia. Aku minta maaf atas perkataanku tadi, itu karena aku takut Jarvis melakukan sesuatu padamu saat kamu menemuinya.. aku minta maaf, ya..” balas Kapten.
Pada kenyataannya, apa yang Kapten takutnya memang terjadi. Bahkan membuat Lindsey terguncang malam ini.
“Aku sangat lelah. Aku ingin tidur.” ucap Lindsey lalu menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.
Hingga di pagi hari, Lindsey dan yang lainnya bangun lebih awal untuk bersiap-siap. karena ada penerbangan pagi. Tidak hanya dirinya bersiap-siap, Lindsey juga harus mengurus Noah. Lindsey berjalan ke kamar dan membangunkan Noah yang masih tertidur. Dengan perlahan, Lindsey duduk di tepi ranjang samping Noah tertidur, mengusap keningnya sebelum meninggalkan kecupan di sana.
“Noah..” Lindsey memanggilnya. Dahi Lindsey mengerut karena merasa suhu tubuh Noah tidak seperti biasanya. Lindsey bergerak memegang tangan Noah, leher, dan dahinya. Suhu tubuh Noah agak panas dari yang biasanya.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1