Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Aksi Lindsey


__ADS_3

halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Dari dalam mobilnya, Lindsey memperhatikan Rivan, mulai dari dia dan timnya turun dari mobil, mengeluarkan surat perintah penggeledahan dari jasnya dan menunjukkan ke polisi serta pengawal pribadi Lukman. Bahkan juga menunjukkan ke Lukman yang turun dari mobil.


Para reporter dan kameramen juga tiba-tiba datang bergerombol ke tempat itu, mengerumuni lokasi. Hal itu mengejutkan Rivan. Kameramen sibuk mengambil gambar yang terjadi di sana, menyoroti wajah Rivan dan Lukman sebagai tokoh utama. Sedangkan reporter sibuk membuat berita live di tempat.


Ok. Sejauh ini masih berjalan sesuai dengan rencana. batin Lindsey yang mengamati kerumunan itu dari jauh di belakang.


“Selamat pagi, pemirsa. Saat ini saya sedang berada di xxxxx yang letaknya tidak jauh dari bandara. Kejaksaan melakukan penggeledahan secara mendadak terhadap mobil pewaris tunggal A Group yang baru tiba di kota ini sekitar 15 menit yang lalu.”


“Pemirsa, berita pagi ini datang dari kejaksaan yang memberhentikan mobil pewaris tunggal A Group dan melakukan penggeledahan atas kecurigaan penyelundupan narkoba.”


Seluruh stasiun tv menayangkan isi berita yang sama. Kapten pun tiduran di sofa sambil mengangkat kaki saat menonton tayangan berita pagi itu.


Ini pasti ulah pengacara Lindsey. batin Rivan.


Flashback ON.


“Hah? Jam segini sudah mau berangkat kerja?” Kapten menoleh ke arah Lindsey yang sedang menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi seperti mau kerja.


“Iya. Aku harus mengintai seseorang.” ucap Lindsey.


“Butuh bantuan?” tanya Kapten.


“Tidak. Bantuanku sudah banyak.” jawab Lindsey.


“Eh, Kapt. Sepertinya aku butuh bantuan Kapten.” ucap Lindsey kemudian.


“Apa itu?” tanya Kapten.


“Bisakah Kapten membuat reporter ramai mendatangi sebuah tempat? Sepertinya aku punya berita eksklusif untuk para stasiun televisi.” ucap Lindsey.


“Ingin yang ramai saja atau ramai sekali?” tanya Kapten.


“Ramai sekali!” jawab Lindsey.


“Siap. Kirimkan saja tempat dan jamnya.” balas Kapten.


Flashback OFF.


Tim yang datang bersama Rivan dan juga satuan petugas penyelidik bagian nark*ba mulai menggeledah seluruh mobil Lukman beserta pengawal pribadinya. Mereka mengecek setiap isi di dalam mobil dengan menyeluruh. Jantung Rivan berdetak kencang dan gugup selama pengecekan. Takut saja mereka tidak menemukan adanya nark*ba.


Begitu juga dengan Lindsey. Dia merasakan hal yang sama seperti yang Rivan rasakan. Bukannya membantu Jarvis bebas dari tuduhan, malah sepertinya dia menempatkan Jarvis di posisi yang semakin membahayakan Jarvis sendiri. Hingga pengecekan mobil terakhir yaitu truk yang berisi kotak-kotak paket dan mereka juga tidak menemukan apapun.


“Ini kendaraan terakhir dan tidak ditemukan apapun. Bagaimana kamu akan membereskan reporter?” ucap salah satu pengawal Lukman kepada Rivan.


“Kami akan membuat permohonan resmi.” ucap Rivan dengan pasrah.

__ADS_1


Rivan pun melirik ke arah lindsey yang jauh di belakang lalu menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat bahwa rencana mereka gagal, tidak ada nark*ba yang berhasil ditemukan.


“Biar saya yang tangani.” ucap seorang pengawal yang lain dan menyuruh orang lain untuk menutup truk.


Lindsey pun langsung keluar dari mobil. Lindsey teringat wajah pengawal yang baru saja memerintahkan untuk menutup truk. Pengawal itu dia temui kemarin di depan galeri seni yang sedang mendorong gerobak berisi guci yang sudah bolong pecah.


“Tunggu.” Lindsey datang dengan anggunnya menghampiri mereka yang kini menjadi pusat perhatian.


“Apalagi yang ingin kamu lakukan?” bisik Rivan.


Mengabaikan Rivan, Lindsey yang mengenakan celana panjang dan heels 7 cm naik ke dalam truk itu, memeriksa kotak box satu persatu dan melihat ada penerima paket bernama Ferdi. Lindsey teringat akan nama itu.


Flashback ON.


“Piter, kamu sudah menemukan sesuatu tentang orang yang aku minta tadi siang?” tanya Lindsey yang menghampiri Piter di meja komputernya.


“Tidak ada yang mencurigakan sih tentang Lukman Yantoro.” ucap Piter sambil memperlihatkan layar komputernya. Piter menggerakkan cursor dan memperlihatkan apa saja hasil pencariannya.


“Eh, tunggu! Balik ke yang sebelum ini deh.” pekik Lindsey.


Piter menggerakkan cursor nya untuk kembali ke halaman sebelumnya. Halaman tersebut memperlihatkan sebuah profil seorang laki-laki dengan wajah yang dia pernah lihat. “Kenapa?” tanya Piter.


“Orang ini..” ucap Lindsey.


“Oh, ini pengawal pribadinya Lukman Yantoro. Lukman memiliki banyak pengawal pribadi karena dia adalah pewaris tunggal yang dijaga ketat oleh kakeknya. Dan ini salah satu dari sekian banyak pengawal pribadinya.” ucap Piter.


Orang ini kan yang mendorong gerobak berisi guci pecah itu di galeri Art Spring? Ternyata dia anak pengawalnya Lukman. batin Lindsey.


Flashback OFF.


Lindsey meminta besi penyongkel kepada petugas. Kotak dengan nama penerima Ferdi itu adalah satu-satunya kotak yang berbahan dasar kayu, berbeda dengan paket lainnya yang berbahan kardus. Lindsey mencongkel kotak berbentuk persegi itu dengan sekuat tenaganya.


Dan sisi kayu paling depan itu pun akhirnya terbuka dan terjatuh ke aspal. Aksi Lindsey itu mencuri perhatian para kameramen yang sibuk memotret setiap yang Lindsey lakukan. Termasuk sebuah benda yang ada di dalam kotak itu.


Di dalam kotak itu berisi sebuah guci berwarna putih. Lindsey teringat kala ke galeri seni, dia berpapasan dengan Ferdi yang mendorong gerobak berisi guci yang bolong dan ada bongkahan keramik seperti guci itu. Dengan besi yang masih berada di tangannya, Lindsey mengeluarkan guci tersebut dengan mendorongnya ke aspal, sengaja menjatuhkan guci tersebut hingga pecah.


“Apa yang dia lakukan?”


“Dia memecahkannya?”


Kehebohan terjadi karena Lindsey memecahkan guci itu.


“Apa yang ada di dalam guci itu?”


Rivan mengambil sebuah plastik berisi bubuk putih yang jatuh bersama guci itu di aspal. Di lokasi kejadian itu menjadi heboh. Para reporter dan kameramen sibuk mewartakan dan mengabadikan momen itu.


“Bukankah itu narkoba?”


“Apa? Narkoba?”

__ADS_1


“Perbesar gambarnya.”


“Ada narkoba di dalam truk pewaris tunggal A Group?”


“Astaga.”


“Ini berita besar!”


“Pastikan bungkus nark*ba itu terekam dengan jelas.”


...****************...


Luven yang sedang menyeruput kopi di ruangannya pun tersembur muncrat ke luar ketika menonton tayangan berita pagi itu.


“Bukankah itu Lindsey?!” Luven segera mengambil ponselnya dan segera menelepon Lindsey.


...****************...


“Hah? Aku tidak salah lihat? Itu Lindsey?!” tanya Piter di tengah kesibukannya menyantap sarapan.


“Sh*t. Mengapa Lindsey terlihat keren sekali di sana..” ucap Katie.


“Aksi barbar dan brutal memang sudah melekat di jiwa Lindsey, apapun pekerjaannya..” ucap Kapten.


...****************...


“Pah, bukankah itu anak kita Lindsey?” tanya bu William yang sedang mengoles selai kacang di atas roti di atas meja makan. Mereka kebetulan sedang menyalakan tv pagi itu dan melihat ada Lindsey.


“Lindsey menemukan nark*ba itu?! Wah! Keren betul anak kita!” sahut William.


...****************...


“Serius ini Lindsey? Wah, wah! Sebentar aku harus mengabadikan momen ini!” Jarvis mengeluarkan ponselnya untuk memotret layar televisi yang menayangkan berita dan menyoroti wajah Lindsey saat itu.


“Tapi kenapa Lindsey bisa ada di sana? Pekerjaannya kan tidak ada hubungannya dengan penggeledahan itu..” ucap Carlos.


...****************...


Rivan menangkap pengawal pribadi Lukman yang bernama Ferdi itu. Dia bersama timnya kembali ke kejaksaan dan membawa Ferdi. Lukman pun ikut untuk dimintai keterangan. Ternyata Tuhan masih menyelamatkan karirnya di kejaksaan. Tentu saja dia sudah mendapat ancaman oleh atasannya jika kembali ke kejaksaan dengan tangan kosong.


Lindsey pun ikut mengintili Rivan ke kejaksaan. Bahkan hingga ke ruang interogasi. Pasalnya, sesampainya di kejaksaan, Rivan langsung membawa Ferdi ke ruang interogasi.


“Et! Pengacara Lindsey ngapain mengikuti saya sampai ke sini?” Rivan menghalangi Lindsey agar tidak ikut masuk ke ruang interogasi.


“Saya ingin segera menemui Ferdi, lah! Minggir.” balas Lindsey. Lindsey berusaha masuk ke dalam untuk menemui Ferdi. Namun Rivan mencegatnya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2