
halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 bab sekaligus.. jgn lupa dilike semuanya yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻
‼️SPOILER‼️sedikit: sbntr lg akan ada titik terangnya dari misi Lindsey n the gang.
simak terus ya ceritanya 🤗🤗 sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke bab sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih semua 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Semua anggota pun setuju akan ide Lindsey. Meski akhirnya mereka tidak mendapatkan apa-apa, malah justru sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk misi ini, namun mereka berlapang dada dan berbesar hati. Bahwa ternyata ada ribuan orang yang lebih membutuhkan uang itu dan memiliki haknya di sana. Sia-sia? Tentu saja tidak.
Mereka menganggap yang sekarang mereka lakukan ini untuk meneruskan usaha om Lexis yang berjuang hingga mengorbankan nyawa demi mengungkap kekejaman Jarvis dan memberikan keadilan untuk para orang yang menjadi korban atas kekejaman Jarvis.
“Baiklah. Kita akan mulai menjalankan rencana kita. Rencana yang terakhir dari misi dengan target Jarvis Morris.” ucap Kapten.
“Carlos dan Jarvis sedang menuju Samarinda. Melihat waktunya, mereka mungkin sudah sampai di sana. Kita akan mendatangi mansion untuk pengambilan emas. Piter dan Lindsey akan masuk terlebih dahulu ke sumur untuk membuka pintu rahasianya. Lalu kita akan memindahkan emas dengan kerekan ke truk. Geng Vasuarez juga akan datang membantu. Semakin banyak orang, akan semakin cepat.” ucap Kapten kemudian.
“Kapt, bagaimana dengan anak buahnya Jarvis yang berjaga di mansion?” tanya Katie.
“Jarvis memerintahkan anak buahnya berjaga di mansion untuk apa?” balas Kapten.
“Untuk menjaga Lindsey.” ucap Katie.
“Sekarang Lindsey ada dimana?” tanya Kapten.
“Di sini bersama kita.” jawab Katie.
“Berarti tidak ada yang berjaga di mansion.” sahut Luven.
“Bagaimana dengan para pelayan yang ada di mansion?” tanya Lindsey.
“Para pelayan tidak setiap hari ditugaskan di mansion. Aku sudah memeriksa jadwal mereka dan hari ini mereka tidak bertugas.” jawab Kapten.
“Bagaimana dengan tempat tujuan kita setelah mengambil emas? Kapten sudah menyiapkannya?” tanya Luven.
“Aku memilih Manila sebagai tempat pelarian kita.” jawab Kapten.
“Bagaimana dengan cara kita ke mansion yang jauh itu?” tanya Piter.
__ADS_1
“Kita tidak dapat menggunakan helikopter karena akan mencolok. Terpaksa kita akan menggunakan jalur darat. Aku akan bersama Piter. Katie bersama Luven. Dan Lindsey sendiri akan memandu jalan di depan.” jawab Kapten.
“Baiklah. Tunggu apalagi? Kita harus pergi sekarang.” ucap Piter.
“Baiklah.” Kapten bangkit berdiri. Kemudian dia merentangkan tangannya ke tengah.
“Cura, et valeas!”
“Cura, et valeas!”
“Cura, et valeas!”
Tiga mobil pun melaju secara beruntun di jalanan yang luas dan kosong menuju ke mansion Jarvis. Mobil Lindsey berada di paling depan, Kapten dan Piter di tengah, Katie dan Luven di belakang. Jaraknya pun cukup jauh, membutuhkan waktu yang lama untuk sampai. Cukup tenang Lindsey mengemudi dengan kecepatan stabil di 80 km/jam, memandu dua mobil di belakangnya, meski saat ini beban pikirannya sedang menumpuk di kepalanya.
Hingga akhirnya di jalanan yang luas dan sepi, ada sebuah mobil melaju super kencang di sampingnya, dari belakang hingga mendahului Lindsey. Mobil itu melaju dengan gerakan yang tidak stabil, terkadang oleng ke kanan, kiri. Lindsey pun melihat jenis dan plat belakang mobil yang dikenalinya.
“Kapt, aku melihat mobil Jarvis di depanku!” ucap Lindsey dengan earbuds yang menyantel di telinganya.
“Apa?!”
Para anggota geng itu pun terkejut.
“Putar balik kembali ke markas. Semuanya putar balik dan kembali ke markas!” perintah Kapten.
Namun mobil Lindsey yang berada di paling depan malah melewatkan putaran baliknya.
“Lindsey, apa kamu tidak dengar aku?” tanya Kapten.
Jegerrr..!! Bang..! Bang..!
Mobil yang menurut Lindsey itu adalah mobil Jarvis tertabrak sebuah truk dari samping. Mobil itupun terguling jauh.
Ckkiiittt...!! Lindsey langsung mengerem mendadak begitu menyaksikan mobil itu tertabrak hingga terguling.
“Jarvis!” Tanpa pikir panjang, Lindsey langsung berlari ke arah mobil Jarvis yang sudah ringsek.
Dan benar saja, mobil itu adalah milik Jarvis. Karena yang berada di kursi pengemudi ialah Jarvis seorang diri.
__ADS_1
“Jarvis! Jarvis! Jarvis!” Lindsey menggedor kaca jendela dimana Jarvis sudah tidak sadarkan diri dengan darah mengalir di dahinya.
Kap mobil yang terbuka akibat tabrakan, mengeluarkan asap yang membuat Lindsey semakin panik.
Lindsey dengan nekat memecahkan kaca jendela dengan sikunya karena pintu mobil terkunci dan tidak dapat dibuka. Kaca jendela akhirnya pecah setelah beberapa kali Lindsey menghantamkan sikunya. Setelah kaca jendela pecah, Lindsey segera menarik tuas pengunci mobil untuk membuka pintu mobil.
Anak geng yang lain ikut turun dari mobil dan berlari menghampiri mobil Jarvis.
“Jarvis! Jarvis! Hey!” Lindsey mengeluarkan Jarvis dari dalam mobil. Kapten, Piter, dan Luven membantu mengangkat tubuh Jarvis dan menjauh dari mobil Jarvis.
Duarrr...!! Mobil Jarvis meledak dan terbakar setelah mereka semua menjauh dari mobil Jarvis.
Katie menelepon ambulans.
Sementara itu, Lindsey yang bersimpuh di aspal, merangkum wajah Jarvis yang berlumuran darah, manggil nama Jarvis berulang kali. Air matanya pun tidak terbendung lagi. Lindsey pun menangis sejadi-jadinya.
“Jarvis.. bangunlah..!! Hikss..! Hiks..! Hiks..!”
Setelah ambulans datang, Lindsey ikut ke dalam mobil ambulans. Melihat bahwa terdapat luka tusuk di perut Jarvis saat petugas medis menggunting kemeja Jarvis. Juga dengan beberapa luka lebam di wajah, bibir, lengan, seperti habis dipukuli.
Apa yang sebenarnya terjadi, Jarvis? Katanya kamu pergi ke Samarinda, lalu mengapa kamu menjadi seperti ini? batin Lindsey.
Sesampainya di rumah sakit, Jarvis segera ditangani dokter dan dibawa ke ruang operasi. Kondisinya sangat kritis. Hingga membutuhkan waktu berjam-jam untuk dokter mengoperasi Jarvis. Lindsey pun setia menunggu dengan hati yang gelisah, tidak tenang dan takut. Jujur saja Lindsey merasa lemas di sekujur tubuhnya. Seolah tidak ada tenaga lagi namun tetapi dia paksakan untuk berdiri di depan ruang operasi.
Anak geng yang lainnya turut menemani Lindsey. Katie mendampingi Lindsey yang tidak mau duduk dan memilih berdiri. Merangkul hangat tubuh Lindsey yang lemas tak berdaya.
Kapten datang menghampiri Lindsey. Mengajaknya duduk di bangku. “Bersihkan darah dan luka di sikumu.” ucapnya. Wajah, tangan, pakaian Lindsey penuh dengan bercak darah Jarvis.
Kapten datang dengan antiseptik dan salep luka yang dia dapat dari apotek. Kapten membersihkan luka di siku Lindsey yang terluka karena membuka kaca jendela Jarvis dengan antiseptik dan mengolesinya dengan obat salep.
“Kamu sudah menghubungi Carlos?” tanya Lindsey kepada Katie.
“Sudah. Tapi ponselnya tidak aktif.” jawab Katie
Ini aneh. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Jarvis bisa celaka dan Carlos tidak dapat dihubungi? batin Lindsey.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih