Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Membersihkan Nama Jarvis


__ADS_3

halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Selamat membaca 🤗🤗


“Saya hanya melakukan apa yang anda lakukan. Bagaimana rasanya dijebak?” ucap Lindsey.


“Soal itu—Itu adalah kesalahan! Saya hanya ingin menyembunyikan nark*ba saja tapi tidak tahu kotak jam tangan itu berpindah tangan. Saya tidak berniat menjebak siapapun. Saya saja tidak kenal dengan dia. Saya berani sumpah! Itu adalah kesalahan! Itu adalah ketidaksengajaan!” balas Ferdi.


Lindsey bangkit berdiri. “Katakan yang sejujurnya mengenai nark*ba yang ditemukan di dalam kotak jam tangan itu kepada jaksa di sana.” ucap Lindsey seraya menunjuk ke arah cermin.


“Apa anda sudah gila?! Bagaimana nanti kalau hukumanku semakin berat?” balas Ferdi.


Lindsey menaikkan lengan blazer-nya hingga setengah lengan dan langsung berjalan mendekati Ferdi. Dan.. braakk..!!!!


Lindsey menendang kursi yang diduduki Ferdi dengan kencang hingga Ferdi terjatuh tersungkur dari kursi karenanya. Wajahnya menghantam lantai.


“Lindsey!” Rivan memanggilnya melalui speaker.


Namun tidak dihiraukan oleh Lindsey. Kemudian Lindsey menghampiri Ferdi, mengangkat wajah Ferdi yang merah dengan tidak berdaya karena tangannya yang diborgol.


“Apa anda tahu? Nasib seseorang yang tidak bersalah akan sama seperti anda sekarang, duduk diborgol, hanya karena kelalaian anda.” ucap Lindsey lalu melepas kasar wajah Ferdi.


Lindsey menaikkan kaki kanannya yang mengenakan heels stileto runcing berwarna hitam ke atas dada Ferdi dan memberikan sedikit tekanan di dadanya.


“Pengacara Lindsey, hentikan! Atau aku akan menyeretmu keluar!” ucap Rivan melalui speaker yang lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Lindsey.


“Asal anda tahu, anda akan disiksa berjuta kali lipat dari orang yang sudah anda jebak itu. Rasa sakit di dada anda sekarang tidak apa-apanya.” ucap Lindsey pelan.


“Sayang sekali kamu harus dikorbankan. Mereka tidak mau membantumu. Menyewakan pengacara murah saja pun tidak mau. Padahal anda bawahan yang setia dan penurut. Ya, kan? Bagaimana kalau saya saja yang menjadi pengacara anda?” ucap Lindsey kemudian.


“Ba..ik..lah.. sa..ya.. a..kan.. ju...jur!” ucap Ferdi dengan penuh perjuangan.


“Apa? Saya tidak dengar. Say it louder!” ucap Lindsey.


“Sa..ya.. a..kan.. ju..jur!”


Lindsey memindahkan kakinya.


“Hah.. huh.. hah..!” Ferdi akhirnya bisa bernapas lega.


“Ambil ponselku.” perintah Lindsey.


Ferdi masih terdiam.


“Cepat!” Lindsey berteriak.


Ferdi langsung mengambil ponsel Lindsey dengan merangkak. Lalu memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


Lindsey mengambil ponsel itu dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


“Anda benar akan menjadi pengacara saya, kan?” tanya Ferdi memastikan sebelum Lindsey pergi.


Lindsey berbalik badan dan tersenyum. “Hm, tentu saja.” ucapnya lalu keluar dari ruang interogasi.


“Hah! Jangan bermimpi!” ucap Lindsey setelah pintu tertutup.


“Sudah puas melakukan aksi bela dirinya?” tanya Rivan.


“Kamu sudah mendengar semuanya, kan?” balas Lindsey sambil berjalan keluar bersama Rivan.


“Aku akan mencabut tuduhan terhadap klienmu.” ucap Rivan.


“Terima kasih atas kerjasamanya, jaksa Rivan.” balas Lindsey.


“Kamu benar akan menjadi pengacara dia (Ferdi)? Kalau iya, kita masih akan bertemu ke depannya.” tanya Rivan.


Tentu saja, tidak. batin Lindsey.


“Ayolah, jaksa Rivan. Kamu pasti tahu jawabannya.” ucap Lindsey.


“Baiklah.” balas Rivan.


“Rahasiakan dari Ferdi sebelum dia membersihkan nama klienku.” ucap Lindsey.


“Siap. Terima kasih untuk usaha anda hari ini. Wah.. pengacara-pengacara di GDP memang luar biasa, ya. Aku harap kita tidak akan menjadi lawan di persidangan.” balas Rivan.


“Entah mengapa, aku ingin berhadapan denganmu di persidangan. Oh, ya! Aku harus kembali ke firma! Sampai jumpa!” Lindsey pun pergi terburu-buru, meninggalkan Rivan.


Lindsey pergi meninggalkan gedung kejaksaan dan segera kembali ke firma dengan mobilnya.


...****************...


Jam 13.00


Ruangan Luven.


Tok.. tok.. tok..


Lindsey datang dengan heboh mengetuk pintu ruangan Luven.


“Kamu darimana saja?!” tanya Luven.


“Aku harus menemui siapa saja?” tanya Lindsey.


“Nanti saja. Mereka sedang makan siang.” jawab Luven.


“Oh, ya, mana kotak hadiah milikku?” tanya Lindsey.


“Ini.” Luven memberikan sebuah kotak yang diberikan untuk Lindsey.


Lindsey membuka kotak itu. Dan didapat di dalamnya ada emas batang dengan berat 25 gram yang kira-kira seharga sekitar 25 juta.

__ADS_1


“Wah! Ini serius buat aku?” tanya Lindsey.


“Iya. Enak, kan, bekerja di GDP. Hal kecil yang kamu lakukan akan mendapat apresiasi.” jawab Luven.


“Sekarang giliran kamu pikirkan jawaban apa yang tepat ketika ditanya para petinggi nanti.” tambah Luven.


“Oh, iya! Aku harus bilang apa, ya?” tanya Lindsey.


“Memangnya kamu kenapa bisa ada di sana?” balas Luven.


“Aku mengikuti mereka dari belakang. Karena takut jaksa Rivan berubah pikiran dan tidak mau menggeledah Lukman.” ucap Lindsey.


“Lalu kenapa kamu tiba-tiba datang seperti pahlawan dan membuka kotak itu dari sekian banyak kotak lainnya?” tanya Luven.


Kalau aku jawab karena nama penerima di kotak itu adalah Ferdi, pasti Luven akan bertanya lagi darimana aku tahu soal Ferdi. Luven tidak boleh tahu kalau aku bergabung dengan sebuah kelompok yang di dalamnya ada seorang ahli peretas. batin Lindsey.


“Bukankah itu hal yang mencurigakan? Di saat semua kotak berbahan kardus, hanya kotak itu yang berbahan kayu, tempat yang lebih kokoh untuk melindungi guci.” jawab Lindsey.


“Ok, baik. Tapi kamu tahu darimana kalau di guci tersebut ada isinya? Kamu langsung menjatuhkan guci itu ke aspal saat berhasil membuka kotak.” balas Luven.


“Soal itu.. feeling. Iya, feeling. It’s all about feeling. Seseorang yang tidak memiliki perasaan sepertimu tidak akan tahu.” ucap Lindsey.


“Aku sudah menjawab jujur semua pertanyaanmu. Sekarang giliran kamu yang membantu aku membuat penjelasan ke petinggi nanti.” sambung Lindsey.


“Tapi kamu tidak bisa asal memecahkan guci itu, Lindsey. Bagaimana kalau ternyata di dalamnya tidak terdapat nark*ba? Sedangkan itu berita live, kalau kamu tersorot kamera memecahkan guci orang lain, kamu malah akan membuat malu GDP.” ucap Luven.


Hee..eh... Aku tidak asal memecahkan tahu. Aku sudah melihat Fersi dan guci pecah kemarin. Dan kemarin guci itu pecahnya bukan pecah berkeping-keping, melainkan berlubang. Itu yang membuatku semakin curiga. batin Lindsey.


“Ya tapi feeling-ku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di guci itu, bagaimana?” tanya Lindsey.


“Kamu memang agak barbar dan brutal, sih. Masa langsung kamu pecahkan? Kan kamu bisa menyuruh Rivan memeriksa guci itu.” jawab Luven.


“Aku orangnya tidak sabaran.” balas Lindsey.


“Ya, sudah. Bilang saja kalau kamu mencurigai Lukman karena dia yang memberikan kotak jam tangan berisi nark*ba kepada klienmu. Jadi kamu datang ke tempat itu setelah melihat berita.” ucap Luven.


“Lalu kalau mereka bertanya kenapa aku memecahkan guci itu?” tanya Lindsey.


“Itu karena kamu sulit mengendalikan emosimu. Dan kamu kebablasan. Mengaku salah saja sedikit, toh kamu sudah diberi hadiah.” jawab Luven.


“Baiklah. Tapi, posisiku di GDP.. masih aman, kan..?” tanya Lindsey.


“Wah.. aman dan damai sejahtera, Lindsey.” jawab Luven.


“Bagus deh. Aku pergi menemui mereka dulu, deh. Sampai nanti.” pamit Lindsey.


“Hey, jangan lupa kembali lagi. Klien banyak berdatangan untukmu.” balas Luven.


Hah? Banyak klien? Lebih baik aku kaboorrr..!!! batin Lindsey.


Bersambung...

__ADS_1


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2