
halo semuanya.. jumpa lagi di episode kedua yg aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻
Dia bukan laki-laki mesum, kan? Aku sedang memakai celana rok pendek, pula! batin Lindsey.
Lindsey berharap lift cepat sampai ke lantai yang dituju. Dia ingin cepat-cepat pergi jauh dari laki-laki itu.
Lantai demi lantai berlalu. Tibalah Lindsey di parkiran. Lift pun terbuka. Namun saat Lindsey ingin keluar, laki-laki ituu menekan tombol untuk kembali menutup pintu lift. Membuat Lindsey terkejut dan takut.
Mamp*s aku. Apa yang ingin laki-laki ini lakukan padaku? batin Lindsey.
“Kamu tidak mengenaliku?” tanya laki-laki itu lalu melepas kacamatanya.
Lindsey langsung mengenalinya setelah laki-laki melepas kacamatanya. Mata Lindsey membulat, mulutnya sedikit terbuka. “Ja-ja-Jarvis?” Lindsey langsung mengenali laki-laki itu setelah kacamatanya dilepas.
“Kita bertemu lagi, Lindsey.” ucap Jarvis.
Jantung Lindsey bergetar mendengar suara laki-laki itu. Tambah bergetar lagi saat laki-laki itu menyebutkan namanya.
Lindsey sedang duduk berhadapan dengan Jarvis di sebuah restoran fasilitas tempat golf. Kakinya duduk bersilang dan bergoyang, tidak bisa diam. Sesekali dia menyeruput jus apelnya. Jarvis melirik kakinya di kolong meja. Senyum kecil terukir di bibirnya yang kala itu mendapati Lindsey sedang gugup.
“Kamu habis bermain golf?” tanya Jarvis memulai percakapan.
“Uh? Iya.” jawab Lindsey.
“Keringatmu banyak sekali.” balas Jarvis.
“...” Lindsey dengan spontan mengelap keringat di dahinya.
“Baru saja ingin aku buat kamu berkeringat parah. Tapi kamu sudah berkeringat sebelum bertemu denganku.” ucap Jarvis kemudian.
Bulu kuduk di seluruh tubuh Lindsey berdiri tepat setelah Jarvis mengatakan hal itu.
“Jarvis, maaf! Maaf sekali.. Tapi aku harus pergi. Aku ada kegiatan lain. Maaf. Maaf sekali!” Lindsey beranjak dari kursinya dan hendak berjalan meninggalkan tempat itu beserta Jarvis. Bohong sekali ada kegiatan lain, justru hanya di akhir pekan lah jadwal Lindsey kosong.
Namun Jarvis berdiri dan menghadangnya. Diselipkannyalah sebuah kartu berwarna hitam di bibir Lindsey. Kemudian Jarvis memajukan wajahnya, mendekatkan mulutnya di telinga Lindsey. “Jamnya seperti biasa.” ucap Jarvis menggoda.
Bulu kuduk di sekujur tubuh Lindsey kembali berdiri. Jarvis pun berbalik badan terlebih dahulu dan pergi. Lindsey mengambil kartu yang diapit oleh bibirnya dan melihat kartu apa itu. The Mega Lux Hotel.
Lindsey melihat nama dan logo tertera di kartu itu. Dan ketika Lindsey membaliknya, tertera 3 angka yang diduga adalah nomor kamar.
“Oh my God.”
...****************...
__ADS_1
“Jorookkk!!! Habis dari luar, keringetan, bukannya pulang mandi! Malah langsung tiduran di kasur! Bangun, hey! Sana cepat mandi!” Kapten membuka pintu kamar Lindsey dan langsung mengocehinya begitu melihat wanita itu sedang rebahan di atas kasur dengan pakaian yang sama seperti saat bermain golf.
Setelah diocehi Kapten, Lindsey pun bangun dan masuk ke kamar mandi. Dia akui memang dia malas mandi karena saking lelahnya setelah bermain golf dan mengeluarkan banyak keringat tadi.
“Benar benar si Lindsey.. bisa-bisanya langsung tiduran dengan tubuh penuh keringat itu.” Kapten menggeleng-gelengkan kepalanya setelah dari kamar Lindsey.
“Ada ada saja. Mungkin dia lelah.” balas Piter.
...****************...
30 menit kemudian...
Lindsey bergabung di ruang tengah bersama Kapten dan Piter setelah selesai mandi. Dia duduk di sofa bersama Kapten. Sedangkan Piter di meja komputernya.
“Katie mana?” tanya Lindsey.
“Ke kantor, kerja.” jawab Piter.
“Hah? Hari ini kan akhir pekan.” balas Lindsey.
“Katanya Jarvis masuk kerja hari ini. Makanya dia juga masuk.” sahut Kapten.
“Masuk kerja? Huh! Jelas jelas dia—” Lindsey tersadar apa yang akan dia ucapkan. Hampir saja dia dengan polosnya mengaku bertemu Jarvis di tempat golf tadi.
“Serius?! Lalu, apa yang dia katakan padamu?” tanya Piter yang menghampiri Lindsey di sofa.
“Tidak banyak. Aku pamit pergi tidak lama setelah itu.” jawab Lindsey.
“Wow. Aku pikir akan berurusan panjang kali lebar lagi.” balas Piter.
“Kapt, apa rencana kita untuk mencari keberadaan emasnya Jarvis?” tanya Lindsey.
“Aku sudah menyelidiki properti milik Jarvis yang kira-kira ukurannya cukup untuk menyimpan emas Jarvis yang begitu banyaknya. Dan ini beberapa properti yang mungkin.” jawab Kapten seraya menunjukkan beberapa lembar foto.
Foto pertama: Mansion, tempat tinggal bersama orangtua Jarvis.
“Tidak mungkin. Mansion ini seperti tempat keramat baginya. Dia tidak mungkin menyentuh mansion ini lagi.” ucap Lindsey.
“Lalu kenapa tidak dijual saja kalau penuh dengan kenangan buruk?” tanya Piter.
“Entahlah. Tapi tidak mungkin Jarvis menyimpan emasnya di sini.” jawab Lindsey.
Foto kedua: Gedung kosong 7 tingkat.
__ADS_1
“Bisa jadi di gedung ini ada ruang tersembunyi atau ruang bawah tanah untuk menyimpan emas ini.” ucap Kapten.
“Tapi coba Kapten bayangkan. Untuk menyimpan emas Jarvis yang sebanyak itu, mereka harus memindahkannya dengan cara berjalan masuk menelusuri gedung sambil menggotong emas. Itu pekerjaan yang melelahkan. Dan lagi, kalau dilihat orang Jarvis memiliki emas sebanyak itu.” balas Lindsey.
Foto ketiga dan keempat: Tanah kosong seluas 5 hektar dan 12 hektar.
“Bisa saja Jarvis menaruhnya di bawah tanah. Kan mudah saja menaruh semuanya sekaligus dengan mesin. Menggali tanah juga bisa pakai mesin.” ucap Kapten.
“Wah, bisa jadi, Kapt. Bagaimana? Perlukah kita datangi tempat itu?” balas Piter.
“Bagaimana kalau Jarvis memasang jebakan lagi?” tanya Lindsey.
“Dan belum pasti 100% emas itu ada di sana.” tambah Kapten.
“Kali ini kita harus mengetahui apa jebakan yang Jarvis pasang.” sahut Piter.
Foto kelima: Gambar sebuah Bank.
“Bank?” tanya Lindsey setelah melihat foto kelima.
“Tempat teraman adalah di bank. Setelah ini pasti Jarvis merasa keberadaan emasnya tidak aman lagi. Ada yang mengincar emasnya. Lalu apa yang mungkin dia lakukan? Mengubah emas itu menjadi uang dan menyimpannya di bank.” jawab Kapten.
“Bingo! Itu logika yang masuk akal!” pekik Piter.
“Kemungkinan yang kita buat masih tidak benar sampai kita mengetahui tempatnya.” balas Lindsey.
“Tinggal bagaimana caranya kita mengetahui dimana keberadaan emas itu.” ucap Kapten.
“Aku akan sering bertemu dengan Jarvis. Tenang saja.” ucap Lindsey.
“Lindsey? Hey, aku tidak mau kamu melakukan hal itu lagi.” balas Kapten.
“Memangnya ada cara lain, Kapt?” tanya Lindsey.
“Tetap saja. Aku tidak mau kamu jatuh ke lubang yang sama, Lindsey.” jawab Kapten.
“Tapi aku memang harus bertemu Jarvis karena kasusnya itu. Selagi aku menangani kasusnya, aku akan—” ucap Lindsey terpotong.
“Tidak. Tidak. Tidak, pokoknya aku tidak mengizinkan. Kamu cukup mengurus kasus Jarvis saja, jangan melakukan hal lain yang berkaitan dengan misi kita.” Kapten memotong kalimat Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih