Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Jangan Lengah


__ADS_3

“Kita harus perbanyak latihan mesra. Kita mau bertemu orangtuamu, loh.” Lindsey beralibi.


“Oh. Benar.” balas Luven.


Perlahan Luven menggerakkan tangannya, menghampiri wajah Lindsey dan mengusap rambutnya. “Apakah seperti ini juga mesra?” tanya Luven.


“Sangat mesra! Mulus juga aktingnya Luven. Kebetulan Morex tidak ada seorang aktor. Boleh kali kita rekrut ke Morex?” sahut Piter.


“Mesra. Pertahankan sampai kita bertemu orangtuamu.” Lindsey menjawab pertanyaan Luven.


“Cut.” perintah Kapten.


“Baiklah.” balas Luven sambil membukakan pintu mobil untuk Lindsey.


Lindsey masuk ke dalam mobil.


Luven pun demikian. Tidak lagi lupa, Luven memasangkan seatbelt untuk Lindsey lalu melajukan mobilnya meninggalkan parkiran JM Buildings.


Kapten dari sisi lain juga hendak mengikuti mobil Luven namun dia berhenti setelah menancap gasnya begitu melihat Carlos yang berlari ngibrit ke mobil dan mengikuti mobil Luven.


“Carlos menerima umpan. Sesuai rencana, dia mengikuti mobil Luven.” ucap Kapten melalui earbuds dan kemudian mengikuti mobil mereka dari belakang.


Kediaman Roland Gourman.


Mobil Luven tiba di kediaman orangtuanya dengan membawa perempuan cantik. Dia membukakan pintu untuk Lindsey yang turun dengan anggun, dengan balutan gaun selutut berwarna hitam. Tangannya menggandeng lengan Luven dengan mesra seraya berjalan memasuki rumah.


“Carlos mengikuti hingga ke rumah orangtuanya Luven.” ucap Kapten melalui earbuds.


“Jadi bagaimana, Kapt? Apakah Kapten sudah bisa membaca situasinya?” tanya Piter.


“Carlos bergerak sendiri. Eh guys, Carlos sudah pergi. Ok, lanjut ke rencana berikutnya. Buat Carlos menjadi pacar ketigamu dan bertekuk lutut.” ucap Kapten.


Gila. Pacarku ada 3. batin Lindsey sambil mengunyah makanan.


“Tante senang sekali mengetahui fakta bahwa Luven memiliki pacar dan pacarnya itu kamu Lindsey.” ucap mamanya Luven.


Lindsey tersenyum sambil menatap Luven.


“Itu benar. Dan sepertinya Luven tidak pernah sebahagia sekarang sejak bersama Lindsey, ya, ma.” sahut Roland.


“Ah, papa bisa saja. Eh, sebentar ya. Aku mengangkat telepon dulu.” ucap Luven lalu meninggalkan meja makan.


“Oh ya, om. Terima kasih ya untuk hadiah tambahnnya. Aku suka.” ucap Lindsey.


“Hadiah tambahan?” tanya Roland.


“Iya, kotak berisi 1 set perhiasan. Luven sudah memberikannya padaku kemarin.” jawab Lindsey.


“Wah, biar sudah tua bangka Luven masih pemalu ya, ma.” ucap Roland.


“Hahhahah iya..”


“Hm?” Lindsey kebingungan.


“Lindsey, om tidak menitipkan hadiah tambahan apapun ke Luven. Kalaupun ada, pasti sudah om berikan langsung ke kamu.” ucap Roland.


“Jadi.. perhiasan itu..?”


“Maaf ya aku tinggal sebentar. Oh, ya. Sudah malam, aku harus mengantar Lindsey pulang. Dia kan tuan putrinya keluarga Verwils sekarang.” ucap Luven.

__ADS_1


“Ya sudah, hati-hati ya. Sering main ke sini ya, Lindsey.” balas mamanya Luven.


“Terima kasih untuk makan malamnya, om, tante. Aku pulang dulu.” pamit Lindsey.


“Lindsey, jangan lupakan acara dansamu.” ucap Piter melalui earbuds.


“Ehm, Luven.. kamu turunkan aku di depan saja, ya. Aku harus pergi ke suatu tempat.” ucap Lindsey.


Luven menepikan mobilnya dan Lindsey turun dari mobil.


Apa Luven tidak curiga kenapa aku minta diturunkan dari mobil? batin Lindsey.


Setelah mobil Luven pergi, datanglah mobil Kapten dan Lindsey masuk ke dalamnya.


“Bayaran aku harus paling besar ini. Aku paling sibuk di sini.” ucap Lindsey.


“Piter akan memantau dari CCTV, Katie akan menyamar menjadi pelayan di dalam, dan aku memantau dari luar. Ingat, jangan sampai Carlos lolos.” ucap Kapten.


“Piter, ready.” ucap Piter melalui earbuds.


“KatRich, ready.” sahut Katie.


“Terpantau Carlos sudah datang dan sedang mengambil gelas. Memakai topeng berwarna abu-abu.” tambah Katie.


“Ini topengmu.” ucap Kapten seraya memberikan topeng untuk Lindsey.


Kapten mengendarai mobil hingga sampai di gedung pesta dansa.


“Kapt, tolong bantu ikatkan topengnya, dong.” ucap Lindsey.


Kapten membantu mengikatkan tali di belakang kepala Lindsey sebelum Lindsey turun dari mobil.


“Yes, Kapt! LinStar memasuki gedung.” ucap Lindsey.


“Carlos tepat di arah jam 10.” ucap Katie.


Lindsey pun berjalan ke arah jam 10 untuk menemui Carlos.


Flashback ON.


“Ini ada 2 tiket untuk masuk ke pesta dansa. Berikan Carlos satunya.” ucap Kapten.


“Wait, kenapa pesta dansa?” tanya Lindsey.


“Memangnya kamu tidak bisa berpikir? Menurutmu seorang Carlos bisa berdansa?” sahut Katie.


“Kita akan menggunakan kelemahannya.” ucap Kapten.


Flashback OFF.


“Hey, tidak aku sangka kamu jauh lebih tampan dengan topeng.” ucap Lindsey.


Jreng! Jeng.. jeng..


Lampu di hall tiba-tiba mati dan berubah menjadi cahaya remang. Suara piano mulai terdengar. Dan menjadi alunan musik pengiring dansa.


“Kita resmi berpacaran jika kamu bisa berdansa denganku hingga musik selesai.” ucap Lindsey.


Carlos kemudian mengulurkan tangannya sebagai ajakan untuk berdansa.

__ADS_1


“Ayo semangat, Lindsey! Hanya 7 menit, Lindsey.” ucap Piter.


“Carlos pasti tidak akan bisa berdansa sampai 7 menit.” sahut Katie.


Lindsey menerima uluran tangan Carlos. Mereka pun kini berdiri saling berhadapan di tengah hall.


Carlos meletakkan tangan kanannya dengan lembut di belikat kiri Lindsey. Sementara Lindsey menempatkan lengan kirinya di atas lengan kanan pasangan sehingga tangannya menyentuh bahu kanannya. Dia memegang bahunya dengan lembut untuk menyeimbangkan badan. Tangan mereka yang satunya saling menggenggam, memosisikan kedua tangan mereka setinggi mata Lindsey yang lebih pendek.


Dan akhirnya Carlos mengambil langkah pertama. Melangkahkan kaki ke kiri, lalu menyusul dengan kaki kanan, mengulanginya lagi langkah ini dengan melangkah ke kiri dengan kaki kiri lagi dan kaki kanan menyusul.


Perasaanku tidak enak. Carlos terlihat sangat lihai berdansa. batin Lindsey.


Carlos memimpin dansa mereka. Ke arah sebaliknya, dia melangkahkan kaki kanan ke kanan, lalu disusul dengan kaki kiri. Melangkah lagi ke kanan satu kali, disusul dengan kaki kiri.


“Aku tidak mau jadi yang ketiga.” ucap Carlos.


“Sudah sesuai urutan. Tidak bisa diubah.” balas Lindsey.


Carlos kemudian memosisikan kaki kanan membentuk diagonal, membawa kaki sebelahnya maju dan mundur supaya seirama dengan kaki yang memimpin, melanjutkan melangkah dan memandu dansa dalam gerakan melingkar.


“Tapi apakah kamu akan memperlakukan kita semua dengan adil?” tanya Carlos.


“Tentu saja. Aku akan memberimu perlakuan khusus jika kamu mau.” jawab Lindsey.


“Tidak apa-apa jika aku jadi yang ketiga. Asalkan aku jadi yang terakhir.” balas Carlos.


“As you wish, Sir.” ucap Lindsey.


“Under one minute..” ucap Kapten.


“Kenapa Carlos bisa jago, gitu?!” ucap Katie melalui earbuds yang melongo melihat Carlos dan Lindsey berdansa.


Mereka berdansa gerakan demi gerakan seraya musik yang terus mengiringi. Memutar tubuh Lindsey, menurunkannya, mengayunkannya, gerakan kakinya yang lihai tanpa melewatkan satu langkah pun, dan tanpa keserimpet.


“Pacar ketiga deh.., Linds..” ucap Piter.


“Jangan lengah. Saat ini kita masih belum tahu motif Carlos memacari Lindsey.” ucap Kapten.


Musik perlahan berhenti dan lampu kembali menyala terang.


“Kamu mau aku berikan tips agar hubungan kita langgeng?” tanya Lindsey.


“Boleh.” jawab Carlos.


“Tutup rapat mulutmu.” balas Lindsey.


Triring... Ponsel Carlos berdering.


Lindsey menaikkan sebelah alisnya sebagai isyarat agar tidak apa-apa jika Carlos mengangkat teleponnya.


“Jarvis.” ucap Carlos.


“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan?” tanya Lindsey.


Ponsel Carlos berhenti berdering sebelum dia menjawab telepon dari Jarvis. Bergantian, ponsel Lindsey yang kini berdering.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2