
halo semuanya.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya (berhubung likenya masih sedikit) dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Jarvis berjalan melewati meja kerjanya, dan memilih merokok di depan jendela seraya memandangi suasana di tengah kota pada malam hari. Ditemani dengan sebotol bir dan beberapa kotak rokok. Cukup banyak hal yang memenuhi isi kepala Jarvis, beban pikirannya terasa semakin berat dan satu-satunya yang dia butuhkan untuk melampiaskan stress-nya hanyalah bir dan rokok.
Sesaat Jarvis berbalik badan. Memandangi meja kerjanya yang berantakan dan tambah membuatnya sakit kepala. Di atas meja kerjanya, penuh dengan clipboard, kertas-kertas yang berantakan yang memperlihatkan CV, latar belakang, riwayat pendidikan, keluarga, teman seseorang.
LINDSEY SKY LEXIS
Siapa kamu sebenarnya, Lindsey?
Jarvis meneguk bir langsung dari botolnya. Sorot matanya lurus dan tajam terhadap kertas-kertas yang berada di atas meja kerjanya.
...****************...
Sinar matahari yang masuk dari celah gordyn menyadarkan Lindsey dari tidur nyenyaknya yang tengkurap di atas ranjang besar, dengan tubuh polosnya yang hanya ditutupi selimut. Di saat itu juga dia tersadar, tinggallah seorang dirinya di atas ranjang putih berukuran king size itu. Lagi-lagi pria yang tidur bersamanya bangun lebih awal dan tidak membangunkan dia.
Lindsey bergerak turun dari ranjang, mengambil pakaian dalamnya, dan kaos putih milik Jarvis yang dia sempat kenakan tadi malam. Setelah tubuhnya sudah tidak polos lagi, Lindsey berjalan keluar dari kamar. Menuruni tangga demi tangga dan mencari keberadaan Jarvis. Tapi Jarvis tidak ada di bawah.
Dirinya semakin penasaran akan keberadaan Jarvis. Akhirnya Lindsey memutuskan untuk menelusuri penthouse yang besar dan megah itu. Lindsey kembali naik ke atas, dan tepat di sebelah kamar, terdapat ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka, dan suara seseorang yang sedang bertelepon. Itu pasti Jarvis.
Lindsey pun membuka pintu ruang tersebut. Mendapati Jarvis sedang bertelepon, Lindsey memilih untuk masuk perlahan ke ruang kerja Jarvis dengan AC yang dingin, pikirannya langsung mengatakan bahwa AC di ruangan itu pasti sudah dinyalakan lama. Jarvis pasti sudah berada di ruangan itu dalam waktu yang lama.
Lindsey berjalan maju, semakin maju mendekati meja kerja Jarvis yang berantakan dengan kertas-kertas. Sepertinya saat ini Jarvis sedang sibuk. Selesai bertelepon, Jarvis berbalik badan, mendapati Lindsey yang sudah berada di dalam ruangannya.
“Hey, kenapa masuk?” tanya Jarvis seraya kedua tangannya sibuk merapikan kertas-kertas yang berantakan di atas meja kerjanya. Sambil di dalam hatinya sangat was-was.
“Lindsey sudah lihat ini semua belum, ya?”
“Lindsey tidak boleh melihat ini semua.”
“Hmm, tadi aku melihat pintunya sedikit terbuka.” jawab Lindsey.
“Sedang sibuk?” tanya Lindsey lagi.
“Oh, tidak begitu.” jawab Jarvis.
“Mau sarapan apa? Biar aku pesan layanan hotel.” Jarvis mengalihkan ke topik pembicaraan yang lain.
“Apa saja aku makan.” jawab Lindsey.
__ADS_1
“Ok. Yuk.” Jarvis mengajak Lindsey keluar dari ruang kerjanya.
Di meja makan.
Keduanya duduk saling berhadapan, di tengahnya terdapat 2 porsi roti croissant dengan gula di atasnya, buah yang sudah dipotong, secangkir kopi untuk Jarvis dan cokelat panas untuk Lindsey.
“Apa kamu kesulitan tidur belakangan ini?” tanya Lindsey seraya memotong rotinya dengan pisau.
“Hm? Tidak juga. Bagaimana mungkin aku kesulitan tidur jika ada kamu di sini?” jawab Jarvis.
“Lantas, kenapa kamu tidak tidur?” tanya Lindsey.
“Huh?”
“Matamu merah.”
“Oh.. aku tidur, kok. Aku tidur. Tapi terbangun karena ada kerjaan.” ucap Jarvis.
“Hah.. itu sebabnya aku benci berkencan dengan laki-laki pekerja keras.” gumam Lindsey.
“Kenapa?” Jarvis mendengarnya.
“Mereka bekerja tidak kenal waktu. Mereka selalu membawa pekerjaannya ke rumah. Padahal pulang ke rumah untuk istirahat, kenapa masih harus bekerja lagi?” balas Lindsey.
“Memangnya sudah berapa banyak laki-laki pekerja keras yang kamu kencani?” tanya Jarvis lagi.
“Aku tidak pernah menghitungnya.” jawab Lindsey.
“Apa semasa kuliahmu dulu kamu sudah mulai berkencan?” tanya Jarvis.
Kuliah? batin Lindsey.
“Sejak sekolah menengah aku sudah berkencan.” jawab Lindsey.
“Wow. Apa ada yang sulit kamu lupakan sampai sekarang?” tanya Jarvis.
“Tidak ada. Aku langsung melupakan mereka semua setelah hubungan berakhir.” jawab Lindsey.
“Wow. Aku jadi iri.” balas Jarvis.
“Hm?”
__ADS_1
“Aku iri dengan orang yang mudah melupakan sesuatu.” ucap Jarvis.
“Aku diciptakan menjadi orang yang selalu mengingat semua hal kecil. Nama anjing saudaranya tetanggaku, plat mobil orang yang menyalipku di jalan, bahkan nama profesor yang tidak berjasa sama sekali saat aku berkuliah. Aku masih ingat semua itu.” sambung Jarvis.
“Ingatanmu bagus sekali. Jangan-jangan kamu masuk kategori orang terjernius di dunia?” balas Lindsey.
“Bagaimana denganmu? Kamu masih ingat dengan profesor atau dosenmu saat kamu berkuliah dulu? Eh, kamu lulusan mana, sih?” tanya Jarvis.
“Aku lulusan universitas luar negeri.” jawab Lindsey.
“Harvard? Stanford? Oxford? Atau Cambridge?” tanya Jarvis.
“Yang pertama. Sekarang jawab pertanyaanku dulu. Memangnya kamu percaya kalau aku lulusan luar negeri?” balas Lindsey.
“Melihat kepintaranmu di persidangan kemarin, sih.. sepertinya mungkin. Eh, adik temanku juga ada yang lulusan Harvard. Hukum juga. Namanya Dean. Anaknya profesor Andreas. Kamu tahu?” ucap Jarvis.
“Hmm.. seperti pernah dengar namanya.” balas Lindsey.
“Sebentar. Kamu angkatan berapa, sih, Lindsey?” tanya Jarvis lalu mengambil ponselnya.
Otak Lindsey langsung berhitung cepat.
Kalau tahun ini aku 26, dan biasanya orang menjadi mahasiswa di umur 18 tahun, maka 8 tahun yang lalu aku menjadi mahasiswa. 2022 dikurang 8 tahun sama dengan...
“2014! Aku angkatan 2014.” jawab Lindsey.
“Oh, ini aku lihat di sosial media temanku. Yang ini temanku, dan ini adiknya. Ini saat foto kelulusan adiknya di Harvard.” Jarvis memperlihatkan ponselnya. Terdapat 4 orang berfoto bersama dan ditengahnya ada seorang laki-laki memakai toga wisuda, memegang buku rapotnya.
Kenapa Jarvis bertanya sampai sejauh ini? Jarvis sedang mengetes latar belakang aku sekarang? batin Lindsey.
“Apa kamu kenal dia? Di buku rapotnya itu tertera tahun 2014. Berarti kalian seangkatan.” tanya Jarvis lagi.
“Oh.. dia. Aku pernah lihat wajahnya, sih..” jawab Lindsey.
“Ohh...” balas Jarvis.
Sudah sejauh apa Jarvis menggali tentang latar belakangku? batin Lindsey.
Lindsey berbohong soal universitasnya. Adik temanku ini tidak berkuliah di Harvard melainkan University of Cambridge. batin Jarvis.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih