
Lindsey kembali membaca halaman berikutnya.
“Kejaksaan telah berhasil menemukan pelaku di kediamannya yang berada di wilayah yang sama dengan terjadinya pembunuhan berantai. (06/04/2022)”
“Apa lebih baik aku menyerah saj—” ucap Lindsey terputus saat tiba-tiba menemukan sesuatu di kepalanya. Lindsey kembali membalik kertas ke halaman sebelumnya.
“13 hari setelah 21 Maret, berarti.. dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat...” Lindsey menghitung tanggal di kalendernya.
“3 April! 13 hari setelah 21 Maret adalah 3 April. Di hari itu Kejaksaan mengeluarkan pernyataan bahwa masih sulit untuk menemukan pelakunya. Lalu pada tanggal 6 April tiba-tiba Kejaksaan sudah menemukan pelakunya. Bagaimana bisa dalam 3 hari langsung menemukan pelakunya? Padahal sejak kasus pertama 6 bulan yang lalu mereka selalu gagal.” ucap Lindsey monolog.
Lindsey menyadari kejanggalan pertamanya. Semangatnya semakin berapi-api untuk menemukan kejanggalan yang lain. Ketika sudah membaca banyak halaman, Lindsey menyadari kejanggalan yang baru bahwa tidak ada bukti langsung bahwa pelaku itulah yang membunuhnya. Pelaku hanya terekam CCTV di sekitar lingkungan sedang terlihat bersama dengan salah tiga korban, dan CCTV di sebuah minimarket bahwa dia sedang membeli sebotol racun.
Lindsey menggerakkan mouse nya dan mengetikkan sesuatu di komputernya.
“Wah. Ada yang salah dari kasus ini.” ucap Lindsey lalu bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Luven.
...****************...
Di ruangan Luvenius Gourman.
“Wow. Masih jam 7, Lindsey. Kamu sudah menemukannya?” tanya Luven lalu mengiring Lindsey untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Lindsey meletakkan berkas kasus itu di atas meja sofa dan membuka halaman kertas.
“Botol racun serangga dan benda tajam yang ditemukan kosong di samping korban pun tidak terdapat sidik jari pelaku. Keterangan saksi setempat juga tidak ada. Motif pembunuhan tidak ada. Mungkin akan lebih masuk akal apabila ada motif balas dendam atau sakit hati, tapi sayangnya tidak ada. Sepertinya kejaksaan terlalu buru-buru menangkap pelaku sehingga menangkap orang yang salah. Karena kalau dilihat dari potongan gambar CCTV di minimarket, pelaku membayar botol racun di kasir yang ukurannya lebih besar jika dibandingkan dari gambar di TKP korban yang meninggal karena racun. Tadi aku sudah mencari di g**gle, botol racun serangga yang dibeli pelaku berukuran 100 ml sedangkan yang di TKP berukuran 50 ml. Di potongan gambar CCTV memang tidak terlalu kelihatan perbedaan ukurannya, tapi aku yakin sekali ukurannya berbeda.” Lindsey menjelaskan kejanggalan yang dia temukan panjang lebar.
“Dan satu lagi. Ini menurut asumsi aku saja, sepertinya kejaksaan telah dikritik oleh masyarakat karena proses menemukan pelaku yang lamban, dan untuk mengembalikan citra yang baiknya maka kejaksaan terpaksa ‘menjadikan’ seseorang yang tidak bersalah sebagai pembunuhnya.” tambah Lindsey.
“Memang si pelaku tidak mengakui perbuatannya sampai di sidang pertamanya kemarin. Dia terus mengatakan kalau bukan dia pembunuhnya dan menyebut sumpah mati segala macam.” balas Luven.
“Apa sebelumnya kamu pernah menangani kasus pembunuhan?” tanya Luven kemudian.
“Hm? Tidak. Belum. Aku hanya membantu atasanku saja yang dulu.” jawab Lindsey.
“Pasti atasanmu yang dulu sangat terbantu karena kamu. Karena aku juga merasa seperti itu.” balas Luven.
“Pelaku ini adalah klienku. Aku memutuskan untuk membela dia di persidangan berikutnya. Terima kasih, ya. Berkatmu, aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan.” tambah Luven.
“Hah..? Klienmu?” tanya Lindsey saking terkejutnya.
“Iya.”
Ting.. Ponsel Lindsey berbunyi.
Piter.
__ADS_1
Piter mengirim sebuah file.
Hati-hati. Muda muda cabe rawit. Jago melobi. Kamu bisa dekati dia demi keberlangsungan hidupmu di GDP.
Lindsey membaca pesan dari Piter.
“Sebentar ya aku ke toilet dulu.” ucap Lindsey lalu keluar dari ruangan Luven.
Dia pergi ke toilet untuk membuka isi file yang dikirimkan Piter. Rupanya Piter di dalam file tersebut berisi profil Luven beserta foto-foto yang menunjukkan Luven bersama jajaran petinggi yang mengendalikan firma, anggota dewan, direksi perusahaan besar dan masih banyak lagi foto bersama orang penting dan dari kalangan atas.
“Koneksinya luas sekali..” gumam Lindsey.
Lindsey kembali ke ruangan Luven. Bertepatan Luven baru saja meletakkan gagang telepon.
“Aku baru saja berbicara dengan bagian personalia. Masa waktu penilaianmu dipangkas setengah. Jadi hanya 30 hari saja.” ucap Luven.
Secepat itu?
“Bagian personalia menyetujuinya?” tanya Lindsey.
“Ya, tapi kamu tetap masih dalam pengawasanku.” jawab Luven.
“Ahh, entah mengapa aku jadi menyesal. Kalau tahu kamu sepintar ini, seharusnya aku mempertahankanmu selama mungkin.” tambah Luven.
“Kamu kan pengacara tingkat 1. Pasti kamu lebih pintar dariku.” balas Lindsey.
Pantas saja...
“Enak sekali. Sedangkan orang biasa seperti kami harus berjuang mati-matian untuk ke posisi itu.” ucap Lindsey.
“Aku tahu. Itu sebabnya aku sering membantu orang biasa seperti aku membantumu sekarang ini.” balas Luven.
“Memiliki orangtua anggota dewan, tidak seenak yang kamu pikirkan..” tambah Luven.
“Kamu harus menikah ketika mereka sudah menemukan pasangan yang tepat untukmu, bukan ketika kamu sudah menemukan pasangan yang tepat untukmu.” ucap Luven.
Loh kok jadi curhat masnya ?!
“Kamu sedang dalam perjodohan?” tanya Lindsey.
“He’em.”
“Kapan pernikahannya?” tanya Lindsey.
“Awal bulan depan atau pertengahan.” jawab Luven.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Luven kemudian.
“Hm? Ti—”
“Kamu mau membantuku menggagalkan?”
“Hah?”
“Laki-laki itu pecinta kebebasan.”
“Lalu?”
“Aku tidak ingin menikah dengan dia.”
Padahal niatku hanya ingin diundang supaya bisa makan enak dan gratis. batin Lindsey.
“Lalu kenapa bilangnya ke aku? Bilang saja ke orangtuamu.” ucap Lindsey.
“Aku butuh alasan untuk bilang ke mereka.” balas Luven.
“Kamu sangat pintar. Aku tahu kamu sangat mengerti apa maksudku.” tambah Luven.
“Keluargaku tidak memiliki latar belakang yang hebat seperti keluargamu. Denganku, kamu tidak akan berhasil. Bahkan malahan pernikahan kalian akan dipercepat.” ucap Lindsey.
“Gampang. Latar belakang bisa dibuat. Kita hanya perlu akting sedikit.” balas Luven.
“Lalu imbalan apa yang akan aku dapatkan?” tanya Lindsey.
“Apa yang kamu inginkan?” balas Luven.
“Apa yang bisa kamu berikan?” tanya Lindsey.
“Kamu pasti juga tidak tahu, kan, apa yang kamu inginkan? Pikirkan—” ucap Luven terpotong.
“Berapa persen tingkat kemenanganmu?” tanya Lindsey.
“Kamu ingin aku membela siapa?” balas Luven.
Aku. Dan anak gengku.
Jika suatu saat nanti kita ketahuan, kita membutuhkan seseorang untuk membantu kita bebas dari hukuman atau setidaknya hukuman kita bisa dikurangi. batin Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih