Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Bertemu Klien Pertama


__ADS_3

halo semuanya.. ketemu lg di episode ktiga yg aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


Lift yang ditumpangi Lindsey akhirnya tiba di lantai yang dia tuju. Lindsey menempelkan kartu tanda pengenal yang menggantung di lehernya di sensor pintu untuk membuka pintu tersebut.


“Pengacara Lindsey, ada seorang klien yang sudah menunggu anda.” ucap seseorang di meja penerima tamu setelah masuk pintu.


“Apa dia sudah menunggu lama?” tanya Lindsey dengan mendekatkan diri agar tidak didengar siapapun.


“Sudah sekitar 30 menit. Dia menunggu di ruang tunggu.”


Ish! Kenapa Jarvis datang begitu pagi? Aku kan sudah bilang jam 8! batin Lindsey.


Lindsey segera beralih ke ruang tunggu untuk menemui Jarvis. Di sana Jarvis sedang duduk sambil membaca majalah yang ada. Terlihat juga secangkir teh yang isinya menyisakan kurang dari seperempat cangkir.


“Bukan aku yang terlambat, kan? Kamu nya saja yang lebih awal. Aku kan sudah bilang jam—” ucap Lindsey yang terpotong karena Jarvis langsung menyambar bibir Lindsey.


Lindsey segera mendorong tubuh Jarvis, melepaskan ciumannya. “Jarvis! Bagaimana kalau ada yang melihatnya?! Ini adalah tempat kerjaku!”


“Manis. Rasa susu. Baru saja aku ingin mengajakmu sarapan. Tapi kamu sudah sarapan.” balas Jarvis.


“Kita bicara di ruanganku saja.” Lindsey mengantarkan Jarvis ke ruangannya sebagai pengacara elit tingkat 2.


Sesampainya di ruangannya, Lindsey segera berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil remote control dan menutup kaca jendela.


“Lumayan besar dan tertutup. Aku suka ruangan yang seperti ini. Tempat yang pas untuk—” ucap Jarvis terpotong setelah melihat Lindsey berdiri bersandar di meja kerjanya sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Duduk.” Lindsey memerintahkan Jarvis untuk duduk di sofa yang berada di depan meja kerjanya.


Jarvis pun menurut.


“Peraturan pertama, kita tidak boleh terlihat sebagai pasangan. Kalau itu terjadi, maka aku kehilangan hak untuk menjadi pengacaramu. Kamu di sini adalah klienku dan aku pengacaramu.” ucap Lindsey.


“Hm..”


“Peraturan kedua, tidak boleh ada kontak fisik antara klien dan pengacara. Mengerti?” ucap Lindsey kemudian.


“Hmm.. di sini saja, kan? Kalau di luar, aku boleh bergerak bebas, kan?” tanya Jarvis.


“Bergerak bebas apa yang kamu maksud?” tanya Lindsey dengan tersenyum.


Jarvis pun berdiri dan menghampiri Lindsey yang berdiri bersandar di meja kerjanya. Kedua tangan Jarvis merraba pinggul Lindsey.


“Ayolah.. kamu juga mengerti apa maksudku..” ucap Jarvis.

__ADS_1


Bibir Jarvis mengecup kening Lindsey dan perlahan turun.


“Jarvis.. ingat peraturan kita tadi..” ucap Lindsey.


“Kan ruangan ini tertutup. Tidak ada yang melihat..” balas Jarvis seraya melanjutkan aktivitasnya.


Jarvis mengangkat sedikit tubuh Lindsey agar Lindsey duduk di atas meja. Kemudian Jarvis turun ke bawah, membuka lebar-lebar kaki Lindsey yang saat itu mengenakan rok. Perlahan bibir Jarvis menyusuri paha dan sekitarnya..


Dan...


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu ruangan Lindsey.


Tok! Tok! Tok!


Orang itu kembali mengetuk kaca jendela.


Sudah pasti itu Luven. Karena hanya Luven lah yang mengetuk kaca jendela setelah mengetuk pintu.


“Sh*t!” umpat Jarvis. Jarvis segera bangkit berdiri, begitu pula Lindsey yang turun dari meja dan membenarkan roknya.


Kemudian dia berjalan untuk membukakan pintu ruangannya kecil saja dan tidak membiarkan Luven masuk.


“Tadi di bawah aku bertemu kurir yang mengantarkan ini dan katanya untukmu jadi sekalian saja aku bawa naik. Ternyata dari Keluarga William—eh kamu sedang ada klien, ya? Maaf aku tidak tahu!” ucap Luven saat mendapati Jarvis duduk di sofa di dalam ruangan.


“Wow. Semangat!” Luven menarik hidung Lindsey.


“Aku pergi dulu.”


Lindsey kembali menutup pintu dan meletakkan kotak itu di atas meja kerjanya. Kemudian Lindsey mengambil setumpuk berkas kasusnya lalu duduk di kursi tengah sofa.


Jarvis menatap Lindsey dengan tatapan mencurigai.


“Dia tadi mentorku.” ucap Lindsey seolah tahu apa yang ingin Jarvis tanyakan.


“Oh, jadi dia mentormu yang mengirimimu banyak pesan waktu itu?” balas Jarvis.


Si*l. Ternyata, Jarvis masih mengingatnya. batin Lindsey.


“Iya. Mari ki—” ucap Lindsey terpotong.


“Dua kali sudah dia mengganggu waktu kebersamaan kita, Lindsey. Pertama, kita makan malam waktu itu dia mengirimi banyak pesan, dan sekarang…” Jarvis memotong kalimat Lindsey.


“Iyaaa. Kan tidak sengaja. Mari kita bahas mengenai kasusmu yang terlibat sebagai penyelundup nark*ba.” balas Lindsey.

__ADS_1


“Sumpah mati aku tidak terlibat dengan nark*ba. Penyelundup, pengedar, pemakai, apapun itu. Aku tidak terlibat.” ucap Jarvis.


“Apa tujuanmu ke Bali saat itu?” tanya Lindsey.


“Apakah pertanyaan itu untuk kebutuhan yang berhubungan dengan kasus? Atau itu pertanyaan dari dirimu sendiri?” balas Jarvis.


“Jarvis! Jangan bercanda deh..” ucap Lindsey.


“Di sini kamu tertuduh sebagai penyelundup yang dikategorikan sebagai pengedar. Seharusnya kamu tidak bisa berkeliaran bebas. Kamu seharusnya ditahan.” balas Lindsey.


“Itu karena aku menyogok orang dalam. Aku tidak mau berada di penjara.” ucap Jarvis.


“Di sini dikatakan kamu tertangkap saat pemeriksaan sinar-X di bandara setelah melakukan perjalanan dari Bali. Dan ditemukan nark*ba jenis xxxx-xxxx dengan berat 1,02 kilogram di dalam kotak jam tangan.” Lindsey membaca berkas kasus itu.


“Iya, jadi aku diberikan kotak berisi jam tangan dan ternyata di bawahnya ada itu. Aku dan Carlos baru tahu pas dicek di bandara. Koper kita semua dibongkar. Padahal aku sudah menyuruh Carlos membuangnya karena jam tangan itu terlihat murahan.” balas Jarvis.


“Siapa yang memberikan itu?” tanya Lindsey.


“Lindsey?”


“Hm?”


“Jangan bilang..”


“Hm..?”


“Kamu cemburu kalau aku diberikan jam tangan?”


“Jarvis! Aku sedang serius, loh!”


“Hahahaha... Habisnya kamu tegang sekali sih mukanya. Santai saja, dong. Relax. Calm down.” ucap Jarvis.


“Memang yang memberikan jam tangan itu seorang wanita?” tanya Lindsey yang ke triggered. Padahal tadinya Lindsey biasa saja.


“Kalau iya?”


“...” Lindsey terdiam sejenak. Memilih kata yang akan dia keluarkan.


“Aku akan membelikan yang lebih mahal.” ucap Lindsey yang tidak mau kalah. Sudah menjadi tabiat wanita yang tidak ingin kalah ataupun merasa tersaingi.


Jarvis tersenyum. “Yang memberikan adalah seorang laki-laki. Aku memiliki hubungan bisnis dengannya.” ucap Jarvis.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2